TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Hadiah Pernikahan


__ADS_3

" Aldi!"


Rivaldi baru menutup pintu mobil setelah Mamanya masuk ke dalam mobil miliknya, saat tiba-tiba dia mendengar seseorang berteriak memanggil namanya.


Rivaldi menoleh ke arah orang yang memanggilnya tadi. Dia melihat Agatha melambaikan tangan ke arahnya kemudian berlari mendekatinya. Namun, karena terburu-buru menghampirinya, Agatha sampai menabrak seseorang.


Tak lama kemudian Rivaldi melihat Agatha terlibat perdebatan dengan pria yang bersenggolan dengan Agatha tadi. Keningnya seketika mengeryit karena tiba-tiba Agatha memu kuli tubuh pria itu. Apa yang salah dengan orang yang bertabrakan fisik secara tidak sengaja? Bukankah itu hal yang sering terjadi pada banyak orang? Lalu kenapa Agatha bersikap berlebihan seperti itu? Apakah ada kata-kata kurang sopan yang diucapkan pria itu sehingga membuat Agatha emosi?


Rivaldi dapat melihat Agatha nampak kesal dan emosi, seperti menanamkan kebencian kepada pria itu. Atau, mungkin Agatha mengenal pria itu sebelumnya, sehingga membuat Agatha bersikap sekasar ini pada pria itu? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak Rivaldi.


" Ma, tunggu sebentar, ya!?" Rivaldi sempat membuka kembali pintu mobil dan berbicara pada Mamanya, karena dia ingin menghampiri Agatha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


" Ada apa, Aldi?" tanya Arina bingung, melihat Rivaldi membuka pintu kembali. Sementara arah pandangan Rivaldi tertuju ke arah pintu lobby gedung acara fashion show Agatha.


" Sepertinya ada masalah dengan Tante Agatha. Mama jangan keluar dari mobil!" Rivaldi minta Mamanya untuk menunggu di dalam mobil.


" Ibu Agatha kenapa memangnya, Aldi?" Penasaran dengan apa yang terjadi dengan Agatha, Arina mengikuti arah pandangan Rivaldi. Namun, pandangannya tidak sampai melihat apa yang sedang terjadi di luat sana.


" Aku tidak tahu, Ma. Mama tunggu di sini saja!" Rivaldi kembali meminta Mamanya menunggu di dalam.


" Ya sudah, kamu hati-hati, Aldi!" Arina khawatir anaknya terlibat masalah, menyuruh Rivaldi untuk berhati-hati.


Setelah berbicara dengan Arina, Rivaldi segera menghampiri Agatha. Dia berusaha untuk melerai pertikaian yang terjadi antara Agatha dengan pria yang tidak dia kenal, karena saat itu beberapa pasang mata sedang melihat apa yang dilakukan Agatha. Tentu Rivaldi tidak ingin apa yang terjadi di halaman parkir terendus oleh media, karena Agatha baru saja menggelar acara fashion show, kemungkinan awak media masih berada di tempat itu.


" Kau yang mempengaruhi Grace! Grace tidak akan melakukan hal itu kalau bukan karena otak licikmu!"


Rivaldi sempat mendengar suara penuh amarah Agatha dan menyebut nama Grace. Rivaldi sendiri tidak tahu apa hubungannya pria itu dengan Grace.


" Eh, Tante! Jangan sembarangan menuduh saya!" Rivaldi pun mendengar pria yang bertikai dengan Agatha menjawab tuduhan Agatha dengan nada yang tidak kalah tinggi. Bahkan sampai mendorong tubuh Agatha hingga Agatha terhuyung hampir terjatuh ke tanah.


Untung saja Rivaldi tiba tepat waktu, sehingga dia langsung menangkap tubuh Agatha yang hampir terjatuh. Perlakuan tidak sopan pria yang tidak Rivaldi kenal terhadap Agatha membuat Rivaldi murka.


" Hei, Bung! Bersikaplah yang sopan pada orang yang lebih tua!" Rivaldi geram terhadap sikap Joe yang tidak hormat kepada orang tua, apalagi pada seorang wanita.


" Tante tidak apa-apa?" tanya Rivaldi pada Agatha dengan sangat khawatir.


" Tidak apa-apa, terima kasih, Aldi." Agatha bersyukur ada Rivaldi yang membantunya hingga dia tidak terjungkal jatuh karena didorong oleh Joe.


" Siapa dia, Tante?" Rivaldi menanyakan siapa Joe yang sebenarnya. Sementara soror matanya menatapku tajam ke arah Joe


" Wah, rupanya Tante ini masih saja suka sama pria muda. Tidak ingat dengan usia!" cibir Joe mengira jika Agatha mempunyai hubungan asmara dengan Rivaldi.


" Jangan sembarangan bicara kau!" hardik Rivaldi terlihat semakin kesal, bukan hanya karena ulah Joe saja, tapi karena perkataan Joe yang menuding jika dirinya dan Agatha menjalin hubungan asmara.


" Dia itu orang jahat, Aldi! Dia yang sudah merusak Grace! Dia juga yang pernah melukai leher Grace dan kabur saat ditangkap oleh Pak Rizal." Agatha menjelaskan siapa Joe dan kelicikan Joe selama ini kepada putrinya.


Rivaldi sudah mendengar penjelasan tentang masa lalu Grace sebelumnya dari Agatha. Seketika aura kebencian terlihat jelas di wajah tampan pria itu. Sorot mata devil bahkan sudah terpancar dari netra Rivaldi mengetahui jika pria yang ada di hadapannya saat ini adalah pria yang sudah merusak masa muda Grace.


" Jadi kau pria breng sek itu!?" geram Rivaldi dengan tangan mengepal. Dia bahkan siap melayangkan bo gem ke wajah Joe. Namun, karena dia tidak ingin menarik perhatian awak media yang kemungkinan masih tersisa meliput acara fashion show yang digelar oleh Agatha, Rivaldi memilih untuk menahan tidak melakukan tindakan kekera san.


Mendapatkan tatapan penuh kebencian Rivaldi kepadanya dan merasa jika dia akan tersudut, Joe bergegas masuk ke dalam mobil dan untuk segera meninggalkan gedung tempat acara fashion show tanpa memperdulikan Cyntia yang masih di dalam.


" Hei, mau ke mana kau!?" Agatha berusaha menghentikan mobil Joe dengan mengejar Joe.


" Tante, biarkan saja!" Namun, Rivaldi dengan cepat melarang Agatha yang hendak menghalangi Joe pergi.


" Tapi, Aldi. Dia tidak bisa seenaknya saja berkeliaran bebas sementara Grace harus menerima hukuman." Agatha merasa apa yang dialami putrinya dengan Joe yang bertolak belakang dan sangatlah tidak adil. Joe bisa bebas tanpa menjalani hukuman, sementara Grace justru harus menerima hukuman dari David Richard.


" Saya ingat nomer plat nomer mobil tadi, Tante. Saya akan suruh anak buah saya untuk mencari orang itu." Rivaldi berencana untuk memberi perintah kepada Jimmy untuk menyelidiki Joe.


" Oh ya, ada apa tadi Tante memanggil saya?" tanya Rivaldi kemudian. Karena dia tadi sempat mendengar Agatha berteriak memanggil namanya.


" Tante tadi ingin memberikan ini ke kamu, Aldi. Tapi goodie bag nya sudah rusak karena Tante pakai untuk memu kul pria breng sek itu." Agatha memperlihatkan goodie bag yang dia jinjing sudah terko yak karena dia jadikan alat untuk melampiaskan emosinya terhadap Joe.

__ADS_1


" Padahal Tante tidak perlu repot-repot memberikan ini ke saya." Rivaldi tidak enak hati diperlakukan istimewa oleh Agatha sampai Agatha mengejarnya ke luar gedung.


" Tidak apa-apa, Aldi. Tante memang sudah menyiapkan souvernir ini untuk kamu. Sebentar Tante ganti dulu goodie bag nya." Agatha berniat masuk ke dalam gedung untuk mengganti dengan goodie bag yang baru.


" Tidak usah, Tante. Biar saja seperti ini." Rivaldi melarang Agatha mengganti goodie bag dan menerima goodie bag dari Agatha untuknya.


" Terima kasih untuk souvernir nya, Tante. Sebaiknya Tante cepat kembali ke dalam." Rivaldi meminta Agatha untuk masuk kembali ke gedung, karena dia takut Joe akan kembali dan membalaskan apa yang dilakukan Agatha tadi.


" Iya, Aldi. Tante juga terima kasih karena tadi kamu sudah menolong Tante," ujar Agatha kembali.


" Sama-sama, Tante. Kalau begitu saya permisi, Tante." Rivaldi kembali berpamitan kepada Agatha dan meninggalkan Agatha untuk kembali ke mobilnya karena Arina pasti sudah menunggunya.


Agatha memandang kepergian Rivaldi sampai masuk ke dalam mobil pria itu. Agatha pun mende sah.


" Seandainya Grace terbuka mata hatinya dan dapat melihat kebaikan Aldi. Aldi itu benar-benar sosok calon menantu idamanku." Agatha mengeluhkan sikap Grace yang tidak mau menerima perjodohan dengan Rivaldi, padahal baginya Rivaldi adalah pria yang paling pantas untuk Grace. Agatha masih belum ikhlas menerima pernikahan Garce dengan Rizal.


Sementara itu, di dalam mobil Cyntia. Joe terlihat menggerutu karena dia ketahuan masih berada di Indonesia oleh Agatha. Selama ini, sekitar satu tahun, dia bersembunyi tanpa diketahui keberadaannya. oleh Rizal dan Grace. Karena David Richard menyuruh Rizal untuk menghentikan pencarian atas Joe.


" Si al! Si Agatha tahu aku masih ada di sini. Bisa bahaya jika sampai dia melaporkanku ke polisi. Untung saja tadi aku bisa melarikan diri," umpat Joe dengan menarik nafas lega kerena dia dapat lolos dari Agatha.


" Ck, harusnya aku tadi menolak datang di acara itu!" sesal Joe dengan berdecak.


" Tapi, aku tadi tidak melihat ada Grace di sana. Apa dia tidak datang ke acara itu?" Saat dia tahu ternyata Cyntia mengajaknya ke fashion show Agatha, dia sempat mengedar pandangan mencari keberadaan Grace, meskipun dia lakukan secara hati-hati, karena kemunculannya di acara itu terendus oleh Agatha.


Ddrrtt ddrrtt


Ponsel Joe berdering. Sebuah panggilan masuk dari Cyntia muncul di layar ponselnya. Dengan cepat dia mengangkat panggilan masuk dari majikan merangkap kekasihnya itu.


" Halo, Joe. Kamu di mana? Aku lihat di parkiran mobilku tidak ada." Suara Cyntia langsung terdengar saat Joe mangangkat panggilan masuk itu.


" Kau sudah selesai di sana?" tanya Joe.


" Iya, di mana kamu memarkirkan mobilnya?" tanya Cyntia kembali.


" Aku parkir di luar. Tadi aku lihat parkiran di sana penuh, makanya aku parkir di luar." Joe beralasan. Tidak mungkin dia menceritakan kepada Cyntia jika dia hampir diha jar orang karena pernah melakukan suatu kejahatan.


" Kau berjalanlah ke luar area gedung itu. Aku akan menjemputmu di luar!" perintah Joe pada Cyntia. Dia tidak ingin Agatha atau pria yang bersama Agatha tadi melihatnya kembali.


" Ya sudah." Cyntia menjawab.


Setelah Cyntia mengakhiri panggilan teleponnya, Joe menarik nafas lega karena Cyntia percaya dengan ucapannya. Dia pun segera memutar arah mobilnya lalu menghampiri wanita itu untuk kembali ke Jakarta.


***


Seperti yang sudah dijanjikan olehnya, Minggu petang Rizal membawa Grace dan Isabella pergi makan di restoran yang ada di salah satu mall besar di Jakarta. Ini adalah pertama kalinya mereka pergi makan bersama bertiga sebagai suatu keluarga.


Rizal berjalan di tengah dengan tangan merangkul pundak Isabella di sebelah kanan dan Grace di sebelah kiri. Rizal persis seperti seorang ayah yang mengawal dua orang anak gadisnya untuk menjaga mereka dari para pria iseng yang akan menggoda kedua wanita cantik yang mengapitnya saat ini.


" Om, anaknya cantik-cantik. Bolehlah, Om. Untuk saya satu." celetuk seorang pria saat Rizal bersama istri dan anaknya melewati beberapa orang pemuda yang bersandar di pagar pembatas dekat eskalator.


Rizal hanya membalas dengan mengulum senyuman ucapan pria itu dan tidak merasa terganggu sama sekali. Berbeda dengan Garce yang langsung mendelik tajam pada pria itu dan Isabella yang langsung tertunduk malu. Bukan malu karena digoda pria, tapi karena malu jika pemuda-pemuda itu tahu salah satu satu wanita yang diduga orang itu adalah anak Rizal sebenarnya berstatus sebagai istri Rizal. Isabella membayangkan orang-orang itu akan mencemooh Papihnya karena menganggap Papihnya tidak ingat usia, menikah dengan wanita yang lebih muda.


" Ternyata begini repotnya mempunyai dua anak gadis cantik, hahaha ..." Rizal justru berseloroh sambil terus berjalan meninggalkan pemuda-pemuda itu.


" Kalian mau makan di mana?" tanya Rizal bertanya kepada Grace dan Isabella.


" Terserah Papih saja." jawab kedua wanita itu secara berbarengan, membuat Rizal terkekeh.


" Papih senang kalian akur seperti ini." Rizal sengaja menggoda kedua wanita dalam rangkulannya itu. Rizal bahkan menghadiahi kecupan di pipi Grace dan juga di pucuk kepala Isabella.


" Wah, wah, wah, kau ini sudah seperti James Bond yang diapit oleh dua orang wanita cantik, Zal." Seorang pria yang sedang berjalan bersama seorang wanita cantik berhijab menyapa Rizal dengan kalimat sindiran.


" Oh, halo, Bos." sapa Rizal, dia melepas rangkulannya pada Grace dan Isabella lalu melakukan fist bump pada pria yang tak lain adalah Dirga yang saat itu bersama sang istri, Kirania.

__ADS_1




" Senang bisa berjumpa kembali, Nyonya Dirga." Rizal menoleh ke arah Kirania dan menyapanya.


" Terima kasih, Pak Rizal." Dengan kalimat yang lembut Kirania menjawab sambil mengatupkan tangan di depan dadanya.


" Hei, dia istriku, kenapa kau senang bertemu dia? Jangan macam-macam kau, Zal!" Si bos posesif itu memperingatkan Rizal yang berkata senang bertemu dengan Kirania.


" Abang!" Justru Dirga yang mendapat cu bitan di lengannya dari Kirania.


" Hahaha, Anda benar-benar harus banyak bersabar mempunyai suami seperti dia, Nyonya." Rizal membalas Dirga dengan sindiran. Sejak dulu, dia dan Dirga memang selalu bercanda seperti ini.


" Si al kau, Zal." umpat Dirga namun dibarengi suara tawanya. " Oh ya, wanita ini yang pernah kau kenalkan sebagai calon istrimu, kan?" Dirga menunjuk ke arah Grace, lalu dia menoleh ke arah Isabella. " Kalau yang ini siapa lagi, Zal?" tanyanya kemudian menatap Isabella yang dia duga mempunyai usia yang sama dengan Grace.


" Ini Isabella, putriku, bos." Rizal memperkenalkan Isabella pada Dirga.


" Bella, kenalkan ... ini teman Papih, dia ini bos real estate." Seraya terkekeh Rizal memperkenalkan Dirga kepada Isabella. " Dan ini istrinya Om Dirga, Tante Kirania namanya." Rizal juga memperkenalkan Kirania pada Isabella.


" Isabella, Om, Tante." Isabella memperkenalkan dirinya kemudian menyalami Dirga dan Kirania bergantian dengan mencium punggung tangan pasangan suami istri itu.


" Ya ampun, sudah besar sekali anakmu ini, Zal. Dan juga sangat cantik." ujar Dirga memuji kecantikan putri dari sahabatnya itu. Dirga pun lalu menoleh ke arah sang istri karena dia memuji wanita lain di hadapan istrinya.


" Sayang, tidak apa-apa 'kan aku bilang anak Rizal ini cantik? Tapi bagiku kamu tetap yang tercantik." Dirga melingkarkan tangannya ke pundak Kirania lalu menghadiahi satu kecupan di pipi mulus istrinya itu.


" Ya ampun, Abang! Ini di tempat umum!" Wajah Kirania seketika merona karena tindakan suaminya yang tiba-tiba mencium pipinya, padahal saat ini mereka ada di area publik dan di hadapan Rizal, Grace dan Isabella.


Rizal sangat mengenal watak sahabatnya itu hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Dirga, sementara Grace yang menyadari jika dirinya pernah bertemu dengan pasangan suami istri itu ikut tersenyum melihat tindakan romantis Dirga pada Kirania yang terlihat malu. Sedangkan Isabella hanya masih lugu segera menurunkan pandangan melihat adegan romantis tadi.


" Zal, kalau kau berjalan seperti tadi, kau ini terlihat seperti Om-Om yang sedang berkencan dengan dua orang gadis. Atau yang lebih beken disebut Sugar Daddy." Dirga kembali pada sikap usilnya menggoda Rizal.


" Abang, tidak usah mengomentari orang, deh!" Kirania dengan cepat memprotes sikap suaminya yang senang bersikap usil kepada siapa saja yang dikenalnya.


" Sayang, kamu ini senang sekali memprotes suamimu ini!" Dirga mencubit cuping hidung Kirania, membuat Kirania mengusap hidungnya.


" Oh ya, Zal. Kapan kau akan menikah?" tanya Dirga kembali.


" Kami sudah menikah beberapa Minggu yang lalu, bos." Rizal merangkulkan tangannya di pinggang Grace.


" Kau sudah menikah dan tidak memberitahuku, Zal? Teman macam apa kau ini?" Dirga terlihat kecewa karena Rizal tidak memberitahu soal pernikahannya.


Rizal terkekeh menanggapi protes Dirga. " Aku tidak ingin kau repot menyiapkan hadiah untukku, bos." Rizal berseloroh.


" Ah, kau ingat saja janjiku itu, Zal. Baiklah, kau pilih saja apartemen mana yang kau inginkan." Dirga ingat jika dia berjanji akan menghadiahkan apartemen pada Rizal jika Rizal menikah kembali.


" Tidak usah, bos! Aku hanya bercanda!" Rizal menyanggah jika dia sengaja mengingatkan tentang janji Dirga itu kepadanya. Karena dia juga tidak mengharapkan kado dari temannya itu.


" Aku sudah berjanji, dan seorang Dirgantara pantang mengingkari janjinya!" Dirga enggan ditolak oleh Rizal. Dia bahkan memaksa ingin memberikan kado yang sudah dia janjikan kepada Rizal.


" Bukan seperti itu, bos! Aku hanya merasa ... hadiah itu terlalu berlebihan untukku." Rizal merasa hadiah apartemen milik Angkasa Raya Group yang bernilai milyaran rupiah terlalu berlebihan jika diberikan sebagai kado pernikahan untuknya.


" Hei, kau meragukanku!? Begini saja, nanti aku suruh anak buahku mengantarkan kunci dan sertifikatnya ke kantormu. Dan kau tidak boleh menolaknya!" Dirga berjanji akan mengantarkan apa yang dijanjikannya pada Rizal.


" Tapi, Bos ..." Rizal masih berusaha menolak.


" Sudahlah, Zal! Kau jangan menolak rezeki." Namun, Dirga juga tetap pada pendiriannya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2