
Grace segera berkemas karena dia harus meninggalkan rumah keluarga Nugraha. Dia sengaja mematikan nomer ponsel yang biasa dia pakai untuk berkomunikasi dengan Rivaldi. Dia pun sengaja meninggalkan pakaian dan barang-barang yang tadi dia beli dari mall untuk menghindari kecurigaan Arina.
Dengan hanya membawa sling bag nya, Grace berjalan menuruni anak tangga dengan langkah cepat.
" Rena, kamu mau ke mana?"
Grace terperanjat saat mendengar suara Arina yang sudah berada di bawah tangga.
" Hmmm, Tante. Aku mau ijin pergi sebentar ya, Tan!?" pamit Grace, berharap Arina tidak menghalangi kepergiannya.
" Lho, memangnya mau pergi ke mana lagi, Rena?" tanya Arina.
Grace mengusap tengkuknya, dia sedikit grogi menjawab pertanyaan dari Arina. " Hmmm, Papa aku baru saja telepon. Katanya Papa baru saja sampai di Bandung. Aku harus bertemu Papa sebentar, Tan. Soalnya Papa mengkhawatirkan aku." Akhirnya Grace menemukan alasan yang tepat untuk pergi dari rumah Nugraha.
" Tapi tadi Aldi baru saja telepon Tante, Aldi melarang kamu pergi dari sini."
Grace terbelalak mendengar Arina mengatakan jika Rivaldi baru saja menelpon Arina dan melarangnya pergi. Dia sudah menduga jika Rivaldi memang sudah mengetahui penyamarannya. Namun, sepertinya Arina tidak mengetahui soal penyamaran dirinya. Karena sikap Arina masih normal saja terhadapnya saat ini.
" A-Aldi telepon Tante dan melarang aku pergi? Kenapa memangnya, Tan?" Garce berpura-pura bertanya heran.
" Tante tidak tahu. Tapi, Aldi perpesan agar Tante tidak memberikan ijin kamu pergi dari rumah." Seperti dugaan Garce. Arina memang tidak tahu soal penyamarannya saat ini.
" Kok, Aldi melarang seperti itu, Tan? Aldi itu hanya kebetulan menolong aku, dan aku bukan tawanan dia. Kenapa aku dikekang seperti ini, Tan?!" Grace pura-pura merajuk, dan tidak suka sikap Rivaldi kepadanya.
" Tante minta maaf kalau sikap Aldi membuat kamu tidak nyaman, Rena." Merasa jika sikap Rivaldi berlebihan dalam mengekang Grace, Arina menyampaikan permohonan maafnya.
" Tante, tolong kasih ijin aku keluar. Tidak akan lama kok, Tan. Lagipula aku 'kan tidak berniat kabur. Tante lihat sendiri aku hanya bawa sling bag saja, kan?" Grace membujuk Arina agar mengijinkannya pergi.
.
" Please, Tan." Grace bahkan menggenggam tangan Arina.
" Hmmm, baiklah. Tapi, cepat kembali ya, Rena. Jangan sampai Aldi tahu Tante mengijinkanmu pergi." Arina terpaksa memberi ijin karena merasa bersalah telah mengekang Grace. Tentu dia tidak mau Grace mempunyai anggapan yang buruk tentang keluarganya. Karena dia sangat berharap Grace menjadi menantunya.
" Pasti, Tante. Aku hanya ingin bertemu Papaku sebentar, kok." sahut Grace tersenyum lega.
" Kamu nanti diantar sama supir Tante saja, ya?"
" Tidak usah, Tan. Aku sudah pesan taxi, kok." Grace menolak tawaran Arina. " Terima kasih ya, Tan. Aku pergi dulu." Grace memeluk Arina, sesungguhnya dia merasa bersalah pada Arina. Dia sudah merasa nyaman berada di rumah orang tua Rivaldi. Apalagi perlakuan hangat yang dia dapatkan terutama dari Arina membuatnya terasa berat harus meninggalkan rumah itu. Namun, apa mau dikata, mungkin Arina akan menbencinya jika Arina tahu jika dia selama ini tengah bersandiwara.
Grace akhirnya keluar dengan selamat dari rumah Nugraha. Dia mendapat pesan dari Rizal untuk menginap di hotel milik keluarga David Richard yang ada di Bandung. Rizal menyuruh Grace untuk menggunakan dua kali kendaraan ojek online untuk mengelabuhi Rivaldi. Rizal sepertinya takut jika sampai nomer mobil yang akan digunakan oleh Grace terekam oleh cctv di rumah kediaman Nugraha dan Rivaldi akan melacak di mana keberadaan Grace saat ini.
Rizal memang tidak langsung menyuruh Grace pulang. Tapi, Rizal lah yang akan menjemput Grace di Bandung. Sebenarnya Grace juga tidak mengerti kenapa Rizal bersusah payah menjemputnya ke Bandung. Padahal itu hanya akan membuang waktu saja Namun, Grace terpaksa mengikuti arahan Rizal karena dia menduga ada misi lain yang harus dia kerjakan di Bandung.
***
Sekitar jam lima sore, pintu kamar hotel Grace diketuk dari luar. Namun, dia tak langsung membukakan pintu kamar itu. Baru saat ponselnya berbunyi dan Rizal yang menghubunginya, Grace segera beranjak ke arah pintu untuk membukakan pintu.
" Apa kita akan kembali ke Jakarta sekarang?" tanya Grace pada Rizal. Karena pria itu tak menyuruhnya bergegas mengambil tas dan keluar. Namun, Rizal justru masuk dan melepas jaketnya lalu melempar ke sofa di kamar hotel tersebut, juga melepas sepatu yang dipakainya.
" Aku sudah membayar untuk menginap satu malam di sini. Tidak ada salahnya kita bermalam di sini," sahut Rizal menyeringai.
" Kau akan tidur di kamar ini? Sekamar denganku??" Grace mengerutkan keningnya mendengar Rizal mengatakan akan menginap di hotel itu.
" Kenapa? Bukankah kau sering satu kamar bersama pria?" sindir Rizal terkekeh membuat Grace memutar bola matanya lalu melangkah ke arah tempat tidur.
" Apa saja yang sudah kau lakukan semalam bersama Rivaldi?" Sambil mengikuti langkah Garce, Rizal bertanya hal yang membuat hatinya gelisah semalam.
" Banyak! Berbincang, berpegangan tangan, berpelukan, berci uman ..." Grace menyebutkan hal-hal yang tidak dia lakukan bersama Rivaldi terkecuali berbincang.
Rizal langsung menarik tangan Grace setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Grace.
" Berpegangan tangan seperti ini?" Rizal menggenggam tangan Grace. Lalu dia menarik pinggang Grace hingga tubuh langsung wanita itu merapat ke tubuhnya. " Berpelukan seperti ini?" Kini Rizal mengarahkan bibirnya ke dekat bibir ranum Grace.
__ADS_1
" Dan berci uman seperti ini?" Hembusan nafas Rizal terasa di kulit Grace, begitu hangat, apalagi saat Rizal menyatukan bibir mereka.
Grace terkesiap. Tapi, dia tak menolak pagutan yang dilakukan Rizal terhadapnya. Grace justru menikmati bahkan membalas apa yang dilakukan Rizal padanya.
Merasakan jika Grace tak menolak sentuhannya membuat Rizal semakin bersemangat. Dia menarik tengkuk Grace untuk memperdalam pagautannya. Tak lama Rizal menjatuhkan tubuh Grace ke atas tempat tidur dan mengungkungnya tanpa melepas penyatuan bibir mereka. Rasa kesal dan rasa cemburu yang semalam membelenggunya seakan sirna seketika.
Rizal begitu bersemangat mengabsen bibir, wajah dan leher mulus Grace. Dia seakan ingin membersihkan jejak yang ditinggalkan Rivaldi di bagian yang diabsennya tadi. Padahal Rivaldi sama sekali tidak menyentuh Grace.
" Aakkhh ..." Grace mende sah saat Rizal mengigit di bagian lehernya.
" Bagian mana lagi yang sudah berani disentuh Rivaldi?" tanya Rizal berbisik di dekat telinga Grace.
" Menurutmu?" sahut Grace. Sepertinya wanita itu memang senang mebuat Rizal cemburu.
" Aku tidak akan membiarkan pria lain menyentuh ini." Tangan Rizal mengusap bibir Grace yang terasa lembab. " Wajah cantik ini." Kemudian Rizal membelai wajah Grace lalu turun ke bagian leher. " Dan leher mulus ini adalah milikku. Hanya aku yang boleh menyentuhnya." Rizal seakan paling berkuasa akan apa yang ada pada Grace.
" Aku bukan milikmu, Pak tua!" sanggah Grace menepis ucapan Rizal yang merasa sangat berhak atas dirinya.
" Secepatnya kau akan menjadi milikku." Kembali Rizal menyatukan bibir mereka dengan penuh has rat yang bergelora. Rizal seakan ingin menguasai Grace. Hingga suara decapan atas permainan bibir mereka yang terdengar jelas di kamar hotel itu.
" Apa kau tak takut pihak hotel akan menyergap kita, Pak tua?" Grace takut tiba-tiba digeledah saat dia sedang berhubungan in tim seperti saat ini dengan Rizal.
" Ini hotel milik Om David. Tidak mungkin ada yang berani melakukan itu pada kita," sahut Rizal.
" Apa itu artinya kita bebas melakukan apapun yang kita inginkan?" tanya Grace kembali
Rizal menatap mata Grace hingga kini mereka saling menatap lekat.
" Apa kau menginginkannya?" Rizal balik bertanya. Tentu Rizal tahu apa yang dimaksud oleh Grace. Grace bukanlah gadis yang masih suci. Wanita itu pernah berhubungan in tim dengan mantan kekasihnya, sehingga Rizal tahu arah tujuan ucapan Grace.
" Apa kamu berani melakukannya?" tantang Grace.
" Aku akan melakukan hal itu jika kita sudah resmi menikah." Namun, Rizal justru mendekatkan bibirnya kembali ke bibir Grace, ingin melanjutkan kembali aktivitas yang membuatnya bersemangat.
Ucapan Grace membuat Rizal menghentikan niatnya untuk menyatukan bibir mereka kembali. Dia menatap kembali mata Grace. Tak lama dia menjatuhkan tubuhnya di samping Grace dengan tangan masih memeluk tubuh Grace dan wajah merapat ke arah pipi wanita itu.
Deru nafas kencang Rizal terasa di pipi Grace, yang menandakan jika Rizal sedang mencoba meredam ga irahnya yang mulai membuncah.
" Aku sangat menginginkanmu, Grace. Menikahlah denganku!" ucapan permohonan yang mungkin dapat diartikan ucapan lamaran yang dilakukan Rizal membuat Grace terkesiap hingga membuat dirinya menoleh ke arah pria yang berusia hampir dua kali lipat usiannya.
Grace bisa melihat keseriusan dari mata elang Rizal yang sedang menatapnya. Namun, dia sendiri tidak yakin jika dia dan Rizal akan bisa bersama. Terlalu banyak rintangan yang akan dihadapi oleh mereka berdua jika memaksakan untuk bersama.
***
Rivaldi membuka kasar pintu kamar tamu yang semula ditempati oleh Grace. Sejak mengetahui jika Grace bukanlah anak dari Pak Satria, pria itu segera menghubungi Arina karena telepon Grace maupun Rizal sama-sama tidak aktif. Rivaldi bahkan meminta Arina untuk melarang Grace pergi dari rumah Nugraha. Namun, karena keluguan Arina, Grace akhirnya berhasil lolos darinya.
Seperti halnya Rizal, Rivaldi pun langsung bergegas melakukan perjalanan ke Bandung dan meninggalkan pekerjaannya. Dia sangat penasaran dengan motif penyamaran Grace dan Rizal yang mengaku sebagai utusan dari perusahaan milik Satria yang dia tahu adalah mitra bisnis dari Mahadika Gautama.
Rivaldi melihat barang-barang yang baru dibeli oleh Grace masih lengkap ada di kamar itu. Dia mendengus kasar, karena tidak mengira jika Grace begitu cerdik hingga tidak menimbulkan kecurigaan jika wanita itu kabur dari rumah Nugraha.
" Si al! Dia benar-benar pintar!" umpat Rivaldi dengan geram.
Rivaldi mencoba menghubungi kembali nomer telepon Grace dan Rizal. Tapi, nomer mereka masih tidak dapat dihubungi.
" Apa mereka sudah mencium jika aku mengetahui kebohongan mereka? Bagaimana bisa secepat itu mereka menghilang? Apa ada yang mengawasi gerak-gerikku selama ini?" Rivaldi mulai curiga jika selama ini ada yang mengawasinya.
" Apa maksud mereka melakukan ini padaku?! Dan siapa dibalik mereka?! Siapa yang sedang bermain-main denganku!?" Rivaldi mengepal tangannya karena dia merasa geram telah dipermainkan oleh Rizal terutama Grace yang bersandiwara sangat sempurna terhadapnya. Padahal secara pribadi, sosok Grace sudah mulai mencuri perhatiannya, bahkan membuatnya sangat terkesan kepada wanita itu.
Rivaldi segera menghubungi seseorang melalui ponselnya.
" Halo, Jim. Aku minta kau selidiki Rena dan Firman. Cari tahu siapa mereka sebenarnya!?" Rivaldi langsung memberi perintah kepada Jimmy untuk mencari informasi soal Grace juga Rizal.
" Kau tahu apartemen Rena tinggal, kan? Coba kau cari tahu informasi tentang siapa wanita itu yang sebenarnya, Jim!?"
__ADS_1
" Rena yang tinggal di apartemen Angkasa Raya, Bos? Memangnya ada apa dengan dia, Bos?" tanya Jimmy menyahuti dengan penasaran.
" Dia menipuku, Jim. Mereka semua selama ini bersandiwara ingin bekerja sama denganku." Nada suara Rizal masih terdengar kesal.
" Mereka menipu? Berapa banyak yang kena sama mereka, Bos?" Jimmy mengira jika Rivaldi tertipu dalam hal materi.
" Tidak, Jim! Aku tidak mengalami kerugian materi. Aku belum bertransaksi apa-apa dengan mereka. Tapi, mereka semua itu berbohong dan memakai nama Langgeng Putra Persada, padahal mereka tidak ada hubungan apa-apa dengan perusahaan Pak Satria itu." Rivaldi menepis dugaan jika dia dirugikan secara materi. Karena dia memang tidak rugi secara materi. Namun, mungkin hatinya sedikit tercuri, karena harus dia akui, sebenarnya dia ingin menjalin hubungan spesial dengan Grace, apalagi kehadiran Grace begitu diterima oleh keluarganya. Tapi sayang, semua itu sia-sia, karena sosok Rena yang dia harapkan bisa mengalihkan rasa cintanya dari Kayra justru kini nampak tidak nyata.
***
Malam harinya, Rizal mengajak dinner spesial di balkon hotel. Rizal memang sudah meminta pihak hotel untuk menyiapkan meja makan untuk dia menikmati dinner berdua dengan Grace di sana.
Di tengah kekhawatirannya akan penyamarannya yang terbongkar oleh Rivaldi. Pria berusia tiga puluh sembilan tahun itu masih sempat-sempatnya menyiapkan hal romantis seperti dinner malam ini.
" Anggap saja ini kencan kita. Setelah kencan pertama kemarin gagal," canda Rizal saat menarik tangan Grace dan mengajak Grace ke arah balkon setelah pelayan hotel selesai mempersiapkan meja untuk dinner.
Grace memperhatikan makanan dan minuman yang tersaji dan juga buket bunga mawar warna pink yang tergeletak di atas meja.
" Kau ini seperti anak muda saja, Pak tua." celetuk Grace berkomentar. Sebenarnya dia sendiri agak terkejut dengan dinner yang disiapkan Rizal untuknya.
" Memangnya dinner hanya pantas dilakukan oleh anak muda? Lagipula, calon istriku ini 'kan masih muda. Apa salahnya mengadakan dinner seperti ini?" Rizal menjawab kritik yang dilontarkan Grace.
Rizal menarik kursi dan mempersilahkan Grace duduk di kursi itu. " Duduklah ...!" pintanya kemudian dia pun duduk di depan Grace.
Grace mengambil buket bunga yang ditaruh di atas meja itu. Dia memang suka dengan bunga hingga membuatnya tertarik untuk mengambil bunga tersebut. Namun, dia terkejut saat dia melihat sebuah kotak perhiasan di dalam buket tersebut. Kening Grace seketika berkerut melihat kotak perhiasan yang diduga adalah kotak cincin. Seketika itu juga pandangannya terarah kepada Rizal yang tengah menatapnya dengan mengulum senyuman.
" Bukalah ...!" Rizal meminta Grace membuka kotak perhiasan itu.
" Aku tidak mau ...!" Grace menyodorkan kotak perhiasan itu kepada Rizal.
" Memangnya kau pikir itu apa? Itu bukan cincin untuk melamarmu!" Rizal tahu jika Grace akan menduga apa yang ada di kotak itu adalah cincin.
Grace akhirnya mengambil dan membuka kotak kecil itu karena Rizal mengatakan jika itu adalah cincin untuk melamarnya. Jujur saja dia takut jika Rizal benar-benar melamarnya. Namun, Grace langsung memicingkan matanya dan menoleh kembali ke arah Rizal karena dia sudah ditipu oleh pria itu. Karena isi kotak perhiasan itu ternyata benar-benar sebuah cincin berlian dari brand ternama yang sudah dia tahu kualitasnya.
" Kau membohongiku!" Grace memberengut dan menutup kembali kotak perhiasan itu dan menyerahkannya pada Rizal.
Sementara Rizal tersenyum bahagia karena berhasil mengerjai Grace. Dia lalu membuka kotak perhiasan tadi dan mengeluarkan cincin itu dari tempatnya. Rizal pun mengambil tangan kiri Grace kemudian menyematkan cincin itu di jari manis Grace, tanpa memberi kesempatan Grace untuk menolaknya.
" Cincin ini lebih cantik berada di jarimu daripada di kotak ini," ucap Rizal kemudian mengecup jari-jari lentik Grace.
Perlakuan manis Rizal ini membuat wajah Grace merona. Namun, Grace masih ragu menerima keinginan Rizal yang ingin menyuntingnya.
" Kita makan sekarang." Rizal mengajak Grace untuk mulai menyantap beberapa menu makanan.
" Aku akan secepatnya menemui Mamamu untuk memintamu menjadi istriku," ujar Rizal saat mereka sudah mulai menyantap makanan di meja.
" Mama tidak akan menyetujuinya, seperti anakmu tidak merestuinya." Grace menjawab cepat ucapan Rizal.
" Sebaiknya kau urus anakmu dulu sebelum menemui Mamaku," lanjutnya kemudian.
" Apa ini artinya kamu sudah bersedia menjadi istri pria tua ini?" Rizal mengulum senyuman karena dia berhasil menjebak Grace dengan perkataannya. Dari kalimat yang diucapkan Grace, tak ada penolakan dari Grace seperti yang biasa Grace lakukan jika dia membahas soal keinginannya memiliki Grace. Karena selama ini Grace selalu beralasan jika dia tidak ingin mempunyai pasangan yang usianya jauh di atas usianya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️