TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Masih Belum Sadar


__ADS_3

Grace dan Isabella berlari mencari di mana Rizal berada. Setelah turun dari mobil Grace mencoba menghubungi Yuanita kembali untuk mengetahui posisi Yuanita, karena Yuanita mengatakan akan menemui dirinya di rumah sakit KASIH SEHAT.


" Hallo, Nit. Posisi kamu di mana?" tanya Grace saat panggilannya itu tersambung dengan Yuanita.


" Aku di ruang IGD, Bu." Suara Yusnita yang menjawab pertanyaan Grace terdengar penuh kecemasan.


Tentu saja jawaban dan nada bicara cemas Yuanita membuat Grace semakin khawatir. Grace tidak mengerti kenapa Yuanita tidak cepat mengatakan apa yang terjadi sehingga membuatnya penasaran seperti saat ini.


" Nit, sebenarnya apa yang terjadi dengan suamiku?" Grace tidak sabar untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Dia takut sesuatu yang buruk menimpa Rizal, apalagi saat ini Yuanita mengarahkannya ke ruang IGD


" Nanti Ibu akan tahu sendiri. Sebaiknya Ibu cepat saja kemari!" Yuanita masih tutup mulut dengan apa yang terjadi pada Rizal.


" Oke, aku sudah sampai dirumah sakit. Aku dan Bella akan segera kesana!" Grace segera mengakhiri sambungan teleponnya dengan Yuanita, walaupun hatinya sedikit kesal.


" Kita ke ruang IGD, Bel!" Grace mengajak Isabella ke ruang IGD seperti yang disebutkan oleh Yuanita.


" Papih sebenarnya kenapa, Grace? Kenapa ada di IGD?" Tak beda jauh dengan Grace, Isabella juga sangat cemas karena masih samar dengan apa yang terjadi dengan Papihnya.


" Kita akan segera tahu setelah ini,Bel!" Grace menggandeng tangan Isabella untuk segera menuju ruangan IGD.


Di depan ruangan IGD, Grace melihat Vito dan Yuanita yang terlihat gelisah membuat rasa khawatirnya semakin menguat. Apalagi saat dia melihat darah di baju Vito dan Yuanita, membuat pikirannya semakin kacau.


" Nit, Vito, apa yang terjadi? Darah siapa ini, Vito? Bukannya kamu dan suamiku seharusnya pergi ke Bogor?" Grace bertanya kepada dua orang pegawai suaminya itu.


" Kak Vito, Papih kenapa?" Isabella juga menanyakan keadaan Rizal, rasa khawatir semakin menyeruak melihat kemeja yang dikenakan Vito berlumur darah.


Vito menatap ke arah Grace dan Isabella secara bergantian. Dia bingung harus bagaimana menerangkan kepada dua orang yang sangat mencintai Rizal sebagai seorang istri dan seorang anak. Dia tahu pasti kejadian yang dialami Rizal membuat kedua orang wanita dihadapannya akan merasa syok


" Sebaiknya Ibu dan Bella duduk dulu." Vito menyuruh Grace dan Isabella duduk di kursi tunggu yang ada di IGD rumah sakit itu.


" Vit, sebenarnya suamiku kenapa? Kenapa ada di ruang IGD?" Grace justru ingin melihat ke dalam untuk mencari tahu apa yang terjadi kepada suaminya, karena tidak juga mendapat jawaban dari kedua pegawai suaminya.


" Bu, sabar kita tunggu di luar, Pak Rizal sedang di tangani oleh dokter di dalam." Yuanita merangkul dan menahan tubuh Grace yang ingin berlari ke dalam ruang IGD.


" Kak, Papih kenapa?" Sambil berlinang air mata, Isabella mengguncang lengan Vito, menuntut penjelasan dari Vito.


" Kamu duduk dulu, Bella." Vito menuntun Isabella untuk duduk di kursi.


Di saat yang bersamaan,dari dalam ruang IGD, terlihat dua orang perawat mendorong brankar, dengan tubuh Rizal yang berbaring di atas brankar dalam kondisi setengah sadar dengan benda tajam yang masih tertan cap di perut Rizal.


" Papih!?"


Grace dan Isabella sama-sama histeris melihat kondisi Rizal. Kedua wanita itu berlari mengejar kedua perawat yang membawa Rizal. Vito dan Yuanita pun ikut menyusul di belakangnya.


" Pih, Papih kenapa? Siapa yang melakukan ini sama Papih?" Grace menggenggam tangan Rizal. Dia tak tahan untuk tidak menangis melihat suaminya terluka. " Sus, suami saya kenapa?" tanya Grace kepada kedua perawat yang membawa Rizal.


" Papih ..." Sementara Isabella hanya bisa menangis tanpa bisa berkata apa-apa.


" Maaf, Mbak. Bapak ini harus segera menjalani operasi secepatnya." Perawat meminta Grace dan Isabella untuk tidak menghalangi mereka membawa Rizal ke kamar operasi. Perawat itu pun segera menutupi bagian tubuh Rizal yang terti kam dengan selimut namun tidak menempel di atas benda tajam itu.


" Bu, kita tenang dulu! Kita serahkan kepada dokter untuk menangani operasi Pak Rizal." Yuanita segera merangkul Grace dan meminta Grace tenang.


Sementara Vito mencoba menenangkan Isabella, apalagi Isabella langung terjatuh pingsan tak lama setelah perawat membawa Rizal ke kamar operasi.


" Apa yang sebenarnya terjadi, Vito? Siapa yang melakukan hal itu kepada suamiku,?" Dengan terisak Grace meminta penjelasan dari Vito. Sementara Yuanita berusaha membuat Isabella tersadar.


" Joe yang melakukannya, Bu." Dengan nada berat Vito menyebutkan siapa pelaku penusukan itu.


Grace terbelalak mendengar pengakuan Vito mengenai orang yang melukai suaminya adalah mantan kekasihnya dulu.


" Joe? Bagaimana dia bisa melukai suamiku, Vito?" Tentu saja Grace bingung, bagaimana suaminya itu bisa bertemu dengan Joe, sampai Joe bisa melukai Rizal.

__ADS_1


" Orang yang berniat melamar pekerjaan sebagai driver itu ternyata Joe, Bu. Dia berusaha kabur dan pak Pak Rizal mengha jarnya sampai terpental ke meja. Ketika Pak Rizal ingin mengha jar Joe kembali, Joe berhasil mengambil gunting dan ... terjadilah hal diluar dugaan kita." Vito menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan Rizal sampai Rizal bisa terkena benda tajam.


" Di mana si breng sek itu sekarang?" Grace terlihat penuh amarah. Rasa kesal saat Joe mengumpannya masih belum hilang, ditambah Joe hampir menodai Isabella, dan sekarang Joe bahkan melukai suaminya. Rasanya emosi Grace semakin berkobar terhadap pria itu.


" Si alnya dia berhasil kabur. Saya berusaha mengejar, tapi saya juga harus secepatnya menolong Pak Rizal. Karena saya pikir, nyawa Pak Rizal lebih penting, Bu." ujar Vito beralasan kepada Grace, kenapa Joe bisa sampai lepas.


" Aku tidak akan memaafkanmu, Joe! Kau lihat saja, aku sendiri yang nanti akan menghabisimu!" sumpah Grace dengan gigi mengerat, kebenciannya pada pria itu benar-benar semakin menjadi.


***


Jaka menyesal karena dirinya lah, Rizal akhirnya tertimpa musibah, menjadi korban peni kaman Joe. Dia tidak pernah menyangka, niat baiknya menolong orang, malah membuat celaka bosnya sendiri.


" Aku benar-benar tidak menyangka hal ini akan berakibat fatal terhadap Pak Rizal, Vito. Aku tidak tahu kalau orang itu adalah orang yang sedang kita buru," sesal Jaka, ketika dia sampai di rumah sakit dan diceritakan secara detail soal kejadian Joe yang meni kam Rizal.


" Kau sudah hubungi teman kamu itu, Jak?" tanya Vito, karena dia harus mencari informasi soal Joe dari kerabat temannya Jaka.


" Sudah, Vit. Aku sudah menanyakan di mana Joe tinggal selama ini." Jaka menjelaskan kepada Vito. Saat Yuanita memberi kabar jika Rizal diti kam oleh orang yang berniat melamar menjadi driver. Jaka memang langsung menghubungi Gugun, dia ingin mencari tahu soal orang yang berniat ditolongnya itu.


" Dia juga sudah mengabari temannya dan temannya bilang, Joe tidak bisa dihubungi nomer ponselnya dan belum kembali. Teman Gugun mengatakan jika Joe beberapa hari ini menumpang di rumah temannya. Sepertinya setelah kejadian yang terjadi pada Bella, si Joe itu bersembunyi di rumah teman Gugun itu." Jaka menerangkan apa yang dia dengar dari Gugun soal Joe yang bersembunyi di rumah Ronny.


" Apa kamu sudah bilang pada teman Gugun itu untuk menghubungi kita jika Joe datang menemuinya?" tanya Vito kembali.


" Sudah, Vit." sahut Jaka. " Dia berpikir Joe akan kembali untuk mengantar motor miliknya, karena Joe datang ke kantor meminjam motornya," sahut Jaka kemudian.


" Motor itu ada pada kita, Jak. Selama kita belum menemukan Joe dan menjebloskan Joe ke dalam penjara, motor itu akan kita sita sebagai barang bukti." Vito tidak mungkin melepas motor itu kepada Ronny, karena itu adalah salah satu barang bukti.


" Jadi Joe kabur meninggalkan motor yang dia bawa ke kantor?" Jaka diminta langsung ke rumah sakit hingga dia tidak tahu jika motor Ronny yang dipakai Joe untuk ke kantor Rizal ditinggalkan oleh Joe, sama seperti mobil Cyntia yang ditinggalkannya begitu saja di basement saat Joe kabur setelah gagal memper kosa Isabella.


" Iya," sahut Vito. " Ba jingan itu benar-benar licik! Meninggalkan barang bukti milik orangaun sementara dia berhasil melarikan diri," lanjut Vito terlihat penuh amarah.


" Ya sudah, nanti aku akan beritahu Gugun soal motor temannya itu yang ditahan." Jaka berencana memberi kabar Gugun soal motor Ronny.


" Oh ya, apa kita sudah lapor ke pihak berwajib, Vit?" tanya Jaka. Karena Joe sudah berkali-kali melakukan tindakan kriminal, sehingga Jaka rasa, sudah seharusnya Joe diproses secara hukum.


" Keadaan Pak Rizal sendiri gimana, Vit?" tanya Jaka kemudian. Rasanya dia tidak dapat memaafkan dirinya sendiri jika sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada Rizal.


" Masih di ruang operasi. Kita doakan saja semoga Pak Rizal baik-baik saja, Jak." Vito menepuk pundak Jaka. Dia juga sebenarnya sangat khawatir dengan kondisi Rizal.


***


Dokter sudah selesai melakukan operasi pada Rizal. Namun, saat ini Rizal masih berada di rumah ICU karena masih tak sadarkan diri setelah menjalani operasi.


Grace menatap wajah sang suami yang masih terpejam. Dia membelai rahang sang suami yang ditumbuhi cambang lebat. Dia tidak pernah menduga jika suaminya itu akan mengalami musibah seperti ini.


Garce manarik nafas yang terasa berat untuk dia hirup. Mungkin ini jawaban dari kegelisahan tadi. Perasaan enak dan jantung berdebar kencang, ditambah tadi dia sempat melin das kucuing, adalah pertanda jika suaminya akan tertimpa kemalangan. Seandainya saja tadi dia menerima tawaran Rizal yang akan menyuruh Indra menjemput Isabella, mungkin dia bisa menghindarkan suaminya itu dari musibah ini.


" Pih, Papih cepat bangun, ya, Pih!? Aku tidak tenang kalau Papih terbaring lemah seperti ini." Tangan kanan Grace menggenggam


tangan Rizal dan menciumimu.


" Papih kenapa membiarkan orang jahat itu melukai Papih? Dia pasti akan tertawa senang sudah berhasil melukaiku, hampir menodai Bella dan sekarang membuat Papih seperti ini," Grace terus saja berbicara seolah suaminya itu mendengar ucapannya.


" Non, sebaiknya Non makan dulu. Ini sudah hampir jam delapan. Nanti biar Surti yang jaga Bapak. Ada suster yang jaga, kok." Surti yang menemani Grace menginap di rumah sakit, menyarankan Grace untuk makan. Karena sejak datang menemani sore tadi, Garce belum mengisi perutnya dengan makanan. Sementara Bi Tinah dan Fauziah menemani Isabella yang syok melihat Papihnya terluka. Grace memang menyuruh Isabella beristirahat di rumah, sementara dia yang akan menjaga Rizal ditemani oleh Surti.


" Aku tidak lapar, Bi. Bibi tunggu di luar saja. Aku masih mau menemani Papih di sini." Tanpa menoleh ke arah Surti, Grace menjawab ucapan Surti. Tatapan Grace saat ini masih berpusat ke arah suaminya yang masih belum tersadar sejak keluar dari kamar operasi.


" Non, kalau Non tidak makan, Non bisa sakit. Kalau Non sakit, Non tidak bisa menjaga Pak Rizal di sini." Surti membujuk Grace agar mau makan.


" Aku tidak ingin meninggalkan Papih, Bi." Grace tetap menolak disuruh makan oleh Surti.


" Non, ada perawat yang menjaga di sini. Non makan hanya sebentar, kok. Surti juga pasti akan menjaga Pak Rizal." Surti masih berusaha membujuk Grace agar mau menurutinya. Karena dia tidak tega melihat Grace sejak tadi duduk di tepi brankar Rizal padahal sudah dibujuk perawat yang berjaga untuk menunggu di luar.

__ADS_1


" Iya, Mbak. Kami akan menjaga pasien sebaik mungkin." Perawat yang masuk ke ruangan icu di kamar Rizal menyarankan Grace untuk beristirahat.


" Kita keluar yuk, Non." Surti memapah tubuh Grace. " Sus, saya mau menemani Non Grace ke kantin. Saya titip Pak Rizal sebentar ya, Sus!?" Surti pun menitipkan Rizal kepada perawat yang berjaga di ruang ICU.


" Baik, Bu." sahut perawat yang berjaga.


***


Agatha mengambil ponselnya. Dia baru saja bertemu sahabatnya yang baru saja membuka usaha restoran. Dia ditawari temannya itu untuk mengadakan event di restorannya sekaligus bisa mempromosikan reatoran baru temannya itu. Sehingga Agatha berniat merubah tempat acara dinner yang rencananya akan diadakan lusa di restoran langganannya kini berganti di restoran baru temennya. Agatha pun berniat memberi kabar Grace juga Rivaldi soal perubahan tempat.


Agatha menghubungi Grace terlebih dahulu, karena perayaan ulang tahunnya ingin dimanfaatkan Grace untuk mendekatkan Isabella dengan Rivaldi.


" Halo, Grace. Grace, Mama mau merubah tempat dinner untuk lusa. Tidak di tempat biasa, tapi di tempat teman Mama yang baru saja membuka restoran baru, sekalian Mama bantu promosikan restorannya." Agatha langsung menyampaikan tujuannya menghubungi Grace, saat panggilan teleponnya tersambung dengan nomer ponsel putrinya itu.


" A-aku tidak bisa ikut, Mam." Grace menjawab dengan suara parau bahkan hampir tercekat di tenggorokan.


" Grace? Kamu kenapa?" Mendengar suara Grace yang terdengar aneh di telinganya, Agatha langsung mempertanyakan apa yang terjadi dengan anaknya itu. Karena suara Grace terdengar seperti habis menangis.


" Papih, Mam." Grace menahan tangis menjawab pertanyaan Mamanya.


" Papih? Rizal maksudmu,? Kenapa memangnya? Apa dia menyakiti kamu?" Agatha justru menuduh jika anaknya menagis itu karena perbuatan Rizal yang menyakiti Grace.


" Papih diti kam oleh Joe, Mam." Tangis Grace tak terbendung saat mengatakan apa yang dialami oleh suaminya saat ini.


" Apa?? Joe meni kam suamimu??" Agatha tersentak kaget mendengar kabar soal musibah yang menimpa menantunya itu. " Tapi, bagaimana bisa, Grace? Bagaimana suami kamu sampai bisa diti kam oleh Joe?" Agatha benar-benar syok mengetahui tingkah laku Joe yang bru tal tanpa ampun menyakiti siapa pun juga. Trauma Agatha saat Joe melukai leher Grace saja rasanya belum bisa dia hilangkan, apalagi sekarang mendengar Joe menu suk Rizal.


" Dia melamar bekerja untuk menjadi supir Bella lalu dia disuruh datang ke kantor Papih. Karena Vito mengenali dia, dia terdesak, lalu dia melukai Papih." Secara detail Grace menceritakan bagaimana Joe bisa melukai Rizal.


" Lalu bagaimana kondisi suami kamu?" tanya Agatha khawatir.


" Masih belum sadar di ruang ICU." sahut Grace.


" Bagaimana dengan Joe? Apa dia tertangkap?"


" Dia berhasil kabur, Mam."


" Masih saja berhasil kabur orang itu?" Agatha merasa geram karena lagi-lagi Joe dapat meloloskan diri.


" Kamu di mana sekarang, Grace? Di rumah sakit mana?" Walaupun Agatha tidak menyetujui pernikahan Rizal dengan Grace, namun dia juga merasa tidak tega melihat anaknya yang pasti sangat bersedih dengan kejadian yang menimpa Rizal, hingga dia berniat menjemguk Rizal.


" Di rumah sakit Kasih Sehat, Mam." sahut Grace menyebut rumah sakit di mana Rizal dirawat.


" Ya sudah, Mama ke sana sekarang, ya!?" Agatha merasa perlu menemani Grace, sehingga dia memutuskan untuk ke rumah sakit untuk menemani Grace.


" Tidak usah, Mam! Di sini sudah ada Bibi yang menemani. Kalau Mama datang ke sini, besok pagi saja Mama ke sininya." Grace melarang Mamanya yang ingin mengunjunginya malam ini.


" Tidak, Grace! Mama harus menemani kamu. Biar si Bibi itu saja yang pulang." Agatha bersikukuh ingin menemani Grace, karena dia yakin putrinya itu butuh dirinya untuk menghadapi masalah yang sedang dihadapi oleh Grace.


" Terima kasih, Mam."


Agatha tertegun beberapa saat mendengar ucapan terima kasih dari Grace. Satu kalimat yang sangat simpel, namun terdengar menyejukkan hatinya. Bagaimana tidak? Selama ini mereka berdua lebih banyak menghabiskan waktu untuk berdebat. Tapi kali ini putrinya itu mengucapkan kalimat terima kasih, tentu saja dia membuat hatinya senang.


" Ya sudah, sebaiknya kamu jangan panik, Mama ke sana sekarang. Mama tutup dulu teleponnya." Setelah menyampaikan rencananya yang akan datang ke rumah sakit bertukar jaga dengan Surti, Agatha pun bergegas mengganti pakaian karena dia akan segera pergi rumah sakit yang dimaksud oleh Grace.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2