TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Sendok Bekas


__ADS_3

Rizal memperhatikan draf perjanjian yang sudah dibuat oleh Vito. Dia baru saja mendapatkan tugas baru dari klien untuk menangani kasus sengketa tanah. Pemilik tanah itu hendak mengusir orang-orang yang mendirikan bangunan di tanah yang dimilikinya selama bertahun-tahun tanpa ijin dari pemilik tanah.


" Oke, ini sudah benar. Langsung diprint saja," perintah Rizal kepada Vito.


" Baik, Pak. Oh ya, Pak. tadi Pak Harjo mengabari jika beliau akan melakukan pelunasan pembayaran untuk kasus yang sudah selesai kita tangani Minggu depan," tutur Vito memberitahukan kabar yang disampaikan oleh salah satu kliennya.


" Oke, tidak masalah, Vit. Pak Harjo sering memakai jasa kita dan selama ini tidak ada masalah dengan pembayaran beliau," sahut Rizal.


" Baik, Pak." ucap Vito. " Bagaimana dengan Nona Grace? Apa Pak Rizal belum menemui Nona Grace?" Vito menayakan hal tersebut, karena semenjak tiba di kantor, Rizal tidak menyinggung soal Grace sama sekali. Padahal menurut rencana, Rizal akan membawa Grace ke kantor merekapagi ini.


Rizal melirik ke arah Vito saat anak buahnya itu menanyakan soal Grace. " Eheemmm, mungkin lusa kita akan menjemput dia," sahut Rizal.


" Lusa?" Kening Vito berkerut. Dia heran, kenapa harus menunggu lusa? Memangnya kenapa harus menunggu lusa? " Memangnya kenapa harus lusa, Pak?" tanya penasaran.


" Iya, karena lusa Nona Grace check out dari hotel itu." Rizal menjelaskan.


Penjelasan Rizal justru membuat Vito semakin aneh. " Maaf, Pak. Memangnya kenapa kita harus menunggu Nona Grace check out? Nona Grace itu 'kan sedang menjalani hukuman. Kenapa justru kita yang harus mengikuti jadwal Nona Grace?" Sudah pasti keputusan yang diambil Rizal membuat Vito tak habis pikir. Kenapa mereka yang harus mengikuti Grace? Bukankah status Grace saat ini adalah tawanan mereka.


" Hmmm, biarkan saja dia di sana, Vit. Saya rasa kita bisa menggunakan waktu dua hari ini untuk memikirkan di mana dia akan ditempatkan," sahut Rizal beralasan.


" Sudahlah, kau kembali saja ke mejamu!" Rizal tak nyaman Vito terus menanyakan soal Grace. Dia menyuruh anak buahnya itu untuk kembali meneruskan pekerjaannya.


" Baik, Pak." Kendati merasa aneh, Vito akhirnya keluar dari ruangan kerja bosnya.


Rizal memijat keningnya setelah Vito meninggalkan ruangannya. Tentu saja perbuatan Grace yang menciumnya tadi membuat dirinya sedikit terganggu. Apalagi jika mereka nanti berjumpa kembali. Dia yakin wanita itu akan menyinggung soal ciuman tadi.


Mengingat soal ciuman, tanpa sadar Rizal mengusap bibirnya. Dia seperti masih merasakan lembutnya bibir wanita itu sampai menyentuh bibirnya, walaupun hanya sepintas menempel di bibirnya.


" Si al! Kenapa aku seperti anak ABG yang baru merasakan ciuman pertama?!" Rizal mengerjapkan matanya mencoba membuyarkan pikiran soal ciuman dengan Grace dan memilih memusatkan pikiran pada pekerjaannya.


***


Rizal memperhatikan ponselnya. Dia menyalakan rekaman dari penyadap di ponsel Grace. Tidak banyak yang diucapkan oleh Grace, selain percakapan dengan petugas hotel yang mengirim pesanan makanan wanita itu.


Rizal menaruh ponselnya lalu melipat tangan di bawah kepalanya. Tatapan matanya seakan menembus langit-langit plafon atap kamarnya. Dia lalu mencoba memejamkan matanya untuk beristirahat. Namun, saat matanya tertutup, tiba-tiba bayangan Grace yang terlihat jelas di pelupuk matanya.


Rizal terkesiap, dia seketika membuka matanya kembali, karena bayangan Grace yang selalu menggodanya tiba-tiba muncul saat matanya tertutup. Rizal bahkan langsung menyibak selimutnya lalu bangkit dari tempat tidur.


Rizal mengambil rokok dan korek api gas di laci nakasnya, kemudian berjalan ke arah balkon kamar.


Rizal menyalakan sebatang rokok dan menghisapnya. Dia bukan perokok berat. Satu pak rokok pun tidak akan dia habiskan dalam waktu satu Minggu. Jika dia tidak bisa tidur atau sedang gelisah, baru dia akan bersentuhan dengan benda yang sebenarnya merusak kesehatan itu.


Rizal mengepulkan asap rokok dari hembusan nafas di mulut seraya mengusap kasar wajahnya. Dia tidak menduga jika wanita muda itu tiba-tiba saja mengacaukan pikirannya saat ini.


Kasus Grace yang ditangani Rizal sebenarnya bukanlah kasus sulit. Namun, wanita itu sukses membuatnya pusing tujuh keliling.


" Tidak! Aku tidak boleh terjebak dengan permainan wanita itu! Wanita itu memang sengaja ingin melemahkanku." Rizal bertekad tidak akan terpengaruh dengan apa yang telah dilakukan Grace kepadanya.


" Dia pasti sedang tidur nyenyak sekarang. Tanpa merasa bersalah telah mengacaukan pikiranku." Rizal menduga, apa yang dilakukan oleh Grace kepadanya tidak berpengaruh apa-apa untuk wanita itu. Bahkan mungkin wanita itu sudah terlelap bersama mimpinya.


***

__ADS_1


Rizal berkunjung ke tempat David Richard. Dia ingin membahas soal Joe yang kemungkinan masih berada di Indonesia dan hukuman yang akan dijalani oleh Grace selanjutnya, karena Grace gagal ditempatkan di Panti Wreda.


" Tidak usah, Zal. Tidak usah membuang waktu mencari keberadaan pria itu. Kau urus saja Grace sampai dia berubah." Sepertinya keputusan David Richard sudah bulat tidak ingin mencari keberadaan Joe. Menangkap dan memperkarakan Joe, pasti akan menarik Grace ke dalamnya. Karena Grace lah yang dia duga otak di balik penyerangan Gavin. Sementara dia sendiri sudah memutuskan tidak akan mmemproses Grace ke jalur hukum.


" Baiklah, Om. Jika memang Om memutuskan tidak ingin mencari keberadaan Joe," sahut Rizal. Dia pun tidak akan memaksakan diri untuk mencari keberadaan pria yang bersama Grace menyerang Gavin. Karena dia tidak ada urusan dengan pria itu.


" Oh ya, Zal. Bagaimana? Apa kau sudah menemukan tempat yang tepat untuk menampung Grace?" tanya David kemudian.


" Itu juga yang ingin saya bahas, Om. Tidak mudah menempatkan Nona Grace di sembarang tempat. Dia secara sengaja akan berbuat kacau di sana. Bahkan, di kantor polisi pun, dia berani berbuat ulah." Rizal menceritakan betapa sulitnya menjinakkan wanita muda itu.


" Jujur saja, Om. Ini bukan kasus sulit yang saya tangani. Tapi sikap Nona Grace benar-benar membuat kesabaran saya diuji," keluh Rizal mengadu, bagaimana dirinya dibuat pusing tujuh keliling atas ulah Grace terutama ulah nakal yang selalu menggoda imannya.


David terkekeh mendengar keluhan Rizal. Beberapa kali dia menyerahkan kasus yang dia hadapi pada Rizal, baru kali ini dia mendengar pria itu mengeluh.


" Dia sebenarnya wanita pemberani. Sayang sekali dia arahkan ke tujuan yang salah." David menanggapi curhat Rizal.


" Menurut Om, dia bagus jika dijadikan tim mu, Zal." David berpikir jika Grace sangat cocok dipekerjakan menjadi anggota tim di profesi yang Rizal jalani.


" Maksud Om?" Rizal mengerutkan keningnya.


" Grace seorang wanita pemberani, mempunyai ilmu bela diri. Kenapa kamu tidak melatih dia menjadi anggota tim RG Agent?" usul David.


" Om rasa, itu lebih cocok dengan jiwa Grace, daripada harus bekerja sosial yang bertengangan dengan pribadinya. Om tahu berkerja sosial itu baik dan sangat mulia. Tapi, wanita seperti Grace, dia tidak akan mungkin bisa menyatu begitu saja dengan lingkungan seperti itu." David menjelaskan apa yang pantas dijalani oleh wanita seperti Grace.


Rizal menghembuskan nafas perlahan agar tidak terlihat oleh David jika dia agak keberatan dengan usulan David soal menjadikan Grace anggota timnya, atau dengan kata lain bekerja dengannya di kantor RG Special Agent.


Mempekerjakan Grace di kantor RG Special Agent, sama saja membuat dirinya harus bertemu tiap saat dengan Grace. Bagaimana mungkin dia harus terus bertemu dengan Grace, sedangkan wanita yang belakangan ini mengusik pikirannya.


***


Saat ini Rizal dan Vito sudah berdiri di depan pintu kamar Grace. Menunggu Grace membukakan pintu karena mereka sudah lima menit menunggu di depan kamar Grace setelah berkali-kali menekan tombol bel di kamar Grace.


" Apa kita perlu pinjam access card duplikat, Pak?" Vito mengusulkan meminjam kunci duplikat kamar hotel Grace seperti yang dilakukan Rizal dua hari lalu.


" Tidak, tidak usah, Vit." Rizal dengan cepat menolak usulan Vito, karena dia tidak ingin Vito disuguhi tubuh menggiurkan Grace, jika Vito tahu bagaimana wanita itu jika tidur.


" Kita tunggu saja sebentar," lanjut Rizal.


Lima menit kemudian atau tepatnya setelah sepuluh menit mereka mengetuk pintu, menekan bel dan menunggu di depan pintu kamar Grace, akhirnya Grace membukakan pintu kamar hotelnya.


" Ck, ganggu banget, sih!" Sudah pasti umpatan yang keluar dari mulut Grace saat wanita itu muncul dengan selimut menutupi tubuhnya hingga kepala. Hanya wajahnya yang memperlihatkan muka bantal yang tidak tertutup selimut.


" Selamat pagi, Nona Grace. Kami ingin menjemput Anda." Vito yang menyapa dan berbicara pada Grace, sementara Rizal memilih memalingkan wajah tak menatap wanita itu.


" Hei, kau ini pernah menginap di hotel apa tidak? Batas check out itu sampai jam dua belas siang. Ini masih pagi! Kenapa juga datang pagi-pagi?! Aku saja belum pesan sarapan!" gerutu Grace dengan nada ketus.


" Sebaiknya Anda cepat berkemas, Nona! Anda itu sudah kami beri kebebasan beberapa hari ini, dan sekarang waktunya Anda menjalani hukuman Anda!" Mendengar Grace yang tidak memposisikan dirinya sebagai tawanan, Rizal akhirnya ikut bicara menyuruh Grace untuk cepat mandi dan berkemas.


Grace menoleh ke arah Rizal yang berbicara tanpa menatap ke arahnya. Tentu saja Grace bisa menduga kenapa Rizal seolah tidak ingin bertatapan dengannya. Dan hal itu digunakan Grace untuk mempermalukan Rizal di depan anak buah Rizal sendiri.


" Kalau aku tidak mau mandi, apa kau ingin menggedong aku ke kamar mandi lagi, Pak tua? Apa kau ingin merasakan berciuman dengan aku lagi?" Dengan senyuman menggoda, Grace berkata manja kepada Rizal.

__ADS_1


Ucapan Grace tadi sontak membuat Rizal dan Vito terperanjat. Terutama Vito yang tidak tahu soal hal itu sebelumnya. Tentu saja anak buah Rizal itu kaget saat Grace mengatakan jika Grace dan Rizal pernah berciuman. Vito bahkan langsung memusatkan tatapan matanya kepada Rizal penuh tanda tanya.


" Lima belas menit lagi, kami tunggu Anda di lobby, Nona." Merasa telah dipermalukan oleh Grace di depan Vito. Rizal memilih pergi dari hadapan Grace. " Ayo, Vit!" Rizal berjalan lebih dulu meninggalkan Grace. Sementara Vito yang masih kaget dengan fakta tentang Rizal dan Grace akhirnya mengekor di belakangnya.


Grace tersenyum geli saat melihat wajah Rizal saat dia singgung soal berciuman. Baginya ciuman iseng pada Rizal hanya tindakan iseng semata. Dia tidak menyadari jika hal itu justru membuat Rizal salah tingkah.


" Hahaha, kena kau, Pak tua! Grace dilawan ... siapa suruh bermain-main denganku!?" Grace akhirnya berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


***


Vito memperhatikan bosnya. Dia sebenarnya merasa penasaran dengan hal yang sesungguhnya terjadi antara Rizal dan Grace. Dia tahu jika Grace itu memang biang masalah. Tapi, apakah wanita itu berbohong? Sementara Rizal, bosnya yang selama ini dia kenal sangat tenang terlihat berubah sikap sejak dua hari yang lalu. Lantas, apakah perbedaan sikap Rizal itu terjadi akibat ciuman yang dikatakan oleh Grace tadi? Itu yang sungguh membuatnya penasaran akut.


" Kenapa kau melihatku seperti itu, Vit? Kau percaya omongan wanita itu?" Tak nyaman diperhatikan oleh Vito, Rizal langsung menegur anak buahnya itu dengan nada ketus.


" Oh, tidak, Pak." tepis Vito tersenyum kaku menjawab Rizal.


" Dia sengaja berbuat kacau! Jangan terpengaruh pada ucapannya!" Rizal memperingatkan anak buahnya agar tidak mendengarkan serius kata-kata Grace. Tentu Rizal tidak ingin anak buahnya itu berpikir macam-macam, apalagi kalau Vito sampai menyampaikan berita ini kepada Isabella.


" Baik, Pak." Tak ingin terus ditegur Rizal, Vito memilih mengiyakan apa yang dikatakan oleh Rizal.


***


Saat ini Grace duduk di kursi belakang mobil yang dikendarai oleh Vito. Grace memutuskan menurut ikut dibawa pergi oleh kedua pria itu. Karena sudah pasti otaknya sudah menemukan cara untuk membuat Rizal kesal. Tujuannya hanya satu, Rizal menyerah dan membebaskan dirinya.


" Aku lapar, kita makan dulu! Di restoran ya! Bukan di emperan!" Perut Grace yang terasa lapar memintanya berhenti di restoran yang sudah buka pagi ini.


Rizal dan Vito saling pandang mendengar permintaan Grace. Vito meminta persetujuan dari Rizal. Dan setelah Rizal menganggukkan kepalanya, akhirnya Vito pun mencari restoran yang buka pagi hari.


Setelah sampai di restoran yang buka sejak jam tujuh pagi, Grace segera memilih menu yang ingin dia makan untuk sarapan pagi ini. Dia memilih Chicken Laksa dengan minuman Lychee Lemongrass sementara Rizal dan Vito memilih memesan minuman Hot Cappuccino saja.


" Kalian tidak makan? Atau tidak mampu membayar kalau sarapan di restoran? Pesan saja, tidak usah takut, nanti aku bayar." Grace mengibaskan tangan ke udara sengaja menyindir saat makanan dan minuman yang mereka pesan sudah tersaji di depan meja mereka. Grace seakan meremehkan kemampuan finansial kedua pria di hadapannya itu.


" Kami sudah sarapan, Nona." jawab Vito.


" Oh, pasti di pinggir jalan, kan? Ditraktir sama dia?" Grace menunjuk Rizal dengan jari telunjuknya.


" Tidak, Nona. Saya sarapan di rumah," sahut Vito.


" Oh ..." sahut Grace mulai menyantap Chicken Laksa pesannya. " Hmmm, ini enak banget, lho! Mau coba?" Grace menyendokkan chicken laksa dan menyodorkannya ke hadapan mulut Rizal membuat pria itu terkesiap.


" Ini coba, deh! Tidak apa-apa, kan? Pakai sendok bekas mulutku? Kan kita sudah pernah berciuman ..." Dengan santai, kembali Grace membahas soal ciuman di hadapan Rizal dan juga Vito.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2