TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Kau Ingin Tahu Apa Yang Saya Butuhkan?


__ADS_3

Rizal terperanjat mendengar ucapan Grace yang seolah ingin mendekatkan dirinya dengan Monica. Tak beda jauh dengan Monica. Namun, wanita itu justru menanggapinya dengan tersipu.


" Hmmm, maafkan rekan saya ini, Nyonya. Dia memang suka asal bicara." Rizal mendelik ke arah Grace yang langsung mengulurkan lidah seolah mengoloknya.


" Ah, tidak apa-apa, Pak Rizal."' sahut Monica memainkan ujung rambutnya.


" Permisi ..." pelayan caffee shop tiba menyajikan makanan dan minuman untuk Rizal dan Grace.


" Silahkan dicoba, Pak Rizal, Grace. Ini menu favorit di caffe shop ini." Monica mempersilahkan Rizal dan Grace menyantap food and beverages yang tersaji di depan meja mereka.


" Terima kasih, Nyonya." Rizal mengambil segelas hot coffe lalu menyesapnya perlahan.


" Jadi bagaimana, Pak Rizal?" Monica berharap jawaban kepastian dari Rizal, apakah bisa menjadi pengawalnya atau tidak.


" Kau ini 'kan sudah lama menduda, Pak tua. Dan Tante ini sebentar lagi bercerai dengan suaminya. Kalau kalian sering bersama, siapa tahu bisa saling jatuh cinta terus menikah. Biar kau ada yang mengurus, dan tidak marah-marah terus." Grace yang justru menjawab dengan meledek Rizal dengan menjodohkan Rizal dan Monica


Rizal menatap tajam dengan mengeratkan giginya. Kembali Grace berulah. Jika dulu Grace membuat kliennya marah, kali ini Grace justru membuat kliennya terlihat senang.


" Hmmm, nanti saya pertimbangkan dulu siapa yang akan mengawal Nyonya." Tak ingin Grace terus mengoloknya, Rizal cepat memberi jawaban, agar dia bisa cepat keluar dari sana.


" Ya sudah, tidak apa-apa. Tapi, saya berharap Pak Rizal yang bisa mendampingi saya. Hmmm, maksud saya yang nanti akan mengawal saya." Monica masih berharap agar Rizal yang menjadi bodyguardnya.


" Biasanya untuk melakukan tugas dari klien, saya serahkan kepada anggota tim saya, Nyonya. Saya hanya menerima laporan dari mereka." Rizal berusaha menjelaskan jika dia punya anak buah yang akan menjalankan misi-misi yang diterima dari kliennya. " Saya jarang turun tangan langsung karena saya mempunyai pegawai, Nyonya." Rizal tak ingin Monica tetap mengharapkan dirinya untuk mengawal Monica.


" Hei, bukankah waktu menanggani kasus Gavin, kau sendiri yang turun tangan, Pak tua? Kau jangan pilih kasih, dong! Kasihan Tante ini, dia itu butuh perlindungan. Aku rasa kau yang paling tepat untuk mengawal dia." Grace nampaknya senang membuat Rizal kesal dengan kata-katanya.


" Hmmm, apa ada lagi yang ingin Nyonya sampaikan? Jika tidak, kami ingin berpamitan." Rizal memutuskan untuk segera meninggalkan caffe shop milik Monica agar Grace tidak terus bicara melantur.


" Lho, kenapa buru-buru sekali? Kalian bahkan belum sempat menyantap makanannya ..." Monica kecewa mendengar Rizal berniat ingin cepat meninggalkan kafenya.


" Habiskan saja dulu makanannya, Pak Rizal." Monica berusaha menahan Rizal agar tidak buru-buru pergi dari sana.


" Hmmm, toiletnya di mana, ya?" Grace menanyakan toilet, karena dia sengaja ingin memberi ruang kepada Rizal dan Monica untuk saling berbincang tanpa gangguannya.


" Toiletnya ada di dekat kasir." Monica menunjuk arah toilet di kafe itu.


" Aku ke toilet dulu." Grace bangkit berpamitan seraya menepuk pundak Rizal kemudian meninggalkan dua orang yang bersamanya.


" Grace itu anak buah Pak Rizal juga?" tanya Monica setelah Grace berlalu dari hadapannya.


" Dia sedang magang, belajar untuk menggeluti profesi seperti saya." Tidak mungkin Rizal menyebutkan siapa Grace yang sebenarnya kepada Monica.


" Oh ... dia lucu anaknya. Masih muda sekali kelihatannya." ujar Monica menatap ke arah Grace berjalan.


Rizal mengikuti arah pandangan Monica. Netra matanya pun mengikuti langkah Grace sampai menghilang di balik dinding.


" Dia cantik juga ..." lanjut Monica.


" Iya ..." Tanpa sadar Rizal mengiyakan apa yang diucapkan oleh Monica.


Monica kini menoleh ke arah Rizal. Dia menatap Rizal yang masih mengarahkan pandangan ke arah Grace berjalan.


" Kalian sepertinya sangat dekat sekali, Pak Rizal." Monica merasakan interaksi yang aneh antara Rizal dan Grace. Apalagi dengan cara bicara Grace yang asal bicara, bahkan memanggil Rizal yang masih terlihat gagah dan juga tampan dengan sebutan Pak tua.


Rizal terkesiap mendengar Monica bicara kepadanya.


" Emmm ... maaf, Nyonya tadi bicara apa?" Rizal tidak fokus mendengarkan perkataan Monica.


" Pak Rizal tidak fokus mendengarkan saya bicara, ya?" Monica terlihat kecewa karena Rizal seperti tidak fokus padanya.

__ADS_1


" Oh, maaf, Nyonya. Saya tadi ..." Rizal mengusap tengkuknya karena dia dibuat salah tingkah karena ketahuan sedang memperhatikan Grace dan tidak fokus pada Monica.


" Pak Rizal, Anda ada di sini?" Pada saat yang bersamaan datang seorang wanita menyapa Rizal.


Rizal menolehkan wajahnya dan mendapati Agatha berdiri di sampingnya.


" Nyonya Agatha?" Rizal terkesiap melihat kemunculan Agatha.


Agatha menoleh ke arah Monica yang duduk di depan Rizal. Dia memperhatikan wanita yang terlihat lebih muda.


" Ini Ibu Agatha yang desainer itu, kan?" Sepertinya Monica mengenali Agatha.


" Iya, benar." sahut Agatha.


" Wah, senang sekali bisa bertemu langsung dengan Ibu Agatha. Saya sering memakai koleksi gaun rancangan Ibu Agatha untuk acara pesta lho, Bu." ungkap Monica seraya bangkit dan mengatakan jika dia salah satu pengguna gaun rancangan dari Agatha.


" Benarkah?" Tak aneh sebenarnya bagi Agatha melihat orang mengenalnya karena memakai gaun rancangannya. Jadi dia tak merasa heran jika dia bertemu dengan orang baru dan mengatakan hal seperti yang dikatakan oleh Monica. Kadang ada orang yang memang benar pemakai gaun rancangannya, ada juga yang hanya sekedar berbasa-basi menyapanya.


" Benar, Bu Agatha. Suatu kehormatan bagi saya, Bu Agatha bisa mampir ke kafe saya ini." Monica menunjukkan rasa bangga mengetahui kafenya dikunjungi desainer terkenal seperti Agatha.


Agatha hanya membalas dengan senyuman perkataan Monica. Dia lalu melihat ke kursi di sebelah Rizal, dan dia merasa ada orang lain bersama Rizal dan Monica.


" Pak Rizal dengan Vito kemari?" tanyanya kemudian.


" Oh, tidak, Nyonya. Saya dengan ...."


" Ibu Agatha kenal dengan Pak Rizal juga, ya?" tanya Monica memotong perkataan Rizal.


" Hmmm, iya ..." sahut Agatha dengan menganggukkan kepalanya.


Sementara dari balik toilet. Grace yang sebenarnya tidak berminat masuk ke toilet itu kini mengintip ke arah meja di mana Rizal dan Monica berada. Dia sengaja meninggalkan mereka berdua. Karena dia tahu, Rizal pasti akan merasa kesal dengan ulahnya ini.


Namun, lengkungan di bibir Grace kini menyurut, saat dia melihat kemunculan Agatha di antara Rizal dan Monica.


" Mama? Iiihh, Mama kenapa muncul disitu, sih? Mengganggu sana!" Grace menggerutu karena dia menganggap kehadiran Agatha sangat mengganggu proses pendekatan Rizal dan Monica.


Melihat Agatha tidak juga meninggalkan Rizal dan Monica, Grace akhirnya memutuskan keluar untuk menghampiri mereka bertiga.


" Mam, kok Mama di sini?" tanya Grace ketika sampai di dekat mereka.


" Grace? Kamu di sini juga?" Agatha terkejut melihat putrinya itu kini berada di hadapannya. Dia memperhatikan penampilan anaknya kali ini yang terlihat seperti gadis remaja pada umumnya dan tak mengenakan pakaian yang memperlihatkan kemolekan tubuh Grace.


" Lho, Ibu Agatha ini Mamanya Grace?" Monica terkejut saat mengetahui jika Grace yang datang bersama Rizal ternyata putri dari Agatha.


" Iya, dia putri tunggal saya." Agatha menjelaskan pada Monica. " Kamu sama Pak Rizal kemari?" Kini Agatha memandang Grace dan Rizal bergantian.


" Iya, aku disuruh menemani Pak tua ini bertemu calon jodohnya."


Ucapan Grace tentu saja membuat mereka bertiga terbelalak. Terlebih Rizal yang merasa malu karena dia kali ini dijadikan bahan olokan oleh Grace.


" Calon jodoh?" tanya Agatha menatap ke arah Monica.


" Ah, bukan, Bu Agatha. Grace hanya bercanda. Saya hanya ingin meminta bantuan Pak Rizal untuk bisa menjadi pengawal saya saja." Monica malu mengakui jika dia sebenarnya tertarik dengan sosok Rizal.


" Grace, kamu jangan menyebarkan berita yang tidak-tidak! Jangan bikin malu Mama, dong!" Agatha menegur putrinya itu.


" Mam, Pak tua ini duda dan Tante ini sebentar lagi mau bercerai dengan suaminya. Tante ini butuh perlindungan Pak tua. Tidak ada salahnya 'kan kalau mereka dijodohkan? Siapa tahu memang cocok." Grace semakin menggi la, .sepertinya belum merasa puas terus mempermalukan Rizal.


" Hmmm, Nyonya Monica. Saya rasa sebaiknya saya pamit dulu. Ada klien yang mesti saya temui lagi." Merasa situasi menjadi kacau dan tidak kondusif, Rizal memilih untuk meninggalkan tempat itu segera mungkin. " Permisi, Nyonya ..." Rizal lalu menarik lengan Grace untuk ikut bersamanya.

__ADS_1


" Mam, aku pulang dulu! Tolong kasih nomer aku ke Tante itu! Aku siap jadi comblang mereka!" Grace berteriak membuat sebagian orang menatapnya. Sedangkan Rizal sudah semakin memerah wajahnya karena terus dipermalukan oleh Grace di depan umum.


Sesampainya di halaman parkir, Rizal lalu merapatkan tubuh Grace di sisi mobil Grace. Emosinya sudah terpancing karena ulah Grace yang dengan seenaknya menjodohkan dirinya dengan Monica.


" Apa tujuanmu menjodohkan saya dengan Nyonya Monica?" tanya Rizal geram dan menatap tajam ke bola mata Grace.


" Tujuanku? Aku ini berniat baik padamu, agar kau cepat mendapatkan jodohmu, Pak tua." Grace tidak takut dengan sorot mata Rizal yang mengintimidasi dirinya. Tangannya justru membelai rahang Rizal, membuat amarah Rizal seketika mereda. " Kau ini 'kan butuh kasih sayang dan belaian dari wanita. Jadi, tidak


ada salahnya kalau aku jodohkan kalian, kan?" Grace masih meledek Rizal.


" Kau tahu apa yang saya butuhkan?" Rizal merapatkan tubuhnya dengan Grace hingga jarak mereka semakin menipis. Dia menatap bibir sek si Grace. Perlahan dia semakin memangkas jarak mereka, dan kini dia mendekatkan bibirnya ke bibir ranum milik Grace.


Grace terkesiap saat bibirnya disentuh bibir Rizal. Bahkan kini pria itu melu mat bibirnya. Sungguh, dia tidak pernah menduga jika Rizal akan berani melakukan hal itu terhadap dirinya. Apalagi saat tangan Rizal menyentuh tengkuknya seolah ingin memperdalam pagutan bibir mereka.


" Mas, Mbak, tempat umum ini ... jangan berbuat me sum di sini! Huuuuu ..." Suara teriakan seseorang dibarengi suara tawa dan sorakan beberapa orang terdengar dari beberapa anak muda yang sedang duduk berbincang di atas motor mereka, membuat Rizal dan Grace menghentikan aksi in tim mereka.


Grace mendorong tubuh Rizal agar menjauh dari tubuhnya. Rizal pun seketika menjauhkan tubuhnya dari wanita itu.


Rizal membuka pintu mobil dan menyuruh Grace untuk masuk ke dalam mobil.


" Masuklah ..." Tanpa berani menatap Grace yang memandangnya dengan heran, Rizal menyuruh Grace masuk.


Sepanjang perjalanan pulang, baik Rizal dan Grace tak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan kata-kata. Mereka sama-sama tidak percaya dengan yang mereka perbuat tadi.


Grace menatap ke luar jendela dengan menggigit kuku jari lentiknya. Dia masih berpikir kenapa Rizal tiba-tiba menciumnya? Bukankah pria itu selalu berusaha menolak jika dia goda?


Rizal sendiri merutuki dirinya yang telah berani mencium bibir ranum Grace. Dia bahkan terhanyut dengan pagutan mereka tadi. Jika saja tadi tidak ada yang mengganggu aktivitas mereka, mungkin dia masih akan lama menikmati aktivitas in tim mereka.


" Gi la, ini benar-benar gi la!" batin Rizal seraya mengusap kasar wajahnya. Dia dapat membayangkan jika Grace akan menjadikan perbuatannya tadi sebagai bahan olokan nanti saat di kantornya.


***


Grace turun dari mobil Rizal tanpa mengatakan sepatah kata pun setelah mobil yang dikendarai oleh Rizal terparkir di halaman rumah Grace.


" Hei, jangan terlalu memikirkan hal tadi! Aku melakukan hal itu agar mulutmu itu berhenti bicara!" Rizal yang ikut turun dari mobilnya berteriak kepada Grace dengan mengatakan jika tindakan yang dilakukannya dengan mencium bibir Grace hanya sebuah keisengannya saja, tanpa arti apa-apa.


Grace menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Rizal. Namun, tak lama dia melanjutkan langkahnya masuk ke dalam rumah tanpa menoleh ke arah Rizal.


Saat tubuh Grace menghilang di balik pintu, Rizal langsung mengacak rambutnya. Dia seakan menyesali. Entah apa yang dia sesali, mencium Grace atau mengatakan jika itu ciuman itu tak bermakna apa-apa.


Dengan mendengus kasar, akhirnya Rizal masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Grace yang berada tepat di depan kantornya.


Sementara itu, ketika sampai di dalam kamarnya, Grace langsung menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Apa yang dilakukan oleh Rizal tadi sungguh mengusik pikirannya.


" Apa benar Pak tua itu hanya iseng saat menciumiku?" Grace menyentuh bibirnya. Dia merasakan jika sentuhan Rizal bukan sekedar ciuman iseng hanya untuk membuat mulutnya berhenti bicara.


" Kalau memang itu benar iseng, itu tidak masalah. Tapi, kalau dia mencium karena menginginkanku, bagaimana ini?" Grace memijat pelipisnya. " Kalau dia suka padaku dan mengejarku, ini bisa bahaya!" Grace bangkit dari tempat tidurnya. " Aku tidak ingin mempunyai pasangan pria tua seperti dia!" Grace mengedikkan bahunya.


Selama ini Grace menggoda Rizal hanya karena ingin membuat Rizal pusing menghadapi sikapnya, bukan agar Rizal jatuh cinta kepadanya. Dan jika permainannya itu justru membuat Rizal menyukainya dan menginginkan dirinya menjadi milik pria itu, Dia harus menghindari Rizal. Dia harus menjaga jarak mulai saat ini agar Rizal tidak sampai berpikiran ingin menjadikan dirinya menjadi milik pria itu.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2