TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Apapun Akan Aku Lakukan Untuk Mendapatkanmu!


__ADS_3

Grace melirik arloji di tangannya. Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh lewat lima belas menit, tapi Rizal tidak juga tiba di kantornya. Sementara pria itu pun tidak mengabari di mana keberadaannya pada Grace saat ini.


Grace sempat berpikir jika Rizal pergi menemui Mamanya. Namun, jika pria itu bertemu dengan Agatha, Mamanya itu pasti akan segera menghubungi. Karena dia yakin kalau Mamanya kurang menyetujui dia mempunyai hubungan serius dengan Rizal. Tapi, telepon dari Agatha pun tidak muncul di ponselnya, membuat dia menenggelamkan dugaan jika Rizal menemui Mamanya.


Grace melirik ke arah Vito yang sedang sibuk dengan pekerjaannya.


" Bosmu ke mana?" tanya Grace bertanya kepada Vito, berharap Vito tahu keberadaan Rizal saat ini.


" Pak Rizal tidak memberitahu Nona?" tanya Vito balik bertanya.


" Kalau dia kasih tahu aku, mana mungkin aku tanya kamu!" Grace memutar bola matanya menanggapi pertanyaan Vito.


" Maaf, Nona." jawab Vito menyadari dia salah memberi pertanyaan. " Pak Rizal tidak memberi kabar akan datang telat hari ini ke saya, Nona." sambungnya.


" Memangnya kalau dia tidak memberi kabar kamu tidak menghubungi dia untuk mencari tahu kenapa dia terlambat!?" Grace seakan kesal karena Vito tidak mengetahui di mana Rizal berada.


" Pak Rizal tidak pernah seperti ini sebelumnya, Nona. Biasanya Pak Rizal selalu memberi kabar jika telat datang." Vito menjelaskan.


" Maksud kamu, ini pertama kalinya Pak tua itu datang telat tanpa kabar?" Grace bangkit dari tempat duduk dan berjalan ke arah meja Vito.


" Benar, Nona." sahut Vito.


" Ngomong-ngomong, sudah berapa lama kau ikut kerja di sini?" tanya Grace kemudian berdiri di depan meja Vito dengan tangan melipat di dada.


" Ini tahun ke delapan saya ikut bekerja dengan Pak Rizal, Nona." jawab Vito.


" Delapan tahun? Lumayan lama juga ..." ujar Grace. " Berarti, kamu tahu mantan istri bosmu itu?" Grace mulai penasaran pada sosok mantan istri Rizal. Selama berada di kantor Rizal, tidak sekali pun Grace mengorek informasi tentang mantan istri Rizal. Ini adalah pertama kalinya dia menanyakan soal mantan istri Rizal.


" Ibu Sonia? Iya, saya tahu almarhumah ..." Vito membalas pertnyaan Grace dengan tersenyum samar. Dia menyadari jika Grace sedang mencari tahu tentang mantan istri bosnya itu. Mungkin karena hubungan serius yang sedang dijalani oleh Grace dan Rizal saat ini, membuat Grace banyak bertanya-tanya seputar kehidupan pribadi Rizal. Itulah yang Vito pikir.


" Istri bosmu itu meninggal karena apa?" tanya Grace lagi. Grace berani bertanya kepada Vito, karena dia yakin jika Vito tidak akan seperti rekan-rekannya di bawah yang tidak dapat memegang rahasia. Jika dia bertanya pada Yuanita, Indra atau Jamal. Mereka pasti akan meledeknya.


" Karena sakit, Nona." Vito tidak ingin menjelaskan secara rinci sakit yang diderita mantan istri Rizal.


" Setelah istrinya meninggal, memang dia tidak pernah dekat dengan wanita lain?" tanya Grace penasaran.


" Kalau yang suka dengan Pak Rizal banyak, Nona. Tapi tak pernah ditanggapi oleh Pak Rizal. Tadinya saya pikir kalau Pak Rizal tidak akan jatuh cinta lagi. Tapi, sepertinya saya keliru, karena kehadiran Nona sudah merubah sikap acuh Pak Rizal terhadap wanita." Vito menceritakan bagaimana sikap Rizal terhadap wanita sebelum bertemu dengan Grace.


" Sejujurnya saya tidak menyangka jika Pak Rizal bisa jatuh cinta pada Nona," lanjut Vito mengungkapkan keterkejutannya.


" Hahaha, aku ini cantik! Siapa pria yang tidak akan jatuh cinta kepadaku?!" ujar Grace percaya diri kemudian berjalan kembali ke tempatnya semula.


Vito hanya tersenyum menanggapi sikap narsis Grace. Sebagai seorang pria normal harus dia akui, secara fisik Grace memang menarik. Tapi, dia tidak menyukai sifat dan tingkah laku Grace yang terlalu bar-bar dan senang dengan kehidupan bebas.


Dua puluh menit berselang Rizal datang ke kantornya. Dengan langkah lebar dia memasuki kantornya setelah turun dari mobil.


" Selamat siang, Pak." Sapa karyawan Rizal di lantai bawah saat melihat kemunculan bosnya itu dari pintu kantor.


" Siang," sahut Rizal.


" Nanti siang jadi 'kan traktirannya, Pak?" tanya Indra yang kemarin minta ditraktir oleh Grace dan Rizal, untuk merayakan awal hubungan Grace dan Rizal. Setidaknya itulah gosip yang mencuat di kalangan anak buah Rizal setelah Yuanita menceritakan cincin yang diberi Rizal untuk Grace.


" Jadi." Rizal menoleh arlojinya yang telah menunjukkan waktu hampir mendekati jam sebelas siang. " Nanti setelah Dzuhur saja, ya!?" lanjutnya.


" Oke, Pak. Sip!" sahut Indra mengacungan dua jempolnya.


" Makasih, Pak " Rekan-rekan Indra lainnya menimpali. Sementara Rizal melangkah menaiki anak tangga dengan berlari kecil.


Derap langkah Rizal saat menaiki anak tangga membuat Grace dan Vito menoleh ke arah tangga.

__ADS_1


" Selamat siang, Pak." Vito langsung menyambut Rizal dengan sapaan sementara Grace memalingkan wajahnya saat melihat kemunculan Rizal dari tangga.


" Siang, Vit." balas Rizal.


" Tadi ada yang mencari Pak Rizal." Melihat sikap Grace yang acuh saat Rizal datang, padahal tadi Grace menanyakan keberadaan Rizal, Vito iseng berkata pada bosnya ingin menceritakan bagaimana sikap Garce tadi, saat gelisah menanti kedatangan Rizal.


" Siapa? Apa saya ada janji bertemu klien, Vit?" Rizal justru menanggapi serius perkataan Vito. Dia menganggap memang ada klien yang datang ingin bertemu untuk menyewa jasanya untuk menangani kasus yang dialami klien tersebut.


" Tidak, Pak. Bukan klien yang datang kemari yang mencari Bapak. Tapi, Nona Grace yang sejak tadi gelisah menunggu kedatangan Pak Rizal." Dengan menyeringai, Vito memberitahukan apa yang dilakukan Grace tadi.


Ucapan Vito sontak membuat Grace terbelalak dan menatap tajam ke arah Vito. sedangkan Rizal langsung menoleh ke arah Grace dengan menarik senyuman di bibirnya.


" Benarkah ada yang menunggu kedatanganku, Vito?" Kenyataan yang disebutkan oleh Vito, membuat Rizal mengembangan senyuman lebar, bahkan kini mulai menggoda Grace yang selama ini terkesan ogah-ogahan terhadapnya.


" Benar, Pak. Bahkan saya kena marah karena dianggap tidak perduli pada Pak Rizal karena tidak tahu keberadaan Pak Rizal saat Pak Rizal telat datang dan tidak memberi kabar." Mungkin ilmu Indra sudah terserap oleh Vito. Hingga kini orang kepercayaan Rizal itupun sudah mulai berani meledek Grace


Grace semakin mendelik tajam ke arah Vito yang telah membuka rahasiannya. " Si alan, kau!" Mungkin itulah kalimat yang tepat menggambarkan tatapan tajam Grace pada Vito.


" Hmmm, ada yang sudah mulai merindukanku rupanya." Rizal berjalan mendekat ke arah meja Grace. " Benar begitu, Nona?" Rizal menekan kedua telapak tangan di meja Grace dan membungkukkan tubuhnya.


" Jangan geer! Aku bertanya karena tadi anak buahmu di bawah bertanya apa acara traktiran makan siangnya jadi?! Kau yang berniat mentraktir mereka, kan?! Bukan aku!" Grace menampik, tak ingin jujur mengatakan jika dia merasakan ada yang hilang tanpa kehadiran Rizal di sana.


Rizal tersenyum, dia tahu jika Grace berbohong karena wanita itu tidak berani menatap ke arahnya.


" Oh ya, Vit. Apa lagi yang dia tanyakan saat saya tidak ada tadi?" Rizal justru bertanya pada Vito tanpa menolehkan wajahnya ke arah anak buahnya itu.


Grace kembali melirik ke arah Vito berharap Vito tidak mengatakan jika dirinya tadi bertanya-tanya soal mantan istri Rizal.


" Tidak ada, Pak. Nona Grace hanya menanyakan keberadaan Pak Rizal tadi karena telat tiba di kantor tanpa memberikan kabar." Untuk kali ini Vito menutupi apa yang sempat ditanyakan Grace tadi kepadanya.


" Masuklah, ada yang ingin aku bicarakan!" Rizal kemudian berjalan ke ruangannya dan meminta Grace mengikutinya.


" Si alan, kau!!" umpat Grace pada Vito sebelum melangkah masuk ke dalam ruangan kerja Rizal, yang dibalas Vito dengan terkekeh.


" Tidak juga!" jawab Grace santai seraya mengedikkan bahunya.


" Aku tadi menemui Mamamu di kantornya."


Kalimat selanjutnya dari Rizal membuat Grace terbelalak dan kini memfokuskan tatapan matanya pada pria di hadapannya itu.


" Kau bertemu Mama? Lalu Mama bilang apa?" Sudah dapat dipastikan jika Grace akan terkejut dan penasaran dengan apa yang dibicarakan antara Rizal dan Agatha.


Rizal menghela nafas panjang sebelum memberikan jawaban pada Grace.


" Mama menolak, kan?" Tak langsung mendapatkan jawaban dari Rizal, Grace sudah menduga-duga sendiri bagaimana sikap Mamanya terhadap Rizal.


" Mamamu butuh waktu untuk mempertimbangkan lamaranku. Mamamu bilang ingin mendiskusikan hal ini padamu dan juga Om kamu di Jerman." Rizal menjelaskan hasil pembicaraannya dengan Agatha.


Rizal kini memegang kedua lengan Grace dan lanjut berkata, " Sekarang ini tinggal kamu menentukan sikapmu, Grace. Kamu juga harus bisa berjuang untuk meyakinkan Mamamu jika kamu juga sebenarnya ingin bersamaku." Rizal sudah sangat yakin jika Grace juga memang ingin bersamanya.


" Kau ingin aku berbohong mengatakan hal itu?" Pertanyaan Grace membuat Rizal menyipitkan matanya.


" Kau ingin berbohong dengan mengatakan tidak mencintaiku?" Kini Rizal membalas pertanyaan Grace.


" Aku memang tidak mencintaimu, Pak tua! Kau saja yang terlalu percaya diri!" Grace memberanikan diri menatap bola mata Rizal seakan menyangkal apa yang dirasakannya.


" Berani sekali kau berbohong padaku, Grace!" Rizal tahu jika Grace sedang berbohong kepadanya walaupun wanita di hadapannya itu berani menatapnya.


Rizal lalu menarik tengkuk Grace dan membenamkan sentuhan pada bibir Grace untuk memulai kembali kein timan seperti yang mereka lakukan semalam. Dan kembali Grace tidak menolak, namun malah menikmati. Apa yang diucapkannya sangat bertentangan dengan apa yang ada di hatinya.

__ADS_1


" Kenapa masih berani mengatakan jika kau tidak mencintaiku?" tanya Rizal saat mereka mengambil nafas dengan kening mereka saling bersentuhan " Kenapa kamu tidak mau jujur jika kamu pun sebenarnya menginginkanku?" tanya Rizal menuntut jawaban dari Grace.


Namun, bukannya jawaban yang Rizal terima. Tapi, justru suara tangisan yang dia dengar dari mulut Grace.


" Hei, kenapa kamu menangis?" Rizal terkesiap mendapati wanita keras kepala yang selama ini selalu bersikap garang itu tiba-tiba menangis di hadapannya. Hal itu seketika membuat Rizal bingung. Dia lalu memeluk Grace dan membenamkan wajah Grace di dadanya lalu menghujani pucuk kepala wanita itu dengan kecupan.


Entah mengapa, Grace juga tidak menyangka jika tiba-tiba dia menjadi melankolis seperti saat ini. Seakan luntur sudah sikap arogan dan keras kepalanya selama ini.


Menghabiskan waktu beberapa bulan bersama Rizal memang membawa perubahan pada diri Grace. Walaupun selalu dilalui dengan perdebatan-perdebatan. Namun, Grace memang merasakan sikap Rizal yang sangat perduli kepadanya.


Jujur harus Grace akui, bersama Rizal dirinya merasa nyaman terlebih sentuhan-sentuhan yang diberikan Rizal sering membuat hatinya berdesir. Namun, Grace merasa takut. Dia yakin akan banyak pertentangan dari pihak keluarganya dan juga keluarga Rizal jika mereka memaksakan hubungan mereka. Sehingga dia tidak berani melambungkan harapannya tentang hubungan mereka.


Grace selalu berusaha meredam perasaan-perasaannya yang muncul pada Rizal agar dia tidak patah hati untuk kedua kalinya jika hubungan mereka memang benar-benar tidak direstui.


" Kenapa kau menangis? Ke mana perginya Grace si wanita pemberani itu?" Rizal menyeka air mata Grace dan mencoba menenangkan Grace yang masih terisak.


" Apa kamu tidak yakin dengan ketulusanku?" Rizal menangkup wajah Grace dan menatap bola mata Garce yang dipenuhi cairan bening.


" " Aku tidak ingin sakit hati lagi," lirih Grace.


" Aku tidak akan menyakitimu, Grace!" Rizal mencoba meyakinkan Grace agar wanita itu percaya kepadanya.


" Akan banyak rintangan jika kita meneruskan ini," ucap Grace lagi.


" Dan kita akan menghadapinya bersama!" tegas Rizal.


" Tidak akan semudah itu!" sahut Grace menurunkan tangan Rizal yang menangkup wajahnya. " Tidak akan mudah mendapatkan restu dari Mama dan Om aku. Aku juga tidak ingin terus beradu pendapat dengan anakmu! Sebaiknya kamu lupakan saja niatmu itu! Kita hidup masing-masing. Satu Minggu lagi hukuman yang harus aku jalani akan berakhir. Aku akan pergi dari sini, itu lebih baik untukmu agar bisa melupakan aku," ujar Grace kemudian.


" Tidak, Grace! Aku akan memperjuangkan keinginanku! Kau sudah masuk dalam kehidupanku, dan aku tidak akan membiarkan begitu saja kamu pergi meninggalkanku!" tegas Rizal.


" Di mana Om kamu tinggal? Kita temui Om kamu secepatnya! Aku akan melamarmu dan meminta Om kamu menjadi walimu untuk pernikahan kita nanti!" Rizal sudah nekat. Dia rela harus terbang ke Jerman untuk mendapat restu dari adik Papanya Grace yang tinggal di Jerman yang akan menjadi wali nikah Grace.


" Kamu jangan nekat melakukan hal itu! Belum tentu Om Daniel akan menyetujui aku menikah denganmu!" Grace melarang Rizal menemui Om nya di Jerman.


" Apapun akan aku lakukan untuk mendapatkanmu, Grace! Walaupun aku harus pergi jauh sampai ke Jerman!" Rizal tak gentar harus mengahadapi kekerasan hati Om Daniel.


" Grace, jika kau juga ingin bersamaku, tolong berjuanglah! Dukung aku melakukan apapun yang bisa aku lakukan untuk dapat menikahimu, memilikimu." Rizal meminta agar Grace mendukungnya. Setidaknya, Grace tidak patah semangat menggapai kebahagiaan untuk mereka berdua.


" Aku akan hubungi Om Daniel dulu. Kapan Om aku ada waktu senggang. Om Daniel sangat sibuk, aku tidak mau kedatanganmu ke sana akan sia-sia karena bentrok dengan pekerjaannya." Grace akhirnya memutuskan akan memberi kabar Om nya tentang rencana Rizal yang ingin melamarnya. Dia kasihan jika Rizal ke sana dan ditolak mentah-mentah oleh Om Daniel.


" Baiklah kalau begitu." Rizal kembali menangkup wajah Grace. " Aku mencintaimu, Grace! Aku berjanji akan berjuang untuk mendapatkanmu dan kita akan hidup bahagia!" pungkas Rizal mengakhiri ucapannya dengan memberikan sentuhan lembut kembali di bibir Grace, membuat wanita itu semakin nyaman bersama dirinya.


***


Agatha dan Rivaldi sedang berbincang serius saat menikmati makan siang mereka. Agatha memilih restoran Jepang untuk bertemu dengan Rivaldi dan menyusun rencana agar dapat menggagalkan niat Rizal yang ingin menikahi Grace.


Agatha menceritakan pada Rivaldi, bagaimana Grace bisa bertemu dengan Rizal. Dari penyerangan terhadap Gavin. Luka yang didapat Grace dari Joe dan hukuman yang dijalankan oleh Grace karena melakukan kejahatan kriminal kepada Gavin. Namun, tentu dia tidak menceritakan soal pergaulan bebas yang dianut Grace bersama Joe. Karena dia tidak ingin Rivaldi mundur teratur jika dia mengatakan putrinya itu sudah tidak perawan lagi.


" Jadi, Rena saat ini sedang menjalani masa hukuman dan bekerja sukarela di agen swasta penyelidik milik Rizal itu?" Rivaldi mengangguk-anggukkan kepalanya. Akhirnya dia mengerti, bagaimana Rizal dan Grace bisa bekerja sangat rapih. Bahkan dugaan jika Erlangga yang menyewa Rizal dan Grace semakin kuat. Karena Grace melakukan hal itu tanpa dibayar tapi karena dia sedang menjalani hukumannya.


" Benar, Aldi. Grace terpaksa melakukan hal tersebut daripada harus berurusan dengan hukum," jawab Agatha. " Tapi, sebenarnya Grace itu anak baik. Hanya saja dia salah jalan karena bertemu dengan orang yang tidak tepat. Tante yakin, jika bersama kamu, Grace pasti akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Agatha berharap Grace akan hidup bahagia jika bersama Rivaldi. Apalagi dari segi ekonomi, Rivaldi lebih mapan dibandingkan Rizal.


Rivaldi menarik sudut bibirnya ke atas. Lengkap sudah informasi yang selama ini dia cari-cari. Dia tidak usah bersusah payah menyuruh anak buah Jimmy yang dinilainya bo doh itu. Tapi, dia justru mengatakan informasi secara cuma-cuma dari sumber yang terpercaya secara langsung. Bahkan, dia diberi lampu hijau untuk mendekat pada Grace. Wanita yang selama ini sudah menipunya. Yang sempat melambungkan harapannya tinggi-tinggi sebelum akhirnya dihempaskan hingga jatuh berkeping-keping.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2