TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Syarat Yang Harus Dipenuhi


__ADS_3

" Grace, buka pintunya!"


" Aku minta maaf, aku tahu aku salah. Grace,"


" Grace, please buka pintunya!"


Sudah lebih dari setengah jam Rizal mengetuk pintu kamar hotel mereka. Sejak mengikuti Grace masuk ke dalam lift, pria itu terus menerus memohon kepada Grace. Namun, Grace bergeming tidak memperdulikan permintaan maaf Rizal.


Bahkan saat sampai di kamar hotel, Grace tak memperbolehkan Rizal masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu kamar, sehingga Rizal terus membujuk Grace. Mengetuk pintu, menyampaikan permintaan maaf, menghubungi Grace via telepon, meskipun tak satu pun yang digubris oleh Grace.


Tindakan yang dilakukan Rizal sempat membuat heran para tamu hotel yang menginap di sebelah kamar mereka, juga petugas hotel yang saat itu melintas di depan kamar mereka. Namun, dengan mengatakan alasan sedang membujuk kekasihnya yang merajuk, sepertinya cukup meyakinkan para tamu dan pegawai hotel tersebut.


" Grace, maafkan aku. Tolong buka pintunya, Grace. Jangan seperti ini!" Rizal terus berusaha membujuk Grace agar kemarahan Grace cepat mereda. Dia sadar jika menghadapi orang yang mempunyai sifat keras kepala harus dihadapi dengan kelembutan. Apalagi dalam hal ini dia jelas-jelas salah sampai menuduh Grace sengaja membiarkan Rivaldi mendekati putrinya.


Hingga berjalan satu jam, Grace tidak juga membukakan pintu kamar untuk Rizal. Membuat Rizal sangat frustrasi. Dia menopang tangannya di pintu kamar hotel dengan kepala menunduk.


" Grace, ayolah, Grace ..." Suara Rizal melemah, akan tetapi dia masih nerus berusaha membujuk Grace agar dia mau membukakan pintu untuknya. Sungguh ini semua di luar dugaan Rizal. Bertemu dengan Rivaldi dan akhirnya dia malah bertengkar, sampai membuat Grace marah bahkan mengancam hubungannya bersama wanita yang dicintainya itu akan berakhir.


Sementara di dalam kamar, Grace yang menghempaskan tubuhnya saat masuk ke kamar tetap dalam posisi yang sama. Berbaring dengan posisi telungkup. Hatinya merasa kesal karena Rizal tega menuduhnya seburuk itu. Padahal dia juga berusaha melindungi Isabella walaupun dia tidak menceritakan hal tersebut kepada Rizal.


Grace sama sekali dia memperdulikan suara ketukan pintu, suara Rizal yang memanggil namanya, memintanya untuk membuka pintu dan memberi maaf kepada Rizal. Dia juga sama sekali tidak meladeni panggilan telepon dari Rizal yang berkali-kali masuk ke dalam ponselnya.


" Jika dia selalu berpikiran buruk tentangku, untuk apa mati-matian ingin menikahiku?? Apa jangan-jangan dia hanya butuh orang yang dapat dia jadikan tempat untuk menyalurkan kebutuhan bio logisnya saja?" Grace sampai berpikiran jika Rizal tidak sungguh-sungguh mencintainya.


Ddrrtt ddrrtt


Grace melirik ponselnya. Awalnya dia mengira jika Rizal lah yang kembali menghubunginya. Namun, ternyata Om Daniel lah yang saat ini meneleponnya.


" Halo, Om ..." Grace segera mengangkat panggilan telepon dari Om nya.


" Halo, Grace. Di mana kamu sekarang? Satu jam lagi temui Om di lobby hotel Om menginap, ya!"


" Oke, Om. Kami akan ke sana segera."


Setelah Om nya mengakhiri sambungan telepon mereka, Grace lalu melirik ke arah pintu kamar hotel. Dia pun akhirnya bangkit dan berjalan untuk membuka pintu yang sejak tadi diketuk oleh Rizal.


Saat pintu terbuka, dia melihat Rizal yang terlihat kusut dan frustasi masih berdiri di depan pintu.


" Garce ..." Rizal langsung memeluk tubuh Grace saat dia melihat Grace muncul saat daun pintu terbuka.


" Grace, maafkan aku. Maafkan keegoisanku. Aku tahu aku salah ... kau boleh menghukum aku, tapi jangan menggagalkan rencana pernikahan kita." Rizal menunjukkan jika dia khawatir rencana pernikahan mereka digagalkan oleh Grace.


" Lepaskan! Aku ingin mengajak Rivaldi untuk bertemu dengan Om ku!" Grace sengaja mengerjai Rizal yang tadi sudah menuduhnya.


" Apa?? Tidak, Grace!! Kamu tidak mungkin membawa dia bertemu dengan Om kamu! Dia itu pria licik!" Rizal mengurai pelukannya. Kini pria itu memegang kedua bahu Grace.


" Dia licik, tapi dia tidak pernah berburuk sangka terhadapku! Tidak sepertimu! Kau selalu bilang cinta nyatanya selalu menuduhku dan menyalahkan aku jika berhubungan dengan anakmu itu!" protes Grace dengan bersungut-sungut.


" Aku minta maaf, Grace! Aku tahu aku salah." tangan Rizal menangkup pipi Grace. " Aku mencintaimu, Grace! Aku tidak ingin kehilanganmu. tolong maafkan aku!" Rizal kini mengecup bibir Grace sama seperti yang Grace lakukan saat meredam emosi pada dirinya karena terpancing emosi Rivaldi tadi.


" Maafkan aku ..." Rizal kembali memohon.


" Kau memang menyebalkan!" Grace melepas tangan Rival yang menangkup pipinya. Dia lalu berjalan masuk kembali ke dalam kamar. Namun, kali ini dia membiarkan Rizal ikut masuk ke dalam kamar.


" Kamu sudah memaafkanku, kan?" Rizal mengikuti langkah Grace. Rizal yakin jika Grace sudah dapat memaafkannya, karena Grace membiarkan dirinya masuk ke dalam kamar hotel.


" Om Daniel menyuruh kita datang ke hotel tempatnya menginap satu jam lagi. Aku tidak ingin melihat wajah menyedikanmu seperti itu, jika tidak ingin Om menolak niatmu melamarku!" Walau sudah memaafkan Rizal. Namun, Grace tetap berbicara dengan nada ketus pada pria itu.


" Terima kasih, Grace." Rizal lalu mengangkat tubuh Grace ala bridal style dengan kedua lengannya kemudian membawanya berputar-putar.


" Astaga, lepaskan aku, Rizal!!" seru Grace memukuli tubuh Rizal yang membawanya berputar-putar, hingga kini mereka berdua jatuh di atas tempat tidur dengan posisi Grace di bawah tubuh Rizal.


" Kamu panggil apa tadi??" Rizal mendengar Grace memanggilnya dengan nama saja.


" Aku panggil apa?" Grace mengerutkan keningnya.


" Kau memanggilku Rizal!"


" Bukankah itu memang namamu?"

__ADS_1


" Tidak sopan menyebut namaku begitu saja!"


" Kau ini terlalu banyak protes! Aku panggil Pak tua, kau protes! Aku panggil Rizal, kau protes juga! Aku saja kau panggil Grace, Grace, Grace, tidak protes apa-apa!" gerutu Grace.


Perkataan Grace membuat Rizal semakin gemas pada wanita cantik itu. Tangannya kini membelai wajah Grace.


" Jangan panggil aku dengan nama saja, terdengar tidak sopan.. Aku ini calon suamimu." Rizal berucap dengan kata-kata yang lembut dan masih membelai wajah Grace.


" Kau ingin aku panggil Papih? Terus kau panggil aku Mamih gitu? Aku masih muda, aku tidak mau dipanggil Mamih!" Grace enggan menyandang panggilan Mamih.


" Aku tidak akan memanggilmu Mamih, sampai benihku bersemayam di rahimmu nanti." Tangan Rizal kini turun mengusap perut Grace.


" Tapi kamu boleh menyebutku Papih dari sekarang," lanjut Rizal menyatukan bibir mereka kembali dan melakukan kein timan yang sering mereka lakukan selama ini.


***


Rizal dan Grace menunggu di lobby hotel tempat Om Daniel menginap. Lewat lima menit dari waktu yang dijanjikan, Om Daniel akhirnya muncul di hadapan mereka.


" Om ..." Grace memeluk Om Daniel, hampir tiga tahun dia tidak bertemu dengan Om nya itu.


" Garce ..." Om Daniel pun memeluk Grace melepaskan kerinduan pada keponakannya yang dia anggap tersesat saat menjalin hubungan dengan Joe. Sementara mata Daniel melirik ke arah Rizal yang duduk berdampingan dengan Grace tadi.


" Siapa pria ini, Grace?" tanya Om Daniel.


" Dia ini Rizal, Om. Orang yang aku ceritakan, yang ingin menikahiku, Om." Grace memperkenalkan Rizal pada Om Daniel.


" Selamat sore, Tuan Daniel." Rizal menyapa Om Daniel seraya mengulurkan tangannya kepada Om Daniel, karena saat ini waktu hampir mendekati jam enam sore.


" Grace, apa kamu tidak salah? Dia calonmu?" Meski tangannya menerima uluran tangan Rizal, tapi Om Daniel seakan tidak percaya jika pria dewasa di hadapannya adalah calon suami dari keponakannya yang masih berusia muda.


" Iya, Om." Grace sudah menduga jika Om Daniel pasti akan mempermasalahkan usia Rizal yang jauh di atasnya.


" Ya sudah, kita bicara di resto saja, sekalian kita makan." Om Daniel mengajak Grace dan Rizal ke restoran yang ada di hotel mewah tempat Om Daniel menginap. Grace juga awalnya ingin menginap di hotel yang sama dengan Om nya. Namun kamar di hotel itu di tanggal yang sama terisi penuh, sehingga Grace memilik hotel yang tidak terlalu jauh dengan hotel Om Daniel menginap.


" Berapa umurmu sekarang, Rizal?" saat mereka menunggu pesanan makanan datang, Om Daniel mulai mengorek kehidupan pribadi Rizal.


" Tiga puluh sembilan? Usia Papanya Grace jika masih hidup lima puluh tahun. Menantu dan mertua hanya selisih sebelas tahun saja. Hahaha ..." Om Daniel menertawakan selisih usia Rizal dan Grace yang menurutnya terlalu jauh. Bahkan usia Papa Grace dan Rizal hanya terpaut sebelas tahun saja.


Sementara Rizal dan Grace samping berpandangan mendengar sindiran dari Om Rizal.


" Kau pernah menikah sebelumnya?" tanya Om Daniel kembali.


" Istri saya meninggal enam tahun lalu, Tuan. Dan saya mempunyai anak perempuan berusia sembilan belas tahun." Rizal tanpa malu dan ragu mengakui status yang disandangnya terhadap Om Daniel.


" Berapa usiamu sekarang, Grace?' Kini Grace yang mendapatkan pertanyaan dari Om Daniel


" Dua puluh tahun, Om."


" Usia putrinya bahkan hampir seumuran denganmu, Grace." Om Daniel masih tertawa kecil melihat perbedaan Grace dan Rizal yang sangat mencolok.


" Lalu, apa pekerjaanmu saat ini?" Om Daniel menanyakan semua hal yang perlu dia ketahui dari Rizal.


" Rizal ini mempunyai usaha jasa agen penyidik swasta, Om." Grace yang menjawab pertanyaan Om Daniel.


" Semacam detektif begitu?"


" Benar, Tuan.


" Grace, foto pria yang Mamamu kirimkan ke Om, di jauh lebih muda dan tampan. Apa kau yakin tetap akan menikahi Rizal?"


Perkataan Om Daniel kembali membuat Grace dan Rizal saling pandang.


" Mamamu bilang dia seorang pengusaha juga. Sangat cocok dengan yang Om cari." Om Daniel mulai membandingkan antara Rizal dengan Rivaldi. Om Daniel dengan santai tak memikirkan Rizal akan tersinggung dengan ucapannya.


" Om bicara seperti itu karena Om tidak mengenal bagaimana Rivaldi yang sebenarnya! Dia itu pria licik yang akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, Om!" Grace mencoba mematahkan anggapan Om Daniel yang mengatakan jika Rivaldi lebih tepat untuknya daripada Rizal.


" Om tahu? Rivaldi kemarin mengancamku, dan memintaku untuk meninggalkan Rizal dan memilih dia. Jika tidak, dia akan mendekati anak Rizal dan memanfaatkan anak Rizal untuk membalas kami. Menurut Om, pria seperti apa Rivaldi itu?" Grace pun membeberkan sikap penge cut yang dilakukan oleh Rivaldi.


" Om selalu mengatakan jika Joe bukan pria baik dan tidak pantas untukku. Lalu apa bedanya Rivaldi dengan Joe, Om??" Grace membuka pandangan Om Daniel, agar tidak menilai Rizal hanya karena usia, status, dan pekerjaan Rizal saja.

__ADS_1


Rizal menoleh ke arah Grace. Dari kata-kata yang diucapkan oleh Grace, menunjukkan jika dirinya memang layak untuk Grace pilih sebagai pendampingnya.


" Wah, beruntung sekali kau, Rizal! Keponakan saya ini sepertinya begitu mencintaimu." Dari argumentasi yang diucapkan oleh Grace, Om Daniel dapat merasakan jika keponakannya itu sudah sangat yakin dengan pilihannya.


" Apa yang membuatmu ingin menikahi keponakanku?" Om Daniel menanyakan tujuan Rizal menikahi Grace.


" Karena saya mencintai Grace, Tuan. Dan karena saya ingin merubah Grace menjadi pribadi yang lebih baik. Saya tahu siapa Grace, bagaimana masa lalunya, bagaimana pergaulannya. Tapi, itu tidak melunturkan niat saya untuk menjadikan Grace sebagai istri saya, Tuan." Dengan tegas dan lugas Rizal menyampaikan alasannya ingin menikahi Grace.


Grace mengulum senyuman mendengar kalimat yang diucapkan oleh Rizal, dia bahkan menggenggam tangan Rizal, untuk semakin memantapkan jika pilihan mereka untuk bersama sudah bulat dan tidak diganggu gugat.


" Baiklah, saya akan merestui kalian, tapi dengan satu syarat!" Om Daniel mengatakan jika dia tidak akan menghalangi niat Rizal untuk menikahi Grace. Namun, ada syarat yang harus dipenuhi oleh Rizal untuk mendapatkan keponakannya itu.


" Syarat apa, Om?" tanya Grace.


" Kamu tahu 'kan Grace? Kalau Om itu sangat sibuk mengurus perusahaan Om juga perusahaan Papamu. Karena itu, Om ingin siapa pun yang akan menjadi suami kamu. harus mau membantu menghandle perusahaan Papamu dengan baik. Apa kamu sanggup melakukan syarat yang saya berikan, Rizal?" tanya Om Daniel kepada Rizal.


Grace dan Rizal sama-sama terperanjat dengan syarat yang diajukan oleh Om Daniel.


" Om, itu tidak mungkin, Om! Rizal tidak berpengalaman menjalankan perusahaan seperti milik Papa!" Grace menganggap Om Daniel sengaja memberikan syarat yang sulit untuk dilaksanakan oleh Rizal.


" Kalau dia memang ingin menikahimu, dia harus mau menerima syarat itu. Jika tidak, Om akan memberikan kesempatan itu pada pria lain yang sanggup menerima syarat dari Om!" tegas Om Daniel.


" Om sengaja ingin menghalangi kami, kan!? Apa jangan-jangan Om sudah bersekongkol dengan Mama untuk menghalangi niat Rizal yang ingin menikahiku?!" Grace geram, bahkan berburuk sangka menuduh Om nya sengaja bersekongkol dengan Mamanya.


" Grace, jangan bicara seperti itu!" Rizal meminta Grace untuk tenang dan tidak emosi menghadapi Om Daniel.


" Percuma kami datang jauh-jauh menemui Om! Harusnya Om memberitahu dari awal syarat itu agar kami tidak buang-buang waktu datang kemari!" Grace masih mengeluarkan amarahnya.


" Grace, tenang!" Rizal masih berusaha menenangkan Grace.


" Sebaiknya kita pergi dari sini saja!" Grace bangkit berniat meninggalkan Om nya. Tapi, tangan Rizal lebih dahulu mencegah langkah Grace.


" Baiklah, Tuan! Saya setuju dengan syarat yang Tuan berikan!"


Tanpa Grace duga Rizal justru menyetujui syarat yang diajukan oleh Om Daniel.


" Apa kau bercanda?" Grace tidak percaya Rizal mau menerima syarat yang diajukan oleh Om Daniel.


" Saya akan menerima syarat itu, Tuan. Tapi, beri saya waktu untuk belajar. Mungkin satu tahun ke depan saya akan siap untuk menjalankan syarat yang Tuan ajukan." Rizal menyanggupi dan meminta waktu satu tahun untuk dia belajar bagaimana menghandle sebuah perusahaan besar.


" Kalau begitu, kembalilah satu tahun yang akan datang untuk menikahi keponakan saya!" Daniel tidak menerima syarat yang diajukan oleh Rizal.


" Apa Tuan ingin saya menghandle perusahaan sekarang dan perusahaan itu akan berantakan karena ditangani oleh orang yang tidak mempunyai keahlian memimpin perusahaan itu?" Rizal meminta Daniel untuk mengerti jika dia juga harus belajar menjadi pemimpin perusahaan, walau dia sendiri seorang pemimpin di kantor miliknya. Tapi, bidang usaha yang digeluti oleh Papanya Grace dan dirinya berbeda dan tidak saling berkaitan.


" Baiklah, saya akan tagih janji kamu itu satu tahun ke depan! Jika kamu masih belum mampu menghandle perusahaan Papanya Grace, kau harus melepaskan Grace!" Akhirnya Om Daniel mau menerima permintaan Rizal.


" Terima kasih, Tuan. Terima kasih atas kepercayaan Tuan terhadap saya. Insya Allah, saya akan menjalankan apa yang Tuan inginkan dengan amanah." janji Rizal.


" Oke, kapan kau akan menikahi Grace?" tanya Om Daniel.


" Secepaynya jika Tuan mengijinkan," balas Rizal seraya melirik Grace dan menggengam tangan Grace karena dia berhasil mendapatkan restu dari Om Daniel meskipun apa syarat yang harus dipenuhinya.


" Jangan panggil saya Tuan, panggil saja Om atau apa saja." Om Daniel mulai melunak dan menyuruh Rizal tidak terus memanggilnya Tuan.


" Baik, Pak Daniel," sahut Rizal.


" Om sampai lusa ada di sini. Jadi kalau kalian membutuhkan Om untuk menjadi wali nikah kalian, siapkan dalam dua hari ke depan. Om akan mampir ke Jakarta sebelum kembali ke Jerman."


Ucapan Om Daniel yang menyuruh Rizal dan Grace untuk menyiapkan pernikahan dalam waktu dua hari membuat mereka terbelalak dan tercengang. Karena mereka tidak menyangka jika Om Daniel akan memberikan waktu secepat itu untuk mereka menyiapkan pernikahan mereka.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2