TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Memburu Joe


__ADS_3

Setelah keluar dari kamar Isabella, Grace kembali ke kamarnya. Dia sengaja tidak ingin mengganggu waktu Rizal dan Isabella bersama. Entahlah apalagi di kamar itu terdapat foto Rizal dan Sonia, Mamih dari Isabella. Melihat tatap mata tajam dan senyum tipis Sonia membuat Grace tidak nyaman. Dia justru merasa sebagai pengganggu keluarga bahagia itu. Padahal jelas-jelas Sonia sudah meninggal enam tahun lalu sebelum Rizal mengenal dirinya.


Grace mengambil ponselnya. Dia ingin menghubungi seseorang, tapi dia merasa ragu untuk menyambungkan nomer telpon yang ingin dia tuju. Namun setelah dipertimbangkan, akhirnya dia meyakinkan diri untuk tetap menghubungi orang tersebut.


" Ada apa kamu menelepon Mama, Grace?" Nada bicara Agatha masih kurang bersahabat terdengar di telinga Grace, saat panggilan teleponnya terangkat oleh Mamanya.


" Mam, apa benar Mama bertemu Joe di Bandung?" tanya Grace, dia kepikiran akan cerita Rivaldi yang mengatakan jika Joe berbuat kasar kepada Mamanya itu.


" Dari mana kamu tahu Mama bertemu si breng sek itu?" tanya Agatha terkejut, karena Grace tahu soal pertemuannya dengan Joe beberapa hari lalu di Bandung.


" Aldi yang memberitahuku," sahut Grace jujur mengatakan jika Rivaldi lah yang membuatnya tahu soal kemunculan Joe.


" Aldi? Kamu berkomunikasi dengan Aldi, Grace?" Nada bicara ketus Agatha kini berubah lebih bersemangat, karena mengira putrinya itu kembali menjalin hubungan dengan Rizal kembali.


" Aku tadi bertemu dengan dia, Mam. Apa yang Joe lakukan terhadap Mama?" Grace merasa penasaran dengan ucapan Rivaldi yang mengatakan jika Joe berbuat kasar kepada Agatha.


" Si breng sek itu medorong Mama sampai Mama hampir jatuh. Untung saja Aldi datang menolong Mama di waktu yang tepat. Tidak berlebihan jika Mama berharap Aldi menjadi menantu Mama kan?" Agatha masih merasa jika pilihannya masih lebih baik di bandingkan dengan pilihan anaknya sendiri.


" Mam, sudahlah! Jangan terus membahas itu! Aku sudah menikah dan aku bahagia dengan pernikahanku ini!" tegas Grace, tidak suka Mamanya selalu mengusik pernikahannya dengan Rizal, padahal dia sangat bahagia dengan pernikahannya dengan pria berusia sembilan belas tahun di atas usianya itu.


" Lalu ada apa kamu bertemu dengan Aldi?" tanya Agatha penasaran. Jika menyangkut tentang Rivaldi, Agatha selalu nampak antusias.


" Siang tadi Aldi menolong anak suamiku yang hampir diper kosa oleh Joe, Mam." Grace menyebut alasannya bertemu dengan Rivaldi siang tadi.


" Apa??" Suara Agatha terdengar terperanjat mendengar kabar yang disampaikan Grace padanya. " Bagaimana bisa anak suamimu itu mengenal Joe?" tanya Agatha heran.


" Aku juga tidak tahu, Mam. Apa motif Joe ingin memper kosa Bella? Tapi, untung saja hal itu tidak sampai terjadi, karena Aldi berhasil menyelamatkan Bella." Grace tidak dapat membayangkan jika tidak ada Rivaldi yang menolong Isabella siang tadi, mungkin Isabella juga akan menjadi korban Joe selanjutnya,


" Tuh, kan!? Mama bilang juga apa? Aldi itu memang baik, kamu saja yang tidak bisa menyadari kebaikan hati Aldi!" kembali Agatha membanggakan Rivaldi, sebagai calon suami yang tepat untuk Grace menurutnya.


" Sudahlah, Mam,! Jangan ungkit itu lagi! Aku menelepon Mama karena ingin tahu apa yang dilakukan Joe pada Mama." Grace beralasan hanya ingin mengetahui apa yang dilakukan Joe kepada Mamanya itu, karena memang itulah tujuannya menelepon Mamanya itu.


" Ya sudah, Aku tutup dulu teleponnya. Bye Mam ...."


Tak ingin Mamanya terus membanggakan Rivaldi, Grace memilih mengakhiri komunikasi dengan Agatha. Dia tidak ingin membicarakan soal Rivaldi dengan Mamanya, karena dia yakin jika Mamanya akan terus membela Rivaldi dan menyalahkan dirinya karena lebih memilih Rizal.


DDrrt ddrrtt


Baru saja Grace menaruh ponsel di atas nakas, tiba tiba saja ponselnya itu kembali berbunyi. Grace pun kembali mengambil benda pipih itu dari nakas.


Grace mengerutkan kening saat mendapati nomer telepon Rivaldi yang mengirimkan sebuah pesan di ponselnya. Dengan cepat Grace membuka pesan masuk dari Rivaldi itu.


" Bagaimana keadaan dia?" Sebuah pertanyaan menanyakan soal keadaan Isabella. Itulah isi pesan masuk dari Rivaldi.


" Masih syok. Bagaimana kau bisa ada di TKP saat kejadian itu?" Grace cepat membalas seraya menanyakan bagaimana Rivaldi sampai menolong Grace.


" Apa kau mencurigaiku terlibat dalam kasus ini?" Balasan pesan yang masuk dari Rivaldi seakan merasa jika Grace meragukannya.


" Melihat sepak terjangmu selama ini, aku rasa wajar jika aku curiga." Grace menyampaikan alasannya bertanya seperti itu.


" Apa aku boleh meneleponmu?” Rivaldi meminta ijin untuk melakukan panggilan telepon.


Garce berpikir sejenak. Sebenarnya dia sendiri malas berbicara di telepon dengan Rivaldi, namun dia juga merasa terlalu ribet untuk berkomunikasi via chat, karena banyak hal yang harus dia tanyakan kepada pria itu seputar Joe.


" Oke!" sahut Grace singkat.

__ADS_1


" Kalau video call juga boleh?😉" balas Rivalfo dengan memasang emoji senyum dengan. mata berkedip.


" Jangan macam-macam, kau!👊" Grace membalas dengan menambah emoji kepalan tangan ke depan.


Tak ada balasan dari Rivaldi. Pria itu justru langsung menelepon Grace.


" Halo ..." Grace mengangkat panggilan telepon Rivaldi.


" Apa suamimu tidak marah kamu menerima panggilan telepon dari seorang pria?" sindir Rivaldi terkekeh. Dia senang akhirnya dapat melakukan panggilan telepon lagi dengan Grace.


" Jika bukan karena aku ingin tahu soal kejadian yang menimpa Bella, aku juga tidak akan menerima telepon darimu!" balas Grace menanggapi sindiran Rivaldi. " Jadi, apa yang menyebabkan kau berada di sana siang tadi?" Tak ingin banyak berbasa-basi, Grace kembali menuntut jawaban dari Rivaldi.


" Aku sedang dalam perjalanan pulang menuju kantor setelah bertemu teman-teman lamaku. Dan tiba-tiba aku melihat mobil yang dipakai oleh Joe saat di Bandung kemarin. Aku sebagai mengikuti mobil itu, dan ternyata berhenti di tempat anak tirimu mengajar. Aku juga tidak menyangka kalau ternyata dia menjemput Bella."


" Aku melihat gelagat mencurigakan, karena itu aku mengikuti mereka sampai di apartemen tempat terjadinya perkara." Dengan panjang lebar Rivaldi menjelaskan bagaimana dia bisa berada di sana. Dia bukanlah Superhero yang tiba-tiba kebetulan menolong, akan tetapi karena sebelumnya sudah mengintai Joe dan mengikuti mobil yang dipakai oleh Joe.


" Sekarang, apa kau masih mencurigaiku?" Rivaldi mengakhiri kalimat dengan mempertanyakan soal keraguan Grace kepada dirinya.


" Oke, aku bisa menerima alibimu,” sahut Grace dapat menerima pembelaan diri Rivaldi.


" Oh ya, menurutku sebaiknya suamimu itu memberi pengawalan khusus pada putrinya, jika tidak ingin peristiwa seperti siang tadi terjadi lagi. Soalnya aku mendapat kabar dari anak buahku, ternyata mantan kekasihmu itu berhasil kabur. Saat security tiba di sana. si breng sek itu sudah tidak ada di tempat. " Rivaldi memberikan saran selain memberikan penjelasan soal kaburnya Joe dari apartemen sebelum tertangkap.


" Apa?? Dia berhasil kabur?" Grace terperanjat mendengar kabar mantan kekasihnya itu berhasil kabur dari lokasi kejadian.


" Iya, ternyata lebih licin dari yang aku kira," jawab Rivaldi.


Hembusan nafas kasar terdengar dari hidung Grace. Dia terlihat kecewa dengan berita itu. Sebenarnya Grace berharap Joe benar-benar dirungkus, karena dia benar-benar mu ak dengan segala tingkah laku Joe.


Setelah merusaknya, memcederai lehernya, kini Joe ingin menodai Isabella, seandainya dia bisa betemu langsung dengan orang itu, ingin dia ce kik lehernya, ingin dia buat babak be lur wajahnya. atau kalau perlu dia po tong kema luannya sekalian agar tidak bisa berulah lagi.


" Aku sudah menyelidiki Joe sebelumnya. Dari nomer mobil yang dia pakai, dia bekerja pada seseorang bernama Cyntia. Wanita simpanan seorang bos, dan Joe ditugaskan untuk menjadi bodyguard wanita itu." Rivaldi juga menceritakan soal perempuan yang menjadi bos bagi Rivaldi.


" Wanita itu sepertimu, mempunyai suami yang usianya tiga puluh tahun lebih tua darinya. Aku rasa Joe tidak hanya sekedar bodyguard bagi wanita itu, karena Joe juga tinggal di apartemen yang sama dengan wanita bernama Cyntia itu. Kamu paham 'kan maksudku?"


" Maksudnya, Joe menjadi pria simpanan wanita itu?" tanya Grace terkejut, saat mengetahui Joe dengan mudah mendapatkan mangsa yang baru.


" Apa kamu merasa cemburu?" sindir Rivaldi menduga jika Grace masih menyimpan rasa cinta kepada Joe. Karena dari cerita Agatha yang dia dengar, Grace rela meninggalkan keluarga demi Joe.


" Cih, Siapa juga yang cemburu!? Sekarang ini aku hanya mencintai suamiku, bukan pria lain termasuk dia!" tegas Grace menampik tudingan Rivaldi, karena dia memang damba sekali sudah tidak menginginkan pria itu lagi.


" Nanti aku akan kirimkan data tentang bos dari Joe. Mungkin suamimu ingin menyelidiki Joe lebih lanjut . Tapi, kemungkinan si breng sek itu tidak berani kembali ke sana karena dia meninggalkan mobilnya begitu saja di basement apartemen TKP." Rivaldi berjanji memberi data orang yang kemungkinan dapat memberikan Informmasi soal Joe.


“Oke, thanks." Hanya jawaban singkat dari Grace menyahuti ucapan Rivaldi.


" Bicara dengan siapa, Sayang?" Suara Rizal yang terdengar tiba-tiba di kamar membuat Grace terkesiap.


" P-Papih ?” Grace tidak menduga jika suaminya akan kembali ke kamar. Padahal Rizal tadi mengatakan akan menemani Isabella. Grace pun segera memutus sambungan teleponnya dengan Rivaldi.


" Kamu telepon siapa?" Rizal mengulang pertanyaannya. Rizal memperhatikan wajah Grace yang terkaget melihat dirinya masuk ke dalam kamar.


" Tadi Aldi yang telepon, Pih." jawab Grace. Dia tidak enak terhadap suaminya itu karena ketahuan sedang menelepon pria lain tanpa sepengetahuan Rizal


" Aldi? Ada apa dia telepon kamu?_ Nada serius dan penuh selidik langsung dilontarkan Rizal.


" Aldi baru saja memberitahuku kalau Joe berhasil kabur sebelum security appartemen tiba di TKP, Pih." Grace menceritakan sedikit percakapannya dengan Rivaldi di telepon kepada Rizal.

__ADS_1


" Joe berhasil kabur??" Rizal nampak geram. Dia bahkan meng hantam kepalan tangannya ke arah telapak tangan lainnya. " Benar-benar seperti belut ba jingan itu!" Rizal mengumpat dengan sangat emosi. Tentu saja Rizal merasa emosi. Joe hampir saja menodai putri kesayangan Rizal. Ayah mana pun pasti akan sangat geram dan kecewa jika mendapati anak gadisnya bernasib seperti Isabella. Ayah mana pun juga pasti akan mengu tuk pelaku karena perilaku bia dab orang itu.


" Aldi mengatakan saat ini Joe bekerja pada seorng wanita simpanan seorang boss besar. Aldi akan mengirimkan alamat orang itu jika Papih ingin mencari Joe." Grace pun menjelaskan Informasi lain yang dia dapat dari Rivaldi.


" Aku tidak akan memberi ampun pada si breng sek itu, Grace!" Rizal masih diselimuti aura kemarahan. Dendam Rizal bukan hanya karena perlakuan Joe dahulu kepada Grace, tapi juga karena ulah Joe kepada sang putri kesayangan Rizal, Isabella.


Grace langsung melingkarkan tangannya di pinggang sang suami. " Pih, aku minta maaf. Joe melakukan ini pasti karena ingin membalasku." Kepada suaminya Grace menyampaikan rasa bersalahnya. Grace tetap merasa jika apa yang dilakukan oleh Joe kepada Isabella karena Joe ingin membalas dirinya.


" Kamu tidak usah merasa bersalah seperti itu, Grace. Semua ini bukan salahmu." Rizal tidak merasa jika yang terjadi pada Isabella adalah kesalahan Grace. " Lagipula, seharusnya yang pantas mempunyai dendam itu kamu kepada dia, bukan sebaliknya!" Rizal beranggapan jika Joe tidak pantas menyimpan dendam pada Grace. Karena pria itu hanya penjadi parasit dalam hidup Grace selama ini. Bagaimana tidak dikatakan sebagai parasit? Karena saat bersama Grace, semua kebutuhan Joe terpenuhi. Joe seorang pengangguran, tapi selalu menyimpan banyak uang. Dari mana lagi uang itu berasal jika bukan dari rekening tabungan Grace.


" Oh ya, kenapa Papih kembali ke kamar ? Bukankah tadi Papih bilang akan menemani Bella?" Grace melonggarkan pelukannya dari tubuh Rizal dan menanyakan kepada Rizal, kenapa meninggalkan Isabella, padahal tadi suaminya itu mengatakan akan menemani Isabella dan tidur di kamar Isabella.


" Aku mau mandi dulu, badanku rasanya lengket sekali karena seharian ini berada di lapangan." Rizal mengendus tubuhnya sendiri, dia merasakan aroma yang tidak sedap dan lengket akibat keringat, karena hari ini dia banyak beraktivitas di luar ruangan.


" Lalu Bella sendirian di kamar?" tanya Grace. Dia berniat ingin menemani Isabella selama Rizal mandi.


" Bi Tinah aku suruh menemani Grace sebentar," sahut Rizal.


" Ya sudah, Papih mandi dulu, deh! Aku siapkan bajunya. Papih sudah makan belum?" tanya Grace kemudian.


" Tadi sebelum pulang aku sudah makan dulu dengan Vito," jawab Rizal.


" Ya sudah, buruan mandi, biar segar,” Grace tersenyum mengusap bahu sang suami sebelum akhirnya beranjak ke arah lemari untuk menyiapkan piyama untuk suaminya itu. Sementara Rizal langsung melangkah ke dalam kamar mandi.


***


Rizal bergerak sendiri dalam menyelidik kasus percobaan permerko saan yang dilakukan oleh Joe terhadap putrinya. Pertama kali tempat yang didatangi oleh pria itu adalah apartemen tempat terjadinya perkara. Rizal mendatangi langsung pihak pengelola apartemen tersebut untuk meminta hasil rekaman cctv di basement dari dalam lift, koridor apartemen sampai ruangan tamu apartemen. Dari rekaman itu, Rizal dapat melihat wajah putrinya yang nampak cemas dan tidak nyaman. Dan rekaman aksi Joe saat membekap dan menyeret Isabella secara paksa ke dalam apartemen hingga masuk ke dalam kamar seketika membuat gigi Rizal mengerat, dibarengi dengan rahang yang mengeras dan kepalan tangan, menunjukkan jika pria itu sedang dipengaruhi emosi yang begitu kuat.


Setelah selesai mendapatkan informasi dari pihak pengelola apartemen, kini Rizal mendatangi apartemen milik Cyntia untuk memburu Joe.


Rizal menekan bel untuk yang kedua kalinya karena saat bel pertama dia bunyikan, tidak ada respon dari si pemilik apartemen. Tak berapa lama dari Rizal menekan bel kedua, pintu apartemen itu terbuka dan menampakkan seorang wanita cantik dari balik pintu.


Wanita itu menatap Rizal dari atas rambut sampai ujung kaki. Penampilan charming pria di hadapannya itu membuat Cyntia menatap Rizal tak berkedip.



Wajah tampan dengan tampilan maskukin tentu saja membuat siapa pun kaum hawa yang melihat akan terpikat. Alis yang tersusun rapih. Sorot mata tajam seolah menghu jam langsung ke jantung. Kumis dan cambang lebat, seketika pikiran Cyntia langsung berfantasi.


" Selamat siang, Nyonya. Apa benar ini tempat tinggal Nyonya Cyntia Amanda?" tanya Rizal, membuat Cyntia mengerjapkan matanya.


" Oh, i-iya benar. Maaf, Mas ini siapa, ya?" tanya Cyntia mencoba menguasai diri dari rasa groginya.


" Saya Rizal Gunawan, saya dari kantor penyelidik. Ada yang ingin saya tanyakan kepada Anda Nyonya. Apa Anda berkenan memberikan waktu Anda sebentar?" tanya Rizal meminta ijin. Rizal harus bersikap sopan meskipun hatinya sedang dikuasai emosi karena ulah Joe kepada putrinya.


" Kantor penyelidik? A-ada apa, ya?" Cyntia terlihat gugup. Dia tidak kepikiran jika Rizal ingin mencari info seputar Joe. Dia justru mengira jika Rizal adalah orang suruhan dari istri sah suaminya. Karena selama ini keberadaan dirinya dan anaknya itu ditutup-tutupi oleh sang suami.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ,❤️

__ADS_1


__ADS_2