TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Perhatian Rivaldi


__ADS_3

Grace senang dengan kunjungan Bondan yang membesuk suaminya. Bondan bahkan berjanji akan membantu mencari di mana Joe bersembunyi. Grace tidak meragukan kemampuan Bondan. Sahabat suaminya itu sama-sama mempunyai keahlian di bidang yang sama dengan suaminya. Hanya saja Bondan bekerja di satu orang, yaitu Erlangga Mahadika Gautama. Sementara membuka suaminya membuka jasa agen penyidik independen yang dapat disewa oleh publik.


" Apa perkara ini sudah melibatkan pihak berwajib, Grace?" tanya Bondan kemudian.


" Vito sudah menghubungi teman suamiku yang polisi, Pak Bondan. Tapi aku belum melaporkan kejadian ini ke kantor polisi secara langsung." Grace memang belum secara resmi melaporkan soal kasus yang menimpa suaminya itu. " Menurut Pak Bondan gimana enaknya?" Grace meminta pendapat Bondan, Grace yakin Bondan dapat memberikan jalan keluar untuk kasus peni kaman Rizal itu.


" Sebaiknya laporkan saja ke kantor polisi, tapi aku akan tetap bantu dengan caraku sendiri." Bondan memberikan saran agar Grace segera melakukan laporan secara resmi tindakan kejahatan yang diperbuat oleh Joe kepada Rizal.


" Baiklah, Pak Bondan. Nanti saya akan suruh Vito urus laporannya ke kantor polisi," sahut Grace.


" Ya sudah, kalau begitu, aku pamit dulu, Grace. Semoga Rizal cepat sembuh dan cepat siuman." Merasa cukup berbincang seputar kondisi Rizal, Bondan berpamitan kepada Grace.


" Iya, Pak Bondan. Terima kasih Pak Bondan sudah menyempatkan waktu membesuk suami saya." Grace kemudian mengantar Bondan ke luar ruangan ICU.


" Rizal Sahabatku, Grace. Sudah pasti aku akan membesuknya. Jika kau butuh bantuan, kau bisa menghubungi nomer teleponku." Bondan meminta Grace untuk tidak segan meminta bantuannya.


" Iya, Pak Bondan. Terima kasih," sahut Grace.


Saat mereka berdua sampai di depan ruang ICU, mereka mendapati Rvaldi yang sedang berbincang dengan Surti


" Aldi?" Grace terkejut melihat kedatangan Rivaldi, terlebih Bondan yang sangat kaget melihat keberadaan Rivaldi di rumah sakit itu. Bondan tentu saja mengenal Rivaldi, karena Rivaldi adalah musuh bosnya selama ini, sebelum terungkap fakta jika Rivaldi adalah kakak tiri dari Kayra, istri Erlangga.


Bondan juga tahu sandiwara Grace dan Rizal dalam menjebak Rivaldi kala itu. Karena itulah dia sangat terkejut dengan kehadiran Rivaldi di depan kamar ICU.


" Ada apa dia kemari, Grace?” tanya Bondan menatap Rivaldi dengan curiga. Bondan yang tahu bagaimana kelicikan Rivaldi selama ini tentu khawatir dengan kedatangan Rivaldi.


Sementara Rivaldi pun memperhatikan Bondan, seakan bertanya-tanya siapa orang yang baru saja membesuk Rizal dan berbincang dengan sangat akrab dengan Grace.


" Tidak apa-apa, Pak Bondan. Jangan khawatir. Aldi yang sempat menggagalkan rencana Joe menodai Bella." Melihat Bondan mencurigai Rivaldi. Grace menjelaskan jika Rivaldi tidak akan menyakiti dirinya juga Rizal.


" Okelah, kabari aku jika Rizal sudah siuman, Grace." Bondan menepuk pundak Grace.


" Iya, Pak Bondan. Terima kasih ...."


" Aku pamit dulu." Setelah berpamitan, Bondan pun meninggalkan Grace.


Rivaldi menatap kepergian Bondan dari hadapannya dengan bertanya-tanya. Dia terus memperhatikan punggung Bondan hingga menghilang di sudut koridor.


" Siapa dia, Rena?" Merasa penasaran pada Bondan, Rivaldi akhirnya bertanya kepada Grace.


" Dia sahabat suamiku." Tak ingin menjelaskan panjang lebar tentang siapa Bondan. Grace hanya menyebut Bondan sebagai teman dekat Rizal.


Rivaldi kini menolehkan pandangan ke arah Grace. Dia melihat wajah sedih Grace dengan mata sembabnya. Selama mengenal wanita itu. Baru kali ini dia melihat Grace terlihat murung. Rivaldi dapat melihat jika Grace mencintai Rizal begitu dalam.


" Bagaimana kondisi Pak Rizal?" tanya Rivaldi kemudian.


" Masih belum sadar," sahut Grace


" Apa aku boleh melihatnya?" tanya Rivaldi kembali yang direspon dengan anggukan kepala Grace.


Grace lalu membawa Rivaldi masuk ke dalam ruangan ICU untuk melihat kondisi Rizal.


Rivaldi menatap Rizal beberapa saat. Pria yang berbaring lemah di depannya itu adalah salah seorang pria paling cerdik yang dia kenal, karena berhasil mengelabuhinya. Dan saat ini pria itu berbaring tak berdaya.


Mungkin seharusnya dia merasa senang melihat kondisi Rizal saat ini. Tapi itu tidak dia rasakan di hatinya. Entahlah, dia juga tidak mengerti, apakah itu artinya dia sudah melupakan soal kesalahan Rizal dan Grace dulu? Dia sendiri pun tidak tahu.

__ADS_1


" Aku turut prihatin atasvmusibah yang menimpa suamimu, Rena," ujar Rivaldi.


" Thank’s, Aldi." sahut Grace. " Apa Mama memberitahumu?" Mengingat kedekatan Agatha dengan Rivaldi, Grace menduga jika Mamanya langsung menghubungi Rivaldi dan menceritakan apa yang terjadi dengan Rizal.


" Iya, Tante Agatha imenelponku semalam. Aku tidak menyangka jika si breng sek itu berhasil melukai suamimu, di kantor suamimu sendiri," Rivaldi masih sulit mempercayai di tempat yang seharusnya bisa membuat Joe tertangkap, pria licik itu justru dapat meloloskan diri bahkan sanggup mencederai tuan rumah.


" Aku sendiri tidak mengerti, Aldi," Grace menggelengkan kepalanya. Sama seperti Rivaldi, dia pun merasa tidak percaya jika suaminya sampai terluka saparah ini.


Grace menatap suaminya, tiba-tiba saja dia merasakan pandangannya berbayang dan kepalanya seakan berputar-putar. Grace langung memijat pelipis dan memejamkan matanya hingga, Tubuhnya pun limbung dan hampir jatuh ke lantai.


" Rena, kamu kenapa?" Merasakan keanehan pada sikap Grace bahkan Grace hampir saja terjatuh, dengan cepat Rivaldi yang berada di sisi berbeda dari brankar Rizal langsung mendekat dan menangkap tubuh Grace. " Rena kamu kenapa?" tanya Aldi kembali


" A-aku tidak apa-apa, Aldi." Grace mencoba menjauhkan tubuh Rivaldi dari tubuhnya.


" Kamu pasti kurang istirahat. Sebaiknya kamu juga harus menjaga kesehatanmu, Rena. Aku tahu kamu mengkhawatirkan suamimu, tapi kesehatan kamu juga penting!" Rivaldi merasa khawatir melihat Grace yang hampir pingsan tadi. Dia yakin itu terjadi karena Grace kurang istirahat.


" Aku tidak apa-apa, Aldi." Grace meyakinkan Rivaldi jika dirinya sehat-sehat saja.


" Kamu yakin tidak apa-apa? Wajah kamu pucat begitu, Rena. Sebaiknya kamu istirahat. Kamu pasti semalam tidak tidur." Rivaldi seperti tahu apa yang dilakukan Grace yang tidak cukup istirahat semalam.


Sementara tanpa mereka sadari, tindakan Rivaldi langsung menangkap tubuh Grace yang hampir terjatuh tertangkap mata Isabella yang baru sampai di rumah sakit. Isabella ingin masuk ke kamar ICU, namun saat melihat adegan Rivaldi memeluk spontan Grace yang hampir terjatuh membuat hatinya merasa kecewa.


Isabella tahu jika Rivaldi melakukan tindakan itu bukan karena kesengajaan. Dia tahu maksud Rivaldi melakukan hal itu karena takut melihat melihat Grace terjatuh. Namun, dia juga tahu, dari sikap Rivaldi tadi cukup menegaskan jika Rivaldi memang mencintai Grace. Walaupun Grace selalu menyangkal, tapi tindakan spontan Rivaldi tidak dapat mengingkarinya


" Kenapa balik lagi, Non?" tanya Surti saat melihat Isabella kembali keluar dari kamar ICU.


" Tidak enak di dalam banyak orang, Bi! Takut ditegur suster." Isabella beralasan membuat Surti terkikik.


" Bi Surti 'kan tadi sudah bilang sama Non Bella, kalau di dalam sedang ada tamu yang membesuk Papih Non." Saat dirinya memberitahu ada tamu bernama Aldi membesuk Rizal di dalam ruangan ICU, Isabella nekat ingin masuk ke dalam ruangan tersebut. Bahkan larangannya pun diabaikan oleh Isabella.


" Non yang sabar dan tetap berdoa. Papih Non Bella pasti akan sembuh." Melihat wajah murung Isabella, Surti menduga jika itu terjadi karena Isabella merasa sedih dengan kondisi Papihnya.


Isabella sontak menoleh ke arah Surti. Dia merasa telah berbuat salah kepada Papihnya, karena dirinya bersedih karena cemburu pada pria yang disukainya, bukan bersedih karena kondisi Papihnya.


" Bi, tolong ambilkan reh manis hangat untuk Rena." Tiba-tiba pintu kamar ICU dibuka dari dalam, dengan Rivaldi dan Grace yang keluar dari ruangan rawat Rizal. Rivaldi terlihat memapah tubuh Grace yang terlihat lemas dan mendudukkannya di kursi.


Tentu saja apa yang dilakukan oleh Rivaldi kepada Grace membuat Surti dan Isabella saling berpandangan.


" Non Grace kenapa, Mas?" Walau merasa heran, namun Surti kemudian menghampiri Grace.


" Sepertinya dia kelelahan. Tolong carikan teh manis hangat untuknya." Rivaldi kembali memberi perintah kepada Surti.


" Non Grace sejak pagi belum makan." Surti mengatakan jika sejak pagi, Grace belum mengisi perutnya.


" Rena belum makan? Kenapa Bibi membiarkan Rena tidak makan?" Rivaldi seolah menyalahkan Surti yang lalai tidak mengingatkan Grace untuk makan.


" Sudah saya bujuk tapi Non Grace terus saja menolak, Mas." Surti melakukan pembelaan jika dirinya sudah mengingatkan Grace untuk mengisi perutnya.


" Rena, kenapa kamu menyiksa dirimu sendiri? Kamu tidak bisa mengabaikan kesehatanmu begitu saja. Apa kamu pikir dengan tidak makan suamimu itu akan cepet sadar? Yang ada kamu akan ikut dirawat di rumah sakit ini!" Rivaldi kini menegur Grace yang dianggapnya membandel.


Sementar Isabella masih terus memperhatikan sikap perduli Rivaldi terhadap Grace. Percikan cemburu hinggap di hatinya melihat kepedulian sikap Rivaldi yang terlihat begitu manis pada Grace.


Rivaldi tersadar jika saat itu ada Isabella, anak Rizal di sana . Dia pun lalu menoleh ke arah Isabella yang langsung membuang pandangan ke arah lain. Rivaldi sadar jika sikapnya kepada Grace terlalu berlebihan mengingat Grace adalah istri dari papanya Isabella


" Hmm … Bella. Sebaiknya kita ke kantin menemani Rena makan . Dia tidak bisa terus seperti ini. Ini bisa menyiksa dirinya sendiri. Pak Rizal belum sadar, kamu juga tidak ingin Rena ikutan sakit, kan? Papa kamu membutuhkan kamu dan juga Rena di sisinya." Rivaldi mecoba bersikap sewajarnya dengan menunjukan sikap seorang teman, agar Isabella tidak menjadi salah paham.

__ADS_1


" Rena bisa sakit kalau dia tidak makan," ujar Rivaldi kembali, walaupun dia berusaha bersikap normal, namun tidak menutupi rasa cemasnya pada Grace


" Benar, Non Bella. Sebaiknya Non Bella temani Non Grace makan. Bibi khawatir kalau Non Grace ikutan sakit. Biar Papih Non Bella nanti Surti yang jaga." Surti pun ikut menimpali.


Isabella pun akhirnya mengikuti apa yang di minta oleh Rivaldi. Dia kemudian merangkulkan tangannya di pundak Grace dan memapah Grace berjalan perlahan ke arah kantin.


***


Di kantin Rumah sakit pun, Grace tidak banyak memasukan makanan ke dalam perutnya. Dia kehilangan naf su makan, karena kondisi Rizal yang masih belum tersadar.


Sementara Isabella pun hanya menjadi pendengar di antar Grace dan Rivaldi. Dia akan berbicara saat dirinya ditanya saja. Dia merasa seperti nyamuk di antara sepasang kekasih yang sedang berkencan. Sejauh itu pikiran Isabella terhadap hubungan Rivaldi dengan Isabella.


" Apa kamu sudah melaporkan hal ini ke pihak berwajib, Rena?" Pertanyaan yang sama dengan Bondan, kali ini dilontarkan oleh Rivaldi.


" Aku sudah bicara dengan Pak Erik, teman suamiku yang mempunyai profesi sebagai polisi. Tapi aku belum melaporkan secara resmi ke kantor polisi soal penyerangan terhadap suamiku. Siang ini aku akan suruh Vito membuat laporkan itu," sahut Grace.


" Aku sudah mengatur Jimmy untuk mencari keberadaan Joe. Orang itu tidak bisa dibiarkan berkeliaran bebas lama-lama. Akan ada banyak korban jika dia tidak cepat di tangkap." Rivaldi mengatakan jika dirinya juga sudah melakukan bergerak mencari keberadaan Joe.


" Terima kasih, Aldi, Kamu tidak usah repot, teman suamiku tadi juga akan membantu mencari Joe." Grace menolak tawaran Joe


" Semalam banyak orang mencari, semakin besar kemungkinan si breng sek itu di temukan, Rena." Rivaldi bersikukuh dengan pendiriannya untuk mencari keberadaan Joe.


" Hoek …" Grace menutup mulut dengan telapak tangannya, karena dia merasakan perutnya seperti diaduk-aduk dan seperti ingin mengeluarkan apa yang ada di perutnya.


" Kenapa, Rena?" Rivaldi kembali khawatir, sedangkan Isabella langsung menoleh ke arah Grace


Grace mengedar pandangan mencari toilet, karena dia tidak tahan ingin mengeluarkan apa yang naik kembali ke krongkongannya.


" Hoek ..." Grace bergegas bangkit dan berlari ke arah toilet hingga dia menabrak orang yang berjalan membawa makanan dan makanan itu terjatuh dan tumpah.


" Hei! Kalau jalan lihat-lihat, dong!" Orang yang ditabrak tadi lalu menghardik Grace, karena Grace sama sekali tidak mengucapkan permintaan maaf dan meninggalkannya.


" Maafkan teman saya tadi, Mbak. Dia tadi mual hingga terburu-buru ke toilet." Rivaldi buru-buru menghampiri orang yang ditabrak Grace tadi lalu menyampaikan permohonan maafnya dengan memberikan alasan." Mbak pesan lagi saja makanannya biar nanti saya yang bayar," lanjut Rivaldi agar orang itu tidak terus menggerutu.


" Oh. Tidak apa-apa, Mas." Melihat wajah dan penampilan Rivaldi yang rupawan, orang yang ditabrak Grace seketika terpesona.


Isabella yang mendapati sikap orang yang bersenggolan dengan Grace berbeda saat melihat Rivalidi langsung mengerucutkan bibirnya. Dia pun memilih menyusul Grace yang berlari ke arah toilet, karena dia sebenarnya khawatir melihat kondisi Grace tadi.


Di dalam toilet, Grace mengeluarkan yang membuatnya terasa mual. Makanan yang tadi baru masuk ke dalam mulutnya pun ikut keluar lagi.


" Hoek ...!" Grace memutar kran. Dia lalu berkumur-kumur dengan air ledeng yang mengalir dari kran itu.


" Kamu telat makan sih, Grace. Jadi mual, kan?" Isabella membantu memijat tengkuk Grace.


" Kalau Papih tahu kamu telat makan, dan kamu mual-mual begini, Papih pasti akan marah." Isabella menggerutu dan mengeluhkan sikap Grace yang seolah mengabaikan kesehatannya. Padahal jika Papihnya tahu Grace telat makan, justru para ART nya lah yang akan disalahkan oleh Papihnya, karena dianggap lalai mengurus Grace.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2