TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Batalkan Saja!


__ADS_3

Dengan menggunakan maskapai penerbangan nomer satu di Indonesia, Garce dan Rizal terbang ke Singapura sekitar jam 11.35 menit. Perkiraan waktu mereka sampai di Singapura sekitar jam setengah tiga sehingga dia bisa langsung menuju hotel tempat mereka menginap, karena rencana bertemu dengan Om Daniel dijadwalkan malam harinya.


" Kamu hanya pesan satu kamar?" tanya Rizal saat mereka sampai di hotel yang dipilih Grace untuk tempat menginap.


" Memangnya kau keberatan kita tidur satu kamar? Percuma pesan dua kamat, kau pasti akan ke kamarku juga ujung-ujungnya. Lagipula kau 'kan sudah kebal, tidak akan tergoda denganku meskipun kita tidur satu kamar." Dengan santai Grace menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur dengan terlentang.


" Kamu jangan memancingku terus, Grace! Kamu tahu kalau aku setengah mati berusaha meredam has rat untuk menguasaimu sebelum menikah nanti!?" Rizal geram karena tingkah laku Grace yang sengaja memancing ga irahnya.


" Iiishh, kamu ini emosian sekali." Garce kemudian bangkit dari tempat tidur lalu berjalan ke arah balkon. " Kau pernah ke Singapura sebelumnya, ya?" tanya Grace, karena dia tadi sempat melihat paspor milik Rizal.


" Iya, dulu aku sempat mendapat tugas dari Om David untuk mencari orang yang tinggal di sini." Rizal berjalan mengikuti Grace sampai ke teras balkon lalu menceritakan jika sempat mendapat tugas dari David Richard untuk mencari keberadaan Jovanka dan William.


" Kau setia sekali pada keluarga itu." Grace beranggapan jika Rizal sangat loyal membantu setiap masalah yang sedang dihadapi oleh keluarga David Richard.


" Papaku dan Om David dulu berteman baik. Jadi aku sudah menganggap Om David itu seperti orang tua sendiri." Rizal menjelaskan bagaimana hubungannya dengan David Richard.


" Pantas saja ...."


Rizal kemudian memeluk Grace dari belakang dan menciumi ceruk leher mulus dan lembut milik Grace.


" Kau ini dasarnya me sum! Aku tidak sedang memancingmu saja, kau tetap berbuat seperti ini!" sindir Grace menanggapi ulah nakal Rizal kali ini.


Rizal terkekeh mendengar sindiran dari Grace. Namun, dia tidak menghentikan aksinya mencum bu wanita itu.


" Sepulang dari sini, kita langsung ke KUA saja, ya?!" bisik Rizal di telinga Grace.


Perkataan Rizal sontak membuat Grace terbelalak bahkan sampai memutar kepalanya menatap wajah Rizal yang sedang menyangga kepala di pundaknya.


" Om aku belum tentu setuju. Bagaimana kalau Om Daniel tidak merestui kita?" tanya Grace meledek Rizal seraya terkekeh.


" Kita kawin lari saja!" sahut Rizal spontan.


Seketika itu Grace tergelak mendengar jawaban cepat dari Rizal.


" Kawin lari??" Grace bahkan tidak percaya mendengar jawaban dari pria yang kini menjadi kekasihnya itu.


" Kemarilah!" Rizal kemudian membawa Grace duduk di kursi santai yang ada di teras balkon.


" Kamu tahu? Saat aku menikahi Mamihnya Bella, aku juga hampir melakukan hal yang sama." Rizal mulai terbuka menceritakan masa lalunya dengan mantan istrinya.


" Aku berpacaran dengan Mamihnya Bella saat masih SMA. Tapi, kami tidak direstui oleh orang tua mantan istriku itu. Saat lulus SMA, Orang tua Mamihnya Bella ingin menjodohkan dia dengan pria pilihan mereka. Karena itu, aku membawa pergi Mamihnya Bella dan menikahi dia walaupun awalnya tidak disetujui oleh orang tuanya." Rizal terkekeh menceritakan betapa gi la dirinya ketika muda dulu, berani menikahi Sonia padahal dia sendiri saat itu belum mempunyai pekerjaan.


" Serius kau melakukan itu?" Grace sampai tidak mempercayai jika Rizal ternyata senekat itu jika ingin menikahi wanita yang diinginkannya.


" Aku akan lakukan apa saja untuk mendapatkan wanita yang aku cintai, asalkan dia juga mencintakku!" Rizal menunjukkan sikap tegasnya dalam memilih pendamping hidupnya.


" Aku juga bisa melakukan hal itu kepadamu, asalkan kamu percaya jika aku dapat memberikan kebahagian kepadamu." Rizal berusaha meyakinkan Grace jika dia dapat membahagiakan hidup Grace.


Grace manatap bola mata Rizal bergantian. Sikap dan perlakuan pria tampan itu memang sudah berhasil meluluh lantahkan keegoisannya. Bahkan merubah pendiriannya yang semula menolak menjalin hubungan asmara dengan pria yang usianya jauh di atas dirinya.


" Aku percaya, aku juga tidak pernah merasa senyaman ini saat dekat dengan pria." Grace menyandarkan kepalanya di bahu Rizal. Bersama Rizal dia memang merasakan ketenangan. Mungkin inilah yang dia cari selama ini. Mendapatkan pria yang selalu membuat dia merasa tenang, bukan hanya merasa senang setelah melakukan hubungan in tim seperti yang selama ini dia lakukan dengan Joe.


" Kita cari makan di luar, yuk! Lama sekali kalau harus makan menunggu malam!" Rizal mengajak Garce untuk keluar mencari makanan karena saat ini sudah lewat jam tiga.


" Oke." Grace pun menyetujui tawaran Rizal yang ingin mengajaknya mencari makanan.


***


" Tuan Andrew, terima kasih atas kepercayaan perusahaan Anda yang ingin melakukan kerja dengan perusahaan milik saya ini. Saya harap kerja sama ini akan menguntungkan untuk kedua belah pihak." Rivaldi berjabatan tangan dengan relasi baru yang berniat membeli produk dari perusahaan milik Rivaldi itu.


" Sama-sama, Tuan Rivaldi. Saya berharap kerja sama ini bisa berjalan dalam jangka panjang," sahut Andrew. pria asal Medan yang sudah menetap lama di Singapura dan memiliki usaha di sana.

__ADS_1


" Kalau begitu saya permisi dulu, Tuan Andrew." Rivaldi berniat berpamitan kepada Andrew.


" Apa Anda ingin langsung kembali ke Jakarta, Tuan Rivaldi?" tanya Andrew saat Rivaldi berpamitan kepadanya.


" Iya, saya akan langsung kembali ke Jakarta menggunakan penerbangan jam tujuh nanti, Tuan Andrew." Rivaldi sengaja memilih pesawat di jam tujuh karena dia takut pertemuan dengan Andrew akan berjalan cukup lama, jadi dia tidak sampai ketinggalan pesawat.


Andrew melirik arloji di tangannya. " Ini baru jam tiga lewat sepuluh menit. Masih cukup lama menunggu," ucapnya


" Iya, mungkin saya akan istirahat sejenak di hotel sebelum kembali ke Jakarta, Tuan Andrew." jawab Rivaldi.


" Ya sudah, kalau begitu selamat beristirahat, Tuan Rivaldi. Sampai jumpa lagi." Andrew berpamitan lalu berjalan meninggalkan restoran yang berada di sebuah hotel mewah di sana.


Sepeninggal Andrew, Rivaldi berniat kembali ke kamar hotelnya. Dia berniat beristirahat di kamar hotel menanti waktu petang tiba. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti saat dia melihat dua orang keluar dari pintu lift dengan saling melingkarkan tangan ke pinggang.


Tak hanya Rivaldi yang kaget. Pasangan yang tak lain adalah Rizal dan Garce pun sama terkejutnya saat mendapati Rivaldi yang kini berdiri di hadapannya.


" Kau? Sedang apa kau di sini?" Seketika Grace menaruh curiga jika Om nya telah memberitahu Agatha soal rencana petemuan di Singapura ini.


" Kalian sendiri sedang apa ada di sini?" Rivaldi balik menanyakan tujuan Garce dan Rizal ada di Singapura dengan tatapan curiga.


" Bukan urusanmu mengetahui apa yang kami lakukan di sini!" Jika bicara dengan nada ketus, Grace memang ahlinya.


" Lalu apa urusannya denganmu bertanya padaku, apa yang sedang aku lakukan di sini?" balas Rivaldi dengan tingkahnya yang menyebalkan.


" Oh ya aku lupa. Aku ini 'kan calon tunanganmu? Kenapa kamu pergi bersama dia? Seharusnya aku yang kamu temani." Rivaldi berkacak pinggang. Kali ini Rivaldi mengarahkan tatapan penuh kebencian kepada Rizal.


" Pak Rizal, di usia Anda sekarang ini, Seharusnya Anda lebih fokus mengawasi putri Anda yang cantik itu, Bukannya sibuk pacaran dengan wanita yang lebih pantas menjadi putri Anda!" Rivaldi menyindir Rizal dan menyinggung soal Isabella.


" Apa maksudmu!?" geram Rizal. Sepertinya Rizal terpancing oleh ucapkan Rivaldi karena Rivaldi menyinggung soal Isabella.


" Tidak usah meladeni dia!" Garce menahan Rizal yang terlihat ingin menyerang Rivaldi.


" Diamlah!! Jangan banyak bicara!!" Hardik Grace karena Rivaldi masih terus mencoba memancing amarah Rizal.


" Wow, kamu benar-benar membuatku semakin terpesona, Rena. Kamu sangat jauh dari sifat Rena yang aku kenal sebelumnya." Rivaldi semakin menikmati huru-hara yang telah dibuat olehnya.


" Sebaiknya kau pergi dari sini, Aldi!" Grace mengusir Rivaldi yang dia anggap sebagai biang pengacau.


" Aku belum selesai bicara dengan kekasih tuamu ini, Rena!" Rivaldi menolak diusir oleh Grace. " Pak Rizal, bagaimana jika kita buat kepakatan! Jika Anda dihadapkan dua pilihan, putri Anda atau kekasih Anda. Mana yang Anda utamakan?" Rivaldi kembali menebar ancaman kada Rizal.


" Jangan berani mengusik putri saya!" ancam Rizal. Tentu dia takut jika sampai Rivaldi membalas dendam padanya melalui Isabella.


" Saya tidak akan mengusik putri Anda, Pak Rizal. Asal Anda mau melepaskan Rena." Rivaldi menatap ke arah Grace.


" Jangan coba-coba berani mengancam saya!" Rizal terlihat semakin emosi dengan rencana licik yang dilakukan oleh Rivaldi yang ingin memisahkanya dengan Grace.


" Saya tidak mengancam, Pak Rizal. Saya hanya memberi Anda penawaran! Jika Anda tidak ingin saya mengusik Isabella, sebaiknya Anda lepaskan Rena. Jika Anda keberatan dengan tawaran saya, biarkan saya menguasai Isabella putri Anda yang cantik dan lugu itu." Senyuman ib lis terus saja dikembangkan oleh Rivaldi.


" Ba jingan, kau!! Jangan sentuh putriku!!" Rizal siap melayangkan pu kulan tangannya ke wajah Rivaldi. Namun, lagi-lagi Grace menghalangi.


" Jangan terpancing olehnya!" Grace sigap memeluk tubuh Rizal menahan Rizal untuk tidak melakukan keke rasan pada Rivaldi yang akan menjadikan mereka terkena masalah, apalagi saat ini mereka berada di negeri orang.


Grace lalu menangkup kedua rahang tegas Rizal yang ditumbuhi cambang.


" Dia senang membuatmu terpancing emosi. Jangan hiraukan dia! Walaupun kau tidak memilih aku, aku tidak akan sudi menjadi miliknya!" Grace mengakhiri kalimatnya dengan memberikan sentuhan lembut di bibir Rizal, berharap dapat meredakan emosi yang sedang mempengaruhi Rizal. Rizal bahkan terhanyut dengan sentuhan yang diberikan Grace padanya hingga dia membalas dengan penuh semangat.


Rivaldi membulatkan bola matanya sekejap melihat tingkah kedua orang di hadapannya yang seolah lupa jika mereka berada di tempat umum. Namun tak lama matanya menyipit. Pemandangan di hadapannya membuat rahangnya mengeras dengan tangan mengepal.


Grace menjeda pagutan bibirnya, lalu menoleh ke arah Rivaldi yang sedang diselimuti aura gelap di wajahnya.


" Apa kau tidak bosan selalu merusuhi hubungan orang lain, Aldi?? Setelah Erlangga dan istrinya, sekarang kau merecoki hubungan kami!" Grace menyindir bagaimana perbuatan Rivaldi terhadap Erlangga.

__ADS_1


" Apa kau tidak bisa mencari wanita yang tulus mencintaimu tanpa paksaan? Kau tahu, Aldi?! Kau ini sangat menyedihkan! Kau masih muda, tampan, kaya raya, tapi tidak mampu menaklukan hati wanita untuk tulus mencintaimu! Belajarlah tulus mencintai wanita agar wanita itu bisa tulus membalas cintamu, bukan terpaksa karena ancamanmu!!" Sindiran telak dilontarkan Grace pada Rivaldi.


" Menyingkirlah dari hadapan kami!! Aku muak melihat tingkah lakumu!" Grace kembali mengusir Rivaldi.


Rivaldi memicingkan mata menatap tajam ke arah Grace.


" Aku pasti akan bisa memilikimu, Rena!" tegas Rivaldi bernada mengancam lalu berjalan meninggalkan Grace dan Rizal.


" Dia bisa melakukan apa saja yang dia inginkan," ucap Rizal memandang kepergian Rivaldi. " Aku harus memberitahu Isabella agar Bella tidak terjebak oleh pria itu!" Rizal mengeluarkan ponselnya hendak menghubungi putrinya.


" Tidak usah! Bella sudah tahu seperti apa Rivaldi itu." Grace melarang Rizal menghubungi Isabella.


" Maksudmu?" Rizal tidak mengerti kenapa Grace melarangnya menghubungi Isabella.


" Bella sudah tahu kalau Rivaldi itu licik dan sedang berusaha memanfaatkan keluguannya," jawab Grace seraya menggigit bibirnya, akhirnya justru dia sendiri yang kelepasan bicara.


Rizal menatap serius ke arah Grace dengan curiga. " Dari mana kamu bisa tahu hal itu? Kau tahu jika pria itu sedang mendekati Isabella?"


" I-iya, dua malam lalu Rivaldi datang ke rumahku ...."


" Rivaldi datang ke rumahmu?? Apa yang dia lakukan di rumahmu?? Kenapa kamu tidak menceritakan itu kepadaku??" Pertanyaan bernada penuh penekanan memotong ucapan Garce. Tentu saja Rizal kecewa karena Grace menutupi hal itu darinya.


" Aku tidak ingin kamu khawatir," Grace memberi alasan selain takut Rizal menjadi cemburu.


" Apa yang dia katakan padamu?" selidik Rizal kembali.


" Dia minta aku meninggalkanmu jika aku tidak ingin melihat dia mendekati Bella," aku Grace jujur.


" Dia mengancammu? Dan juga mengancam akan memanfaatkan putriku??" Rizal terkejut mendengar pengakuan Grace. " Astaga, Grace!" Rizal memegang kepala dengan kedua telapak tangannya.


" Kamu tahu jika Rivaldi ingin memperalat putriku, dan kamu merahasiakannya dariku?? Kamu tahu 'kan kalau Rivaldi itu licik!? Dan kamu membiarkan dia mendekati Bella tanpa sepengetahuanku!?" Rizal menyayangkan sikap Grace yang tidak jujur kepadanya.


" Aku ... aku sudah minta tolong ke Vito agar dia menasehati Bella." Grace pun mengatakan jika dia sudah meminta bantuan Vito untuk menceritakan bagaimana Rivaldi yang sebenarnya kepada Isabella.


" Kamu memberitahu Vito, tapi menyembunyikannya dariku, orang tuanya sendiri!? Grace, aku ini Papihnya Bella, aku lebih berhak tahu apa yang terjadi pada Bella daripada orang lain! Kenapa kau tidak menceritakannya padaku!? Apa kamu justru senang Isabella diperdaya oleh Rivaldi!?" Rizal yang terpancing emosi tanpa sadar mengeluarkan pertanyaan yang menyinggung hati Grace.


Pertanyaan terakhir Rizal terasa sangat menyakiti hati Grace. Bagaimana mungkin Rizal berpikiran jika dia senang melihat Isabella disakiti oleh Rivaldi. Meskipun hubungan dia selama ini dengan Isabella tidak berjalan baik. Tapi, tidak sedikit pun terlintas di benaknya melakukan hal yang ditudingkan Rizal kepadanya.


Grace manatap tajam ke arah Rizal yang sedang sama-sama diselimuti emosi.


" Sebaiknya kita batalkan saja rencana bertemu dengan Om ku!" Dengan nada tercekat Grace berucap kepada Rizal. Dia pun kemudian memutar arah dan melangkah meninggalkan Rizal dengan hati kesal.


Rizal terkesiap melihat Grace melangkah meninggalkannya. Dengan cepat dia berlari menyusul langkah Grace yang menuju arah lift.


" Grace, maafkan aku. A-aku tidak bermaksud menuduhmu. Aku hanya ... aku sangat mencemaskan Bella. Kamu tahu sendiri bagaimana Bella. Aku takut Rivaldi membalasku melalui Bella, karena Bella adalah kelemahanku." Menyadari kesalahannya telah menyinggung perasaan Grace dengan perkataannya tadi, Rizal segera menyampaikan permintaan maaf kepada Grace. Rizal menyadari, kelemahan dia hanya ada pada putrinya.


" Kau pikir aku akan diam saja dengan ulah Rivaldi?! Aku langsung menghubungi Vito, karena aku tahu Bella sangat dekat dengan Vito! Aku tidak memberitahumu, karena aku tahu, kau pasti akan langsung menegur Bella. Jika Bella tahu aku yang memberitahumu, aku takut dia akan salah paham dan semakin membenciku karena aku dianggap menghalangi kedekatan dia dengan Rivaldi!" Grace menjelaskan alasannya kenapa dia menyembunyikan hal tersebut dari Rizal.


" Apa kau pikir karena aku selama ini tidak akur dengan putrimu, lantas aku membiarkan saja dia berada dalam bahaya, hahh!?" Grace masih kecewa dengan tudingan Rizal tadi.


" Jika memang itu yang ada di pikiranmu, sebaiknya batalkan saja rencana menikah denganku!" tegas Grace kembali, lalu dengan langkah tergesa masuk ke dalam lift yang terbuka.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2