TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Kemarahan Agatha


__ADS_3

Teettt


Suara bel di apartemen milik Grace berbunyi. Joe memperhatikan Grace yang terlelap kelelahan setelah melakukan percintaan dengan dirinya.


Karena merasa hidup kurang perhatian dari Mamanya, Grace tumbuh menjadi wanita yang sulit diatur, hingga akhirnya terjebak dalam pergaulan bebas bersama kekasihnya, Joe.


" Grace, ada yang datang." Joe berusaha membangunkan Garce yang tidak terbangun dengan bunyi bel apartemennya.


" Grace ...!" Joe bahkan menepuk lengan Grace agar kekasihnya itu terbangun. Karena apartemen ini adalah milik Grace, sehingga dia membangunkan Grace untuk menyuruh Grace membukakan pintu. apalagi bel apartemen kembali berbunyi.


Melihat Grace tidak juga terbangun, akhirnya Joe memutuskan untuk melihat sendiri, siapa yang datang ke apartemen milik Grace malam itu.


" Tante Agatha?" Joe terkesiap saat mendapati Agatha sudah berdiri di depan pintu apartemen milik Grace.


Agatha menatap sinis ke arah Joe yang saat itu hanya bertelanjang dada dan mengenakan boxer.


" Apa kabar, Tan? Senang bisa bertemu lagi." Joe menatap Agatha dari ujung rambut sampai ujung kaki. Agatha memang masih tetap nampak cantik meskipun usianya sudah hampir mendekati setengah abad.


" Mana Grace?!" Agatha menerobos masuk ke dalam apartemen milik anaknya.


Joe tidak menanggapi pertanyaan Agatha, dia justru asyik menatap tubuh Agatha yang tidak menampakkan jika wanita itu sudah berusia di atas kepala empat.


" Mana Grace?!" Agatha kembali mengulang pertanyaannya seraya melangkah memasuki kamar Grace.


" Grace, bangun!!" Agatha mendapati anaknya tertidur bergelung selimut, membuat Agatha menyibak selimut yang menutupi tubuh anaknya itu. Namun dia terbelalak lebar saat mendapati tubuh Grace tak mengenakan sehelai benang pun yang menempel di tubuh anaknya itu.


" Astaga, Grace!!" pekik Agatha sambil memukuli anaknya itu dengan selimut yang tadi menutupi tubuh Grace.


" Apa yang sudah kalian lakukan di kamar ini?!" Agatha nampak syok mengetahui jika anaknya telah melakukan aktivitas bercinta layaknya sepasang suami istri dengan Joe.


" Joe ...!! Kemari, kau!!" geram Agatha berteriak memanggil nama Joe.


" Mam, kenapa teriak-teriak, sih?!" Grace yang merasa tidurnya terganggu langsung bangkit dan menutupi tubuh polosnya dengan selimut.


" Kau, kau sering melakukan ini dengan dia?!" Dada Agatha bergemuruh karena emosi. Dia benar-benar tidak menyangka anaknya sampai sebebas ini kehidupannya.


" Memangnya kenapa, Mam? Ini 'kan hal yang wajar di luar negeri." Grace menanggapi santai, karena Grace memang lebih banyak menghabiskan masa hidupnya di luar Indonesia.


" Wajar? Kau ini orang timur, bukan orang barat, Grace!" sergah Agatha.


" Memangnya kenapa kalau orang timur, Mam? Banyak juga orang timur yang menjalani hidup seperti aku ini," sahut Grace bangkit dan melilit tubuhnya dengan selimut.


Mendapat jawaban putrinya, Agatha mendengus kasar, lalu dengan langkah lebar dia keluar dari kamar Grace untuk mencari Joe

__ADS_1


" Joe!! Dasar breng sek, kau!! Kau sudah merusak anakku!" Agatha langsung menyerang Joe dengan sebuah tamparan keras ke wajah pria itu


Plaakk


" Kau apakan anakku, hah?! hardik Agatha geram.


" Mam, apa yang Mam lakukan?!" Grace langsung berlari memeluk Joe.


" Menyingkirlah kau, Grace!! Kau tak pantas membela pria breng sek seperti dia!!" Dengan emosi yang membuncah Agatha menunjuk ke arah muka Joe.


" Yang pantas disebut pria breng sek itu si gembel peliharaan Mama dulu! Dia meninggalkan dan mencampakkan Mama seenaknya!!" Tentu saja Grace menganggap Gavin lebih breng sek dari Joe.


" Kau, ikut dengan Mama sekarang juga!" Agatha menarik tangan anaknya, dia ingin membawa Agatha keluar dari apartemen itu.


" Aku tidak mau, Mam!" Grace bertahan tak ingin mengikuti Mamanya.


" Kau harus ikut Mama, Grace! Mama tidak ingin kamu semakin liar dan tak terkendali!" Agatha sangat mengakhawatirkan kondisi Grace. Apalagi saat ini Grace sedang dikejar oleh Rizal, bukan tidak mungkin jika sebentar lagi Rizal dan orang-orangnya berhasil menemukan keberadaan Grace sekarang.


" Aku tidak mau ikut Mama!" tolak Grace menepis tangan Agatha dari lengannya.


" Kau lihat!? Apa yang sudah kau lakukan pada anakku, hah?!" bentak Agatha kepada Joe yang hanya menatap dingin tak menjawab pertanyaan Agatha.


" Joe tidak mempengaruhi aku, Mam! Dia mencintaiku!" tegas Grace kembali memeluk tubuh Joe.


" Ma, aku sudah dewasa, aku berhak mengatur hidupnya sendiri tanpa campur tangan Mama!" Grace tidak suka Mamanya itu terlalu banyak mengaturnya.


" Tapi apa hasilnya?! Kau tersesat seperti sekarang ini, Grace." Agatha merasakan anaknya tidaklah menjadi gadis remaja selayaknya. Yang berkumpul bersama teman-teman wanitanya, tapi justru berbuat kriminal yang membuatnya sangat khawatir.


" Sebaiknya Mama pergi saja!" Grace berjalan kembali masuk ke kamarnya.


" Kamu mengusir Mama, Grace!?" Agatha tidak terima, putrinya itu menyuruhnya pergi.


" Daripada Mama terus saja mengomel!" Sesampainya di kamar, Grace melepas selimut yang tadi dia pakai untuk membalut tubuhnya, hingga saat ini tubuh Grace polos tak terbalut sehelai benang pun.


" Astaga, Grace!" Melihat tingkah putrinya yang tanpa malu melepas kain yang menutupi tubuhnya, tanpa memperdulikan ada pria itu apartemennya itu, Agatha langsung menutup pintu kamar Grace.


" Grace, sebaiknya kamu ikut tinggal di tempat Mama. Mama tidak suka melihat pergaulan kamu ini!" Agatha meminta putrinya itu untuk ikut bersamanya.


" Aku tidak mau, Ma. Sebaiknya Mama pulang saja!" Kembali Grace menyuruh Mamanya itu untuk segera pergi dari apartemennya.


***


Selepas menemui Gavin, Rizal langsung menghubungi Vito. Karena dia berniat menemui Grace malam itu juga di apartemen tempat Grace tinggal saat ini. Dia tidak ingin beresiko Grace kabur setelah kedatangan Agatha. Dia yakin Agatha akan memberitahu Grace soal kedatangannya bersama Vito ke Rumah Mode Agatha.

__ADS_1


Rizal sengaja kembali ke rumahnya untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, karena rumahnya searah dengan apartemen milik Grace. Sambil menunggu Vito datang menjemputnya.


" Assalamualaikum ..." Ketika membuka pintu rumahnya, Rizal mengucapkan salam.


" Waalaikumsalam, Pak." Bi Tinah menjawab salam yang diucapkan Rizal.


" Bi, Bella belum pulang? Kok, mobilnya tidak ada?" Saat memasuki pekarangan rumahnya, Rizal tidak menemukan mobil putrinya itu terparkir di sana.


" Non Bella tadi pergi lagi habis Maghrib, Pak. Memangnya Non Bella tidak meminta ijin Bapak?" Bi Tinah menyebutkan kenapa mobil Isabella tidak nampak di halaman parkir rumah Rizal.


" Memangnya Bella pergi ke mana?" tanya Rizal.


" Bilangnya ada temannya yang ulang tahun, Pak." jawab Bi Tinah kembali.


" Ada yang ulang tahun? Kenapa dia tidak minta ijin dulu ke saya?" Rizal segera menghubungi putrinya itu, karena tidak biasanya Isabella pergi tanpa berpamitan kepadanya.


" Assalamualaikum, Pih." sahut suara Isabella ketika panggilan telepon Rizal dijawab oleh Isabella.


* Waalaikumsalam, kamu di mana,. Bella? Kenapa pergi malam-malam tidak memberi kabar kepada Papih?" tanya Rizal bernada tegas, karena dia tidak ingin putri semata wayangnya itu terjerat pergaulan yang bersikap negatif yang akan menghancurkan masa depan putrinya itu.


" Aku sudah kirim pesan ke Papih, kok. Tapi masih ceklis satu saja. Bella sedang di acara brithday party teman Bella, Pih." Suara Bella bercampur dengan suara bising musik dan juga suara penyanyi yang melantunkan sebuah lagu,, menandakan jika anaknya itu benar sedang dalam acara pesta.


" Tidak ada pesan masuk dari Bella di ponsel Papih, kok." Rizal selalu standby dengan ponselnya. Apalagi jika yang menghubunginya adalah putrinya sendiri, Rizal pasti akan cepat merespon.


" Tapi, Bella benar-benar sudah kasih kabar ke Papih, kok. Nanti Bella kirim screenshotnya, deh." sahut Bella merasa sudah mengirim pesan kepada Papinya itu.


" Ya sudah, kamu jangan malam-malam pulangnya, ya!?" Rizal memperingatkan agar Isabella tidak pulang terlalu malam.


" Iya, Pih. Jam sembilan juga Bella sudah pulang, kok." jawab Bella kembali.


" Ya sudah, Papih tutup dulu teleponnya. Kamu jaga diri, ya! Assalamualaikum ...."


" Oke, Pih. Waalaikumsalam ...."


Setelah mengakhiri panggilan telepon dengan putrinya, Rizal berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya untuk membersihkan diri sebelum Vito menjemputnya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2