
Rizal memperhatikan wajah istrinya yang saat ini bersandar di dadanya memperhatikan acara movie di televisi. Wajah itu tidak menampakkan kesedihan seperti yang dikatakan oleh Surti.
Rizal memang tidak menyinggung soal testpack yang diceritakan oleh Surti saat dia datang tadi. Karena dia tidak ingin membuat Grace semakin bersedih. Dan sejak dia masuk ke kamar, hingga saat ini mereka menunggu waktu makan malam, istrinya itu tidak sedikit pun menampakkan kesedihan.
" Hahaha ...."
Grace tiba-tiba tertawa lebar karena adegan lucu dari movie yang dia tonton, membuat kening Rizal seketika berkerut. Namun, tak lama senyuman terkulum mendengar istrinya itu tertawa lepas.
" Sudah bisa tertawa artinya sudah membaik 'kan, sakitnya?" tanya Rizal memainkan anak rambut sang istri.
" Kalau sudah dekat Papih gini, sakitnya auto menghilang ..." Grace terkikik semakin mempererat pelukan di tubuh kekar sang suami.
" Oh ya, Pih. Tadi Bi Tinah mengira aku ini hamil hanya karen kepalaku pusing dan badanku lemas." Tiba-tiba Grace mencetitakan soal dugaan Bi Tinah yang menyangka dirinya sedang mengalami gejala hamil muda.
" Oh ya?" Rizal berpura-pura tidak mengetahui soal hal tersebut.
" Iya, Pih! Sampai suruh aku cek pakai testpack segala," cerita Grace kembali.
" Lalu?" Rizal masih bersandiwara, membuatkan istrinya itu terus bercerita.
" Iya akhirnya suruh Bi Surti beli alat itu."
" Beli testpack?" Rizal menaikkan alisnya, seolah dia terkejut.
" Iyalah, orang Bibi paksa-paksa aku untuk cek kehamilan, kok!" Kali ini bibir Grace mencebik.
" Lalu bagaimana hasilnya?" tanya Rizal masih menanggapi ucapan Grace seolah dia tidak tahu hal yang sebenarnya.
" Negatif lah! Orang aku juga tidak merasa sedang hamil, kok! Lagipula kita menikah juga belum ada sebulan, kan!?" jawab Grace santai, seolah tidak terbebani dengan hasil testpack yang negatif.
" Kalau hasilnya negatif, berarti harus ditambah durasinya, ya? Biar berhasil jadi positif." Rizal menyeringai seraya mengedipkan matanya membuat Grace langsung mendelik.
" Segitu banyaknya masih kurang, Pih?" Grace memutar bola matanya menanggapi ucapan Rizal yang bersemangat jika membicarakan soal urusan ranjang.
Sementara Rizal langsung menyeringai karena kata-kata nakal yang diucapkannya tadi.
" Apa kamu ingin cepat punya anak?" tanya Rizal kemudian. Usia istrinya itu masih belia. Baru berusia dua puluh tahun. Melihat Grace nampak santai, seolah tidak terpengaruh dengan hasil negatif testpack nya membuat Rizal kurang yakin jika grace ingin segera memiliki momongan, berbeda dengan dirinya. Tentu saja karena usia dia yang hampir kepala empat, Rizal ingin segera mempunyai keturunan di pernikahan keduanya bersama Grace.
" Kalau memang dikasih cepat hamil ya syukur, Pih! Tapi kalau belum, ya biasa saja aku, sih! Tidak mau terlalu terburu-buru. Aku ini 'kan masih muda. Masih panjang usia produktifnya," jawab Grace.
" Kamu masih muda, Sayang. Sedang aku? Aku tidak ingin saat usiaku sudah tua renta tapi masih harus mengurus bayi." Rizal berseloroh.
Grace melirik ke arah suaminya. " Kalau Papih sudah tua renta, sudah loyo, dong! Aku boleh cari yang baru lagi ya, Pih? Siapa tahu bisa kayak Mama dapat berondong yang lebih muda. Hahaha ..." Grace mananggapi perkataan suaminya dengan kalimat ngelantur yang membuat Rizal menjewer lemah telinga sang istri.
" Berani sekali bilang ingin selingkuh di hadapan suami!?" Mata Rizal menatap tajam Garce yang terkikik menutup mulutnya dengan telapak tangan.
__ADS_1
" Ampun, Pih!" Grace kembali memeluk Rizal masih dengan tertawa geli melihat kemarahan suaminya.
Tok tok tok
" Pak, Non, makan malamnya sudah siap!" Dari luar kamar Rizal terdengar suara Bi Tinah memberitahu jika makan malam sudah siap untuk dihidangkan..
" Iya, Bi! Terima kasih ..." Dengan berteriak Rizal menyahuti.
" Kamu mau makan di mana? Di ruang makan atau di sini?" Rizal menawarkan karena dia khawatir istrinya masih merasakan lemas.
" Di luar saja." Grace langsung bangkit dan menarik tangan Rizal untuk segera beranjak ke luar kamar mereka menuju ruangan makan.
***
" Gimana kegiatan mengajar kamu, Bella? Katanya kamu kasih les privat. Apa jauh tempatnya?" tanya Rizal saat keluarganya menikmati makan malam bersama.
" Tidak, kok, Pih!" sahut Isabella.
" Apa kamu nyaman mengajar di sana?" tanya Rizal kembali. Dia tetap harus memantau Isabella, agar putrinya itu tidak merasa diasingkan dan tidak diperhatikan.
," Nyaman-nyaman saja, Pih." Isabella menutupi jika di tempat Cantika, dia merasa tidak nyaman dengan sikap Joe, pria yang dia duga Papa dari Cantika.
" Syukurlah kalau kamu merasa nyaman di sana." Rizal merasa tenang karena putrinya tidak mengalami kesulitan. Dia tidak tahu jika bahaya sedang mengincar Isabella, karena pria yang menghancurkan Grace kini berada dekat dengan Isabella.
" Apa jadwal mengajarnya sama seperti di Lembaga Bimbel nya?" tanya Rizal kembali.
" Oh, begitu ..." Rizal menganggukkan kepalanya.
" Kalau kamu merasa repot dengan aktivitas baru kamu itu, sebaiknya fokus sama kuliah kamu saja dulu, Bella." Rizal menasehati putrinya untuk lebih mengutamakan kuliahnya.
" Tidak kok, Pih! Bella justru senang dengan aktivitas yang Bella jalani sekarang ini. Bella jadi punya banyak teman," jawab Isabella. Dengan menjadi tenaga pengajar di Lembaga Bimbingan Belajar membuat pergaulannya lebih luas lagi.
" Kalau kamu butuh teman, 'kan ada Grace. Kalian bisa pergi bersama, ke mall, shopping bersama atau makan-makan di resto sama Fauziah juga." Rizal tetap berusaha mendekatkan Grace dengan Isabella.
Perkataan Rizal membuat Grace dan Isabella saling berpandangan beberapa saat, namun tak lama mereka berdua saling membuang muka.
" Oh ya, bagaimana kalau kita pergi makan bersama weekend nanti? Kita 'kan belum pernah pergi bertiga selama ini." Rizal mengusulkan untuk mereka pergi ke luar bersama, agar semakin terjalin keakraban. Khususnya antara Grace dengan Isabella.
Grace dan Isabella menoleh ke arah Rizal secara bersamaan.
" Bagaimana? Kalian setuju, kan?" tanya Rizal menatap bergatian ke arah istri dan anaknya.
" Terserah Papih saja," sahut Grace dan Isabella berbarengan hingga membuat dua wanita berselisih usia satu tahun itu saling berpandangan dan kembali saling membuang pandangan.
***
__ADS_1
" Mbak, Sabtu nanti Cantika tidak les dulu tidak apa-apa, kan? Soalnya saya mau ke luar kota dan Cantika mau saya titipkan di rumah orang tua saya di Bekasi," ujar Cyntia, Mommy Cantika, ketika Isabella baru sampai di apartemennya.
" Oh, Baik, Mom. Tidak apa-apa. Mau diganti hari lain atau bagaimana, Mom?" tanya Isabella, memberi pilihan kepada Mommy Cantika, agar waktu belajarnya tetap genap seminggu tiga jam.
" Kalau hari ini dibuat dua jam saja, bisa tidak Mbak Bella nya?" Cyntia menanyakan apakah waktu belajar Cantika bisa ditambah.
" Boleh saja. Mom. Tidak masalah kalau Cantika nya tidak merasa jenuh, Mom." Isabella tidak merasa keberatan jika harus menambah jadwal hari ini untuk mengganti hari Sabtu nanti Cantika berhalangan mengajar.
" Kalau Jumat, Mbak Bella ada jadwal mengajar tidak?" tanya Cyntia menanyakan jadwal mengajar Isabella. Dia takut jadwalnya kan bentrok dengan jadwal mengajar Isabella yang lain.
" Jumat tidak ada, Mom." sahut Isabella.
" Ya sudah, Jumat saja kalau begitu. Barangkali Jumat Cantika ada peer, jadi bisa dibantu dikerjakan peer nya," ujar Cyntia memilih memajukan jadwal les Cantika.
" Baik, Mom." sahut Isabella menyanggupi apa yang diminta oleh Mommy Cantika.
" Oh ya, bagaimana? Apa Cantika bisa mengikuti pelajarannya?" tanya Cyntia penasaran dengan antusias anaknya dalam mengikuti pelajaran.
" Alhamdulillah, Cantika bisa mengikuti pelajaran dengan baik kok, Mom." jawab Isabella menerangkan jika Cantika dapat menerima materi pelajaran yang dia ajarkan.
" Syukurlah kalau Cantika dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Soalnya dia agak susah kalau saya ajari, Mbak." keluh Cyntia yang merasa sulit mengajari putrinya belajar.
" Benar begitu, Cantika? Kenapa Cantika tidak mau kalau belajar sama Mommy?" Isabella hanya berbasa-basi bertanya kepada Cantika.
" Soalnya Om Joe gangguin Mommy terus kalau Mommy menemani aku belajar, Kak Bella." celoteh Cantika jujur, karena dia tidak nyaman dengan Joe yang mengganggu Cyntia ketika Mommy Cantika itu menemani Cantika belajar.
Ucapan Cantika membuat Isabella dan Cyntia saling menatap. Jika Cyntia merasa malu karena anaknya seakan membuka rahasianya, sementara Isabella merasa heran, kenapa Cantika menyebut Joe dengan sebutan 'Om'.
" Hush, kamu ini bicara apa, Cantika!?" tegur Cyntia langsung bangkit dari duduknya. " Ya sudah, lanjutkan lagi belajarnya." Cyntia segera meninggalkan putrinya dan Isabella.
" Hmmm, memang Om Joe itu bukan Papihnya Cantika?" Entah mengapa Isabella tertarik untuk menanyakan soal Joe kepada Cantika.
" Bukan, Kak. Om Joe itu kata Mommy, bodyguard nya Mommy. Kak Bella tahu tidak bodyguard itu apa? Bodyguard itu orang yang menjaga Mommy dari orang-orang yang mengganggu Mommy." Cantika menjelaskan kepada Isabella, seakan Isabella tidak tahu arti bodyguard.
" Eh, tapi ... Om Joe 'kan disuruh jaga Mommy dari orang yang mengganggu Mommy. Kenapa Om Joe malah ganggu Mommy kalau Mommy sedang membantu Cantika belajar, ya?" Bocah kecil itu seolah berpikir dan merasa aneh dengan sikap Joe kepada Mommy nya.
Sejujurnya Isabella merasa penasaran dengan kata mengganggu yang dilakukan oleh Joe pada Cyntia. Karena dia sendiri merasakan interaksi aneh antara Joe dan Cyntia. Tidak seperti sekarang bodyguard dan majikannya. Namun, Isabella tidak ingin terlalu ikut campur urusan Joe dan Cyntia. Dia pun merasa tidak pantas terlalu mengulik informasi lebih jauh dari Cantika untuk mengetahui hal-hal yang sebenarnya belum pantas diketahui oleh anak seusia Cantika.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy reading❤️