
Vito menoleh ke arah arloji di tangannya. Tatapan matanya beberapa kali mengarah ke pintu masuk cafe mencari keberadaan Isabella yang belum tiba di tempat yang mereka janjikan untuk bertemu.
Vito memang sengaja datang lebih awal, karena dia tidak ingin membuat Isabella menunggu lama. Baginya, biarlah dirinya saja yang menunggu gadis cantik pujaan hatinya itu.
" Hai, Kak Vito. Maaf menunggu lama ya?" Sekitar sepuluh menit kemudian, wanita yang ditunggu oleh Vito muncul juga di hadapan Vito bersama seorang temannya.
" Oh, hai, Bella ..." Vito langsung bangkit.
" Kak Vito sudah lama menunggu?" tanya Isabella kembali.
" Oh, tidak, kok. Baru lima menitan ..." Vito sengaja berbohong, padahal hampir dua puluh menit dia menunggu di sana.
" Oh ya, kenalkan ini teman aku, Kak. Fauziah namanya." Isabella memperkenalkan Isabella kepada Vito.
" Oh, hai, Vito ..." Vito mengulurkan tangannya kepada Fauziah.
" Fauziah ..." Fauziah membalas uluran tangan Vito.
Setelah Vito dan Fauziah saling berkenalan, mereka pun duduk dengan posisi Isabella tepat berhadapan dengan Vito.
" Maaf ya, Kak. Kalau aku mengganggu waktu Kak Vito. Aku ingin tanya Kak Vito. Sebenarnya Papih sedang menanggani kasus apa sih, Kak? Semalam Papih bilang kalau sedang menangani kasus penting sampai tidak pulang. Tapi, tadi pagi aku dan Fauziah melihat Papih bersama seorang cewek muda. Dan cewek itu mengatakan jika dia itu cewek simpanannya Papih, namanya Grace. Kak Vito tahu atau tidak siapa wanita yang bersama Papih itu?" Isabella akhirnya mengatakan apa yang mengganjal di hatinya soal hubungan Papihnya dengan wanita bernama Grace itu.
" Oh, itu ... kami memang sedang menangani kasus, Bella Dan Nona Grace itu adalah orang yang sedang kami tangani saat ini. Untung saja Rizal sudah mengarahkan dirinya terlebih dahulu jika Isabella menanyakan soal Grace. Dan ternyata benar, Isabella mengajak bertemu karena ingin mendapatkan info seputar Grace.
" Nona Grace? Memangnya dia itu siapa, Kak?" Isabella semakin dibuat penasaran dengan Grace, karena Vito memanggilnya dengan sebutan Nona kepada Grace.
" Dia itu anak seorang pengusaha kaya yang berulah karena ingin balas dendam pada seseorang. Dan kebetulan orang itu meminta bantuan kami untuk mengurus Nona Grace." Vito menceritakan siapa Grace kepada Isabella.
" Lalu, kenapa Papih sampai tidak pulang semalam? Kenapa pagi-pagi bisa bersama wanita itu? Dan kenapa juga wanita itu mengaku-ngaku sebagai sugar baby nya Papih?" tanya Isabella masih sulit mempercayai apa yang dijelaskan Vito.
" Semalaman Pak Rizal di kantor polisi untuk mengurus Nona Grace karena dia membuat ulah di sana. Dan pagi tadi Pak Rizal berencana memindahkan Nona Grace ke tempat penampungan yang baru untuk Nona Grace. Soal Nona Grace yang mengatakan jika dia adalah wanita simpanan Pak Rizal, saya yakin jika itu adalah akal-akalan Nona Grace saja untuk membalas Pak Rizal, karena kami lah yang saat itu menggagalkan aksi balas dendam Nona Grace. Sekarang ini saja Nona Grace berhasil kabur dan Pak Rizal sedang berusaha mencari di mana keberadaan Nona Grace saat ini." Vito mencoba meyakinkan Isabella, agar wanita itu percaya pada ceritanya.
" Astaghfirullahal adzim, apa Papih dalam bahaya, Kak?" Penjelasan yang dikatakan Vito justru membuat Isabella justru mencemaskan Papihnya.
" Tidak, Bella. Kamu jangan khawatirkan Papih kamu. Papih kamu itu detektif handal, Pak Rizal pasti bisa mengatasi Nona Grace." Tidak ingin membuat Isabella semakin cemas, Vito menjelaskan bahwa semua aman terkendali.
***
" Ah, si al! Aku tidak berpikir kalau aku menginap di hotel milik keluarga si gembel itu!" Grace merutuki kebodohannya. Dia berusaha kabur, akan tetapi dia justru masuk sendiri ke dalam kandang macan.
" Pantas saja si tua itu tahu keberadaan aku di sini." Grace menghempas nafas kecewa seraya mendudukkan tubuhnya secara kasar di tepi tempat tidur.
" Aku harus pindah dari kamar ini! Aku tidak ingin sekamar dengan pria hidung belang seperti dia. Bisa-bisa nanti malam aku diper kosa olehnya!" Grace mengedikkan bahunya, pikiran buruk sudah mulai meracuni pikirannya, mengetahui jika Rizal ternyata bukan pria yang seperti dugaannya. Walau dia pernah melakukan hubungan in tim dengan Joe. Tapi, dia tidak ingin melakukan hubungan in tim tanpa rasa cinta apalagi dengan pria asing dan karena paksaan.
Grace melirik ke arah ruang sebelah, di mana Rizal sedang duduk di sofa dengan mengangkat kaki di atas meja. Grace pun berjalan mendekati Rizal yang sedang melihat acara sport di televisi. Grace berdiri di hadapan Rizal menghalangi Rizal yang sedang memusatkan pandangannya ke arah layar televisi.
" Kalau kau tidak ingin keluar dari kamarku, aku yang akan pindah kamar!" ancam Grace dengan bertolak pinggang.
" Percuma saja Nona pindah kamar, karena saya akan mengikuti ke mana Nona pergi." Dengan santai Rizal menjawab.
__ADS_1
" Ck, kau ini pria tua menyebalkan!" Grace menendang meja yang sedang digunakan Rizal menyangga kakinya.
" Hei, Anda merusak properti hotel, Nona!" tegur Rizal karena sikap Grace tadi.
Grace bergegas kembali ke ruangan tidur, menghadapi orang seperti Rizal, lama-lama bisa membuat dirinya naik darah. Dia lalu menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan penuh emosi.
Sementara itu di ruang tamu executive suite room. Selepas Grace meninggalkan ruangan tamu, Rizal menerima telepon dari Isabella. Dia lupa jika dia berjanji akan menjelaskan siapa Grace kepada putrinya itu di rumah.
" Assalamualaikum, Pih. Papih ada di mana sekarang? Apa masih bersama wanita penjahat itu?" Nada suara Isabella kali ini terdengar khawatir. Sepertinya apa yang dikatakan oleh Vito, berhasil membuat emosinya mereda.
" Waalaikumsalam ... wanita penjahat?" Rizal mengerutkan keningnya mendengar putrinya itu memanggil Grace dengan sebutan wanita penjahat.
" Iya, wanita yang pagi tadi mengaku sebagai sugar baby nya Papih. Papih harus hati-hati menghadapi wanita seperti dia, Pih." Isabella mencoba memperingatkan Rizal agar waspada kepada Grace.
" Kamu tidak usah khawatir, Bella. Papih tidak akan tergoda dengan dia, apalagi dia juga tidak suka pria tua seperti Papih ini." Rizal terkekeh mencoba menenangkan Isabella agar tidak mengkhawatirkannya. Rizal teringat jika putrinya itu telah bertemu dengan Vito dan Vito sepertinya sudah memberi penjelasan kepada Isabella.
" Tapi, Pih ... dia itu terlihat licik." Bagi Isabella, wanita seperti Grace itu tidak dapat dipercaya.
" Papih tidak apa-apa, Sayang. Kamu jangan khawatir." Rizal masih berusaha menenangkan Isabella.
" Papih sekarang di mana? Apa Papih tidak akan pulang lagi malam ini?" tanya Isabella karena sampai saat ini belum sampai di rumah
" Nanti Papih akan menemuimu seben ... tar." ucapan Rizal menggantung saat tiba-tiba benda pipih yang dia pergunakan untuk berkomunikasi dengan putrinya itu direbut oleh Grace.
" Hei, bilang sama sugar Daddy mu ini supaya pergi dari kamar hotelku! Aku capek, ingin istirahat! Kau saja yang melayaninya, sana!" Grace langsung berbicara kasar dengan Isabella melalui ponsel Rizal.
Grace yang sepintas mendengar suara Rizal sedang berbicara entah dengan siapa, langsung bangkit dan mengendap. Dia ingin tahu dengan siapa Rizal bicara. Dan saat dia mendengar Rizal mengatakan kata Papih dan Sayang, ingatannya langsung tertuju pada wanita yang tadi pagi ditemuinya.
" Nona, hentikan! Anda sudah keterlaluan, Nona!" Merasa jika Grace sudah keterlaluan dengan merebut ponselnya dan juga berjaga kasar terhadap putrinya, Rizal sudah hilang kesabaran. Dia mencengkram lengan Grace dengan kencang dan mengambil ponselnya kembali.
" Bella itu putri saya! Anda sudah menyakiti hati putri kesayangan saya! Dan Anda harus bertanggung jawab karena sudah membuat putri saya bersedih karena perbuatan Anda pagi tadi, Nona!" amuk Rizal dengan sorot mata penuh kemarahan menatap Grace.
Bola mata Grace melebar saat Rizal mengatakan jika wanita yang memergokinya bersama Rizal pagi tadi di warung nasi uduk adalah anak perempuan dari Rizal.
Grace tidak menyangka jika wanita yang berpenampilan sangat girly itu adalah anak Rizal. Semestinya anak detektif seperti Rizal sepantasnya mempunyai putri seperti dirinya yang pemberani dan menguasai ilmu bela diri. Tidak cengeng seperti Isabella.
" Pih, Papih ...!" Sayup suara Isabella terdengar dari ponsel Rizal.
Rizal mengaktifkan loud speaker di ponselnya. Dia ingin Grace mendengarkan percakapannya dengan Isabella, sekaligus menuntut Grace untuk meminta maaf kepada putranya atas sikap dan ucapkan kasar Grace kepada Isabella.
" Halo, Sayang. Papih minta maaf kalau tawanan Papih ini berkata kasar terhadapmu." Rizal berbicara dengan lembut terhadap Isabella, tapi tak memutuskan tatapan tajam terhadap Grace yang dianggapnya sudah sangat keterlaluan.
" Pih, sebaiknya Papih jangan dekat-dekat wanita jahat itu, Pih. Bella takut wanita itu mencelakai Papih." Kembali Isabella mengingatkan Rizal agar tidak terus bersama dengan Grace.
" Kamu tenang saja, Sayang. Papih bisa jaga diri, kok." Rizal memastikan jika dia baik-baik saja. " Dia ingin bicara sama kamu, Sayang." Rizal menyodorkan ponselnya kepada Grace, agar Grace berbicara dan minta maaf kepada Isabella.
" Katakan permohonan maaf Nona kepada putri saya!" perintah Rizal kepada Grace.
" Mana aku tahu dia putrimu!" Grace mengedikkan bahunya, seolah enggan mengaku bersalah.
__ADS_1
" Seumur hidupnya, saya tidak pernah membentak apalagi berkata kasar pada putri saya ini! Dan Anda, Anda berani sekali melakukan hal itu pada putri kesayangan saya!" Rizal terlihat geram karena Grace tidak juga menyentuh ponselnya apalagi mengucapkan permintaan maaf kepada Isabella.
" Pih, sudahlah, Pih! Bella juga malas bicara dengan dia! Sebaiknya Papih cepat pulang! Bella tidak nyaman kalau Papih terus bersama wanita jahat itu." Mendengar sepintas obrolan Grace dan Rizal, membuat Isabella yang tidak menyukai Grace semakin enggan bicara dengan wanita itu.
" Iya, Sayang. Papih akan segera pulang. Kalau begitu Papih tutup teleponnya dulu ya! Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam ... Hati-hati, Pih!" Setelah Isabella membalas salamnya, Rizal mengakhiri percakapan telepon dengan putrinya.
Grace melangkah mundur saat melihat Rizal berjalan ketika Rizal selesai menelepon.
" Mana aku tahu kalau dia anakmu," Grace mengulang kalimatnya.
Rizal mendorong tubuh Grace hingga kini tersudut di dinding pemisah ruang tamu dan ruang kamar executive suite.
" Anda tahu bagaimana Mama Anda sampai mengemis meminta Tuan David agar memaafkan Anda, Nona? Karena Nyonya Agatha tidak ingin melihat Anda di penjara. Sekarang Saya pun dapat melakukan hal yang sama dengan Mama Anda. Saya akan membela anak saya! Saya sanggup melakukan apapun pada orang yang telah menyakiti hati anak saya! Tak terkecuali Anda, Nona!" Telapak tangan lebar Rizal sudah mencekik leher Grace. Sedikit saja Rizal mengeluarkan tenaganya, Grace akan sulit untuk bernafas.
Grace merasakan kemarahan pada diri Rizal. Selama beberapa hari dia mengenal pria itu, baru kali ini dia melihat Rizal begitu marah.
" Aku 'kan sudah katakan, aku tidak tahu kalau dia itu anakmu!" Masih mengatakan alasan yang sama, Grace berusaha membela diri.
" Meskipun Anda tidak tahu, bukan berarti Anda bisa berkata seperti itu kepada putri saya! Belajarlah menghargai orang lain! Jangan karena harta orang tua Anda, lantas Anda bisa seenaknya berbuat kasar kepada orang lain! Ingat, Nona! Harta dan kekayaan tidak akan dibawa mati! Harta dan kekayaan yang Anda dan orang tua Anda punyai saat ini tidak akan kekal abadi. Itu bisa hilang seketika, jika Tuhan menghendakinya!" Rizal berupaya menasehati Grace yang selalu arogan dan selalu merendahkan orang lain.
" Si alan! Kau menyumpahi usaha orang tuaku bangkrut!" Grace malah menjadi marah, karena menganggap Rizal mendoakan keluarganya bangkrut.
" Saya harap itu terjadi, agar saya bisa tahu, apa Anda masih bisa membanggakan kesombongan Anda ini!?" Rizal melepas tangannya dari leher Grace.
Rizal lalu berjalan mengambil jaket dan segera memakainya.
" Saya akan pulang, saya tidak ingin putri saya merasa khawatir. Karena saat ini saya bersama wanita jahat seperti Anda." Rizal tersenyum tipis mengingat perkataan Isabella yang menyebut Grace sebagai wanita jahat.
" Jangan coba-coba kabur! Karena ke mana pun Anda pergi, saya akan selalu bisa menemukan Anda!" Rizal mengancam Grace, karena dia yakin, wanita itu akan berusaha kabur lagi darinya.
" Besok pagi saya akan menjemput Anda di sini. Jadi bersiaplah! Jangan membuat saya menunggu lama!" Rizal lalu berjalan ke luar kamar hotel di mana Grace menginap untuk tiga malam ini.
" Pergilah! Dan jangan pernah kembali lagi!" teriak Grace saat Rizal keluar dari kamar hotelnya.
Namun, pintu kamar kembali terbuka dengan kepala Rizal menyembul dari balik pintu.
" Anda juga harus menerima hukuman dari saya karena telah menghina anak saya, Nona!" Rizal kemudian kembali menutup pintu kembali.
" Dasar pria tua si alan!" Grace menendang pintu kamar kemudian mengunci pintu itu agar Rizal tidak lagi seenaknya saja masuk ke dalam kamar tanpa seijinnya.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Happy Reading