TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Benih-Benih Cinta


__ADS_3

Rizal berada di dalam satu dilema. Dihadapkan pada pilihan yang sulit. Dia sangat menyanyangi Isabella. Namun, dia juga begitu menginginkan Grace menjadi miliknya. Apalagi selama ini dia terlihat sulit untuk jatuh hati pada wanita lain setelah menduda. Baru bersama Grace lah, Rizal seakan menjadi remaja kembali, jatuh cinta pada wanita yang telah mencuri hatinya. Rizal seperti sedang mengalami puber kedua.


" Sayang, jangan berikan pilihan sulit itu pada Papih. Bella tahu selama ini Papih susah jatuh cinta pada wanita lain, kan? Baru kali ini Papih bisa merasakan menyukai wanita lagi." Rizal meminta pengertian Isabella.


" Tapi, itu juga bukan berarti Papih tidak sayang terhadap kamu, Bella. Papih hanya minta Bella bisa membuka hati untuk Grace. Dia tidak seburuk yang Bella kira. Grace bisa berbaur dan berinteraksi dengan baik dengan anak buah Papih. Dengan Yuanita, Indra, Jamal. Jika Grace bukan orang baik, belum tentu mereka bisa akrab dan mau berteman dengan Grace." Rizal terus berusaha membuka hati Isabella untuk Grace.


" Kalau Bella menganggap usia dia jauh di bawah Papih. Dan kamu menganggap dia memanfaatkan Papih, itu tidak benar, Sayang. Grace bukan orang yang memanfaatkan orang lain untuk kesenangan sendiri. Cobalah bersahabat dengan dia agar kamu bisa mengenal sikap Grace yang sebenarnya." Tak henti Rizal menceritakan hal yang baik tentang Grace kepada Isabella.


" Jika Papih tetap berkeras memilih dia, Bella akan pergi dari sini! Bella tidak mau punya Mama tiri seperti dia!" Isabella tetap menentang pilihan Papihnya.


" Apa Bella lebih senang Papih sendirian sampai menua nanti, tak ada yang menemani?" tanya Rizal berharap Isabella dapat memahami perasaannya.


" Papih tidak sendiri, Bella pasti menemani Papih!" tegas Isabella. Menampik jika Rizal akan mengalami masa tuanya sendirian.


" Kelak jika kau berumah tangga, pasti suamimu akan membawamu pergi, Sayang." Rizal membelai kepala Isabella. Tentu saja dia tidak ingin ikut dengan Isabella jika anaknya itu berumah tangga.


" Bella akan bawa Papih bersama Bella. Bella tidak akan meninggalkan Papih!" Isabella berusaha meyakinkan Rizal jika dia sanggup menemani Rizal jika Papihnya itu tua nanti.


" Lagipula Papih bisa mencari wanita lain. Bella yakin Papih pasti bisa bertemu dengan wanita lain yang lebih tepat untuk Papih dan menjadi Mama sambung yang baik untuk Bella." Isabella merasa jika Papihnya itu adalah pria baik dan kelak akan dipertemukan dengan wanita yang baik juga.


Rizal mende sah. Tidak mudah meluluhkan hati Isabella. Rasa cinta Rizal kepada Grace seperti terhalang restu yang susah didapat dari Isabella. Sementara Grace sendiri memberi ultimatum tidak ingin menunggu lama karena banyak pria yang sedang mendekatinya.


Rizal kembali ke kamar setelah dia gagal menyakinkan Isabella. Dia menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Rizal mengambil ponsel, berniat ingin menghubungi Grace. Namun, beberapa kali panggilan teleponnya tidak juga diangkat oleh wanita itu.


***


Grace memperhatikan kaca spion di mobilnya. Sejak keluar dari basement apartemen, dia melihat sebuah mobil terus saja mengikutinya.


" Ada yang ingin bermain-main denganku rupanya." Grace kemudian memasang earphone untuk menghubungi Rizal. Dia mencari jawaban, siapa tahu Rizal mengetahui orang yang sedang mengikutinya saat ini.


" Halo, ada orang yang mengikutiku." Tak banyak berbasa-basi, Garce langsung menceritakan apa yang sedang dialaminya.


" Ada yang mengikutimu? Posisi kamu di mana sekarang?" tanya Rizal.


" Baru masuk wilayah Thamrin," jawab Grace.


" Apa kau mempunyai musuh hingga ada orang yang mengikutimu?" Rizal terkekeh seakan tak serius menanggapi informasi yang disampaikan oleh Grace. " Semalam aku telepon, kau tidak angkat. Apa kau sudah tertidur?" Rizal menayakan kenapa Grace tidak mengangkat panggilan teleponnya tadi malam.


" Aku malas bicara padamu!" ketus Grace. " Jadi harus aku apakan orang yang mengikuti itu?" Grace kembali ke topik pembicaraan yang sebelumnya.


" Biarkan saja, sepertinya dia adalah orang suruhan Rivaldi yang mengawasimu." Tentu saja Rizal selalu mendapat informasi dari anak buahnya yang masih memantau gerak-gerik Rivaldi. Hingga dia menduga jika orang yang saat ini mengawasi Grace adalah anak buah Jimmy.


" Apa Rivaldi sudah mencurigai penyamaran kita?" Garce membelalakkan matanya. Mengira jika penyamaran mereka telah terbongkar.


" Aku rasa luka lebam di wajahmulah yang membuat Rivaldi menyuruh orang mengikutimu. Sepertinya dia begitu khawatir, orang yang menyebabkan luka lebam itu kembali lagi menemuimu. Sepertinya Rivaldi benar-benar sudah terpesona denganmu, Grace. Kau harus ingat, jangan main hati dengannya!" Rizal memperungatkan Garce agar tidak terbawa perasaan dengan perhatian Rivaldi.


" Aku masih single, tak masalah kalau aku terbawa perasaan dengannya. Lagipula, keluarga dia sangat welcome terhadapku. Tidak seperti anakmu yang selalu memusuhiku!" Grace membandingkan perlakuan hangat orang tua Rivaldi dengan sikap ketus Isabella terhadapnya.


" Bella pasti akan menerimamu suatu saat nanti." Rizal mencoba meyakinkan.


" Saat aku sudah menjadi milik Rivaldi, Erick atau pria lainnya."


" Fokuslah pada kemudimu. Jangan ke kantor dulu. Jangan sampai orang itu mengetahui markas kita." Rizal tidak ingin terus membahas soal Rivaldi hingga dia mengarahkan Grace untuk pergi ke tempat lain dan tidak mengunjungi kantornya. Dia tidak ingin Rivaldi tahu jika selama ini dirinya dan Grace sedang menyamar.


***


Grace terpaksa memarkirkan mobilnya di sebuah salon ternama walaupun sebenarnya tidak berniat melakukan perawatan karena ada orang yang mengikutinya. Selama satu jam dia menghabiskan waktu di salon hingga akhirnya dia memutuskan untuk meninggalkan salon. Namun, di seberang jalan salon yang dia kunjungi, dia masih melihat mobil yang mengikutinya itu terparkir di sana.


Grace menarik tipis sudut bibirnya seraya berjalan ke arah mobilnya. Grace lalu mengambil ponsel lainnya lalu mengaktifkannya karena dia berniat menghubungi Rivaldi dari ponselnya itu.


" Okelah, kita berakting lagi sekarang," gumam Grace.


" Halo, Aldi. Apa kamu sedang sibuk?" Grace bertanya pada Rivaldi saat panggilan teleponnya terangkat.

__ADS_1


" Tidak, ada apa, Rena?" Rivaldi menyahuti pertanyaan Grace.


" Aldi, apa kamu bisa bantu aku? Aku merasakan ada orang yang mengikutiku sejak aku keluar dari apartemen tadi."


" Ada orang yang mengikutimu? Hmmm, apa kamu tahu siapa dia?" Terdengar nada khawatir pada suara Rivaldi.


" Aku tidak tahu. Aldi. Mobilnya tidak aku kenal, dan aku juga tidak bisa melihat siapa orang di dalam mobil itu," ujar Grace berpura-pura panik.


" Kamu ada di mana sekarang?" tanya Rivaldi.


" Aku baru keluar dari salon," sahut Grace.


" Oke, share posisi kamu sekarang. Nanti aku akan menemuimu. Kamu tenang dulu dan jangan panik!" Rivaldi berusaha menenangkan Grace.


" I-iya, aku share sekarang posisiku." Grace lalu mematikan ponselnya dan mengirim posisinya saat ini kepada Rivaldi.


" Ternyata dia benar-benar tertarik padaku. Kenapa kita baru bertemu sekarang, ya? Jika lebih awal, kau pasti tidak akan mengejar istri Erlangga itu. Aku yakin, kau pasti akan lebih jatuh cinta kepadaku daripada istri orang itu." Dengan senyum menyeringai, Grace berucap dengan percaya diri.


Grace memilih menunggu Rivaldi di cafe setelah dia memberikan kabar ke Rivaldi di mana dia akan menunggu Rivaldi.


Tak begitu lama Grace membuang waktu untuk menunggu Rivaldi. Karena pria itu kini sudah berada di hadapannya.


" Sorry, harus membuat kamu menunggu lama," Rivaldi menyampaikan maafnya karena dia sudah membuat Grace menunggu.


" Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah mengganggu waktu kerja kamu," sahut Grace.


" Apa orang yang mengikutimu itu masih ada?" tanya Rivaldi mengedar pandangan ke seluruh sudut ruangan cafe.


" Aku tidak tahu. Mobil itu aku lihat terakhir di halaman parkir salon itu. Aku tidak buru-buru kemari, jadi tidak tahu apa mobil itu masih mengikuti atau tidak," ungkap Grace.


" Ya sudah kamu tenang saja. Jangan takut! Jika orang itu masih mengikutimu, aku akan menghadapi orang itu." Rivaldi menunjukkan sikap keperduliannya dan rasa khawatir terhadap Garce.


" Kalau boleh aku tahu, siapa yang membuat kamu sepeti ini, Rena?" Rivaldi ingin Grace terbuka terhadapnya.


Grace tertunduk tak langsung menjawab pertanyaan Rivaldi.


Grace menatap Rivaldi, dia lalu menganggukkan kepalanya perlahan mengiyakan apa yang dikatakan Rivaldi tadi.


Dengusan nafas kasar Rivaldi terdengar ketika Grace menganggukkan kepalanya.


" Si breng sek itu menemuimu?" geram Rivaldi.


" Iya. Dia memaksa agar aku kembali kepadanya," lirih Grace.


" Di mana orang itu tinggal? Dia harus diberi pelajaran agar tidak berani mendekatimu lagi!" Rivaldi terlihat emosi dengan perlakuan Dave.


" Kamu mau apa? Jangan berbuat macam-macam!" Grace melarang Rivaldi yang ingin membuat perhitungan dengan Dave.


" Tapi ba jingan itu tidak bisa dibiarkan, Rena! Dia sudah melakukan kekerasa fisik! Jika dilaporkan dia bisa terkena hukuman." geram Rivaldi kembali.


" Aku tidak ingin hal ini diketahui Papaku, Aldi!" cemas Garce menyampaikan alasannya.


" Oke, kita tidak akan melibatkan Papamu. Biar aku yang memberi pelajaran kepada si breng sek itu!" Rahang Rivaldi terlihat tegas karena kemarahannya.


" Jangan, Aldi! A-aku tidak ingin kamu bermasalah dengan dia." Grace menyentuh pergelangan tangan Rivaldi untuk menahan Rivaldi agar tidak melakukan niatnya.


Rivaldi menatap tangan lembut Grace yang menyentuh lengannya.


" Oh, maaf ..." Grace segera menarik tangannya melihat Rivaldi terkejut dengan sikapnya tadi.


" Tidak apa-apa ..." Rivaldi langsung dibuat salah tingkah karena sentuhan tangan Grace.


" Terima kasih atas perhatian kamu, Aldi. Tapi, aku rasa sebaiknya kamu tidak usah ikut campur dengan hal ini. Aku takut kamu akan terkena imbasnya jika kamu berurusan dengan Dave." Grace berusaha meredakan amarah Rivaldi.

__ADS_1


" Tapi, Rena ...."


" Aku akan Bandung saja. Aku ingin bersembunyi di rumah temanku di sana untuk beberapa waktu." Grace mengatakan rencananya.


" Bandung? Kamu punya kerabat di Bandung? Di daerah mana?" tanya Rivaldi.


" Iya, aku punya teman di daerah Setia Budi. Tapi, aku sendiri belum tahu rumahnya. Aku hanya dikasih tahu alamat temanku itu," jawab Grace.


" Kapan kamu akan pergi ke Bandung?" tanya Rivaldi kemudian.


" Setelah dari sini aku akan meluncur ke Bandung,"


" Dengan siapa?"


" Sendiri saja," jawab Grace.


" Biar aku antar kamu ke sana," sahut Aldi.


" Jangan, Aldi! Kamu harus bekerja, kan? Aku tidak ingin menganggu pekerjaan kamu." Grace menolak tawaran Rivaldi yang ingin mengantarnya.


" Tidak masalah, Rena. Kebetulan orang tuaku juga tinggal di sana. Jadi, aku bisa membantumu mencari alamat temanmu itu." Rivaldi berniat menemani Grace ke Bandung.


" Apa kamu yakin akan meninggalkan pekerjaan kamu, Aldi? Aku tidak enak jika harus mengganggu waktu kamu." Grace tidak menduga jika Rivaldi bersedia mengantarnya. Padahal pria itu disibukan dengan pekerjaannya.


" Tentu saja. Kamu tidak usah mengkhawatirkan pekerjaanku. Pekerjaanku bisa aku handle dari luar." Rivaldi tidak mempermasalahkan pekerjaannya.


" Baiklah jika kamu memang tidak keberatan. Terima kasih, Aldi. Kamu baik sekali." Grace menatap Rivaldi dengan berkaca-kaca. Seakan menahan rasa haru karena perlakuan Rivaldi terhadapnya.


***


" Aku sedang menuju Bandung bersama Rivaldi. Sepertinya dia ingin membawa aku ke rumah orang tuanya."


Pesan yang masuk dari Grace di ponselnya membuat Rizal terbelalak. Dengan cepat dia melakukan panggilan telepon ke nomer ponsel Grace.


" Mau apa kamu ke Bandung?" Rizal bahkan tidak memperdulikan jika saat ini Grace sedang bersama Rivaldi. Saat sambungan teleponnya terangkat, dia langsung bertanya dengan nada ketus.


" Ada apa, Pak Firman?" Grace membalas pertanyaan Rizal dengan sandiwaranya.


" Kenapa kau tidak ijin kepadaku dulu, Grace?!" Rizal merasa cemburu karena Grace kembali pergi berdua dengan Rivaldi.


" Aku, aku ada perlu ke rumah temanku di Bandung, Pak Firman. Tapi, tolong jangan beritahu Papaku, ya!" Grace masih bersandiwara.


Tut Tut Tut


Panggilan telepon Rizal seketika ditutup sepihak oleh Garce. Namun, tak lama sebuah pesan masuk ke ponselnya itu.


" Kau ini kenapa, Pak tua? Aku ini sedang menyelidiki Mamanya Rivaldi. Dengan pergi ke Bandung, aku bisa mengorek bahkan bisa mendekat dengan orang tuanya. Bukankah kau menugasi itu kepadaku?"


Rizal menghela nafas panjang membaca pesan dari Grace. Dia memang memberi tugas Grace untuk menyelidiki siapa Mama Rivaldi dan apa hubungannya dengan keluarga Erlangga. Namun, dia takut kedekatan Grace dan Rivaldi nantinya akan menumbuhkan benih-benih cinta di hati Grace dan Rivaldi.


" Kau hanya bertugas, Grace! Kau harus ingat itu! Jangan bermain perasaan di sana! Apapun yang dilakukan Rivaldi dan keluarganya, jangan sampai mempengaruhi hatimu!" Rizal hanya bisa memberi pesan bernada peringatan kepada Grace. Entah sudah berapa kali dia memperingatkan Grace agar tidak bermain hati dengan Rivaldi. Tentu Rizal tidak ingat ditikung oleh Rivaldi.


" Aku tidak janji. Aku ingin mendapatkan yang terbaik. Sudah ya, Pak tua. Aku mau bertemu dengan calon mertuaku, sebaiknya kau tidak mengangguku selama aku di Bandung ini. 😘"


Rizal tahu jika saat ini Grace sedang berusaha memanas-manasi hatinya dan ternyata dia benar-benar terba kar cemburu.


Rizal harus berpikir keras untuk menaklukan dia hati sekaligus. Hati Grace agar mau menerimanya dan hari Isabella agar mau menerima keputusannya untuk memilih Grace sebagai pendampingnya. Rizal juga harus bertindak cepat jika dia tidak mau kehilangan Grace. Tawananya yang ternyata telah menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2