
" Pih, memang teman Papih itu menjanjikan apartemen untuk Papih?" Saat mereka sudah sampai di restoran khas Nusantara, Grace menanyakan soal apartemen yang dijanjikan oleh Dirga sebagai hadiah pernikahan Rizal dan Grace. Grace mempunyai sebuah apartemen, dan dia tahu berapa harga apartemen mewah di kawasan Jakarta tidak lah murah.
" Dulu waktu aku meminjam apartemen untuk menjebak Rivaldi, Dirga mengatakan akan memberi apartemen milik perusahaannya sebagai hadiah jika aku menikah denganmu." Rizal menjelaskan kapan Dirga pernah berjanji kepadanya.
" Baik sekali teman Papih itu sampai ingin membelikan apartemen segala," ujar Grace kembali.
" Iya, karena kami sudah kenal lama. Aku dengan Dirga sama seperti aku dengan Om David. Makanya kalau mereka membutuhkan bantuanku, aku tidak segan membantunya." Rizal menjelaskan kedekatannya dengan Dirga.
" Oh, pantas saja," sahut Grace menganggukkan kepala. Pantas saja teman suaminya itu terlihat begitu mudahnya memberikan kado pernikahan berupa apartemen yang dia tahu harganya milyaran rupiah. Jika bukan kepada orang tertentu tidak mungkin akan ada yang berani. memberikan kado sebuah apartemen.
Sementara Isabella hanya diam. Dulu saat masih ada Mamihnya atau saat dia bersama Papihnya saja, ketika mereka makan bersama di luar seperti saat ini, dia lah yang banyak bicara. Namun, saat ini justru Grace lah yang lebih sering bicara dengan Papihnya.
" Bella, apa kamu senang bisa makan bersama seperti ini?" tanya Rizal kepada Isabella. Rizal menyadari jika putrinya itu lebih banyak terdiam.
" Iya, Pih." jawab Isabella singkat. Sebenarnya dia merasa enggan berdekatan dengan Grace. Karena dia masih merasakan canggung saat berada dekat dengan Grace.
" Mungkin kita harus menjadwalkan acara makan di luar seperti ini setiap satu Minggu sekali." Rizal berencana untuk menjadwal rutin acara pergi makan seperti saat ini bersama keluarganya agar hubungan Grace dan Isabella lebih dekat, meskipun selama ini di antara kedua wanita itu tidak pernah bertegur sapa.
" Bagaimana menurut kalian, Grace, Bella?" tanya Rizal minta pendapat istri dan anaknya.
" Kalau Papih memang menginginkan hal itu, aku sih setuju saja, Pih." sahut Grace, dia merasa tidak ada yang salah dengan keinginan suaminya itu. Dia sudah menikah dengan Rizal, dia harus membiasakan diri berkumpul dengan Rizal juga Isabella sebagai sebuah keluarga.?
" Kamu, Bella?" Kini Rizal bertanya kepada Isabella. Karena Isabella terlihat pasif, bahkan terkesan datar dengan rencananya tadi.
" Terserah Papih." Isabella memilih jawaban singkat. Dia menolak pun rasanya percuma. Yang ada nanti dia akan diberi wejangan dari Papanya itu.
" Ya sudah, berarti kita sepakat untuk keluar makan tiap Minggu malam seperti ini, ya!?" Rizal akhirnya memutuskan agar mereka pergi bersama setiap Minggu malam untuk menikmati family time mereka.
Sementara di arena permainan anak. Cantika baru saja selesai bermain setelah dia cukup puas mencoba beberapa permainan di area permainan yang ada di mall besar itu.
" Sekarang kita makan, yuk! Cantika lapar tidak?" tanya Cyntia kepada putrinya yang sedang mengenakan sepatu.
" Lapar dong, Mommy! Aku 'kan capek habis bermain," ucap Cantika jujur.
" Cantika mau makan apa?" tanya Cyntia membelai kepala putrinya.
" Aku mau makan Chicken, Mommy." sahut Cantika menyebutkan menu makanan yang ingin dimakannya.
" Ya sudah, kita cari restorannya, yuk!" Cyntia menggandeng tangan Cantika. " Kita cari makan dulu, Joe!" Cyntia berbicara pada Joe yang ada di belakangnya.
" Oke." sahut Joe berjalan di belakang Cyntia bergaya cool dengan memasukkan tangan di dalam saku hoodie nya.
Setelah setengah perjalanan, Cantika menyadari jika Sling bag miliknya tertinggal di arena permainan.
" Mommy, tas aku tertinggal di tempat permainan!" seru Cantika tiba-tiba.
" Ya ampun, kenapa bisa tertinggal, sih?" tegur Isabella.
" Aku lupa, Mommy." Cantika menunjukkan rasa bersalahnya. " Maaf, Mom." Cantika bahkan langsung menundukkan kepalanya, karena takut akan kena marah Papa dan Mamanya.
" Joe, tolong kau ambilkan sling bag milik Cantika!" Cyntia menyuruh Joe untuk mengambil tas selempang anak milik Cantika yang tertinggal di arena permainan anak.
" Oke, kalian langsung ke restoran saja, nanti aku menyusul ke sana!" Joe mengitruksikan agar Cyntia dan Cantika agar langsung ke restoran yang mereka tuju, sementara dirinya mengambil sling bag milik Cantika.
Cyntia dan Cantika pun berjalan menuju restoran fried chicken kesukaan Cantika.
" Mommy, itu ada Kak Bella!" saat berjalan melintasi sebuah restoran khas Nusantara, tiba-tiba Cantika menunjuk seseorang di dalam restoran itu.
" Mana, Sayang?" tanya Cyntia mencari orang yang ditunjuk oleh putrinya.
" Itu, Mommy. Yang pakai baju warna hijau." Cantika memperjelas arah yang dia tunjuk untuk memberitahu di mana letak orang yang dia maksud.
Cyntia mengedar pandangan untuk mencari orang yang dimaksud oleh putrinya itu hingga akhirnya menemukan sosok Isabella yang dimaksud oleh Cantika.
" Oh iya benar," sahut Cyntia, saat dia menemukan sosok Isabella, guru les privat anaknya itu.
" Kak Bella!" seru Cantika memanggil Isabella seraya melambaikan tangannya, agar Isabella melihatnya.
" Mommu kita ke Kak Bella dulu, yuk!" Tanpa meminta ijin lebih dulu kepada Cyntia, Cantika menarik tangan Cyntia untuk masuk ke dalam restoran tempat Isabella berada.
__ADS_1
Cyntia tidak dapat menolak permintaan Cantika, hingga tubuhnya pun terbawa tangan Cantika yang mengajaknya.
" Kak Bella!" Cantika kembali memanggil nama Isabella sampai Isabella menolehkan pandangan ke arahnya.
" Cantika?" Isabella terkejut melihat kehadiran Cantika dan Cyntia yang menghampirinya. " Cantika ada di sini juga, ya?" Isabella sampai berdiri dari tempat duduknya.
" Iya, Kak Bella." sahut Cantika.
" Hai, Mbak Bella. Maaf mengganggu. Tadi Cantika lihat Mbak Bella ada di sini dan minta ke sini untuk menyapa." Cyntia merasa tidak enak telah mengganggu acara Isabella. Cyntia lalu menoleh ke arah Rizal dan Grace.
" Oh, tidak apa-apa kok, Mom. Ini hanya acara makan keluarga saja," jawab Isabella tidak mempermasalahkan kehadiran Cantika dan Cyntia.
" Kak Bella dengan siapa?" tanya Cantika melirik ke arah Rizal dan Grace. " Sama Papa dan kakaknya Kak Bella, ya?" Seperti hal nya orang lain, Cantika pun menganggap jika Grace adalah kakak dari Isabella. Karena tentu saja melihat Grace yang terlihat masih sangat muda dan seumuran dengan Isabella.
" Hmmm, ini memang Papihnya Kak Bella, Cantika." Isabella hanya mengenalkan Rizal kepada Cantika, tentu dia malu mengenalkan jika Grace adalah Mama tirinya. Dia. malu terhadap Cyntia jika tahu Papanya menikah dengan wanita yang lebih muda.
" Pih, dia ini Cantika, anak yang Bella beri les privat dan ini Mommy nya Cantika." Isabella pun mengenalkan Cantika dan Cyntia pada Papihnya.
" Oh, halo anak manis." Rizal menyapa Cantika dengan mengelus pipi bocah itu. " Halo, Nyonya. Saya Papihnya Bella. Dan ini istri saya ..." Rizal memperkenalkan dirinya juga Grace kepada Cyntia.
" Oh, saya Mommy nya Cantika, Pak, Mbak." Cyntia mengeryitkan keningnya menatap ke arah Grace. Walaupun dia sendiri menikah dengan pria yang lebih tua, namun dia merasa kaget melihat sosok Grace sebagai Mama tiri Isabella yang terlihat seusia Isabella.
" Cantika habis beli apa?" tanya Isabella berbasa-basi, mengalihkan pembicaraan agar Cyntia tidak terus memperhatikan Grace.
" Aku habis mainan, Kak. Sekarang aku mau makan chicken," sahut Cantika.
" Cantika, sudah, yuk! Kita ke tempat fried chickennya. Takut Om Joe sudah duluan ke sana." Cyntia mengajak Cantika untuk meninggalkan Isabella karena dia khawatir Joe mencari mereka.
Grace mengerutkan keningnya saat mendengar nama Joe disebut oleh Cyntia. Namun, tentu dia tidak berpikir jika yang dimaksud oleh Cyntia adalah orang yang sama dari masa lalunya. Begitu pula dengan Rizal yang langsung melirik ke arah Grace saat Cyntia menyebut nama Joe. Seperti hal nya Grace, Rizal pun tidak curiga jika Joe yang dimaksud Cyntia adalah mantan kekasih istrinya itu.
" Mbak Bella, saya permisi dulu." Cyntia pun berpamitan kepada Isabella, Rizal dan Grace, lalu meninggalkan restoran ini menuju restoran lainnya yang dia tuju.
" Anak itu lucu sekali, dia sepertinya sangat menyukai kamu, Bella. Papa harap jika nanti kamu punya adik, kamu akan akrab seperti itu dengan adikmu nanti, ya!?" Rizal menyeringai melirik ke arah Grace saat membicarakan soal adik untuk Isabella.
***
Sekitar jam sembilan malam Rizal melaksanakan sholat Isya bersama Grace setelah pulang dari makan di restoran. Grace melipat mekenah dan sajadah yang telah dipakanya. Namun tiba-tiba dia memekik kaget saat Rizal tiba-tiba mengangkat tubuhnya ala bridal style.
Rizal lalu menjatuhkan tubuh Grace di atas tempat tidur. Dia pun mengungkung tubuh Grace lalu mendekatkan bibirnya ingin melu mat bibir sang istri, tapi tiba-tiba telapak tangan Grace menghalangi mulut Rizal yang ingin merasakan bibir ranum Grace, membuat kening Rizal menampakkan guratan.
" Aku ingin merasakan dipaksa, Pih." bisik Grace tersenyum nakal dengan mengeringkan satu matanya memberi kode kepada Rizal jika dia pun menginginkan mereka berhubungan.
" Maksudmu?" tanya Rizal mengerutkan keningnya mendengar permintaan sang istri.
" Aku ingin Papih per kosa aku ..." Grace menyampaikan ide gi la nya pada sang suami seraya terkekeh.
" Astaga, Grace. Kamu ini ada-ada saja!" Rizal menggelengkan kepala mendengar permintaan yang istri. " Aku tidak ingin memaksa jika kamu tidak menginginkannya, Sayang." Rizal menolak permintaan Grace.
" Aku ingin kok, Pih! Tapi sedikit dipaksa ..." ucap Grace manja memainkan kancing piyama Rizal dengan jari lentiknya, lalu membuka kancing baju itu.
" Kalau kamu memang menginginkannya, maka kamu harus sukarela melakukannya!" Rizal kembali mendekatkan bibirnya ke bibir Grace. Tapi, kembali Grace melarang dengan mendorong tubuh Rizal agar menjauh darinya. Sehingga Rizal gagal lagi mencium bibir Grace.
Grace kini berontak seakan enggan berdekatan dengan Rizal. Dia mendorong tubuh Rizal kembali agar melepaskan dirinya.
Rizal bangkit dan turun dari tempat tidur. Dia berdiri sambil beekacak pinggang manatap istrinya yang tersenyum nakal. " Apa kamu serius ingin melakukan hal itu?" Rizal masih kurang yakin pada permintaan Grace yang dianggapnya aneh.
" Menurut Papih?" Grace mengarahkan kakinya ke dada bidang sang suami. Seakan menahan tubuh Rizal agar tidak mendekat ke arahnya.
Tindakan Grace yang mangangkat kakinya ke arah dada Rizal membuat mini dress yang dia pakai tersilak sampai ke pangkal paha Grace dan memperlihatkan paha bening milik Grace. Tentulah hal itu tidak disia-siakan oleh Rizal. Dia justru mengambil kaki istrinya lalu dia mencium ujung kaki sang istri dan mengulum ibu jari kaki Grace untuk melakukan pemanasan guna merang sang gairah mereka berdua.
Secara perlahan tapi pasti, Rizal menyapu punggung kaki lalu naik ke betis mulus Grace dengan bibirnya hingga terus ke atas, membuat Grace yang awalnya menginginkan acara percintaan mereka bertema pemaksaan gagal total, karena kini Rizal sudah memusatkan permainannya di inti sang istri setelah berhasil meloloskan kain penutup berbentuk segitiga milik istrinya itu.
" Ssshhh, Pih ..." Grace meremas rambut Rizal yang saat itu sedang bermain di area sen sitif nya.
Grace menggigit bibirnya. Permainan yang dilakukan Rizal di area intinya benar-benar memabukkan dan menghasilkan kenikmatan yang tak terbantahkan. Apalagi saat ini tangan Rizal sudah menyusup ke dada dan menaklukan kedua bukit milik Grace.
Setelah dirasa istrinya sudah terbakar ga irah, Rizal lalu meloloskan pakaiannya sendiri hingga tak terbalut sehelai kain pun dan memperlihatkan miliknya yang menjulang dan menegang sempurna. Tak membutuhkan waktu lama, Rizal pun melakukan penyatuan dengan sang istri, menuntaskan apa yang beberapa hari belakangan tidak dia rasakan karena kondisi Grace sedang sakit.
***
__ADS_1
Joe menjatuhkan tubuhnya setelah memberikan kepuasan pada Cyntia hingga wanita itu merasa lemas mencapai pelepasannya yang pertama.
" Apa suamimu bisa memuaskan seperti ini?" tanya Joe memeluk tubuh Cyntia.
Dengan nafas tersengal Cyntia menggelengkan kepalanya
" Cepat loyo, sama sekali tidak memuaskanku, Joe." Cyntia mengeluhkan kemampuan bercinta sang suami yang dia anggap cepat loyo dan sering membuatnya kecewa di atas ranjang.
" Berarti aku cukup ahli, kan?" Joe merasa percaya diri mengatakan jika dirinya sangat ahli memuaskan Cyntia.
" Iya, Joe. Kau benar-benar membuatku kewalahan," keluh Cyntia dengan tertawa. Tapi, kamu membuat aku puas ...."
" Salah kau sendiri mencari suami yang sudah tua!" cibir Joe, mengejek suami Cyntia yang sudah berumur, tanpa dia menyadari jika dia sendiri sudah menikmati uang yang diberikan dari Fendy suami Cyntia.
" Setidaknya dia punya banyak uang dan bisa membuatku hidup enak dengan fasilitas yang dia berikan." Cyntia mengungkap alasannya bersedia menikah dengan suaminya walaupun terpaut jarak setengah usia yang suami.
" Oh ya, Joe. Tadi waktu kamu ambil tasnya Cantika, aku bertemu Bella dan keluarganya. Ternyata Mama tirinya Bella seusia Bella, lho! Tadinya aku pikir dia saudaranya Bella, tapi Papanya malah mengenalkan sebagai istrinya." Membicarakan jarak usia suami istri yang terpaut jauh, Cyntia teringat akan Mama sambung dari Isabella.
" Oh ya?" Joe mengerutkan keningnya mendengar cerita Cyntia soal keluarga Isabella.
" Iya, masih muda dan cantik. Bagi orang yang tidak tahu, pasti akan menduga jika dia kakaknya Bella," lanjut Cyntia kembali.
" Tapi menurutku Papanya Bella juga belum terlihat tua dan masih gagah. Paling kisaran usia empat puluh tahun. Sedang hot-hot nya usia segitu." Cyntia mengingat sosok Rizal yang dia akui cukup mempesona.
" Apa kau tertarik pada Papanya Bella itu?" Joe tidak senang Cyntia memuji pria lain di hadapannya.
" Tidak, Joe! Untuk apa aku tertarik pada dia? Bella saja sampai bekerja sebagai guru les, artinya ekonomi orang tuanya belum mampu menunjang sepenuhnya untuk biaya kuliah Bella, kan? Mending aku, walau suamiku sudah hampir kakek-kakek tapi kebutuhanku dan Cantika terpenuhi. Dan kalau aku butuh kepuasan, ada kamu yang siap melayani, kan?" Cyntia membelai rahang Joe, membuat Joe tersenyum senang.
" Tentu saja, Cyntia. Aku siap melayanimu kapanpun kau menginginkannya." Joe melu mat bibir Cyntia untuk memulai percintaan mereka yang kedua kalinya.
***
" Morning ..." sapa Grace saat dirinya dan Rizal masuk ke dalam kantor Rizal.
" Pagi, Pak, Bu." anak buah Rizal serempak menyapa Rizal dan Grace yang baru tiba.
" Pagi ..." sahut Rizal yang langsung naik ke lantai atas menuju ruangan kerjanya. Sementara seperti biasa, Grace tertahan di bawah karena dia pasti akan berbincang lebih dulu dengan anak buah Rizal.
" Sudah sembuh, Bu bos? Sakit apa?" tanya Yuanita saat Grace duduk di kursi di sampingnya.
" Biasalah, Nit! Penyakit pengantin baru, pasti kelelahan digen jot sama Pak bos. Hehehe ..." Indra menimpali seraya terkekeh.
Grace tersenyum menanggapi celetukan Indra. Dia tidak tersinggung ataupun marah karena nyatanya meladeni ga irah bira hi Rizal yang tak pernah puas membuatnya sungguh kewalahan.
" Kepala pusing sama badan terasa lemas sekali, Nit." Grace menyebutkan keluhan yang dia rasakan pada Yuanita.
" Wah, jangan-jangan kamu hamil, Grace." Seperti Bi Tinah, Yuanita pun beranggapan jika gejala yang dialami Grace menandakan jika wanita itu sedang hamil.
" Tidak juga kok, Nit. Kemarin aku sudah cek ternyata hasilnya negatif." Grace menepis anggapan Yusnita yang menduga dirinya sedang mengalami gejala hamil muda.
" Dicek ke dokter?" tanya Yusnita kembali.
" Pakai testpack," jawab Grace.
" Sebaiknya kamu langsung ke bidan atau dokter kandungan saja, Grace. Kadang ada juga kehamilan yang tidak terdeteksi pakai testpack." Yuanita menasehati Grace untuk periksa langsung ke dokter kandungan untuk hasil yang akurat.
" Nanti saya deh, Nit. Aku nikah juga belum ada satu bulan, kok " ujar Grace yang merasa yakin jika dirinya tidak sedang hamil.
" Aku bisa membayangkan kalau Bu bos hamil, Pak Bos pasti happy banget, deh!" celetuk Indra kembali.
" Di mana-mana kalau istri hamil, suami itu bahagia, Dra!" Yuanita dengan cepat merespon ucapan Indra dengan memutar bola matanya, sementara Grace hanya terkekeh melihat interaksi kedua sahabatnya yang membuat dia betah berada di kantor suaminya itu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading,❤️