TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Pria Licik


__ADS_3

Grace memarkirkan mobilnya di sebelah barat parkiran restoran mewah di mana Mamanya mengajaknya makan malam. Grace lalu turun dan berlari kecil masuk ke dalam restoran mewah yang terkenal mempunyai cita rasa makanan enak dan lezat. Namun memiliki harga yang bikin geleng-geleng kepala rakyat biasa.


" Selamat malam, Mbak. Ada yang bisa kami bantu?" sapa pelayan restoran menyambut Grace yang mengedar pandangan mencari keberadaan Mamanya.


" Kalau meja dua puluh tiga di mana ya, Mbak?" tanya Grace kepada pelayan restoran itu.


" Meja dua puluh tiga? Oh, reservasi atas nama Nyonya Agatha, ya?" Pelayan restoran itu memang sedang dititipkan pesan oleh Agatha untuk mengantar Grace jika Grace sampai di restoran itu, karena Grace agak telat sampai di restoran. Jalanan kota Jakarta yang cukup padat sudah pasti menjadi alasan utama Grace telat tiba di tempat yang telah dijanjikan.


" Iya, benar, Mbak. Atas nama Ibu Agatha." Grace menyahuti.


" Ada di lantai atas, Mbak. Mari saya antar." Pelayan itu bersedia mengantar Grace ke tempat yang Grace tuju. Dan akhirnya Grace pun berjalan mengekor di belakang pelayan yang akan membawanya ke tempat di mana Mama dan tamu Mamanya itu berada.


" Itu mejanya yang dekat dengan jendela, Mbak." Setelah sampai di lantai atas, Pelayan itu menunjuk arah meja di mana Agatha berada.


Grace melihat Agatha melambaikan tangan ke arah Grace.


" Terima kasih, Mbak." Setelah mengucapkan terima kasih, Garce mempercepat langkahnya karena dia sudah telat datang ke tempat itu.


" Grace, kenapa kamu telat? Mama tidak enak sama tamu Mama karena harus menunggu lama." Baru juga sampai, Agatha sudah menggerutu menegur Grace yang tidak datang telah waktu.


" Sorry, Mam. Tadi macet." jawab Grace dengan mata menoleh ke arah pria yang duduk memunggunginya. Grace mengerutkan keningnya, karena dia mencium aroma yang familiar di penciumannya dari aroma yang menguar dari parfum yang dipakai pria itu.


" Hai, Rena. Apa kabar? Senang bisa bertemu denganmu kembali,"


Betapa terkejutnya Grace saat pria yang duduk membelakangi itu bangkit dan menoleh ke arah Grace.


" A-Aldi?" Grace tercengang saat melihat kehadiran Rivaldi di depannya. Apalagi melihat senyum tipis di sudut bibir pria tampan itu. Terlihat senyum kemenangan karena Rivaldi merasa telah berhasil menemukan persembunyian Grace. Belum lagi sorot mata tajam Rivaldi yang sedang meredam kemarahan.


" Surprise, kan? Kamu pasti tidak menyangka jika Aldi yang Mama ajak makan malam bersama kita?" Tidak mengetahui apa yang terjadi antara putrinya dengan Rivaldi, Agatha justru nampak bersemangat melihat pertemuan Grace dan Rivaldi. " Siang tadi, Aldi datang ke kantor Mama. Dia bilang mau bertemu dengan kamu. Ya sudah, Mama bikin dinner ini saja sebagai kejutannya." Tak menyadari jika Grace akan mendapat masalah setelah Rivaldi mengetahui identitas putrinya. Agatha terlihat sangat berantusias.


" Mati aku!" Grace menggigit bibirnya karena identitasnya sudah diketahui oleh Rivaldi. Dan justru Mamanya lah yang telah membuka identitasnya itu kepada Rivaldi


" Ayo duduk-duduk! Kita bisa mulai menyantap makan malam sekarang." Melihat Grace dan Rivaldi sama-sama masih berdiri canggung, Agatha menyuruh mereka berdua untuk duduk dan menyantap makanan yang kini sudah bersaji di meja


Grace melirik ke arah Rivaldi yang tak juga mengalihkan pandangan dari wajahnya.


" Bagaimana sekarang, Aldi? Sudah bisa bertemu dengan Grace kembali?" Tatapan mata Rivaldi yang tak pernah lepas memandang Grace tentu membuat Agatha senang. Dia menduga jika Rivaldi memang sudah jatuh cinta pada putrinya itu.


" Tentu saja saya senang, Tante. Akhirnya saya bisa bertemu dengan Rena kembali juga bertemu langsung dengan orang tua Rena." Kalimat sindiran diucapkan Rivaldi pada Grace.


" Oh ya, Grace. Kenapa kamu tidak pernah cerita sama Mama kalau kamu pernah berkunjung ke rumah orang tua Rivaldi, bahkan kamu sampai menginap di sana. Apa kamu ingin memberi kejutan pada Mama soal hubungan kalian yang tidak boleh Mama ketahui?" Mengenalkan dan membawa ke rumah orang tua pria, apalagi sampai diterima menginap di rumah orang tua pria, membuat Agatha berpikir jika hubungan Grace dan Rivaldi sangatlah spesial..


Grace menghela nafas. Dia seolah kesulitan merangkai kata-kata untuk menjelaskan kepada Rivaldi. Karena dia yakin, Rivaldi akan mengorek keterangan darinya mengenai alasannya membohongi Rivaldi.


Grace mengambil gelas berisi air mineral, karena dia merasa tenggorokannya sangat kering.


" Jadi bagaimana, Grace? Setelah kamu mengetahui jika pria yang ingin Mama jodohkan dengan kamu adalah Aldi, apa kamu masih tetap menolak juga? Aldi bilang kalau orang tuanya ingin menemui Mama untuk melamarmu."


" Uhuukk ... uhuukk ..." Mendengar ucapan Mamanya, tiba-tiba Grace terbatuk.


Melihat Grace tersedak, Rivaldi secara refleks menepuk-nepuk halus punggung Grace.


" Hati-hati kalau minum dong, Grace!" Agatha justru menganggap Grace bersikap teledor.


" Ini gara-gara Mama yang terlalu banyak bicara! Seharusnya Mama nikmati saja makannya, jangan bicara terus!" Dengan memberengut Grace justru menyalahkan Agatha yang memang mendominasi obrolan di antara mereka bertiga..


Guratan nampak di kening Rivaldi melihat sikap keras yang ditunjukkan oleh Grace kepada Agatha, sangat berbeda jauh dengan sikap Grace sebagai Rena yang dia kenal sedikit penakut.


" Jangan bicara dengan nada tinggi pada orang tuamu, Rena!" Rivaldi lalu menegur Grace. Walau dirinya pun sama-sama berwatak keras dan pernah tidak sengaja berkata pada orang tuanya dengan nada sedikit menyetak. Namun, Rivaldi akan cepat menyadari kesalahannya dan meminta maaf kepada orang tuanya. Berbeda dengan Grace yang tak merasa bersalah telah menyentak Agatha.

__ADS_1


" Tante sudah katakan, kalau Grace itu wataknya keras dan tidak mau diatur ini-itu. Tapi, Tante berharap, jika bersama kamu, sikap Grace lambat laun akan melunak dan menjadi lebih baik lagi, Aldi." Agatha berharap kedekatan Grace dengan Rivaldi akan membawa perubahan positif pada diri putrinya itu.


" Mam, sebaiknya Mama jangan terlalu banyak berharap, deh! Aku sama Aldi itu tidak ada hubungan spesial seperti yang Mama duga! Aldi itu tidak suka sama aku! Dia itu tidak mencintai aku! Dia itu mencintai seorang wanita yang sudah mempunyai suami! Dia itu mencintai istri dari Erlangga Mahadika Gautama!" Karena Mamanya terus saja menjodohkannya dengan Rivaldi, tanpa sengaja Grace menyebut nama Erlangga yang merupakan kata kunci dari pencarian Rivaldi, tentang siapa orang dibalik aksi Grace dan Rizal selama ini.


Alis Rivaldi seketika bertautan mendengar nama yang disebut oleh Grace. Tentu saja nama itu sangat familiar dan sangat dibenci oleh Rivaldi. Dan Rivaldi sangat terkejut saat nama Erlangga lah yang keluar dari mulut Grace.


" Kamu kenal Erlangga?" tanya Rivaldi bernada curiga.


Kali ini Grace membulatkan matanya, karena dia telah kelepasan menyebut nama Erlangga yang semestinya harus ia jaga kerahasiannya.


" Astaga aku kelepasan bicara!" Grace menggigit bibirnya karena dia teledor justru membuka kartu, siapa yang menyuruh Grace dan Rizal menyamar sampai membohongi sampai menipu Rizal.


" Dari mana kamu kenal Erlangga?" Sudah pasti tuduhan Rivaldi mengarah kepada Erlangga sebagai orang yang ada dibalik aksi Grace. Karena tidak mungkin Grace sampai tahu dirinya memang menyukai Kayra, jika bukan Erlangga sendiri yang bercerita.


" Istri Erlangga Mahadika Gautama? Caroline maksudnya?" Sebagai seorang desainer, Agatha sudah pasti kenal model ternama oseperti Caroline Wijayanti. Namun, dia belum mendengar jika Caroline sudah tidak mempuyai ikatan pernikahan dengan Erlangga lagi.


Grace dan Rivaldi sama-sama menoleh ke arah Agatha yang menyebut nama mantan istri pertama Erlangga. Namun, tak ada satupun dari mereka yang menjawab pertanyaan Agatha.


" Ada hubungan apa kamu dengan Erlangga?" Menduga jika Grace adalah orang suruhan yang dibayar oleh Erlangga. Namun, Rivaldi merasakan hal yang aneh, mengingat siapa keluarga Grace yang juga mempunyai kekayaan hampir sama dengan keluarga Mahadika Gautama. Dan itu yang membuat Rivaldi semakin penasaran dengan hubungan antara Grace dan Erlangga.


" Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia!" tepis Grace. Garce berniat meninggalkan acara dinner itu. Dia harus segera melepaskan diri dari intimidasi yang akan terus dilancarkan Rivaldi padanya.


" Aku sudah tidak berselera makan, Mam. Aku pulang dulu!" Grace bangkit dan berpamitan dengan Mamanya, lalu berlari kecil menuju arah tangga untuk segera kabur dari restoran itu.


" Grace, tunggu dulu!!" Agatha mencoba menghalangi Garce. Tapi putrinya itu tak menggubrisnya sama sekali.


" Tante, saya permisi menyusul Rena!" Rivaldi pun berpamitan dan bergegas menyusul langkah Grace. Membuat Agatha dibuat kebingungan dengan tingkah Garce dan Rivaldi.


" Ada apa sebenarnya dengan mereka berdua??" tanya Agatha terheran.


***


" Mau kabur ke mana lagi kamu, Rena?!" Rivaldi menahan tubuh Grace yang ingin masuk ke dalam mobil.


" Lepaskan aku!!" Grace menepis tangan Rivaldi yang membelit lengannya. Tapi, Rivaldi tidak membiarkan Grace lepas darinya.


" Katakan padaku! Apa tujuan kalian menipuku?! Apa Erlangga yang menyuruhmu?!" Jika benar Erlangga yang menyuruh Grace, semakin besar kebencian Rivaldi pada pria itu.


" Aku tidak punya kewajiban untuk menjawab pertanyaanmu! Lagipula, apa aku merugikanmu?? Tidak ada hartamu yang aku curi, kan?" Grace menjawab santai pertanyaan Rivaldi.


" Kau ingin bermain-main denganku rupanya!" Dapat terlihat aura kemarahan dari wajah dan sorot mata Rivaldi saat menatap Grace.


" Kau benar-benar pria licik! Kau marah saat orang lain menipumu. Tapi, kau sendiri menipu orang lain!" Grace menyindir sikap Rivaldi yang dianggapnya mau menang sendiri.


" Apa maksudmu?!" Rivaldi menatap kedua bola mata Grace dengan jarak wajah mereka yang sangat dekat.


Grace menarik ke atas sudut bibirnya. Tangannya kirinya menyentuh dan mengusap rahang Rivaldi, hingga meminta pria itu terkesiap.


" Aku rasa kau cukup pintar untuk mengetahui apa maksud ucapanku tadi." Grace lalu menepis kembali tangan Rivaldi dari lengan kanannya. " Awas!!" Grace menyuruh rivaldi agar tidak menghalangi langkahnya lagi.


Rivaldi akhirnya melepaskan Grace. Seperti terhipnotis ucapan Grace, Rivaldi kini membiarkan Grace masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan Rivaldi sendiri yang masih tercenung seraya menyentuh pipinya yang masih merasakan sentuhan hangat tangan berkulit halus Grace di wajahnya. Padahal satu menit sebelumnya, pria itu masih terlihat galak mengintimidasi Grace dengan pertanyaan yang bernada penuh penekanan.


Grace melihat dari kaca spion, dia melihat Rivaldi tidak berubah dari posisinya tadi. Grace lalu mengeluarkan ponselnya dan memasang earphone di telinganya untuk menghubungi Rizal.


" Halo, kau sudah selesai makan malamnya? Apa kamu sudah tanyakan kepada Mamamu, kapan aku bisa bertemu dengan Mamamu agar aku bisa secepatnya melamarmu." Saat panggilan telepon Grace terangkat oleh Rizal, Pria itu justru bertanya soal jadwal pertemuan dengan Agatha.


" Si al, aku bertemu dengan Rivaldi. Dan dia tahu indentitasku yang sebenarnya." Grace langsung melaporkan apa yang baru saja dialaminya dengan menggerutu.


" Apa?? Rivaldi tahu siapa kamu yang sebenarnya? Bagaimana bisa?" Suara Rizal terdengar terkejut dengan berita yang disampaikan oleh Grace kepadanya.

__ADS_1


" Aku lupa jika Rivaldi pernah aku kenalkan dengan Mama saat di pesta pernikahan yang aku hadiri dengannya kemarin itu. Mungkin dari sana dia dapat melacak keberadaanku," tutur Grace.


" Dia datang ke kantor Mama dan bilang ingin bertemu denganku, sampai akhirnya Mama menyiapkan makan malam ini," lanjut Grace menjelaskan.


" Jadi kau pergi akan malam bersama Rivaldi tadi?" Nada cemburu langsung terdengar dari ucapan Rizal.


" Iya, dan Mamaku berharap aku berjodoh dengannya." Dalam kondisi seperti saat ini, Grace masih saja bisa menggoda Rizal dan membakar rasa cemburu di hati Rizal.


" Kamu melarangku dan mengulur waktu bertemu dengan Mamamu. Tapi pria itu justru sudah mencuri start dan mendapatkan dukungan dari Mamamu. Ini benar-benar tidak adil, Grace!" Protes Rizal.


" Mana aku tahu kalau dia lebih dahulu bertemu dengan Mama!" sanggah Grace tak ingin disalahkan oleh Rizal.


" Lalu bagaimana sekarang? Apa yang dia lakukan terhadapmu?" tanya Rizal kemudian.


" Aku kabur dari sana," jawab Grace. " Tapi, sepertinya dia curiga jika orang yang menyuruh kita adalah Erlangga. Karena aku tadi kelepasan menyebut nama Erlangga, walaupun aku tidak mengatakan jika kau menerima tugas itu dari Erlangga." Grace mengakui jika telah teledor.


Dengusan nafas Rizal terdengar di telinga Grace. Memang seharusnya dia merahasiakan data tentang siapa pun klien yang menyewa jasa darinya. Namun, dia tidak dapat memarahi Grace dalam hal ini. " Ya sudah, tidak apa-apa. Lagipula tugas kita pada Tuan Erlangga sudah selesai." ucapnya.


" Apa dia akan membalas dendam pada Erlangga?" tanya Grace khawatir karena keteledorannya.


" Aku rasa Tuan Erlangga sudah mengantisipasi hal tersebut," balas Rizal.


" Syukurlah, ya sudah kalau begitu. Bye ..." Grace mengakhiri percakapan teleponnya dengan Rizal dan melepas earphone di telinganya kemudian fokus dengan jalan di depannya.


***


Rizal melempar ponselnya ke atas tempat tidur. begitu Grace mengakhiri sambungan telepon mereka. Berita tentang kemunculan Rivaldi yang mendatangi Agatha dan restu yang diberikan Agatha untuk Rivaldi membuat hatinya tak tenang.


" Si al! Cerdik juga pria itu sampai berani menemui langsung Nyonya Agatha. Aku tidak bisa tinggal diam! Dia selangkah lebih cepat dariku. Dan aku tidak mungkin membiarkan dia mendapatkanmu, Grace!" Rizal tidak rela jika sampai Grace jatuh ke tangan Rivaldi.


Rizal lalu mengambil coat-nya. Sementara waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam. Dia lalu mengambil kunci mobilnya dan segera keluar dari kamar.


" Bapak mau pergi?" tanya Bi Tinah saat melihat Rizal membuka pintu rumah.


" Iya, Bi. Tolong pintunya dikunci saja, ya!" perintah Rizal lalu bergegas keluar rumah menuju mobilnya.


" Apa Bapak tidak akan pulang?" tanya Bi Tinah kembali.


" Saya belum tahu, Bi. Tapi, Bi Tinah tidak usah menunggu saya! Tutup saja pintunya!" Rizal membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil. Tak lama mobil yang dikendarainya itu sudah keluar dari pekarangan rumah.


" Kenapa Pak Rizal sekarang ini jadi aneh dan sering pergi malam kadang sampai tidak pulang, ya? Apa benar yang aku dengar waktu Pak Rizal berbicara dengan Non Bella kalau Pak Rizal itu sudah jatuh cinta sama perempuan galak yang waktu itu datang kemari, ya?l" gumam Bi Tinah menduga-duga.


" Wah, bisa stres aku kalau punya majikan galak seperti dia!" Bi Tinah sudah bermain-main dengan dugaan-dugaannya.


" Kenapa Pak Rizal tidak cari yang lain saja yang bisa dijadikan istri, ya?! Pak Rizal itu 'kan masih terlihat tampan, masa tidak ada wanita lain yang terpikat sama Pak Rizal? Kenapa juga Pak Rizal suka sama perempuan yang usianya mirip Non Bella? Lebih cocok jadi anaknya daripada jadi istrinya." Bi Tinah terus berpikir soal majikannya itu.


" Ah, sudahlah! Kenapa aku ikut pusing memikirkan hal itu? Yang penting tugas aku di sini beres, gaji lancar, bonus juga cair." Bi Tinah kemudian masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu rumah seperti yang diintruksikan Rizal kepadanya.


Sementara mobil yang dikendarai oleh Rizal sudah melaju melintasi jalanan kota Jakarta yang masih padat, walaupun lanjut sudah semakin gelap.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2