
Menggunakan kemeja berwarna beige dan celana celana katun warna dark brown, Joe bersiap ke tempat yang dia tuju untuk melamar pekerjaan.
" Ron, aku pinjam motormu untuk ke tempat itu." Joe meminta bantuan Ronny untuk meminjamkan sepeda motornya untuk dia gunakan ke alamat kantor Rizal seperti yang dikirimkan oleh Ronny kepadanya.
" Ambil saja kuncinya di atas nakas, Joe. Kau ingin berangkat sekarang?" Ronny yang sedang berbaring di atas sofa lalu bangkit dan terduduk.
" Iya, ini sudah jam sebelas. Biar cepat selesai urusannya. Kalau aku diterima aku bisa tenang, kalau ditolak, aku bisa fokus cari pekerjaan lain. Tidak enak menganggur terus, menyusahkan kamu, Ron." sahut Joe mengambil kunci motor Ronny.
" Kau tidak enak merepotkan aku, tapi kau tidak pernah merasa merepotkan para wanita-wanitamu, Joe?" Ronny tahu jika Joe seorang petualang cinta. Yang senang memberikan servis kepada wanita, terutama jika wanita itu sanggup membiayai kebutuhannya.
" Itu beda, Ron. Aku 'kan membuat mereka senang dan bahagia." Joe tertawa lebar.
" Aku berangkat dulu, Ron." pamit Joe pada Ronny.
" Oke, good luck, Joe."
Sementara di rumah Grace
Grace memperhatikan Rizal yang terlihat menikmati makanan yang dia hidangkan. Jika melihat apa yang dia masak selalu disantap begitu lahap, dia semakin bersemangat untuk belajar memasak banyak menu makanan.
" Pih, masakan aku enak tidak, sih?" Sebenarnya Grace merasa heran, apa pun yang dia masak, suaminya itu selalu lahap menyantapnya, tanpa mengeluh tentang rasa dari masakan itu.
" Masakan terlezat itu hanya ada dua orang yang dapat membuatnya. Satu masakan ibu, kedua masakan istri. Tentu saja masakanmu ini masuk kategori masakan enak," sahut Rizal sambil memasukkan potongan rolade ke dalam mulutnya.
Jawaban dari Rizal tentu saja membuat senyuman mengembang di bibir Grace. Setidaknya dia tidak sia-sia menyibukkan diri di dapur, berhadapan dengan hawa panas kompor, terkena percikan minyak goreng panas. Tak jarang juga harus mengeluarkan air mata saat mengi ris bawang dan bersin-bersin ketika mencium aroma pedas.
" Papih sweet banget sih, jadi suami." Grace merasa seperti ABG sedang jatuh cinta. Dia tidak menyangka akan menjakani kehidupan rumah tangga yang sangat romantis bersama Rizal. Suaminya itu memang tipe suami idaman, dari sifat maupun sikapnya.. Grace benar-benar merasa nyaman bersama Rizal.
" Jangan terlalu memuji, nanti bisa makin jatuh cinta, lho!" Kelakar Rizal dengan tawa kecil.
" Memangnya tidak boleh jatuh cinta sama suami sendiri? Kalau bukan sama suami, lalu harus jatuh cinta sama siapa? Sama Aldi?" Grace memutar bola matanya merespon ucapan suaminya.
Rizal seketika menghentikan kunyahannya saat Grace menyebut nama Rivaldi di sela-sela percakapannya.
" Kenapa bawa-bawa nama Rivaldi?" protes Rizal pada sang istri.
" Lagian, Papih bicara begitu!" keluh Grace.
" Aku hanya bercanda, Grace." Rizal beralasan jika yang dia katakan tadi adalah candaan.
" Aku juga tadi bercanda, kok!" Grace pun melakukan pembelaan dengan mengatakan jika dirinya hanya asal bicara.
__ADS_1
" Aku tidak suka kamu membawa nama pria itu ketika kita membahas seputar rumah tangga kita!" tegas Rizal yang masih merasa cemburu jika Grace membahas soal Rivaldi, karena dia takut Grace lambat laun akan terjerat akan pesona Rivaldi.
" Iya, iya, maaf. Ya sudah, buruan dihabiskan makanannya. Aku sebentar lagi mau jemput Bella." Grace melirik arloji di tangannya karena dia akan berangkat menjemput Isabella.
***
Motor yang dikendarai Joe berhenti di depan gerbang kantor Rizal. Dia menatap plang yang terpasang di dekat pagar. Sepertinya memang benar alamat yang dia dapat dari Ronny sesuai degan bangunan di hadapannya saat ini.
Joe lalu memarkirkan motor itu di depan gerbang kantor Rizal, kemudian dia masuk ke pekarangan kantor Rizal dan menemui security yang berjaga di depan.
" Permisi, Pak. Saya bisa bertemu dengan Pak Jaka?" Sapa Joe pada Pak Jun.
Pak Jun menatap penampilan Joe dari atas sampai bawah. Tidak ada yang aneh dari penampilan pria di hadapannya itu.
" Mas Jaka sedang istirahat makan siang. Mas nya ini dari mana ya, Mas? Mau ditunggu atau ke sini lagi nanti?" tanya pak Jun
" Saya disuruh datang kemari menemui Pak Jaka atau Pak Rizal. Saya mau melamar pekerjaan sebagai driver, Pak." Joe menjelaskan tujuan kedatangannya di kantor itu.
" Oh, Pak Rizal juga sedang istirahat. Coba tunggu di dalam saja, bertemu sama Mas Vito, Mas." Pak Jun mempersilahkan Joe menunggu di dalam kantor.
" Oke, Pak." Joe lalu masuk kantor ke dalam kantor Rizal untuk menemui Vito. Hanya ada dua orang karyawan wanita dan satu orang karyawan pria. Dia sendiri tidak tahu apakah pria di dalam itu bernama Vito atau bukan.
Kedua karyawan yang tidak lain adalah Yuanita Indra langsung menoleh ke arah pintu saat Joe membuka pintu. Kemunculannya di kantor Rizal itu tentu saja membuat anak buah Rizal menatap seakan bertanya-tanya siapa dirinya.
seraya berdiri. Penampilan Joe yang berwajah tampan tentu saja membuat Yuanita sebagai seorang wanita normal langsung terpikat.
" Saya mencari Pak Vito." jawab Joe
" Oh, Vito ada di lantai atas. Mas nya dengan siapa, ya?" tanya Yuanita kembali.
" Saya Jonathan, mau menemui bos di sini. Saya mau melamar pekerjaan sebagai driver dan menemui Pak Jaka. Tapi kata security di depan saya disuruh menemui Pak Vito," jawab Vito
" Ayo saya antar ke atas!" Yuanita melangkah ke arah tangga diikuti oleh Joe di belakangnya.
" Vito, ini ada orang yang mau melamar sebagai driver." Ketika sampai di lantai atas, Yuanita memberitahu Vito yang sedang menatap laptop di hadapannya.
Vito seketika menoleh ke arah tangga saat mendengar suara Fenita bicara kepadanya. Pandangannya kini beralih ke arah orang yang disebut ingin bekerja sebagai driver untuk Isabella.
Vito memicingkan mata sehingga membuat kedua alisnya bertautan saat melihat sosok Joe di samping Yuanita. Wajah Joe yang hampir terlupakan karena kejadian penangkapan Grace satu tahun lalu, mulai dia ingat kembali saat mengetahui jika pria itu hampir menodai Isabella. Dan wajah Joe yang dia ingat sama persis dengan wajah pria yang saat ini ada di hadapannya itu.
Tak beda jauh dengan Vito, Joe pun secara samar seperti mengenali sosok Vito, namun dia lupa pernah berjumpa dengan Vito di mana.
__ADS_1
" Kau? Ba jingan, kau!" Vito langsung bangkit dan langsung menye rang Joe dengan memberi satu buah pu kulan di wajah Joe.
Bugghhh
" Astaga! Vito! Kenapa kamu memukul orang ini?" Yuanita kaget dengan reaksi Vito yang menghan tam wajah Joe.
" Kau harus merasakan hukuman atas apa yang sudah kau lakukan pada Bella dan Ibu Grace!" Geram Vito dengan murka ingin kembali memberi pu kulan ke wajah Joe. Namun Joe yang tersentak kaget karena Vito menyebut nama Bella dan juga Grace langsung berlari kabur menuruni anak tangga.
" Hei, mau ke mana, kau, breng sek!?”Vito mengejar Joe yang berniat kabur.
" Ada apa, Vit?" Indra yang ada dibawah terkejut mendengar suara teriakan Vito
" Dra, tangkap orang itu!" perintah Vito pada Indra.
Bugghh
Belum sempat Indra menangkap Joe, Joe lebih dulu menin ju wajah Indra hingga membuat Indra sempoyongan karena han taman tangan Joe tepat mengenai hidung Indra.
Joe berlari ke arah pintu. Namun secara bersamaan Rizal yang baru selesai menikmati makan siang masuk dari arah pintu.
" Pak, itu Joe!" teriak Vito memberitahu Rizal agar menghalangi Joe yang berniat kabur.
Rizal terkejut melihat pria yang berlari ke arah pintu, apalagi saat Vito menyebut jika pria itu adalah Joe.
" Ba jingan, kau!" Rizal langsung menarik kemeja Joe. " Berani sekali kau mengantar nyawamu kemari!"
Buugghh
Sebuah pu kulan mengenai wajah Joe kembali hingga Joe terpental dan menabrak meja di belakangnya.
" Berani sekali kau ingin menodai putriku, si alan!" Rizal kembali menyerang Joe.
Joe yang kalap dan melihat gunting di meja belakangnya lalu mengambil benda tajam itu. Bersamaan dengan Rizal yang menyerangnya, Joe langsung menan capkan benda tajam itu tepat di perut bagian kiri Rizal.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️