TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Apa Grace Akan Terkena Hukuman?


__ADS_3

Rivaldi dibuat geleng-geleng kepala dengan perdebatan sepasang ibu dan anak tiri yang terlihat sama-sama mempertahankan haknya atas Rizal. Seketika dirinya teringat masa kecilnya ketika melihat kedua adik laki-lakinya bertengkar berebut mainan. Seperti itulah dia melihat Grace dan Isabella saat ini.


" Sudah, sudah! Jangan berdebat seperti ini! Ini rumah sakit! Apa kalian berdua ingin aku laporkan ke perawat, biar tidak ada yang boleh menemani Pak Rizal!?" Rivaldi sampai memberi ancaman agar mereka berdua tidak meneruskan perdebatannya. Kali ini Rivaldi seperti seorang kakak yang mencoba melerai kedua adik wanitanya yang sedang berebut seorang pria.


Baik Grace maupun Isabella langsung menghentikan ocehan mereka dengan menoleh ke arah Rivaldi.


" Bella, kamu semalaman sudah menjaga Papih kamu, kan? Sebaiknya kamu kasih kesempatan pada Rena untuk berada di dalam." Rivaldi minta pengertian Isabella untuk memberikan waktu kepada Grace berada di dalam bersama Rizal. Grace baru saja melalui peristiwa yang berat, mungkin Grace ingin berkeluh kesah kepada Rizal meskipun suaminya itu tidak dapat merespon apa yang akan dikatakan oleh Grace.


" Aku tidak mau!" Dengan tegas Isabella menolak.


" Kamu belum sarapan, kan? Aku temani kamu makan di kantin. Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Ayolah!" Dengan gerakan kepala, Rivaldi menyuruh Isabella keluar dari kamar Rizal.


Isabella melirik tajam ke arah Grace yang juga sedang menatapnya dengan sorot mata menghujam. Isabella langsung memutus pandangan lalu menggenggam tangan Papihnya.


" Pih, Bella tinggal sebentar, ya!?" Setelah ijin pada Rizal, Isabella akhirnya menuruti apa yang diminta oleh Rivaldi.


Grace mendengus nafas kasar setelah kepergian Isabella. Grace kini duduk di tepi brankar Rizal.


" Pih, kapan Papih mau bangun, sih? Anak Papih itu jadi salah paham lagi sama aku!" Grace memberengut karena tuduhan Isabella yang menduganya selingkuh, padahal dia baru aja melewati peristiwa menyeramkan.


" Pih, aku sudah membalaskan dendam Papih. Joe sudah merasakan apa yang Papih rasakan. Walaupun aku tidak tahu kondisinya, apakah dia sadar atau seperti Papih sekarang ini, tapi setidaknya Joe sudah tidak bisa kabur lagi, Pih." Grace lalu merebahkan tubuhnya di samping Rizal dengan posisi menghadap sang suami. Tangannya kini memeluk tubuh Rizal seakan tak rela kehilangan suaminya itu.


" Papih cepat bangun! Aku butuh perlindungan Papih. Hanya Papih yang bisa buat aku lebih tenang." Kini Grace membelai cambang Rizal yang terlihat semakin lebat.


" Kenapa Papih lebih nyaman dengan tidur Papih? Apa Papih sudah tidak ingin hidup bersamaku lagi? Papih bilang Papih ingin melewati hari tua bersamaku, bersama anak-anak kita. Kalau begitu Papih harus bangun, Pih! Mana semangat Papih untuk hidup!?" Grace seketika terisak. Rasa rindu dan takut kehilangan begitu menguat di hatinya. Dia sudah mendapatkan cinta sejati bersama Rizal, dia tidak ingin kehilangan cinta sejatinya itu begitu cepat.


Sementara Rivaldi tidak membawa Isabella ke kantin di rumah sakit. Dia memilih pergi ke restoran yang buka dua puluh empat jam yang kebetulan berada dekat dengan rumah sakit di mana Rizal di rawat.

__ADS_1


" Kamu mau pesan apa?" tanya Rivaldi pada Isabella.


" Aku belum lapar, Kak Aldi saja yang makan!" Isabella menolak tawaran makan dari Ruvaldi.


" Namanya sarapan itu harus, sudah atau belum lapar, perut kamu harus cepat diisi karena kamu harus beraktivitas. Aku sudah makan, sebaiknya kamu cepat pilih menu sarapannya, kasihan Mbak ini sudah menunggu." Rivaldi menoleh ke arah pelayan restoran yang siap mencatat pesanan makanan mereka.


" Saya pesan coffee latte saja, Mbak." Rivaldi sendiri memesan segelas kopi.


" Baik, Mas." sahut pelayan restoran. " Kalau Mbak nya?" Kini pelayan restoran itu bertanya langsung pada Isabella.


" Saya nasi goreng sama air mineral saja, Mbak." Isabella akhirnya memilih menu sarapannya.


" Baik, Mbak. Saya ulang pesanannya, satu porsi nasi goreng, satu botol air mineral sama satu coffee latte. Ada tambahan?" Pelayan restoran mengulang pesanan.


" Sudah, itu saja, Mbak. Makasih." Rivaldi membenarkan pesanan yang dia dan Isabella pesan.


" Aku berharap kamu dan Rena tidak saling berdebat seperti tadi, Bella. Rena baru saja melewati peristiwa yang mempengaruhi emosinya. Aku harap kamu jangan memancing kemarahan Rena kembali." Rivaldi mencoba menasehati Isabella. Di sengaja tidak ingin menyinggung soal perasaan Isabella terhadapnya, karena dia tahu pasti Isabella akan merasa malu


Isabella memalingkan wajah mendegar Rivaldi kembali terkesan memperdulikan Grace, tanpa dia ingin tahu peristiwa apa yang baru saja dihadapi oleh Grace.


" Aku harap juga kamu jangan salah paham terus terhadap kami. Kemarin kami pergi tidak hanya berdua, tapi juga dengan Pak Bondan, sahabat Papih kamu." Rivaldi ingin menjelaskan masalah yang sebenarnya kepada Isabella agar kesalahpahaman mereka tidak terus berlarut-larut.


Isabella kini menoleh ke arah Rivaldi karena mendengar nama Bondan disebut. Dia juga tidak tahu soal apa yang membuat mereka bertiga pergi bersama.


" Kemarin kami menjebak dan menangkap Joe. Rena meminta ikut, karena dia ingin membalaskan apa yang sudah Joe lakukan selama ini kepadanya, kepadamu dan kepada Pak Rizal. Dan ... Rena sudah melakukan apa yang dilakukan Joe kepada Papihmu." Rivaldi menghentikan ceritanya sambil menunggu reaksi dari Isabella.


" Maksud Kak Aldi?" Benar saja, Isabella langsung bereaksi dengan ucapannya. " Apa Grace ..." Isabella sudah membayangkan sesuatu yang buruk saat mendegar cerita Rivaldi soal Grace yang sudah melakukan apa yang dilakukan Joe kepada Papihnya.

__ADS_1


" Ya, Rena meni kam Joe, tepat dibagian Joe meni kam Pak Rizal. Rena bilang itu adalah balasan setimpal atas semua kesalahan yang sudah diperbuat oleh Joe selama ini." Rivaldi memperjelas apa yang sudah dilakukan oleh Grace pada Joe.


Isabella terbelalak hingga menutup mulutnya telapak tangannya, saat mendengar apa yang sudah dilakukan oleh Grace pada orang yang hampir memper kosanya dan mencederai Papihnya.


" Sekarang, apa kamu masih mengatakan jika Rena itu tidak menyayangi kalian?" Rivaldi menunjukkan jika Grace bahkan rela melakukan tindak kejahatan demi menuntaskan kebenciannya pada Joe, karena Joe sudah mengusik anggota keluarganya.


" Lalu bagaimana dengan orang itu? Apa orang itu meninggal?" tanya Isabella, karena jika sampai Joe meninggal, maka Grace akan berurusan dengan polisi karena dianggap telah melakukan pembunuhan berencana.


" Menurut Pak Bondan, semua bisa diatasi. Karena setelah Rena melakukan peni kaman, Pak Bondan menyuruhku membawa Rena, sementara dia yang mengurus Joe," ujar Rivaldi.


" Sejujurnya aku menyesal karena memberitahu rencanaku ingin menjebak pada Rena sehingga akhirnya Rena memaksa ikut, dan akhirnya terjadilah kejadian di luar dugaan ini." Rivaldi masih merasa menyesal dengan keputusannya memberitahu dan memberi ijin pada Grace ikut dalam rencananya.


" Apa Grace akan terkena hukuman, Kak? Karena Grace sudah melakukan tindakan penganiayaan pada orang itu?" tanya Isabella kembali.


" Kami akan berusaha melindungi Rena. Bukan kami bermaksud membenarkan tindakan Rena, tapi kami merasa jika Joe memang pantas mendapatkannya," pungkas Rivaldi menegaskan jika dia dan Bondan akan mengupayakan agar Grace tidak sampai berurusan dengan aparat penegak hukum.


*


*


*


Bersambung ...


Yang kangen Pak Tua harap bersabar ya 😁


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2