
Rizal membelokkan mobilnya ke depan rumah makan Padang. Tentu saja karena saat ini waktu sudah menunjukkan jam 12.30 artinya sudah masuk waktunya makan siang.
Grace spontan menoleh ke arah Rizal saat tahu Rizal memarkirkan mobilnya di halaman restoran padang.
" Kita makan dulu." Tahu jika akan ditanya oleh Grace, Rizal langsung memberikan jawaban, sebelum Garce melempar pertanyaan kepadanya.
" Kau saja yang turun, aku tidak mau!" tolak Grace.
" Kamu suruh aku makan siang sendirian di dalam dan membiarkan kamu kelaparan di mobil?" tanya Rizal memutar tubuhnya menghadap Grace.
" Aku tidak akan mati kelaparan, meskipun kau tinggal makan dua jam di dalam sana!" jawab Grace ketus.
" Kamu ini tidak enak ya? Kalau tidak menentangku?" Rizal kadang merasa kesal dengan sikap keras kepala Grace.
" Daripada tiba-tiba putri manjamu itu datang dan menyiram wajahku lagi. Nanti dia playing victim lagi, merasa paling menderita!" sindir Grace melempar pandangan ke luar jendela. Sepertinya rasa kesal Grace masih belum hilang karena perbuatan kasar Isabella saat itu kepadanya.
" Turunlah, tidak akan ada Isabella di restoran itu. Dia sedang ada kegiatan di kampusnya sampai sore." Rizal membuka pintu mobil dan tetap memaksa Grace untuk ikut turun.
Grace akhirnya turun mengikuti Rizal untuk makan siang di restoran itu. Memilih beberapa makanan khas dari Sumatera Barat yang dihidangkan di rumah makan tersebut.
Grace memilih menu ayam pop dan sayur nangka serta telur dadar, Sementara Rizal memilih menu gulai ikan, paru goreng, perkedel dan sambal ijo.
Grace memperhatikan Rizal yang menyantap makanan mengunakan tangan, membuatnya mengerutkan keningnya.
" Apa gunanya sendok dan garpu disediakan kalau makan pakai tangan?" Grace memprotes cara makan Rizal yang dianggapnya tidak sopan dilakukan di rumah makan.
Rizal melirik Grace yang memprotes cara makannya dan langsung terkekeh.
" Makan pakai tangan itu rasanya lebih nikmat. Kamu ini punya darah Indonesia. Jangan mengaku orang Indonesia jika tidak pernah merasakan makan menggunakan lima jari!" Rizal menunjukkan jari-jarinya yang dikotori nasi dan lauknya.
" Ck, menji jikkan sekali!" Grace menjauhkan wajahnya dari telapak tangan Rizal, membuat Rizal terkekeh dan melanjutkan menikmati makanannya.
" Oh ya, Rivaldi itu orang yang sangat licik, kau harus berhati-hati saat menghadapinya nanti! Jangan sampai dia tahu jika kita ini sedang menyamar untuk memperdayainya." Rizal kembali mengingatkan Grace.
" Memangnya secantik apa istri dari Erlangga itu sampai Rivaldi menginginkan wanita bersuami?" Grace sudah mendapat penjelasan dari Rizal sebelumnya, kenapa Erlangga meminta mengawasi dan membatasi serta menghentikan aksi Rivaldi. " Memangnya tidak ada wanita single yang bisa dia jadikan pendampingnya? Dia sangat tampan, masih muda, seorang bos dan kaya raya. Dia bisa mendapatkan wanita lajang sesuai keinginannya." Grace masih mengingat bagaimana penampilan fisik Rivaldi yang menurutnya sangat mempesona.
" Terkadang ambisi itu mengalahkan akal sehat. Contoh nyata? Tidak jauh seperti yang terjadi dengan wanita di hadapanku sekarang ini." Rizal menyindir Grace.
" Memangnya aku berambisi apa?" Grace menyanggah tuduhan Rizal.
" Ambisimu membalas dendam pada Tuan Gavin, padahal Tuan Gavin itu tidak seperti yang kamu pikirkan. Kau seakan menutup mata bahkan bekerja sama dengan kekasihmu itu untuk mencelakai Tuan Gavin." Rizal menyindir kasus yang dialami Grace hingga membuat wanita itu akhirnya berurusan dengannya.
" Hei, kenapa bawa-bawa masalahku?! Kau ini tidak senang jika tidak meledekku, ya!?" Merasa disindir Rizal, Grace langsung protes.
" Aku tidak menyindir, hanya berbicara fakta." Rizal menyeringai. Rasanya menyenangkan sekali bisa kembali mengajak Grace berdebat hingga membuat wanita itu memberengutkan wajah cantiknya.
***
" Bagaimana, Grace? Sukses?" tanya Yuanita saat dia kembali ke kantor bersama Rizal. Yuanita dan rekan-rekan di kantor Rizal sangat penasaran dengan duet Rizal dan Grace menanggani kasus yang diterima dari sahabat bos mereka sendiri.
" Ya, seperti itulah ..." sahut Grace duduk di kursi yang dia duduki jika di lantai bawah. " Ternyata orang yang sedang kita selidiki ganteng juga, masih muda lagi." Sepertinya Grace masih belum bisa menyudahi kekagumannya pada penampilan fisik Rivaldi.
" Wah, hati-hati, lho! Jangan sampai kamu jatuh cinta! Bisa-bisa Pak Rizal cemburu." Yuanita menanggapi dengan tertawa kecil.
" Hahh?? Apa urusannya dia cemburu??" Grace memutar bola matanya.
" Memang kamu tidak bisa merasakan, Grace? Atau kamu pura-pura tidak tahu?" Yuanita bertanya dengan menggerakkan alisnya naik turun.
" Kamu bicara apa, sih?" Grace tidak terlalu serius menanggapi ucapan Yuanita. Bukannya dia tidak paham. Dia tahu maksud perkataan Yuanita itu ke mana. Namun, dia memang tidak ingin memikirkan hal tersebut.
" Masa kamu tidak merasakan jika Pak Rizal itu sebenarnya ada hati sama kamu, Grace." Akhirnya Yuanita menjelaskan maksud dari ucapannya.
" Tidak usah bergosip! Nanti singa tua itu mendengar, tamat riwayatmu, Nit!" Grace memang tidak ingin membahas soal perasaan Rizal kepadanya.
__ADS_1
" Feeling aku sih, Pak Rizal itu suka sama kamu, Grace. Tapi, dia bingung anaknya sama kamu bermusuhan. Jadi sebenarnya itu Pak Rizal merasa dilema dengan perasaannya sendiri. Coba perhatikan sikap dia terhadap kamu, deh! Kadang menjauh, tapi tiba-tiba mendekat dengan sendirinya." Yuanita sepertinya sudah dapat meraba sikap Rizal yang menurutnya sangat aneh.
" Kemarin-kemarin bilang waktu makan siang kamu adalah miliknya. Lalu ada kasus kamu perang sama anaknya langsung menghindar. Sekarang malah pilih kamu sebagai partnernya untuk menghandle kasus ini. Apa tidak galau bosku itu?" Yuanita menertawakan bosnya sendiri.
" Kita lihat nanti, deh! Kamu disuruh mendekati ... siapa nama orang yang sedang kalian selidiki?" tanya Yuanita.
" Rivaldi."
" Iya, kalau kamu bisa mendekati Rivaldi, lalu ternyata Rivaldi itu ternyata suka kamu. Hmmm, kita lihat reaksi Pak Rizal gimana? Aku rasa Pak Rizal salah strategi, nih." Yuanita bahkan sampai terkikik membayangkan Rizal akan dibuat cemburu oleh rencananya sendiri.
" Idemu boleh juga, Nit!" Tiba-tiba Grace menemukan ide untuk mengerjai Rizal. Jika dugaan Yunita itu benar tentang perasaan Rizal terhadapnya. Rasanya senang jika dia bisa membuat Rizal menderita jika dia memanfaatkan aktingnya saat mulai mendekati Rivaldi.
" Ide apa? Memang aku kasih ide apa, Grace?" Merasa tidak memberikan ide pada Grace, Yuanita bertanya bingung.
" Ide untuk membuat bosmu kebakaran brewoknya! Hahaha ..." Grace langsung bangkit dan berjalan menuju tangga untuk kembali ke lantai atas.
***
Rizal sedang menerima laporan dari Vito soal penyelidiknya terhadap Agnes. Rizal memang selalu meminta anak buahnya bertindak cepat dalam menanggani setiap kasus yang diberikan oleh kliennya. Cepat dan akurat, itu prinsip yang dia pegang dalam menjalani usahanya itu.
" Hmmm, jadi dia sudah masuk ke dalam perangkapmu, Vit?" tanya Rizal setelah mendengarkan laporan yang disampaikan oleh Vito.
" Sepertinya memang begitu, Pak. Dia mengajak saya untuk sering datang ke fitness club nya," ungkap Vito.
" Kau harus hati-hati, Vit. Jangan sampai tergoda dengan bujuk rayunya. Wanita adalah godaan tersulit dalam kehidupan pria." Rizal mencoba menasehati Vito. Setidaknya itulah yang dirasakan oleh Rizal saat dia pun ternyata hampir goyah dengan serbuan godaan yang disodorkan oleh Grace kepadanya.
" Iya, Pak. Sepertinya saya harus fokus pada tugas dan tidak memikirkan hal lain." Vito terkekeh menyadari jika tugas yang dia hadapi cukup berat. Bukan karena kasusnya, tapi karena harus menghadapi godaan wanita yang harus dia hindari.
" Hahaha ..." Rizal tertawa lepas, dia seolah senang melihat Vito menderita setengah mati menghalau godaan wanita.
" Kasusnya Tuan Erlangga sendiri bagaimana, Pak? Apa Rivaldi itu percaya dengan penyamaran Bapak dan Nona Grace?" Vito mencoba mengalihkan topik pembicaraan, karena tidak ingin Rizal terus meledeknya.
" Tentu saja, Vit. Dia sudah mengenal nama perusahaan milik Pak Satria, walaupun dia tidak pernah bertemu langsung dengan Pak Satria saat masih menyamar menjadi karyawan Tuan Erlangga. Tentu mudah membuat dia percaya," jawab Rizal.
" Bukankah itu karena Rivaldi menyukai istri Tuan Erlangga?"
" Rivaldi menyusup ke kantor Mahadika sebelum mengenal Nyonya Kayra. Saya rasa itu bukan alasan utama Rivaldi ingin menjatuhkan Tuan Erlangga, Vit. Dan itu tugas kita untuk menyelidikinya," lanjut Rizal kemudian.
Tok tok tok
" Permisi, Pak." Sam terlihat masuk ke dalam ruang kerja Rizal.
" Gimana, Sam?" tanya Rizal karena dia tahu anak buahnya itu akan melaporkan hasil penyelidikan soal tempat Rivaldi biasa menghabiskan waktu senggang.
" Saya sudah mendapatkan beberapa tempat yang biasanya dikunjungi. Selain boxing club ada juga cafe yang biasa dikunjungi oleh Rivaldi setelah pulang kerja." Sam lalu menyebutkan tempat yang dia maksud tadi.
" Oke, Sama. Terus pantau dia. Jika dia ada di cafe itu, segera kabari, agar Grace bisa bergerak cepat."
" Baik, Pak." Setelah memberi laporan, Sam pun keluar dari ruangan Rizal.
" Apa Bapak yakin akan meninggalkan Nona Grace berdua dengan Rivaldi itu, Pak?" tanya Vito.
" Apa kau takut dia kabur dari sini?"
" Bukan itu, Pak!" tepis Vito.
" Lalu?"
" Bagaimana jika Nona Grace nantinya menjalin hubungan dengan Rivaldi, Pak?" Sepertinya semua anak buah Rizal tahu bagaimana sebenarnya hubungan Rizal dengan Grace. Tidak hanya Yuanita saja yang merasakan jika sebenarnya bos mereka mempunyai perasaan yang khusus terhadap Grace.
" Menjalin hubungan khusus apa maksudmu, Vit?" Rizal terkejut karena Vito menanyakan hal itu padanya
" Saya hanya khawatir jika Nona Grace akan membocorkan rencana kita pada Rivaldi, Pak." Vito tentu tidak berani terang-terangan menjelaskan maksud dari pertanyaannya.
__ADS_1
" Dia tidak mungkin berkhianat, Vit." ucap Rizal yakin.
" Saya juga tahu, Pak. Tapi yang saya takutkan itu apa yang akan terjadi jika Nona Grace ternyata jatuh hati pada pesona Rivaldi. Apa Bapak akan baik-baik saja?" Vito hanya berani menanyakan hal tersebut dalam hati saja.
***
Rizal menunggu panggilan teleponnya pada seseorang terangkat. Ini sudah panggilan kedua yang dia lakukan. Namun, orang yang sedang dihubungi belum juga merespon panggilan telepon darinya.
Rizal akhirnya meletakkan ponselnya karena dia menduga orang yang dia hubungi saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya.
Ddrrtt ddrrtt
Berselang lima detik dia menaruh ponselnya di atas meja, kini benda pipih alat komunikasinya itu berbunyi. Dan Rizal dengan cepat mengangkat panggilan telepon itu, karena orang yang tadi dia hubungilah yang kini menelepon balik dirinya.
" Halo, Bos. Sorry mengganggu waktumu." Orang yang dihubungi oleh Rizal tak lain adalah Dirgantara Poetra Laksmana, temannya yang seorang direktur perusahaan properti ternama.
" Ada apa kau meneleponku, Zal? Aku rasa, aku tidak minta kau menyelidiki kasus." tanya Dirga dari seberang ponsel Rizal.
" Aku butuh bantuanmu, Bos." ucap Rizal tak ingin berbasa-basi.
" Sebut saja kau butuh berapa, Zal? Apa kau butuh modal untuk menikahi calon istri mudamu itu?" Dirga mengakhiri pertanyaannya dengan suara tawa.
" Si alan kau, Bos!" Rizal justru ikut tertawa. " Aku bukan butuh uang, Bos." Rizal menepis jika bantuan yang dia butuhkan adalah uang.
" Lalu kau butuh bantuan apa, Zal?"
" Pinjamkan aku satu unit apartemen mewah milik Angkasa Raya, Bos."
" Hei, kau tak perlu pinjam, Zal. Aku akan berikan itu sebagai kado pernikahan untukmu kalau kau memang ingin menikah dengan wanita muda itu, Zal." Dirga terkekeh saat berbicara.
Rizal hanya tersenyum mendengar ucapan Dirga.
" Ini tidak ada sangkut pautnya dengan urusan pribadi, Bos. Ini soal kasus yang sedang aku selidiki." Rizal kembali menampik.
" Hei, kau jangan melibatkan nama Angkasa Raya dalam menjalankan misimu, Zal!" Dirga sepertinya keberatan saat Rizal mengatakan jika berencana meminjam apartemen berhubungan dengan profesinya sebagai penyidik.
" Tenang saja, Bos. Ini tidak ada hubungannya dengan kejahatan kriminal." Rizal akhirnya menceritakan secara garis besar apa yang sedang dia rencanakan.
" Okelah, kapan kau ingin ambil kuncinya? Kau langsung datang saja ke sana. Nanti orangku akan aku atur menemuimu di sana untuk menyerahkan kunci padamu, Zal." Akhirnya Dirga menyetujui meminjamkan salah satu unit apartemen mewahnya yang biasa disewakan.
" Oke, thanks, Bos. Sore ini saja aku ke sana, Bos. Bagaimana?"
" Oke, nanti aku atur orang ke sana sore ini. Semoga sukses, Zal." Tak lama Dirga pun menutup panggilan teleponnya terlebih dahulu.
Sore harinya, Rizal bersama Grace pergi ke apartemen milik perusahaan Angkasa Raya yang dia pinjam dari Dirga.
Setelah bertemu dengan orang suruhan Dirga dan menerima kunci unit apartemen yang dia pinjam. Kini Rizal dan Grace pun sudah berada di dalam satu unit apartemen yang cukup luas dengan interior yang sangat elegan dan mewah.
" Dari mana kau bisa mendapatkan apartemen ini?" tanya Grace sementara matanya terus mempehatikan sudut demi sudut ruangan. apartemen yang jauh lebih bagus dari apartemen miliknya. " Daripada menyewa apartemen ini, kenapa tidak kau biarkan saja aku tinggal di apartemenku sendiri?" tanyanya kemudian.
" Dan kau ingin Rivaldi mengetahui siapa dirimu? Atau, kau ingin mengoda Rivaldi di sana, seperti kau mulai menggodaku dulu?" sindir Rizal seraya mendekat ke arah Grace berdiri.
Ucapkan Rizal seketika membuat Grace teringat akan perkataan Yuanita beberapa waktu lalu. " Kalau aku menggoda dia, memangnya kenapa? Kini Grace yang justru bergerak, berjalan perlahan mengelilingi Rizal
" Tidak ada yang salah, kan? Dia lebih muda darimu, sangat tampan, seorang bos dan pastinya kaya raya. Kalau suruh memilih aku akan pilih dia daripada memilih pria tua sepertimu, Pak tua." Tepat di belakang Rizal, Grace berbisik kepada pria itu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️