
Grace bersiap untuk membujuk Arina pergi siang nanti. Seperti yang diperintahkan Rizal agar dia bisa membawa Arina keluar dari rumah Nugraha siang ini. Erlangga sendiri sudah menghubungi langsung ke nomernya, dan mengatakan sedang meluncur ke Bandung bersama sang ayah, Krisna Mahadika Gautama. Jadi, dia harus sebisa mungkin membawa Arina untuk pergi menemaninya siang ini.
" Bi, Tante Arina ada di mana?" tanya Grace saat menuruni anak tangga.
" Ibu sedang di pekarangan belakang, Non Rena. Sedang merawat tanaman hiasnya. Bi Sumi menunjuk arah belakang rumah orang tua Rivaldi itu.
" Oh, makasih, Bi." Grace kemudian berjalan menuju pekarangan belakang rumah, hingga dia menemukan sosok wanita anggun yang sedang memotong beberapa daun yang layu dari tanaman hias itu.
" Tante ..." Grace berjalan mendekat ke arah Arina.
" Ada apa, Rena?" Arina menoleh ke arah Grace yang memanggilnya.
" Tan, aku mau ijin keluar siang nanti, ya?!" Grace meminta ijin kepada Arina.
" Lho, memangnya kamu mau ke mana, Rena?" tanya Arina.
" Aku mau cari baju, Tan. Aku butuh beberapa baju lagi dan keperluan lainnya. Soalnya aku kemungkinan akan beberapa hari di rumah teman aku nanti." Grace memberikan alasan.
" Kamu akan pergi dengan siapa?"
" Sendiri saja, Tante. Nanti aku pesan ojek online saja." sahut Grace.
" Kok pakai ojek online? Diantar supir di sini saja nanti, Rena." Arina tidak memberi ijin Grace pergi sendiri.
" Tidak apa-apa, Tante. Saya tidak enak merepotkan keluarga Tante terus." Walaupun menolak, namun Grace yakin Arina pasti tidak akan membiarkan dirinya pergi sendiri.
" Kamu kenapa selalu menolak tawaran Tante? Kamu di sini 'kan baru, jadi Tante khawatir kalau kamu pergi sendirian. Kamu ingin membeli kebutuhan kamu di mana?" tanya Arina kembali.
" Di mall terdekat dari sini saja kok, Tan." jawab Grace.
" Begini saja, bagaimana kalau Tante ikut menemani kamu mencari keperluanmu?" Tepat seperti dugaan Grace, tidak sulit untuknya mempengaruhi Arina untuk ikut dengannya.
" Ya ampun, Tante. Apa itu tidak semakin merepotkan Tante? Saya tidak enak lho, Tan." Seperti biasa, Grace memerankan aktingnya dengan sangat sempurna.
" Tante justru senang menemani kamu belanja, Rena. Atau, mungkin Rena sendiri yang keberatan Tante temani?" Arina justru mengira jika Grace tidak suka dia temani.
" Mana mungkin aku seperti itu, Tante. Keluarga Tante sudah baik sama aku, masa aku seperti itu?" Grace menyangkal.
" Ya sudah, kalau begitu biar Tante yang menemani kamu keluar. Kamu mau pergi kapan?" Arina tetap memutuskan akan ikut dengan Grace, sesuai harapan Grace.
" Nanti siang saja, sekalian kita makan di luar, Tan."
" Ya sudah, Tante selesaikan ini dulu. Baru kita berangkat, ya!?"
" Makasih ya, Tan." Grace tersenyum senang karena rencananya membawa Arina keluar sepertinya akan berhasil.
" Iya, Rena." sahut Arina.
" Tante senang tanaman hias, ya?" tanya Grace berbasa-basi sambil menunggu waktu.
" Iya, Rena. Tante suka sekali. Kamu suka juga?" Arina balik bertanya kepada Grace.
" Tidak, Tan. Aku suka bunga tapi tidak senang merawat tanaman hias. Tidak bisa juga merawatnya," aku Grace jujur.
" Tidak apa-apa kok, Rena. Tidak mengurangi penilaian Tante terhadap kamu, kok." Arina tersenyum menanggapi ucapan jujur Grace.
" Penilaian apa, Tan?" Grace mengeryitkan keningnya.
" Penilaian sebagai calon menantu Tante." Dengan tertawa kecil Arina menjawab pertanyaan Grace.
" Ah, Tante ..." Seketika rona wajah Grace terlihat memerah. Dia sungguh tidak menyangka sambutan hangat benar-benar dia dapatkan dari keluarga Rivaldi terutama Arina. Padahal Arina sendiri baru mengenalnya setelah pertemuan di pesta pernikahan anak Pak Ronald kemarin. Namun, seketika rasa bersalah menyeruak di hati Grace. Dia bisa membayangkan betapa kecewanya keluarga Rivaldi jika mengetahui jika dirinya hanya sedang melakukan sandiwara.
***
Tepat jam sebelas siang, Grace bersama Arina keluar dari rumah Nugraha. Tujuan pertama adalah mall untuk membeli beberapa pakaian untuk Grace. Setelah selesai membeli pakaian dan beberapa kebutuhan lainnya. Grace mengajak Arina makan siang terlebih dahulu.
Grace memilih rumah makan khas Sunda yang letaknya tidak jauh dari mall tersebut. Dia pun segera menghubungi Erlangga di mana posisi dia sekarang berada.
" Tante pesan apa?" tanya Grace saat memilih menu makanan di rumah makan khas Sunda.
" Saya pesan paket nasi liwet saja. Minumnya teh tawar hangat," Arina menyebutkan pesanannya pada pelayan.
" Baik, Ibu." sahut pelayan restoran.
" Nasi liwet enak ya, Tan?" tanya Grace
__ADS_1
" Kamu belum pernah mencoba?" tanya Arina.
" Belum, Tan." jawab Grace.
" Coba pesan saja kalau mau merasakan. Enak, kok."
" Boleh deh, Tan. Saya samakan saja pesanannya ya, Mbak. Minumnya orange juice." Grace mengikuti apa yang dipesan oleh Arina.
" Baik Teh." sahut pelayan restoran sebelum akhirnya meninggalkan mereka berdua.
" Tante pernah makan di sini sebelumnya?" tanya Grace.
" Pernah beberapa kali sama keluarga. Dan memang makanan di sini cukup enak, makanya kelihatan ramai pengunjung, kan!?"
" Iya, Tante." Grace mengedar pandangan mencari keberadaan Erlangga di rumah makan itu. Namun, dia belum menemukan sosok bos perusahaan Mahadika Gautama itu di sana.
Ddrrtt ddrrtt
Sebuah pesan masuk dari Erlangga terlihat di ponsel Grace saat Grace mengambil ponsel itu dari tasnya.
" Saya berada di belakang kamu. Bersiaplah melakukan apa yang saya perintahkan."
" Oke." balas Grace singkat.
" Kamu tahu, Rena. Tante itu tidak pernah pergi makan di luar seperti ini selain sama keluarga Tante sendiri." cerita Arina sambil menunggu pesanan makanan datang.
" Oh ya? Berarti ini pertama kali Tante pergi keluar dengan orang lain?" tanya Grace. Dari kamera depan ponsel yang dipegangnya Grace bisa melihat pergerakan Erlangga yang berjalan mendekat ke arahnya.
" Iya, tapi Tante berharap kamu bukan lagi orang lain buat Tante ke depannya."
Grace hanya mengulum senyuman menanggapi perkataan Arina. Sementara pandangan matanya terus mengarah ke layar ponselnya yang melihat sosok Erlangga dan Krisna yang semakin mendekat ke arahnya.
" Tante, aku ijin ke toilet dulu sebentar, ya!?" Grace meminta ijin dan bangkit dari duduknya.
" Oh, silahkan, Rena." sahut Arina.
Buugghh
Grace sengaja menabrakkan tubuhnya ke Erlangga yang sudah mendekat pada posisinya, sesuai yang direncanakan oleh Erlangga.
" Hati-hati jika berjalan," tegur Erlangga.
" Iya, maaf." sahut Grace.
Melihat Grace menabrak seseorang, Arina langsung menoleh ke arah orang yang ditabrak oleh Grace tadi. Kening Arina seketika berkerut saat kehadiran Erlangga di hadapannya.
" Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya Krisna yang berada di samping Erlangga.
Wajah Arina seketika memucat saat melihat Papa dari Erlangga apalagi saat ini Krisna menoleh ke arahnya.
" Arina? Kamu Arina, kan?" tanya Krisna.
Grace dapat merasakan perubahan pada gestur tubuh Arina saat melihat kehadiran Erlangga dan Krisna bersamaan. Wajah Arina pun nampak memucat ketakutan.
" Papa kenal Ibu ini?" Erlangga bertanya pada Krisna.
" Apa kamu tidak ingat dengan Sus Rina, pengasuhmu dulu, Lang?" tanya Krisna.
" Sus Rina?" Erlangga pun berpura-pura kaget.
" Ya ampun, ini benar Sus Rina?" Sandiwara Erlangga tidak dapat menutupi rasa bahagia pria itu sangat bertemu kembali dengan mantan pengasuhnya, hingga dia memeluk tubuh Arina.
" Sus Rina apa kabar? Lama tidak bertemu Sus Rina." ujarnya kembali.
" Arina, apakah ini anakmu yang kamu kandung dulu?" Krisna menoleh ke arah Grace.
" Hmmm, bukan Om. Saya bukan anak Tante Arina," jawab Grace cepat.
" Bukan? Lalu di mana anakmu itu sekarang, Arina?" Kembali Krisna menanyakan anak perempuan Arina, yang merupakan keponakan dari Krisna.
Grace melihat air mata keluar dari pipi Arina. Grace merasa jika saat ini Arina sedang dalam tekanan. Bahkan tubuh Arina nampak goyah dan hampir jatuh ke bawah jika saja Erlangga tidak menangkap tubuh Arina.
" Sus, Sus kenapa?" tanya Erlangga khawatir.
" Tante, Tante kenapa?" Grace pun mendekati Arina. Dia juga tidak tega melihat Arina seperti saat ini. Mungkin jika Rivaldi tahu dia membawa Arina dan bertemu dengan Erlangga, apalagi Arina sampai menangis dan hampir pingsan, Rivaldi akan marah kepadanya.
__ADS_1
" Lang, sebaiknya kita bicara di tempat yang aman. Coba kamu pesan private room." Krisna menyuruh putranya mencari tempat yang nyaman untuk mereka berbincang.
" Iya, Pa." sahut Erlangga. " Kamu bisa bantu Sus Rina sebentar?" Erlangga menyuruh Grace memegangi tubuh Arina yang terlihat lemas.
" Tante, Tante kenapa menangis?" Grace seakan merasakan kepedihan yang sedang dirasakan oleh Arina.
" Arina, kami tidak menyalahkan kamu karena kamu pergi dari rumah. Kamu jangan takut, Arina." Krisna mencoba menenangkan Arina.
" Pa, aku sudah pesan private room." Erlangga sudah kembali dari memesan private room untuk mereka.
" Sus, kita bicara di ruangan private room." Erlangga kembali menuntun Arina dan membawa Arina berjalan perlahan menuju private room. Sementara Grace mengekor di belakangnya.
" Sebaiknya kamu tunggu di sini saja. Karena apa yang ingin kami bicarakan adalah masalah pribadi." Erlangga meminta Grace untuk tidak ikut masuk ke dalam private room.
" Oke," sahut Grace.
Grace memilih menunggu di luar private room dan membayar pesanan yang tadi Arina pesan walaupun akhirnya tidak mereka makan.
Satu jam kemudian, Arina sudah selesai berbincang bersama Erlangga dan Krisna. Berbeda saat masuk ke dalam private room, kali ini Arina terlihat lebih tenang.
" Sus Rina jangan khawatir, aku akan membantu menemukan keberadaan putri Sus Rina. Percayalahlah ...!" Erlangga yang masih merangkulkan tangannya di pundak Arina berucap seraya mengusap lengan Arina. Sikap Erlangga terlihat sangat menyanyangi Arina seolah Arina adalah Ibunya sendiri.
" Terima kasih, Lang." Arina tersenyum bahagia.
" Tante, Tante tidak apa-apa?" Grace kemudian mendekat ke arah Arina.
" Tante tidak apa-apa, Rena." sahut Arina.
" Sebaiknya kamu membawa Sus Rina pulang." Erlangga menyuruh Grace membawa Arina segera pulang.
" Tante, kita pulang sekarang!" Grace menuntun tangan Arina.
" Pak Krisna, Elang. Sayang permisi dulu. Assalamualalikum ..." Arina berpamitan pada Krisna dan juga Erlangga.
" Waalaikumsalam," sahut Erlangga dan Krisna bersamaan.
***
Rizal sedang mengamati hasil penyelidikan yang dilakukan oleh Jamal dan Indra atas kasus baru yang dia terima dari klien saat ponselnya tiba-tiba berbunyi. Rizal melihat nama Sam yang muncul di layar ponselnya itu.
" Ada apa, Sam?" tanya Rizal saat mengangkat panggilan telepon tersebut.
" Gawat, Pak. Rivaldi bertemu dengan Pak Satria." Sam menyampaikan informasi mengejutkan bagi Rizal.
" Apa?? Rivaldi bertemu Pak Satria? Di mana?" tanya Rizal terperanjat.
" Di parkiran hotel bintang lima, Pak. Jika dilihat dari raut wajahnya, sepertinya penyamaran Pak Rizal dan Grace sudah terbongkar." Sam melaporkan analisanya soal Rivaldi yang sepertinya sudah mengetahui jika selama ini dikelabuhi.
" Oke, Sam. Awasi terus pergerakan Rivaldi. Saya harus menghubungi Grace sekarang." Rizal mematikan sambungan teleponnya dengan Sam, karena dia harus secepatnya memberitahu Grace. Jika tidak, Grace akan berada dalam bahaya.
" Ayo angkatlah, Grace!" Tak juga diangkat panggilan teleponnya oleh Grace. membuat Rizal senewen.
Dia kemudian mengambil kunci mobilnya dan berjalan ke ruang kerjanya.
" Vito, saya akan ke Bandung. Titip kantor!" Tanpa menunggu jawaban dari Vito, Rizal bergegas menuruni anak tangga. Sementara dia masih terus berusaha menghubungi Grace.
" Ada apa, Pak Tua? Apa aku juga harus mengabarimu sementara Pak Erlangga sendiri sudah mendapatkan kepastian soal Mama dari Rivaldi itu?!" Saat panggilan teleponnya terangkat, Grace langsung menjawab panggilan telepon Rizal sindiran.
" Di mana posisimu saat ini, Grace?" tanya Rizal.
" Aku masih di rumah calon mertuaku." Sengaja Grace menyebut kata calon mertua agar Rizal cemburu.
" Rivaldi bertemu dengan Pak Satria. Penyamaran kita sepertinya sudah diketahui oleh Rivaldi. Sebaiknya kau keluar dari rumah itu secepatnya!"
" Rivaldi bertemu Pak Satria? Lalu, hanya sampai di sini saja penyamaranku?" Nada bicara Grace terdengar kecewa.
" Sebaiknya kau cepat pergi dari sana. Aku akan melaporkan hal ini kepada Pak Erlangga. Kau sembunyilah dulu di hotel. Aku akan menjemputmu ke sana sekarang!" ucap Rizal kemudian bergegas ke arah mobilnya untuk melakukan perjalanan ke Bandung.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️