TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Mengejar Cinta Grace


__ADS_3

Tok tok tok


" Rena, apa kau sudah tidur?" Suara Rivaldi dan ketukan pintu terdengar dari luar kamar tamu yang ditempati oleh Grace. Membuat Grace yang sedang berkomunikasi lewat chat dengan Rizal segera mengakhiri chatting nya dengan Rizal. Meskipun dia tahu, Rizal pasti akan marah saat dia menyebutkan jika Rivaldi memanggilnya. Dia yakin Rizal pasti akan semakin cemburu berat membaca pesannya tadi.


" Rena, kamu sudah mau tidur, ya?" tanya Rivaldi saat Grace membuka pintu kamar.


" Belum, kok. Kenapa memangnya?" tanya Garce mengeryitkan keningnya.


" Kalau kamu belum mau tidur, bagaimana kalau kita mengobrol di balkon di ruang keluarga?" tanya Rivaldi mengajak Grace berbincang ringan, sepertinya Rivaldi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan berbincang dengan Grace, mumpung wanita itu ada di rumah orang tuanya.


" Bukankah besok pagi kamu harus kembali ke Jakarta, Aldi?" tanya Grace.


" Aku sudah terbiasa tidur agak larut." Rivaldi terkekeh menyebut kebiasaan buruknya. Dia lalu berjalan melangkah ke arah balkon yang berada di hadapan ruangan keluarga di lantai atas yang bersebelahan dengan kamar tamu yang ditempati Grace.


" Tidur terlalu larut tidak baik untuk kesehatan, lho. Sebaiknya kamu segera menikah, Aldi. Agar ada yang memperhatikanmu termasuk jam tidurmu." Grace melangkah mengikuti Rivaldi dan duduk di kursi yang berada di teras balkon.


" Kamu terlalu bersemangat sekali menyuruh aku mencari pendamping. Apa kamu ingin menjodohkan aku dengan seseorang?" Rivaldi mengulum senyuman mendengar Grace memintanya cepat-cepat mencari jodoh.


" Menjodohkan dengan seseorang? Tidak, aku tidak mempunyai teman yang memenuhi kriteria yang kau inginkan," tepis Grace.


" Bagaimana kalau kamu saja?" Rivaldi menggoda Grace.


" Hahh??" Seketika Grace tercengang mendengar ucapan Rivaldi.


" Biasa saja wajahnya, tidak usah kaget seperti itu. Aku hanya bercanda." Melihat Grace terkejut akan ucapannya, Rivaldi langsung memberikan klarifikasi.


" Syukurlah ..." Grace menarik nafas lega.


Rivaldi memperhatikan Grace yang terlihat lega membuat dirinya ikut menghela nafas.


" Mama tadi bicara apa?" Rivaldi penasaran akan apa yang dibicarakan Arina dan Grace saat dia berbincang dengan Papanya tadi.


" Hmmm, Mamamu berharap jika aku menjadi menantunya. Entah untuk anaknya yang mana?" Grace tertawa kecil menjawab pertanyaan Rivaldi.


" Memang kamu maunya sama yang mana?" Rivaldi menanggapi candaan Grace.


" Yang lebih dekat usianya denganku memang adikmu yang mana?" tanya Grace.


" Oh ya, berapa usiamu saat ini?" Rivaldi lupa jika Grace pernah menyebut usianya.


" Dua puluh tahun."


" Masih muda sekali, Adik bungsuku dua puluh satu tahun. Tapi, sepertinya dia belum siap untuk menikah. Kenapa tidak dengan kakaknya saja?"


" Memang Kakak yang satunya itu umur berapa?" Grace justru menyebut adik paling tua dari Rivaldi.

__ADS_1


" Hahaha ..." Rivaldi tertawa mendengar jawaban Grace yang justru mengira jika kakak yang dia maksud adalah adik paling tuanya.


" Memang kamu benar-benar tidak tertarik dengan kakak sulung mereka?" Rivaldi merasa penasaran, apakah Grace benar-benar tidak tertarik padanya. Di saat banyak wanita berlomba mengejarnya, Grace justru terkesan acuh, seolah tidak tertarik dengan pesonanya


Grace menoleh ke arah Rivaldi. Tentu saja sejak awal dia tahu siapa yang dimaksud oleh Rivaldi.


" Kakak sulungnya agak susah jatuh cinta, kan? Dan aku malas mengejar pria seperti itu," sahutnya enteng.


Rivaldi mengulum senyuman kembali. Dia memang merasakan perbedaan Grace dengan wanita kebanyakan yang selama dia temui. Dan itu yang membuat Grace begitu menarik perhatiannya.


" Di usia berapa kamu siap untuk menikah?" tanya Rivaldi serius.


" Aku belum tahu. Bukankah kau bilang usiaku masih muda? Jadi aku belum memikirkan kapan akan menikah!?" sahut Grace.


" Jika ada pria yang ingin mengajakmu menikah, apa artinya kau akan menolak pria itu?" Rivaldi ingin mengetahui jawaban Grace.


" Sebenarnya aku ingin menikmati usia mudaku. Tapi, jika memang ada pria yang benar-benar menginginkanku dan sangat menyayangiku. Aku rasa tidak ada salahnya aku merubah niatku menikah di usia yang cukup matang," ungkap Grace. Apa yang diucapkan tidak sesuai apa yang ada di hatinya. Dia sengaja melakukan hal itu agar Rivaldi semakin terkesan padanya. Karena sejujurnya dia sendiri tidak ingin berumah tangga di usia muda.


" Aku ingin bertemu dengan Pak Satria untuk membicarakan masalah kerjasama perusahaan kita. Kapan kamu akan mempertemukan aku dengan Papamu?" tanya Rivaldi tiba-tiba.


Grace terkesiap saat Rivaldi menyinggung soal Satria. Tak terpikirkan olehnya jika Rivaldi akan menyinggung soal Satria.


" Hmmm, kau ingin bertemu dengan Papaku? Ingin membicarakan bisnis atau bermaksud ingin melamarku?" Grace mencoba menutupi kegugupannya dengan melempar pertanyaan pada Rivaldi.


Rivaldi sontak tertawa menjawab pertanyaan Grace. Mungkin untuk sebagian orang pertanyaan Grace itu terkesan terlalu percaya diri. Tapi, baginya justru hal itu membuat Grace semakin menggemaskan di matanya. Hingga dia semakin merasa penasaran dengan sosok Grace.


" Hahh? Serius kau ingin melamarku?!" Garce memasang wajah terkejut dengan menangkupkan kedua telapak tangan di pipinya, membuat kembali Rivaldi terkekeh dengan tingkah Grace.


" Kau meledekku, ya!?" Grace mencebikkan bibirnya.


" Kau marah? Apa artinya kamu sebenarnya ingin aku lamar?" Entah mengapa, Rivaldi begitu menikmati obrolan santainya dengan Grace. Hingga dia asyik bercanda dengan wanita cantik di sampingnya itu.


" Ah, tidak juga." Grace mengalihkan pandangan seraya mengedikkan bahunya. " Sudah, ah! Jangan bicara itu lagi." Grace tidak ingin terus membahas soal itu karena dia tidak ingin Rivaldi terus memintanya dipertemukan dengan Satria.


Sementara dari balik pintu balkon, terlihat Arina tersenyum melihat keakraban Rivaldi dengan Garce. Dia benar-benar melambungkan harapannya agar Grace bisa menjadi jodoh untuk anak tirinya itu.


" Senang sekali melihat Aldi tertawa bahagia seperti itu. Ya Allah, jika Rena adalah jodoh Aldi, mohon dekatkan mereka selalu." Dia Arina. Walaupun Rivaldi bukanlah putra kandungnya, Arina menyanyangi anak pertama suaminya itu seperti anak kandungnya sendiri.


***


Di dalam kamarnya Rizal dibuat uring-uringan dengan isi pesan yang dikirim oleh Grace. Membayangkan malam ini Grace bersama Rivaldi semakin membuat rasa cemburunya semakin meletup-letup.


" Si al! Harusnya aku tidak mengumpan dia pada pria licik seperti Rivaldi." Rizal seakan menyesali kesalahan strategi yang telah dibuatnya.


" Apa mereka sedang bersenang-senang malam ini?" Mengingat Grace yang sangat agresif, Rizal membayangkan jika Grace dan Rivaldi sedang bermesraan di sana.

__ADS_1


" Aaarrrgghh ...!!" Rizal mengacak rambutnya. Dia lalu mengambil Coat dan berjalan ke luar dari kamarnya hendak mencari angin segar karena saat ini hatinya seakan sedang terbakar.


Tak berapa lama dia sudah berada di jalan kota Jakarta mengendarai mobilnya. Tak tahu hendak ke mana tujuannya kali ini.


Ddrrtt ddrrtt


Rizal mengambil ponselnya dan mendapati nama Bondan yang menghubungi saat ini. Dia lalu memasang earphone di telinganya untuk mengangkat panggilan masuk tersebut.


" Halo, bagaimana, Dan?" tanya Rizal. Rizal memang sudah menceritakan soal Arina kepada Bondan. Dan dia menunggu perintah selanjutnya dari Erlangga.


" Menurut dugaan Tuan Erlangga, Ibu Arina itu sepertinya memang benar pengasuh Tuan Erlangga dulu. Zal, apa Grace bisa membawa Ibu Arina keluar dari rumah keluarga Pak Nugraha? Karena Tuan Erlangga ingin bertemu langsung dengan beliau." Bagas menjelaskan apa yang diinginkan oleh Erlangga.


" Tuan Erlangga ingin bertemu dengan Ibu Arina?"


" Iya, untuk memastikan kebenaran soal Ibu Arina adalah mantan pengasuh Tuan Erlangga. Dan Tuan Erlangga juga ingin mengetahui keberadaan anak perempuan Ibu Arina? Karena menurut informasi yang kamu sampaikan, jika anak Ibu Arina laki-laki semua."


" Okelah, Zal. Nanti aku akan atur agar Grace bisa membawa Ibu Arina keluar dari rumahnya" sahut Rizal.


Tin tin


Rizal membunyikan klaksonnya karena ada mobil dari arah berlawanan menyerobot traffic light padahal lampu merah menyala di saat dia ingin berbelok ke arah kanan.


" Kau sedang di luar, Zal?" tanya Bondan karena mendengar Rizal membunyikan klakson.


" Aku sedang di jalan, Dan. Cari angin segar," balas Rizal.


" Sedang banyak pikiran, kau?" tanya Bondan terkekeh. " Apa karena wanita itu?" Bondan sepertinya bisa menebak apa yang sedang dipikirkan oleh Rizal.


Rizal menanggapi pertanyaan Bondan dengan dengusan nafasnya.


" Hahaha, seorang Rizal bisa dibuat galau oleh anak kecil ... hahaha ..." Bondan tertawa lebar menanggapi apa yang sedang terjadi pada sahabatnya itu. " Apa kau belum melakukan apa yang aku sarankan, Zal?" tanyanya kemudian.


" Tidak mudah untuk memberi pengertian pada putriku, Dan. Sementara banyak pria lain yang mulai mendekati dia," keluh Rizal akhirnya terbuka mengatakan apa yang sedang menjadi beban pikirannya.


" Kau akan kehilangan dia jika restu dari putrimu tidak kunjung datang, begitu?"


" Sainganku bukan main-main, Dan. Mereka masih muda, tampan dan juga pengusaha." Rizal seakan frustasi.


" Hei, semua itu bukan jaminan, Zal. Dan itu menjadi tugas berat bagimu untuk membuktikan jika kau lebih pantas dia pilih." Sebagai sahabat, Bondan berusaha menasehati Rizal agar Rizal tidak patah semangat untuk mengejar cintanya pada Grace.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


.Happy Reading ❤️


__ADS_2