TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Pengawal Pribadi


__ADS_3

Ddrrtt ddrrtt


Grace baru selesai merapikan mejanya karena Rizal memintanya bersiap, sebab pria itu ingin mengajaknya pergi makan siang. Grace segera meraih benda pipih yang berfungsi sebagai alat komunikasi yang dia letakan di atas meja untuk mengangkat panggilan tersebut.


" Halo, ada apa, Mam?" tanya Grace saat dia menjawab panggilan masuk yang ternyata berasal dari Mamanya.


" Grace, nanti malam kamu ikut Mama dinner, ya!? Mama mau ajak kamu bertemu dengan seseorang." Setelah Rivaldi pergi dari kantornya, Agatha memang langsung menghubungi Grace, karena dia berencana mempertemukan Grace dengan Rivaldi.


" Dinner? Memang mau bertemu siapa sih, Mam?" Grace memang malas jika diajak pergi ke acara yang biasa dibuat Mamanya.


" Nanti kamu akan tahu sendiri kalau bertemu dia, Grace. Kamu mengenalnya, kok." Sesuai keinginan Rivaldi, Agatha tidak memberitahu Grace jika orang yang akan dipertemukan dengan Grace adalah Rivaldi.


" Siapa, Mam? Erick?" Seketika Grace teringat akan Erick, karena Mamanya itu sempat ingin mendekatkannya dengan anak teman Mamanya itu.


" Bukan Erick. Tapi, dia tidak kalah tampan dari Erick, Grace. Dia seorang pengusaha. Mama rasa dia sangat cocok kalau jadi calon suami kamu, Grace." Untuk menghalangi hubungan Grace dengan Rizal, tentu Agatha butuh seseorang yang ingin dia dekatkan dengan Grace. Dan kali ini Agatha seakan menemukan orang yang tepat saat Rivaldi tiba-tiba datang menemuinya dan mengatakan ketertarikannya kepada Grace.


" Mam, Mama tidak sedang berusaha menjodohkan aku, kan?" tanya Grace curiga.


" Memangnya kenapa kalau Mama berencana menjodohkan kamu? Kamu sudah beranjak dewasa, Grace. Kamu harus serius memilih jodohmu, jangan asal-asalan! Pilih calon suami yang mapan dalam finansial. Dan usianya wajar dengan kamu! Tidak terlalu jauh jaraknya sama kamu, Grace. Cukup Mama saja yang merasakan seperti itu!" Agatha tidak ingin Grace mengalami apa yang dialami olehnya saat menikah dengan Gavin.


" Mam, aku ini masih muda! Aku belum berencana untuk berumah tangga!" Grace tegas menolak rencana Mamanya.


" Tidak masalah kalau tidak ingin menikah dalam waktu dekat. Tapi, setidaknya, kamu datang nanti malam, biar kamu bertemu sama orang itu, Grace." Agatha terus membujuk Grace agar anaknya itu mau mengikuti rencananya.


" Okelah. Tapi, hanya bertemu saja, jangan ada pembicaraan soal perjodohan-perjodohan segala!" Akhirnya Grace menerima ajakan Mamanya, asalkan Agatha tidak membicarakan soal perjodohan. Itu syarat yang diberikan oleh Grace kepada Agatha.


" Iya, sudah. Yang penting kamu datang di acara dinner itu." Agatha pun menerima syarat yang diberikan oleh anaknya itu.


" Di mana acara dinnernya, Mam?" tanya Garce kemudian.


" Di restoran biasa, waktu acara dinner ulang tahun kamu kemarin, Grace." sahut Agatha. " Nanti jam tujuh kita bertemu di sana atau mau Mama jemput?" tanyanya kemudian.


" Aku berangkat sendiri saja, Mam." jawab Grace. " Sudah dulu ya, Mam. Bye ..." Grace langsung mematikan panggilan telepon saat dia melihat Rizal sudah keluar dari ruangannya.


" Vit, kami makan siang dulu." Rizal berpesan kepada Vito. " Ayo, Grace!" Lalu dia mengajak Grace yang masih terduduk di kursinya.


" Iya, Pak." Vito menjawab ucapan Rizal dengan senyum terkulum di bibirnya. Vito memang sudah mendengar gosip yang beredar soal hubungan Rizal dan Grace. Tentu dia akan dukung selama keputusan itu membuat bosnya itu senang.


" Mau pergi makan siang, Pak?" tanya Indra yang terkenal cukup usil saat melihat Rizal dan Grace turun bersama.


Pertanyaan Indra dibalas Rizal dengan senyuman.


" Jadi kapan peresmiannya, Pak? Traktir-traktir kita dong, Pak." Melihat Rizal tidak marah dengan ucapan Indra, Jamal pun ikut menggoda bosnya.


" Kalian minta ditraktir apa?" Rizal menghentikan langkahnya mendengar pertanyaan Jamal. Dia justru menanggapi permintaan Jamal.


" Terserah saja kami sih, Pak." sahut Jamal tak menduga jika Rizal akan merespon permintaannya itu.


" Ya sudah, nanti pulang kerja kita makan-makan." Rizal menyetujui permintaan karyawannya. " Bagaimana?" tanyanya seraya melirik ke arah Grace.

__ADS_1


" Siap, Pak!" sahut para karyawan Rizal serempak.


" Aku tidak bisa ikut." Teringat jika nanti malam dia ada rencana makan malam dengan Mamanya, Grace mengatakan jika dirinya tidak dapat ikut bergabung dengan rekan lainnya.


" Yaaahh, masa yang punya acaranya tidak ikut, sih?! Tidak asyik dong, Grace!" Yuanita ikut menimpali.


" Aku ada acara nanti malam," balas Grace.


" Ya sudah, kalau besok makan siang saja, gimana?" Rizal merubah waktu mentraktir karyawannya.


" Siap, Pak." jawab karyawan Rizal kembali bersamaan.


Setelah disepakati anak buahnya kapan acara traktiran makan-makan bersama, Rizal dan Grace pun berjalan keluar kantornya menuju mobil mereka untuk pergi makan siang.


" Ada acara apa nanti malam?" tanya Rizal setelah sampai di mobil merasa penasaran. Selama dalam pengawasannya, Grace hampir tidak pernah pergi menghadiri suatu acara tanpa sepengetahuannya, terkecuali saat menyamar sebagai Rena.


" Mama mengajakku makan malam," aku Grace jujur.


" Kamu ada acara makan malam dengan Mamamu? Bagaimana kalau aku ikut? Sekalian aku ingin membicarakan soal rencanaku melamarmu?" Rizal merasa ini adalah waktu yang tepat untuknya bertemu dan berbicara dengan Agatha untuk membicarakan niatnya melamar Grace.


" Ini bukan acara makan malam biasa, karena Mama ingin bertemu dengan relasi bisnisnya." Teringat saat Mamanya mengatakan jika pria yang ingin dia kenalkan adalah seorang pengusaha, Grace berpikir jika orang itu adalah relasi bisnis Mamanya. Tentu Garce tidak ingin acara makan malam itu menjadi kacau, jika Rizal datang akan melamarnya, sementara Mamanya sendiri ingin mengenalkan dia dengan relasi Mamanya itu.


" Ya sudah, sekalian kamu tanyakan kapan Mamamu ada waktu agar aku bisa bertemu dengannya," ujar Rizal.


" Iya, kalau aku ingat," sahut Grace.


***


Rivaldi datang lebih awal di tempat yang sudah dia rencanakan dengan Agatha. Dia memang termasuk orang yang tepat waktu jika berjanji bertemu dengan orang lain.


Sepuluh menit kemudian, lewat lima menit dari waktu yang sudah dijanjikan, Agatha baru sampai di restoran itu.


" Selamat malam, Tante." Rivaldi menyapa Agatha saat melihat kedatangan Agatha.


" Selamat malam, Aldi. Maaf, Tante telat, ya!?" Agatha melirik arloji di tangannya.


" Tidak apa-apa, Tante." sahut Rivaldi. " Rena tidak datang bersama Tante?" Tidak melihat kehadiran Grace bersama Agatha, Rivaldi menanyakan keberadaan Grace.


" Grace nanti akan datang menyusul. Tante sudah menawarkan apa ingin Tante jemput, tapi Grace menolak." Agatha menjelaskan.


" Oh begitu ...."


" Kamu sudah pesan menu makanannya?" tanya Agatha.


" Belum, Tante. Saya sengaja menunggu Tante dan Rena, Terserah Tante yang pesankan saja," sahut Rivaldi.


Agatha lalu memesankan beberapa makanan dan minum untuk mereka santap bersama.


" Selama ini aktivitas Rena apa, Tante?" Rivaldi mulai mengorek informasi tentang Grace dari Agatha.

__ADS_1


" Hmmm, sekarang ini ada tugas yang sedang dikerjakan oleh Grace." Agatha tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya dialami oleh Grace laga Rivaldi. " Sebenarnya sih, Tante ingin dia ikut mengelola perusahaan milik Papanya di Jerman, tapi dia menolak. Selama ini perusahaan Papanya itu dipegang oleh adik dari Papanya Grace. Tapi, Om nya itu punya pekerjaan lain jadi agak repot kalau harus menghandle beberapa perusahaan sendirian." Agatha mulai menceritakan bagaimana kehidupan Grace kepada Rivaldi.


" Grace selalu berpikir dia masuk muda, masih ingin menikmati masa muda dan tidak ingin dipusingkan dengan masalah pekerjaan. Padahal, Tante juga ingin dia bisa mengurus usaha Tante di sini, kalau dia merasa keberatan mengurus usaha Papanya." Agatha seperti menemukan orang yang tepat dia jadikan tempat untuk curhat.


" Berarti Rena memang benar menolak mengurus perusahaan orang tuanya ya, Tan?" Rivaldi berpikir, walau dalam penyamaran, ternyata kisah Grace memang sama dengan kisah Rena. Sama-sama anak orang kaya dan menolak diminta mengurus perusahaan keluarganya.


" Grace pernah cerita sama kamu?"


" Iya, Tan. Rena juga pernah bilang enggan disuruh mengurus perusahaan milik Papanya," sahut Rivaldi.


" Grace memang keras kepala anaknya. Tidak ingin diatur ini itu sama Tante. Semau sendiri saja ..." Agatha tidak menutupi sikap putrinya itu.


" Oh ya, Tan. Apa Tante kenal dengan Pak Firman? Hmmm, entah siapa nama, saya kurang ingat. Orangnya sekitar usia empat puluh tahunan. Berkumis dan memilih cambang." Rivaldi menyebut ciri-ciri Rizal. Berharap Agatha pun mengenal sosok pria yang mengaku bernama Firman itu.


" Pak Rizal maksudnya?" Tentu saja Agatha mengetahui ciri-ciri yang disebutkan oleh Rivaldi.


" Ah, iya benar. Tante kenal siapa itu Pak Rizal itu?" tanya Rivaldi penasaran apa hubungan Grace dan Rizal? Dan kenapa mereka berdua menipunya? Apalagi saat dia ketahui jika Grace tenyata anak pengusaha.


" Oh, Pak Rizal itu ... dia itu pengawal pribadi Grace." Agatha bingung menceritakan siapa Rizal yang sebenarnya. Sehingga dia mengarang cerita dengan menyebut Rizal adalah pengawal pribadi Grace.


" Pengawal pribadi?" Rivaldi mengeryitkan keningnya mendengar jawaban Agatha. Memang masuk akal jika melihat fisik Rizal jika disebut pengawal pribadi Grace. Namun, yang membuatnya tidak mengerti adalah, kenapa Rizal dan Grace menipunya dengan mengatakan jika mereka berdua adalah urusan perusahaan Pak Satria? Itu misteri yang masih belum bisa dia pecahkan saat ini.


" Nah, itu dia anaknya datang!" Agatha melihat Grace berjalan bersama pelayan restoran ke arahnya. Karena tadi dia sempat menitipkan pesan kepada pelayan restoran jika dia masih menunggu orang yang belum datang dan meminta pelayan itu mengantar Grace ke meja mereka.


Rivaldi sengaja tidak langsung menoleh ke arah Grace, karena dia ingin tahu ekspresi wajah Grace saat melihat keberadaannya di hadapan Grace. Kebetulan posisi tempat dia duduk membelakangi Grace.


" Grace, kenapa kamu telat?" Saat sampai di meja Agatha langsung menegur Grace. " Tidak enak sama tamu Mama karena harus menunggu lama," keluhnya kemudian.


" Sorry, Mam. Tadi macet." jawab Grace lalu menoleh ke arah orang yang duduk membelakanginya saat ini. Dia berniat meminta maaf kepada tamu Mamanya itu.


Secara bersamaan Rivaldi langsung bangkit dan memutar tubuhnya ke arah Grace.


" Hai, Rena. Apa kabar? Senang bisa bertemu denganmu kembali," sapa Rivaldi dengan mengulum senyuman di bibirnya.


Grace seketika terperanjat melihat sosok yang ada di hadapannya saat ini. Dia tidak menyangka jika orang yang ingin dipertemukan dengannya oleh Mamanya adalah Rivaldi.


" A-Aldi?" ucap Grace masih dalam keterkejutannya.


*


*


*


Bersambung ...


Maaf ya, up nya sedikit 2 hari ini. Soalnya agak sibuk di RL. Makasih🙏


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2