TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Bertemu Orang Tua Rivaldi


__ADS_3

Grace merapihkan kembali riasan make up dan rambutnya. Jika dirinya tidak menghentikan aktivitas panas beberapa menit bersama Rizal tadi, bukan tidak mungkin mereka berdua masih akan melanjutkan aktivitas in tim mereka, bahkan mungkin lebih jauh lagi.


Grace beberapa kali mengedikkan bahunya. Bahkan sampai merinding mengingat kein timan yang tidak dia duga sebelumnya akan terjadi. Tiap sentuhan yang diberikan Rizal kepadanya membuat dirinya berga irah.


" Ya Tuhan, kenapa ingat itu terus, sih!?" Grace menepuk keningnya merasa konyol karena dia masih saja membayangkan tersebut.


Teettt


Suara bel apartemen kembali berbunyi. Grace menduga yang kali ini datang adalah Rivaldi. Grace pun segera mengenakan outer terlebih dahulu untuk menutupi bahunya yang terbuka.


" Hai ..." Sapa Rivaldi yang berdiri di depan pintu seraya mengulum senyuman.



" Hai ..." Grace pun membalas sapaan dan juga tersenyum menyambut kedatangan Rivaldi. Sangat berbeda jauh dibanding saat dia melihat kedatangan Rizal.


" Kamu cantik sekali ..." Rivaldi memuji kecantikan Grace di hadapannya saat ini.


Grace tersipu mendengarkan pujian yang diucapkan Rivaldi kepadanya. " Thanks ..." sahutnya.


" Kita berangkat sekarang?" tanya Grace kemudian.


" Oke." Rivaldi menyetujui.


Grace dan Rivaldi pun akhirnya berangkat menuju pesta Pak Ronald menggunakan mobil Rivaldi yang terparkir di basement apartemen mewah milik perusahaan properti besar Angkasa Raya Group.


" Hmmm, Papa Mamaku nanti akan hadir juga di pesta itu. Tidak apa-apa, kan? Kalau aku perkenalkan kamu sana orang tuaku?"


Ketika dalam perjalan menuju gedung tempat diadakan resepsi pernikahan putri dari Pak Ronald, Rivaldi mengatakan ingin memperkenalkan Grace kepada kedua orang tuanya. Tentu saja hal itu membuat Grace terkejut. Dia tidak tahu apakah Rivaldi memang sudah merencanakan hal ini sebelumnya atau suatu kebetulan saja.


Menurutnya, memperkenalkan seorang wanita kepada keluarga pria, apalagi dalam acara pesta besar yang di hadiri beberapa orang penting di bidang bisnis bukan hal yang main-main. Bisa jadi itu adalah pertanda sang pria ingin memperkenalkan calon pendamping hidup kepada keluarganya.


" Rena?"


Garce mengerjapkan matanya saat mendengar suara Rivaldi kembali berbicara padanya. Hingga lupa merespon pertanyaan yang ditujukan Rivaldi kepadanya.


" Oh, i-iya," sahutnya kemudian. " Papa Mama kamu diundang juga ya?" tanyanya.


" Iya, Papaku seorang pengusaha di bidang Garment di Bandung, karena itu Papa juga ikut diundang di acara itu." Rivaldi menjelaskan tentang usaha yang dijalankan orang tuanya.


" Garment?" Agak terkejut Grace mendengar bidang usaha yang digeluti oleh orang tua Rivaldi. " Jangan-jangan, orang tua dia kenal Mamaku lagi ..." gumam Grace dalam hati. Karena dia berpikir Mamanya yang seorang desainer ternama pasti akan dikenal oleh pengusaha yang bergerak di bidang fashion terutama pakaian jadi.


" Iya. Sebenarnya papaku ingin aku menggeluti usaha yang dijalani Papaku itu. Tapi, aku tidak berminat meneruskan usaha keluarga. Aku ingin punya usaha sendiri, yang dirintis dari awal dengan kemampuanku sendiri." Rivaldi menceritakan kenapa dia bisa memimpin perusahaannya sekarang.


" Bagus, dong! Kamu punya perusahaan sendiri, bukan perusahaan warisan keluarga. Tidak sepertiku, turun mengurus perusahaan keluarga. Tidak ada yang bisa dibanggakan." Grace membandingkan dirinya dengan Rivaldy.


" Menurutku tidak masalah mengurus usaha keluarga. Apalagi kamu wanita, justru hebat kalau kamu bisa meneruskan usaha Papa kamu dan membuat perusahaan Papa kamu lebih besar dari sebelumnya." Rivaldi mencoba menyemangati Grace yang terlihat kurang bersemangat meneruskan usaha keluarganya.


Grace hanya tersenyum menanggapi ucapan Rivaldi hingga memperlihatkan lesung pipi membuat wajahnya semakin terlihat sedap di pandang mata.


" Sebenarnya aku juga tadinya tidak berminat datang ke acara ini waktu Papa dan Mamaku mengajak untuk datang."


Grace menoleh ke arah Rivaldi saat mendengar Rivaldi sebenarnya tidak niat datang ke pesta Pak Ronald.


" Kenapa?" Karena penasaran akhirnya Grace bertanya.


" Karena aku tidak punya teman wanita yang bisa menemani aku pergi ke sana." Rivaldi terkekeh menyebutkan alasannya. " Mereka yang datang pasti akan membawa pasangan mereka masing-masing, kan? Makanya waktu kamu hubungi aku kemarin, aku langsung ajak kamu untuk datang ke sana," lanjut cerita Rivaldi.


" Memangnya kamu tidak punya pacar sampai bingung mau datang ke pesta karena tidak ada yang mendampingi?" tanya Garce kemudian.


" Tidak ada," jawab Rivaldi.

__ADS_1


" Serius? Masa, sih? Untuk seorang bos muda seperti kamu tidak punya pacar?" Seakan tidak percaya seorang pria tampan dan kaya raya seperti Rivaldi tidak mempunyai kekasih.


" Kenyataannya memang seperti itu." Senyum Rivaldi terlihat samar di sudut bibirnya.


" Memangnya kamu tidak pernah suka terhadap seseorang?" tanya Grace mulai memancing Rivaldi untuk bercerita.


Rivaldi menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Grace.


" Pernah. Tapi, sayang dia sudah dimiliki oleh orang lain," ungkapnya kemudian.


Grace tahu siapa orang yang dimaksud oleh Rivaldi. Pastilah wanita itu adalah istri Erlangga.


" Tidak ada wanita lagi selain wanita itu memangnya? Atau, kau terlalu pemilih?"


" Tidak, bukan seperti itu!" sanggah Rivaldi. " Aku hanya mencari wanita yang benar-benar tulus mencintaiku, bukan karena siapa aku, bukan karena status sosialku, bukan karena jabatanku. Selama ini banyak wanita yang mencoba mendekati hanya karena apa yang aku miliki. Dan aku tidak suka dengan wanita yang terlalu agresif mengejarku." Rivaldi menjelaskan wanita yang dia dambakan.


" Semoga secepatnya kamu mendapatkan wanita yang kamu inginkan." Grace menyahuti dan mendoakan Rivaldi mendapatkan apa yang pria itu inginkan.


" Aamiin ..." sahut Rivaldi seraya menatap wajah cantik Grace.


Butuh waktu kurang lebih empat puluh lima menit untuk sampai di gedung tempat resepsi pernikahan anak dari Pak Ronald. Kini Grace dan Rivaldi pun sudah memasuki convention hall wedding party tesebut.


Grace memperhatikan dekorasi yang nampak mewah juga elegan. Tak heran karena yang mengadakan pesta adalah ketua dari para pengusaha-pengusaha wilayah Jawa dan Bali. Grace juga memperhatikan para tamu undangan. Sudah pasti mereka yang hadir bukanlah orang-orang sembarangan. Mungkin sembilan puluh persen dari tamu undangan adalah para bos-bos perusahaan ternama.


" Kita kasih ucapan ke mempelai sekalian menyapa Pak Ronald." Rivaldi mengajak Grace untuk naik ke stage pelaminan untuk memberikan ucapan selamat kepada pengantin dan juga menyapa Pak Ronald.


" Di sana meja orang tuaku. Kita ke sana." Setelah memberikan ucapan selamat, Rivaldi kini mengajak Grace untuk menemui orang tuanya yang duduk di sebelah Utara dari arah pintu masuk convention hall tersebut.


" Pa, Ma." Setelah sampai di meja yang dituju, Rivaldi menyapa Nugraha dan Arina, kedua orang tuanya.


" Aldi? Siapa dia ini, Aldi?" Nugraha menatap heran ke arah Grace yang berdiri di samping Rivaldi.


" Ini Rena. Pa. Dia ini putri dari Pak Satria, pemilik perusahaan Langgeng Putra Persada." Rivaldi memperkenalkan Grace kepada Nugraha.


" Oh, halo, Nak Rena. Wah, ini suatu kejutan untuk kami. Aldi tidak bicara apa-apa pada kami, jika dia akan membawa Nak Rena datang kemari." Terlihat di wajah bahagia Nugraha saat mengatakan kalimat itu. Seakan sudah lama sekali dirinya menginginkan putranya memperkenalkan seorang wanita kepadanya.


" Benar, tadi Aldi malah bilang tidak akan datang kemari. Ternyata, dia ingin memberikan kejutan kepada kami dengan mengenalkan kamu, Nak." Arina yang duduk bersebelahan dengan suaminya menimpali.


" Hmmm, apakah Rena ini yang akan menjadi calon menantu Papa dan Mama, Aldi?" Pertanyaan Nugraha selanjutnya membuat Grace membelalakkan matanya dan langsung menoleh ke arah Rivaldi. Grace tidak menyangka jika langsung akan dianggap calon menantu oleh orang tua Rivaldi.


" Papa jangan terlalu berlebihan! Kami ini hanya kebetulan bertemu saja, dan Rena juga kemarin datang ke kantor untuk melakukan kerjasama dengan perusahaanku, Pa." Melihat Grace menatapnya penuh kebingungan, Rivaldi langsung menepis anggapan kedua orang tuanya itu.


" Wah, Nak Rena ini ikut mengelola perusahaan Papa Nak Rena? Masih muda seperti ini sudah mau terjun ke dunia bisnis. Itu sungguh luar biasa." Nugraha memuji Grace yang dianggapnya ikut mengurus perusahaan milik Papanya.


" Ah, tidak kok, Om. Saya masih belajar saja. Tidak terlalu menguasai bidang usaha yang digeluti oleh Papa." Grace cepat menampik dugaan Nugraha karena dia takut ditanya macam-macam soal perusahaan yang tidak dia kuasai sama sekali.


" Tidak apa, yang penting kamu sudah mau belajar sedari dini. Nantinya Nak Rena bisa menjadi pengusaha yang hebat." Sebagai pengusaha senior, Nugraha mencoba memberikan nasehat kepada Grace untuk lebih termotivasi.


" Sementara ini saya hanya diperbantukan Papa untuk belajar mengurus perusahaan, Om. Karena saya tidak berminat mengelola usaha Papa saya." Grace menegaskan dirinya tidak berminat meneruskan usaha keluarga, baik dalam perannya sebagai Rena maupun mewakili dirinya sendiri sebagai Grace yang selalu diminta Agatha untuk ikut mengelola usaha orang tuanya.


" Lho, kenapa kamu tidak berminat meneruskan usaha Papamu, Nak?" tanya Nugraha kembali.


" Saya tidak suka pekerjaan kantoran, Om. Mungkin karena sekarang ini saya masih muda, masih ingin menikmati masa muda bersama kawan-kawan. Mungkin jika saya sudah menikah, biar suami saya saja yang meneruskan usaha Papa, agar saya tidak dipusingkan dengan urusan perusahaan," jawab Grace menjelaskan.


" Kalau begitu, Nak Rena ini harus teliti mencari calon suami, kalau kamu ingin suami kamu yang mengurus bisnis milik Papamu, Nak. Jangan asal mencari pendamping! Carilah yang benar-benar mencintai kamu, tanpa memandang jika kamu adalah seorang anak pengusaha kaya raya. Jangan sampai kamu terjebak kepada pria yang hanya ingin menguasai harta dan perusahaan Papamu." nasehat Nugraha


" Iya, Om. Saya juga berpikir seperti itu." sahut Grace menyetujui ucapan Nugraha. Namun matanya melirik ke Rivaldi yang sedang mengarahkan pandangan ke sudut kanan dari tempat mereka berada membuat Grace mengikuti arah pandang Rivaldi.


Grace menduga jika saat ini Rivaldi sedang memandang ke arah meja keluarga Mahadika Gautama. Sebelumnya dia diberitahu oleh Rizal sosok keluarga besar Mahadika Gautama yang akan hadir di sana. Grace kembali menoleh ke arah Rivaldi. Terlihat olehnya wajah Rivaldi yang menegang dengan rahang mengeras seakan terbakar api cemburu.


" Apa saat ini Nak Rena sudah punya calon pendamping?" Tiba-tiba Arina menanyakan soal calon pendamping pada Grace, membuat Grace menoleh ke arah Arina.

__ADS_1


" Saya belum memikirkan hal itu, Tante. Karena usia saya baru dua puluh tahun. Saya masih ingin menikmati kebebasan di usia muda," sahut Grace.


" Sayang sekali, padahal anak Om juga sedang mencari calon pendamping." Nugraha menimpali ucapan istrinya, yang kali ini justru sukses membuat Rivaldi menatap Papanya.


" Anak Om?" Grace berpura-pura tidak memahami apa yang dimaksud dengan ucapan Nugraha.


" Iya, anak Om." Nugraha menunjuk ke arah Rivaldi dengan gerakan matanya.


" Pa ...!" tegur Rivaldi karena menganggap Papanya itu terlalu cepat menjodohkan dengan Grace, padahal mereka baru kali ini bertemu dengan Grace.


" Uhuk ... uhuukk ..." Tiba-tiba saja Arina terbatuk.


" Kenapa, Ma?" tanya Nugraha mengusap punggung sang istri.


" Mama mau ke toilet dulu sebentar." Arina ijin ke toilet pada suaminya.


" Mau saya antar, Tante?" Grace dengan cepat menawarkan diri mengantar Arina.


" Tidak usah, Nak. Tidak usah repot-repot. Uhuukk ... uhuukk ..." Arina bergegas meninggalkan meja menuju toilet yang ada di convention hall itu.


" Saya temani Tante ya, Om!?" Grace langsung minta ijin menemani Arina. Karena dia menghindari Nugraha yang kemungkinan akan banyak bertanya-tanya kepadanya.


" Tante tidak apa-apa?" tanya Grace saat melihat Arina masuk ke dalam toilet.


" Tidak apa-apa, Rena." Arina menyalakan kran di wastafel.


" Kalau begitu saya tunggu di luar ya, Tante?"


" Iya, Rena. Terima kasih."


Grace meninggalkan bagian dalam toilet dan memilih menunggu di luarnya. Hingga akhirnya terlihat sepasang suami istri berjalan ke arah toilet dengan posisi tangan sang suami memeluk pinggang istrinya.


" Aku ke dalam dulu, Mas " Suara wanita yang tak lain adalah Kayra meminta ijin suaminya untuk ke toilet. Dan sang pria tentu saja adalah Erlangga Mahadika Gautama.


" Iya, Sayang. Aku tunggu di sini. Jangan terlalu lama," sahut Erlangga.


" Iya, Mas." Kayra lalu masuk ke dalam toilet.


" Hati-hati, Sayang!" seru Erlangga sebelum tubuh Kayra menghilang di balik toilet


Grace memperhatikan interaksi harmonis pasangan suami istri di hadapannya itu. Sangat serasi dan romantis. Pantas saja jika Rivaldi cemburu dan kesal pada mereka berdua. Dan wanita yang menjadi istri Erlangga itu, dia benar-benar cantik dan anggun. Dapat Grace rasakan dari suara lembut yang diucapkan Kayra tadi saat bicara pada Erlangga. Pantas saja Rivaldi begitu dalam menyukai wanita itu.


Grace kini menatap Erlangga yang juga sedang memandangnya. Grace langsung menganggukkan kepalanya seraya tersenyum bermaksud menyapa Erlangga. Dan di balas dengan anggukkan kepala Erlangga.


Grace melihat Erlangga mengambil ponsel di saku dalam blazernya dan mengecek ponselnya. Kening pria tampan itu seketika berkerut saat melihat ponselnya tesebut. Erlangga terlihat mengetik pesan di ponselnya. Setelah itu Erlangga kembali menoleh dan berjalan mendekat ke arah Grace.


" Pak Satria ternyata mengubah waktu kedatangannya. Beliau ternyata sudah tiba di sini. Nanti saat saya berbicara dengan beliau, kamu mendekatlah agar mereka percaya jika kau adalah anak dari Pak Satria. Kau sudah mengenali wajah Pak Satria, kan?" Erlangga menjelaskan apa yang harus dikerjakan oleh Grace nanti.


" Sudah, saya sudah tahu wajahnya," sahut Grace. " Tapi, bagaimana jika Rivaldi mengikuti dan ingin berjumpa dengan Pak Satria?" Grace khawatir jika Rivaldi akan menemui Satria, itu akan membuat penyamarannya terbongkar.


" Selama Pak Satria bersama saya, saya yakin dia tidak akan berani mendekati Pak Satria." Erlangga berusaha meyakinkan Grace agar Grace tetap tenang dan menjalankan perannya sesuai yang direncanakan tanpa mengundang kecurigaan dari Rivaldi."


" Baiklah," sahut Grace.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2