TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Rencana Makan Malam


__ADS_3

Cerita soal cincin seharga seratus lima puluh juta langsung tersebar di telinga anak buah Rizal lainnya. Tentu saja karena Yuanita yang menyebarkan hal tersebut. Namun, Yuanita hanya bercerita soal cincin, tidak soal lainnya seperti menginap satu kamar dan berciuman tetap dijaga kerahasiaannya oleh Yuanita. Karena dia tidak ingin rekan-rekannya berpikiran negatif pada Grace juga bosnya.


Sementara itu, selepas pulang dari kantornya, Rizal langsung menaiki anak tangga menuju kamarnya.


" Papih sudah pulang?" Suara Isabella terdengar dari pintu kamarnya saat melihat kedatangan Rizal.


" Sayang, kemarilah!" Rizal merentangkan tangan ingin memeluk putrinya dan mengajak putrinya itu ke ruang santai di lantai atas.


" Tadi siang kamu ke mall ya?" tanya Rizal kepada Isabella saat mereka duduk di sofa santai.


" Iya, Papih tahu dari mana?" Isabella nampak terkejut saat Papihnya mengetahui kepergiannya ke mall siang tadi.


" Papih juga tadi ada di sana. Di restoran ramen," jawab Rizal. Rizal merasa perlu berbincang kembali dengan anaknya untuk membahas soal perasaannya terhadap Grace.


" Papih di restoran Ramen juga? Bella juga tadinya mau makan di restoran ramen, tapi tiba-tiba Fauziah berubah tujuan kepingin ayam geprek." Isabella menerangkan.


" Papih lihat Bella juga? Kenapa Papih tidak memanggil Bella?" tanya Isabella, tidak menanyakan dengan siapa Papihnya itu pergi makan siang.


" Bukan Papih yang lihat kamu, tapi Grace." Rizal jujur mengakui.


" Papih pergi makan siang sama wanita itu lagi?!" Isabella kembali terkejut saat Rizal mengatakan dengan siapa pergi makan siang. Wajah cerianya seketika berubah menjadi memberengut.


" Sayang, Papih harap kamu mengerti keadaan Papih. Cobalah berdamai dengan Grace. Dia tidak seburuk apa yang kamu pikirkan, Sayang. Grace bahkan bisa menjadi temanmu." Rizal berusaha membujuk kembali putri tunggalnya itu.


Isabella bergeming dengan melipat tangan di dada, menunjukkan jika dia benar-benar sangat kesal karena Papihnya terlihat lebih memilih Grace daripada dirinya.


" Papih mencintai Grace. Karena itu Papih minta restu dari Bella. Kalau Bella belum juga mengijinkan Papih dengan Grace. Maka Papih akan kehilangan dia, Sayang." Rizal berharap pengertian Isabella.


" Papih bisa mendapatkan wanita lain selain wanita itu!" Isabella masih tegar dengan pendiriannya.


" Dan itu tidak tahu kapan akan terjadi lagi!? Atau mungkin tidak akan bisa terjadi lagi!" Rizal sepertinya susah untuk move on dari Grace.


" Sekarang ini banyak yang pria yang sedang mendekati Grace. Jadi Papih harus bertindak cepat." Rizal menuturkan jika dia saat ini mempunyai banyak saingan.


" Kamu ingat, pria yang saat itu kamu tabrak? Dia adalah saingan terberat Papih, karena dia menyukai Grace." Rizal teringat jika Isabella pernah bertemu dengan Rivaldi, sehingga dia menyebutkan jika Rivaldi adalah rival terberatnya.


Isabella seketika membulatkan bola matanya saat Rizal menyebut nama Rivaldi. Pria yang mobilnya pernah dia tabrak dan pernah dia temui di kantor milik Rivaldi. Sejujurnya, dia juga sempat terpesona dengan ketampanan Rivaldi yang merupakan seorang bos.


" Tapi, kalau Bella tetap tidak menginginkan Papih bersama dengan Grace, mungkin Papih tidak akan menikah lagi selamanya dan akan menghabiskan masa tua Papih sendirian saja, tanpa ada istri yang menemani." Rizal sengaja mengatakan hal menyedihkan yang akan dia jalani jika Isabella tidak memberikan ijin menikah dengan Grace.


Isabella mendengus kasar mendengar ucapan. Papihnya. Sejujurnya, dia masih belum rela membiarkan Grace mendapatkan Papihnya. Dia juga tidak ingin Grace menjadi Mama sambungnya, mengingat perseturuan mereka berdua selama ini.


" Terserah Papih saja, deh!" ketus Isabella bangkit dari sofa lalu berjalan meninggalkan Rizal untuk kembali ke dalam kamarnya.


Walau mendapatkan sikap ketus dari Isabella. Namun, Rizal sedikit merasa lega. Arti kata 'Terserah Papih Saja' yang keluar dari mulut Isabella, dia anggap sebagai lampu hijau untuk hubungannya dengan Grace. Karena selama ini anaknya itu selalu menolak tegas hubungannya dengan Grace.


***


Ddrrtt ddrrtt


Grace mengerutkan keningnya saat melihat Rizal menghubunginya mengunakan video call. Selama ini pria itu jarang melakukan panggilan lewat video call padanya, justru dialah yang pernah melakukan panggilan video call kepada Rizal.


Grace memperhatikan lingerie tipis yang dia pakai. Menampakkan dua buah bukit kembar karena bahan pakaian tidur transparan. Grace menghempaskan tubuhnya dengan posisi telungkup di atas tempat tidur. Dengan menutupi bagian leher dan dadanya dia lalu mengangkat panggilan telepon dari Rizal.


" Ada apa?" tanya Grace saat panggilan video call Rizal dia angkat. Mata Grace mendapati Rizal yang sedang berbaring dengan bertelan jang dada, memperlihatkan bagian dada bidang berotot pria itu yang ditumbuhi rambut halus.


Harus diakui tubuh Rizal memang terlihat kencang di usia pria itu yang hampir menginjak empat puluh tahun. Bahkan tubuh Rizal memang nampak lebih kekar dibandingkan tubuh Joe, mantan kekasihnya dulu. Saat dia bersentuhan dengan Rizal dia dapat merasakan otot liat pria itu. Dia menduga jika Rizal mempunyai stamina yang sangat ada prima.


" Kau sengaja ingin memamerkan badanmu itu, Pak tua?" tanya Grace menyindir jika Rizal sengaja memamerkan tubuh kekarnya.


Rizal terkekeh mendengar ucapan Grace yang menudingnya sedang pamer. Padahal, jika di rumah, Rizal memang tidur bertelan jang dada.

__ADS_1


" Kenapa? Apa kau ingin merasakan tidur dalam pelukanku?" tanya Rizal penuh percaya diri.


" Cih, siapa juga yang tertarik lihat tubuhmu itu. Aku sih biasa saja." Grace memutar bola matanya menyahuti perkataan Rizal. " Yang ada kau yang nantinya akan mupeng kalau lihat aku sekarang ini." Grace menjauhkan bantal yang menutupi bagian atas tubuhnya. Dia memulai aksi nakalnya menggoda Rizal, karena dia yakin Rizal pasti akan melihat lingerie transparan yang dia pakai. Namun, tak lama dia kembali menutupi tubuhnya kembali dengan bantal.


" Apa tadi, Grace?" Rizal langsung bangkit dari tidurnya ketika melihat penampakan bagian tubuh Grace yang terlihat walaupun hanya sepintas.


" Memangnya kau lihat apa tadi?" Grace menahan tawanya melihat ekspresi wajah kaget Rizal saat dia melakukan aksi nakalnya itu.


" Coba ulang lagi yang tadi. Aku tidak jelas melihatnya." Rizal menyeringai.


" Tidak ada siaran ulang!" Grace menjulurkan lidahnya meledak Rizal.


Tingkah laku Grace kali ini justru membuat Rizal semakin gemas. Sepertinya sikap Grace sudah mulai melunak kepadanya. Bahkan wanita itu terlihat sudah mulai mengajaknya bercanda seperti tadi.


" Kenapa lidahnya seperti itu? Ingin merasakan milikku?" Rizal justru menanggapi sikap Garce dengan pertanyaan absurd.


" Milikmu yang seperti ketimum rebus itu?" sindir Grace.


" Jangan sembarangan bicara! Apa kau perlu bukti kalau punyaku tidak seloyo itu, hmm?" Rizal menantang Grace. " Tapi dia sedang tidur. Kalau kamu bangunkan, kamu pasti akan dapat melihat jika punyaku itu perkasa." Rizal terkekeh melakukan obrolan dewasa dengan Grace. " Nanti kau akan bisa bandingkan lebih besar punyaku atau mantanmu itu!?"


" Cih, dasar otak me sum!" cibir Grace kembali.


" Hei, apa kau tidak salah bicara? Siapa yang duluan sering berbuat me sum? Bukankah kau dulu yang awalnya senang menggodaku? Bahkan kau yang pertama kali menciumku." Rizal tidak terima disebut berotak me sum oleh Grace.


" Sudahlah! Jangan bahas itu lagi!" Grace menolak membahas hal itu terus.. Dia lalu mengganti posisi tidurnya dengan memiringkan tubuhnya ke arah kanan dan menaruh ponsel dan menyangganya dengan guling. Sementara dia masih memeluk bantal untuk menutupi tubuhnya.


" Kamu sudah mengantuk, ya?" Rizal melihat Garce yang menguap tanpa menutup mulutnya. Grace memang cuek, sama sekali tidak pernah bersikap jaim kepadanya. Mungkin itu yang membuat wanita itu menarik perhatiannya.


" Iya, kalau kau tidak telepon, aku pasti sudah terlelap," sahut Grace.


" Ya sudah, sebaiknya kau tidur saja. Jangan terlalu larut tidurnya!" Rizal berniat mengakhiri sambungan video call nya.


" Iya."


" Hahaha ..." Grace tertawa melihat tingkah konyol Rizal. " Tingkahmu melebihi tingkah laku ABG, Pak tua!" cibir Grace terbahak.


Mendengar tawa lepas Grace membuat Rizal tersenyum. Seandainya wanita itu ada di dekatnya saat ini, dia pasti akan menghentikan tawa lebar Grace dengan menyumpalnya dengan ciuman.


***


Tok tok tok


" Permisi, Bu. Ada tamu di bawah ingin bertemu dengan Ibu. Namanya Rivaldi, dia dari PT. Jaya Raya Garment." Arini memberitahu Agatha yang sedang melihat hasil rancangannya yang akan ditampilkan di acara fashion show yang akan dia adakan nanti


" Rivaldi? Jaya Raya Garment?" Agatha mengerutkan keningnya mendengar nama yang disebut oleh sekretarisnya itu. " Apa kita sudah mempunyai janji dengan mereka?" tanyanya kemudian.


" Belum, Bu. Ibu tidak pernah punya kerjasama dengan perusahaan itu sebelumnya," sahut Arini.


" Ya sudah, suruh dia masuk saja!" Agatha menyuruh Arini untuk membawa tamunya itu ke ruangannya sekarang ini.


" Baik, Bu. Permisi." Arini kemudian keluar dari ruangan Agatha untuk menghubungi security di depan dan menyuruh tamu Agatha itu untuk naik ke atas.


Sekitar lima menit kemudian, Rivaldi sudah sampai di hadapan Arini diantar oleh security.


" Mari silahkan, Mas." Melihat tamu dari bosnya itu masih muda, Arini menyapa Rivaldi dengan sebutan 'Mas'.


Arini lalu membawa masuk Rivaldi ke dalam ruangan kerja Agatha.


" Selamat siang, Bu Agatha." sapa Rivaldi dengan mengembangkan senyuman saat dia masuk ke dalam ruangan Mama dari Grace itu.


Agatha seketika mengeryitkan keningnya mendapati sosok pria yang muncul di ruangannya saat ini. Dia merasa pernah bertemu dengan pria itu. Namun, dia lupa pernah bertemu di mana.

__ADS_1


" Selamat siang, mari silahkan duduk ...!" Walau


masih belum ingat pernah bertemu di mana, Agatha tetap mempersilahkan Rizal untuk duduk di sofa ruangannya.


" Terima kasih, Bu Agatha." Rivaldi pun kemudian duduk di sofa yang ditunjuk oleh Agatha.


" Sekretaris saya bilang, katanya Anda dari PT. Jaya Raya Garment. Kalau tidak salah itu salah satu perusahaan yang memproduksi pakaian jadi, kan?" Karena pekerjaannya berhubungan dengan fashion, sedikit banyak Agatha tahu soal perusahaan yang bergerak di bidang industri pakaian jadi.


" Benar, Bu Agatha. Itu perusahaan Papa saya, Nugraha Wijaya." jawab Rivaldi dengan tenang.


" Oh, jadi perusahaan itu punya Papa Anda?" Agatha tidak menyangka jika yang datang menemuinya adalah anak dari pemilik perusahan Garment itu.


" Benar, Bu."


" Lalu maksud kedatangan Anda sendiri ke sini apa ya? Apa ingin melakukan kerja sama atau ada hal lain?." Agatha masih bingung dengan kedatangan Rivaldi.


" Saya ingin bertemu dengan Rena, Bu." Rivaldi secara terus terang menyebutkan alasannya datang ke tempat Agatha.


" Rena?" Kening Agatha kembali berkerut. Dia tahu siapa orang yang dia maksud, dan akhirnya dia pun mengenali siapa pria di hadapannya saat ini.


" Kamu? Kamu temannya Grace yang waktu itu datang bersama Grace di wedding party anaknya Pak Ronald, kan?" tanyanya kemudian.


" Benar, Bu Agatha. Rupanya Ibu sudah mengingat siapa saya." Rivaldi mengulum senyuman. Tentu saja dia senang karena dia akhirnya mengetahui di mana dapat menemukan Grace yang selama ini dia kenal sebagai Rena.


" Iya, iya, saya ingat sekarang, Lalu, ada apa kamu mencari Grace?" Mengetahui jika Rivaldi adalah teman dari Grace, Agatha sudah tidak bersikap formal lagi terhadap Rivaldi.


" Kemarin Rena saya bawa ke rumah orang tua saya di Bandung untuk saya perkenalkan kepada kedua orang tua saya. Sepertinya orang tua saya sudah tercuri hatinya oleh Rena. Tante." Rivaldi pun sudah merubah panggilannya terhadap Agatha.


" Oh ya?" Agatha terkesiap mendengar cerita Rivaldi yang mengatakan jika orang tua Rivaldi menyukai putrinya. " Tante jarang bertemu dengan Grace. Dan Grace tidak pernah berkata apa-apa soal ini ke Tante, lho." Tidak dapat dipungkiri, Agatha merasa senang mengetahui jika anaknya disukai pria seperti Rivaldi. Apalagi Rivaldi sendiri berasal dari keluarga terpandang.


" Apa Tante bisa kasih tahu alamat orang tua Rena, Tante? Agar saya bisa membawa orang tua saya datang untuk melamar Rena."


Sekali lagi Agatha dibuat tercengang saat Rivaldi mengatakan jika pria itu ingin melamar putrinya. Meskipun agak aneh, tapi Agatha tetap senang jika Rivaldi benar ingin melamar Grace. Apalagi saat dia ingat cerita Garce yang mengatakan jika Rizal pun menyukai Grace. Agatha lebih rela Grace bersama Rivaldi daripada dengan Rizal yang usianya jauh di atas Grace.


" Tante ini orang tua Grace. Grace itu anak Tante satu-satunya." Agatha menerangkan kesalahanpahaman yang terjadi. Karena dia ingat jika saat itu Grace mengenalkan dirinya sebagai Tante dari Grace. Dan Grace sendiri belum mendapatkan penjelasan dari Grace alasan putrinya itu menyamar.


Kali ini Rivaldi yang dibuat kaget saat Agatha mengakui jika Grace adalah putri desainer kondang itu.


" Rena itu anak Tante?" tanyanya dengan terkejut.


" Iya, dia selama ini memang lebih banyak tinggal di luar negeri daripada di Jakarta ini. Kalau di sini juga dia tinggal di apartemennya daripada tinggal di rumah Tante." Agatha menceritakan bagaimana hubungannya dengan Garce.


" Apa saya bisa bertemu dengan Rena, Tante?" Rivaldi sudah terbiasa menyebut nama Rena pada Grace.


" Tentu saja. Hmmm, bagainana kalau Tante undang kamu makan malam bersama nanti malam?" Agatha sudah merencanakan sesuatu pada Grace.


" Boleh, Tante. Kalau Tante ingin mengundang saya makan malam bersama Rena. Tapi, sebaiknya Tante jangan memberitahu Rena terlebih dahulu. Biar ini jadi kejutan untuk Rena, Tan." Rivaldi tersenyum karena dia merasakan kemenangan. Dia menduga jika Grace tidak akan menduga jika dia berhasil menemukan.


" Baiklah, Tante setuju dengan usul kamu, Rivaldi." Agatha tersenyum senang karena akhirnya dia menemukan cara agar dapat menjauhkan Grace dengan Rizal.


" Panggil saja saya Aldi, Tante."


" Ah, iya, Aldi. Biar kita lebih akrab, iya kan?"


" Benar sekali, Tan." Rivaldi menarik tipis sudut bibirnya, kerena rencananya berjalan lancar dan dia akan menemukan Grace dari persembunyiannya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2