TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Ingin Memamerkan Pernikahan


__ADS_3

Sesuai dengan rencana yang sudah dibicara semalam oleh Rizal dan Grace untuk mengunjungi Agatha. Sebelum berangkat ke kantor Rizal, pagi ini mereka berdua menyempatkan diri mampir menemui desainer terkenal di Rumah Mode Agatha, nama usaha Mama dari Grace.


" Pih, aku mau beli kue untuk Mama dulu, ya!? Mama suka banget sama cake tiramisu." Grace meminta suaminya untuk berhenti di sebuah toko kue yang dilewatinya.


Grace ingin mampir ke toko kue untuk membeli tiramisu cake untuk diberikan kepada Mamanya. Garce ingin membeli cake itu untuk Agatha, karena Mamanya mempunyai kegemaran yang sama dalam hal selera makanan.


" Papih mau ini juga?" tanya Grace menunjuk kue yang dia pesan untuk Agatha.


" Tidak," tolak Rizal, karena dia memang tidak terlalu suka cake seperti itu.


" Ini enak lho, Pih.". Grace lalu berbicara pada pelayan toko kue untuk mengambil potongan tiramisu cake yang ada di show case kue.


" Mbak, tambah satu potong tiramisu lagi, sama minta sendok dong, Mbak." Grace ingin menyuruh Rizal mencoba tiramisu cake.


" Notanya mau dijadikan satu, Kak?" tanya kasir yang masih melayani Grace.


" Iya, jadikan satu saja. Sini saya minta yang sepotong tadi, Mbak." Grace meminta potongan terakhir yang dia pesan ke pelayan toko kue.


" Baik, Kak." Setelah bertanya kepada kasir, pelayan itu memberikan potongan tiramisu cake kepada Grace.


" Ini, Papih cicipi dulu!" Grace memotong bagian kecil cake itu lalu menyuapkan ke dekat mulut Rizal. " Ini enak, kok!"


Awalnya Rizal menolak saat Grace menyuapkan postingan kue itu ke mulutnya, namun karena sang istri memaksa, mau tidak mau Rizal membuka mulut dan menerima suapan dari Grace.


" Enak, kan?" Grace membersihkan cream yang menempel di ujung bibir bahkan menyentuh kumis suaminya itu dengan jarinya sembari terkekeh.


" Mau lagi?" Grace menyodorkan kembali potongan kecil cake itu ke mulut Rizal, tapi kali ini Rizal menolaknya.


" Beli untuk di kantor saja, Sayang. Aku sudah kenyang." Rizal memberikan alasan seraya mengusap perutnya. Karena mereka baru sarapan.


" Mbak, aku pesan dua lagi saja cake nya." Grace kembali memesan cake itu kepada palayan toko untuk dimakan oleh Rizal di kantor.


" Baik, Kak." sahut pelayan toko tadi.


" Ini cake favorit aku dan Mama loh, Pih!" Grace akhirnya memasukkan cake yang tadi dia sodorkan kepada Rizal ke dalam mulutnya sendiri dan sengaja meninggalkan cream di bibirnya sen sualnya.


Melihat ada sisa cream di bibir Grace, Rizal pun melakukan hal yang sama, seperti yang Grace lakukan tadi terhadapnya. Rizal mengusap bibir sang istri dengan ibu jarinya.

__ADS_1


Adegan romantis yang dilakukan Rizal dan Grace tentu saja mengundang perhatian orang yang ada di dalam toko kue itu, tak terkecuali para pelayan toko. Mereka saling berbisik. Alasannya sangat jelas, karena perbedaan usia yang terlihat menonjol antara Grace dan Rizal. Meskipun Rizal tampak gagah, berwibawa dan masih terlihat tampan, namun perbedaan usia mereka tidak dapat ditutupi.


" Ada Sugar Daddy sama selingkuhannya ..." seorang berbisik kepada teman lainnya saat Grace selesai membayar cake yang dia beli.


" Biasanya orang seperti itu, habis manis sepah dibuang. Setelah duitnya habis, ditinggalin, deh! Cari Om-om tajir yang baru," sahut sang teman wanita yang tadi berbicara.


Grace langsung menolehkan pandangan ke arah orang yang sedang menggunjingkannya saat itu. Sudah pasti Grace kesal melihat ada orang yang usil kepadanya, padahal dia sendiri tidak usil terhadap mereka.


" Eh, Mbak! Punya mulut itu dijaga! Jangan bisanya nyinyirin orang saja!" Grace menegur kedua orang yang menggunjingkannya.


" Sudahlah, Sayang. Tidak usah dihiraukan!" Rizal merangkul pundak Grace mengajaknya untuk segera keluar dari toko kue.


" Cih, cuma jadi selingkuh saja bangga!" sindir wanita itu lagi, tak terima ditegur oleh Grace.


" Lagipula, kenapa juga kalian berdua yang ribet!? Seandainya aku selingkuhan pun, aku tidak menyusahkan kalian, kok!" Grace memutar bola matanya menghadapi ulah kedua wanita itu yang bermulut usil.


" Atau, mungkin kalian sendiri yang jadi selingkuhan Om-Om, ya!? Jadi menuduh orang seenak jidat kalian sendiri! Asalkan kalian tahu, ya!? Aku ini istri sah, bukan wanita simpanan apalagi pelakor! Cih, kayak tidak laku saja harus jadi wanita simpanan!" Dengan berbangga, Garce menyebut statusnya kepada kedua wanita bermulut pedas tadi.


" Sudahlah, Grace! Tidak ada faedahnya meladeni mereka. Yang penting kita tidak seperti yang mereka pikirkan! Biarkan mereka bermain dengan pikiran buruk mereka! Dosa, mereka yang tanggung sendiri." Rizal lalu mengajak Grace keluar dari toko kue dan meninggalkan dua wanita tadi yang masih saja menggunjingkan Grace juga Rizal.


***


Rizal terkekeh melihat kekesalan Grace sampai mengepalkan kedua tangannya saking kesalnya.


" Kita akan sering mendengar kalimat seperti itu jika bertemu dengan banyak orang yang tidak kita kenal, Grace. Apa kamu siap menghadapinya?" Rizal memastikan apakah Grace sanggup menghadapi setiap cemoohan yang pasti akan mereka dengar.


" Tentu saja aku siap, Pih!" sahut Grace. Dia sudah meyakinkan dirinya sendiri, siap menerima apa pun resikonya bersuamikan Rizal.


" Kalau siap, kenapa kamu tadi terpancing oleh perkataan mereka!" tangan kiri Rizal membelai anak rambut istrinya, sedangkan tangan lainnya sibuk dengan kemudi.


" Habis kesal, Pih! Kayak tidak laku saja, dibilang selingkuhan suami orang!* Grace kembali memutar bola matanya. " Biarpun duda dan usia Papih jauh di atasku, tapi Papi kan waktu itu bukan suami orang dan aku ini bukan selingkuhan Papih! Aku tidak merebut Papih dari siapa pun!" tegas Grace terus menggerutu mengungkap kekesalannya.


" Apa kamu menyesal mempunyai suami pria tua seperiku?" tanya Rizal, masih dengan tangannya yang memainkan anak rambut Grace.


Grace menggelengkan kepalanya. Tentu dia tidak menyesal menikah dengan Rizal. Karena sejujurnya, Rizal membuat hidup Grace lebih berwarna dan bersemangat.


" Aku tidak menyesal, Pih! Tapi sekali-sekali, orang seperti itu mesti kena ton jok tanganku dulu biar tidak terus mencibir." Grace menjawab masih dengan nada kesal. Mungkin jika tidak ada Rizal di sampingnya tadi, kedua wanita itu pasti sudah menjadi korban keke rasan Grace.

__ADS_1


Rizal tertawa mendengar perkataan sang istri. Jiwa bar-bar istrinya itu memang tidak mudah dihilangkan begitu saja meskipun sudah menjadi istrinya. " Sabar, Sayang. Kasihan kalau mereka mendadak masuk UGD gara-gara kena ton jok kamu," ledek Rizal kemudian.


" Kita mau berkunjung ke kantor Mama. Sebaiknya hilangkan wajah memberengutmu itu. Jika Mama tahu kamu merasa kesal karena ada yang memcibir tentang hubungan kita, Mama pasti akan semakin memojokkan kita dan menganggap kamu salah memilih pasangan hidup." Rizal menasehati Grace agar istrinya itu tidak terus memperlihatkan wajah kesalnya yang akan mengundang kecurigaan Agatha.


Dia puluh menit kemudian, Grace dan Rizal sudah sampai di Rumah Mode Agatha. Rizal dan Grace turun dari mobil, lalu berjalan dengan tangan Rizal melingkar di pinggamg Grace dan satu tangan lainnya menjinjing goodie bag berisi tiramisu untuk Mama mertuanya.


" Selamat pagi, Mbak. Apa Ibu Agatha sedang sibuk?" tanya Rizal saat mereka tiba di depan ruang kerja Agatha dan berhadapan dengan Arini, sekretaris Agatha. Karena saat ini Agatha sudah membagi Mama mertuanya, tidak mungkin dia masih memanggil Agatha dengan sebutan Nyonya.


" Pagi, Pak Rizal, Mbak Grace ..." Arini membalas sapaan Rizal. " Ibu baru saja sampai, Pak." Arini menjelaskan kepada Rizal.


" Baik, Mbak. Terima kasih." Rizal lalu membawa Grace masuk ke dalam ruangan Agatha.


Sedangkan pandangan mata Arini masih memperhatikan interaksi in tim antara Rizal dan Grace yang terlihat mesra. Sedikit banyak Arini tahu soal pernikahan Grace dengan Rizal dari selentingan yang dia dengar,


" Dulu Mamanya menikah dengan pria yang jauh lebih muda, sekarang anaknya menikah dengan pria yang lebih tua. Selera orang kaya itu aneh-aneh saja," gumam Arini seraya menggelengkan kepalanya.


" Mam ...."


" Selamat pagi, Bu."


Grace dan Rizal menyapa Agatha saat masuk ke dalam ruang kerja Agatha, membuat pemilik rumah mode itu terkejut melihat kehadiran mereka berdua.


" Kalian? Ada apa kalian kemari?" Agatha bangkit dari kursinya lalu melipat tangan di dadanya. Sepertinya kekecewaan Agatha pada Grace karena bersikeras menikahi dengan Rizal masih belum hilang dari hatinya.


Walaupun Agatha mengakui jika Rizal adalah sosok yang baik, namun Rizal bukan termasuk calon menantu idamannya. Dan hal yang paling menonjol yang membuatnya enggan menerima Rizal tentu saja karena selisih usia Grace dan Rizal yang terpaut sangat jauh.


" Kami hanya datang berkunjung saja, Mam. Setelah aku menikah, aku belum peenah bertemu dengan Mama, kan?" Walau hati kecil Grace merasa kecewa Mamanya itu tidak hadir di acara penting pernikahannya, tapi Grace mencoba untuk tidak mempermasalahkan hal itu. Dan memilih berdamai dengan Mamanya atas nasehat sang suami.


" Apa kamu sengaja ingin memamerkan pernikahanmu pada Mama, Grace!? Apa kamu ingin menunjukkan kepada Mama jika kalian itu bahagia karena menentang Mama?!" ketus Agatha menyindir Grace dan Rizal. Karena dia menduga jika Rizal dan Grace sengaja ingin memamerkan rumah tangga mereka itu di hadapan Agatha, karena pernikahan Grace tidak direstui oleh dirinya.


Agatha mengharapkan jika Rivaldi lah yang lebih cocok mendampingi Garce, dari segi usia juga status ekonomi Rivaldi yang lebih mapan dari Rizal yang hanya seorang penyidik swasta. Pekerjaan yang digeluti oleh suami anaknya itu pun dia anggap terlalu beresiko.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading,❤️


__ADS_2