TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Kejutan Untuk Grace


__ADS_3

Rizal menatap sebuah tempat di seberang jembatan putih di mana saat ini dia dan Sonia terduduk dengan tubuh Sonia bersandar pada bahu kokohnya. Sonia berulang kali mengajaknya melewati jembatan dan memasuki tempat di seberang jembatan itu.


Tempat itu terlihat seperti sebuah negeri di atas awan. Terlihat sangat damai dan penuh ketenangan. Namun, entah mengapa Rizal seperti berat untuk melangkah ke sana.


" Pih, ayo kita pergi ke sana. Di sana kita akan bahagia hidup bersama selamanya," bujuk Sonia dengan suara merdunya.


" Tempat apa itu sebenarnya, Sonia?" Pandangan mata Rizal masih berpusat pada tempat di hadapannya itu.


" Itu adalah tempat keabadian, Pih. Tempat di mana selama ini Mamih menanti Papih datang kemari. Sekarang Papih sudah datang ke sini untuk menemui Mamih, kita akan tinggal di sana selamanya, Pih." Sonia menjelaskan soal tempat di seberang jembatan di hadapan mereka.


Sonia lalu bangkit dari duduknya. Dia mengulurkan tangannya meminta Rizal untuk ikut berdiri dengannya, hingga pria itu pun melakukan apa yang diminta olehnya.


" Kita pergi ke sana, Pih." Sonia menuntun langkah Rizal untuk melewati jembatan itu.


" Tapi, Sonia ...."


" Jangan takut, Pih. Kita akan sampai di Surga." Melihat keraguan pada diri Rizal, Sonia mencoba meyakinkan Rizal dengan menyebutkan jika tempat di depannya adalah Surga, tempat paling didambakan oleh semua orang di dunia.


Rizal berjalan perlahan, walau tetap ada keraguan di hatinya, namun Sonia berhasil meyakinkan Rizal untuk terus menyebrangi jembatan hingga kini dia berada di anak tangga terakhir jembatan itu. Hanya satu langkah lagi maka Rizal tidak akan bisa keluar dari tempat itu.


" Pih! Papih! Tolong aku, Pih!" Sebuah suara terdengar dari arah belakang Rizal seakan menahan langkah Rizal yang ingin masuk ke dalam tempat Sonia menetap selama ini.


" Pih, ayo!" Sonia menarik tangan Rizal untuk turun dari jembatan.


" Papih!" Suara wanita itu terdengar semakin kencang di telinganya, hingga kini dia menolehkan wajahnya ke belakangnya.


Rizal melihat seorang wanita muda dengan seorang bayi menangis di tangannya. Wanita itu hendak menyusulnya, namun ada dua orang pria tak dia kenal menahan dan menghalangi langkahnya menyusul Rizal.


" Papih! Tolong aku, Pih!" Suara wanita itu menangis terus memohon kepadanya untuk menolongnya.


" Oek ... oek ... oek ..." Bahkan tangis bayi yang digendong oleh Grace terdengar semakin kencang seolah terusik dengan sikap dua orang itu.


" Grace?" Rizal seakan tersadar jika wanita itu adalah Grace.


" Pih, ayo! Jangan hiraukan mereka!" Sementara Sonia terus membujuk dan memaksanya turun dari jembatan.


" Pih ... hiks ..." Grace menangis tersedu meminta bantuan darinya.


" Grace ..." Rizal ingin melangkah menolong Grace, namun langkahnya tertahan dengan Sonia yang mencengkram erat lengannya.


" Pih, sekali Papih menjauh, Papih. tidak akan bertemu denganku lagi!" Sonia mengancam membuat Rizal bimbang.


" Lepaskan! Aku ingin bersama suamiku! Papih ...!" Suara teriakan Grace terus saja mengusik hatinya, apalagi saat dia melihat wajah kesedihan Grace seolah memohon bantuan darinya, ditambah dua orang pria yang tidak dikenalnya terus menarik dan membawa Grace menjauh dari pandangannya.


" Grace!" Rizal menepis tangan Sonia lalu berlari ke arah Grace hingga dia kembali turun dari jembatan putih yang akan membawanya menyebrang ke alam yang berbeda.


" Grace! Grace ...!" Rizal berteriak sekuat tenaga karena dia kehilangan Grace saat dia sudah turun dari jembatan itu.


" Kau tidak akan bisa bertemu dengan keponakku kembali, Rizal!" Suara seorang pria pria terdengar dari arah belakang Rizal.


" Pak Daniel? Om, di mana Grace, Pak?" Rizal menghampiri Om Daniel menanyakan keberadaan Grace saat ini.


" Grace dan anaknya akan saya bawa pergi, dan kau tidak akan bisa menemui dia lagi!" Ucapan Om Daniel membuat Rizal membelalakkan mata.


" Anak? Grace punya anak? Anak siapa, Pak Daniel?" tanya Rizal kebingungan.


" Kau bahkan tidak mengakui anakmu sendiri, Rizal! Kau memang tidak pantas untuk keponakanku!" Om Daniel nampak geram, dia bahkan langsung berjalan menjauh dari hadapan Rizal.


" Pak Daniel, di mana Grace? Tolong jangan bawa dia, Pak! Saya mencintai Grace! Pak Daniel ...!" Terakhir Rizal, namun bayangan Om Daniel tiba-tiba menghilang dari pandangannya.


" Grace! Grace ...!" Rizal terus berlari mencari Grace yang entah hilang ke mana.


" Pih, Papih ..." Isabella yang mendengar suara Papihnya menyebut pelan nama Grace langsung menepuk pelan pipi Rizal. Isabella pun melihat kelopak mata Rizal bergerak. Bukan hanya kelopak mata, namun jari-jari tangan Rizal terlihat bergerak lemah.


Melihat reaksi Rizal yang mulai bersuara dan melakukan gerakan membuat Isabella berlari ke luar kamar Grace untuk mencari perawat yang bertugas mengawasi kondisi Rizal sehari-hari.


" Sus! Suster! Papihku sudah sadar!" Teriak Isabella kencang dari pintu kamar Grace. Setelah itu dia kembali ke arah brankar Rizal untuk memastikan jika Papihnya memang benar sudah tersadar. Isabella langsung terbelalak saat melihat Rizal kini sudah membuka matanya.


***

__ADS_1


Rizal membuka matanya. Pandangan yang dilihat saat membuka matanya sangat kabur dan berbayang, membuat dia menutup matanya beberapa saat dan membukanya kembali, kini secara samar dia sudah mulai dapat melihat ruangan tempat dia berada saat ini. Namun, kenapa tidak seperti tadi? Kenapa saat ini dirinya seperti berada di sebuah kamar? Kenapa tidak ada ruangan kosong berwarna putih yang beberapa hari ini dilihatnya? Rizal bertanya-tanya.


" Pih, Papih sudah sadar?" Tak dapat dilukiskan perasaan Isabella saat ini. Dia merasa bahagia dengan kesembuhan Rizal, bahkan air mata pun langsung menetes di pipinya.


Rizal mendapati seorang gadis muda menyebutnya Papih, sama seperti orang Sonia dan juga Grace. Mengingat nama Grace, Rizal teringat jika Grace membutuhkan pertolongannya, karena tadi dia melihat ada orang suruhan Om Daniel yang membawa Grace pergi.


" Grace ..." ucap Rizal menyebut nama Grace kembali.


" Ini aku Bella, Pih. Bella anak Papih," Isabella menyebutkan siapa dirinya.


" Ada apa Mbak Bella? Suster Rita dan para ART langsung masuk ke dalam kamar saat mendengar Isabella berteriak mengatakan jika Rizal sudah tersadar.


" Sus, Papih saya sudah sadar." Isabella mengusap air mata yang membasahi pipinya.


" Ya Allah, Bapak ... Alhamdulillah Bapak sudah sadar, ya, Non?" Bi Tinah langsung memeluk Isabella, karena dia merasa senang mengetahui Rizal sudah siuman, begitu juga dengan Surti dan Bi Saonah yang saling berangkulan merasa haru dan bahagia dengan kondisi majikannya yang sudah nampak kemajuan.


" Saya akan periksa dulu kondisinya, ya, Mbak." Suster Rita lalu mengecek suhu tubuh, tekanan darah dan detak jantung Rizal.


" Pak, apa Bapak bisa mendengar saya?" tanya Suster Rita mencoba mengajak Rizal berkomunikasi, karena pemulihan kondisi pasien setelah koma biasanya terjadi secara bertahap. Ada sebagian dapat sembuh total tanpa ada kecacatan ada pula yang tersadar namun fungsi otak ataupun tubuhnya mengalami penurunan bahkan kelumpuhan.


Rizal melakukan gerakan menganggukkan kepalanya tanda dia dapat merespon ucapan yang dikatakan oleh Suster Rita.


" Bapak bisa mengerakkan kaki, Bapak?" tanya Suster Rita mencoba membantu Rizal menekuk kaki Rizal. Namun kaki Rizal terasa lemas tak bertenaga.


" Sus, kenapa kaki Papih saya seperti itu?" Isabella khawatir jika sampai Papihnya mengalami kelumpuhan, karena melihat Papih tidak dapat menggerakkan kakinya sendiri.


" Itu hal yang biasa terjadi pada pasien setelah sadar dari koma, Mbak Bella. Layaknya orang bangun tidur lama, pasti akan merasakan lemas. Karena saat pasien koma terjadi penurunan kesadaran, tentu butuh waktu untuk pemulihan. Makanya Pak Rizal harus sering melakukan gerakan seperti ini agar bisa pulih seperti sedia kala." Suster Rita menjelaskan.


" Secara kondisi Pak Rizal sudah saya cek, semuanya bagus dan normal. Saya mau menghubungi dokter dulu untuk memberi kabar soal kondisi Pak Rizal yang sudah sadar, Mbak." Suster Rita berpamitan hendak menghubungi dokter yang merawat Rizal selama ini.


" Iya, Sus." sahut Isabella.


" Alhamdulillah, selamat datang kembali, Pak. Kami semua senang Bapak sudah sadar kembali." Bi Tinah dan Surti mendekat ke brankar Rizal. Sementara Bi Saonah keluar bersamaan dengan Suster Rita.


" Pih, Bella senang Papih sudah sadar kembali. Bella takut kalau Papih tidak juga sadar, apalagi Papih selalu memanggil nama Mamih. Bella tidak ingin kehilangan orang yang Bella sayangi lagi, Pih." Isabella kini memeluk dan menyandarkan kepalanya di dada Rizal.


" Be ... lla, Grace ... ma na Grace?" Rizal masih mencari keberadaan Grace karena dia merasakan jika tadi Grace dibawa oleh orang suruhan Om Daniel.


" Grace sedang pergi dengan Kak Vito, Pih. Mereka senang menemui klien yang ingin memakai jasa dari kantor Papih. Grace turun tangan langsung menemui klien, karena kliennya agak rewel ingin bertemu dengan Papih langsung, jadi Grace yang mewakili Papih." Isabella menjelaskan di mana saat ini Grace berada.


" Vi ... to?" tanya Rizal kemudian.


" Iya, Pih. Dengan Kak Vito." Isabella menyahuti.


Rizal menarik nafas lega. Ternyata yang terjadi tidak seperti yang dia bayangkan tadi. Dia merasakan dua kejadian secara bersamaan. Pertama saat dia merasakan kehadiran Om Daniel yang membawa Grace pergi secara paksa dari kamar ini. Lalu saat dia bersama Sonia, dia pun melihat dua orang tidak dikenal membawa Grace pergi. Dari dua kejadian itu, Grace selalu berteriak memanggil dan meminta bantuannya.


" Non, mungkin Papih Non kangen sama Non Grace. Sebaiknya Non cepat hubungi Non Grace dan beritahu keadaan Pak Rizal saat ini pada Non Grace." Bi Tinah menyarankan agar Isabella segeravmemberitahu Grace soal Rizal yang mulai siuman.


" Pih, Papih, kangen sama Grace, kan? Grace juga pasti senang kalau tahu Papih sudah sadar. Sebentar, Bella telepon Grace dulu, ya, Pih?" Isabella lalu mengambil ponsel yang tadi dia letakan di nakas untuk segera menghubungi Grace.


***


" Bagaimana, Pak Denny? Apa Anda masih berminat menggunakan jasa kami dalam mengatasi kasus Anda?" tanya Grace pada Denny,calon klien yang ingin menggunakan jasa dari kantor Rizal.


" Anda tidak perlu merasa khawatir, kami dapat mengatasi kasus yang Anda hadapi. Jika Pak Denny tidak puas dengan kinerja kami, Pak Denny tidak perlu membayar jasa kami ini." Grace bahkan siap tidak dibayar atas jasa yang dikerjakan anak buah Rizal jika sampai pekerjaan mereka tidak sampai membuahkan hasil.


Denny menatap ke arah wanita cantik di hadapannya saat ini. Wanita muda yang sangat menarik menurutnya. Dia bahkan tidak menyangka saat Vito mengenalkan Grace sebagai istri dari Rizal, karena perbedaan usia yang sangat terlihat jelas antara Rizal dengan Grace.


" Baiklah, saya akan menggunakan jasa dari kantor suami Anda, Nona." Akhirnya Pak Denny sepakat menggunakan jasa dari kantor Rizal untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi olehnya.


" Baik, Pak Denny. Secepatnya kami akan membuat perjanjian kesepakatan ini. Nanti jika sudah jadibakan saya email ke Denny." Vito merespon cepat ucapkan Denny.


" Tidak udah kirim email. Besok saya akan ke kantor Pak Rizal saja untuk langsung menandatangani kesepakatannya." Jika hanya melalui email, sudah pasti Denny tidak akan bertemu kembali dengan Grace. Namun, kalau dia datang langsung ke kantor Rizal, kemungkinan besar dia bisa bertemu kembali dengan Grace.


" Jika itu keinginan Pak Denny, baiklah, kami akan segera siapkan surat perjanjiannya," jawab Vito.


" Oh ya, kalau boleh saya tahu, sebenarnya Pak Rizal itu sakit apa, Nona?" tanya Pak Denny kepada Grace.


" Pak Rizal baru saja menjalani operasi dan saat ini masih dalam masa pemulihan, Pak Denny." Vito yang menjawab pertanyaan Denny, namun tidak mengatakan jika kondisi Rizal saat ini sedang tidak sadarkan diri hingga hampir satu bulan lamanya.

__ADS_1


" Oh, begitu." Denny menganggukkan kepalanya tanda mengerti.


" Jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, kami pamit dulu, Pak Denny." Merasa sudah tidak ada yang dibicarakan seputar masalah pekerjaan, Grace berniat berpamitan.


" Sepertinya Nona terburu-buru sekali. Anda bahkan belum menghabiskan makanan yang Anda pesan, Nona." Denny nampak keberatan dengan niat Grace yang ingin berpamitan.


" Maaf, Pak Denny. Saya hanya mengurus dan menjaga suami saya." Grace beralasan jika dirinya hendak menemani Rizal.


" Oh ya, di rumah sakit mana Pak Rizal dirawat, Nona? Mungkin nanti saya bisa membesuk beliau jika ada kesempatan." Sepertinya Denny sedang mencari-cari cara untuk dapat terus bertemu dengan Grace.


" Suami saya sudah pulang ke rumah, Pak Denny. Terima kasih atas perhatiannya." Grace mulai merasa jika Denny sengaja menghalangi dirinya yang ingin berpamitan dengan mengajak berbincang-bincang.


" Maaf, Pak Denny. Saya harus kembali ke rumah." Grace langsung bangkit dan mengulurkan tangannya pada Denny. " Terima kasih sudah memilih jasa kami untuk mengatasi masalah Anda. Kamu permisi dulu. Ayo, Vito." Setelah bersalaman dengan Denny, Grace lalu mengajak Vito untuk segera meninggalkan restoran tempat mereka bertemu dengan Denny.


" Sepertinya Pak Denny menyukai Ibu. Jika Pak Rizal sampai tahu, saya akan kena amuk Pak Rizal, karena sudah mengenalkan Ibu pada Pak Denny." Vito tertawa kecil, membayangkan jika bosnya itu tersadar dan mengetahui jika dirinya seolah mengumpan Grace untuk mendapatkan klien.


" Dasar pria hidung belang!" Umpat Grace. Sebenarnya dirinya juga merasa kesal karena selama pertemuan tadi, mata Denny selalu menatap lekat wajahnya.


" Saya rasa, alasan dia ingin datang ke kantor besok adalah agar dapat bertemu dengan Ibu." Vito bahkan dapat menebak jika niat Denny datang ke kantor Rizal hanya alasan supaya dapat berjumpa dengan Grace kembali. " Sebaiknya nanti Ibu tidak perlu datang ke kantor lagi," lanjutnya.


" Apa dia akan berubah pikiran kalau aku tidak ada di kantor, Vito?" Tanya Grace.


" Sebaiknya aku ada sana saat penandatanganan kesepakatan. Lagipula, aku rasa dia tidak mungkin berbuat macam-macam di kantor, Vit. Tapi setelah tanda tangan, aku langsung pergi agar dia tidak mesti meladeni dia berbincang." Grace mempunyai rencana sendiri.


" Jika menurut Ibu memang lebih baik seperti itu, saya akan mengikuti saja." Vito menimpali.


Ddrrtt ddrrtt


Grace mengambil ponselnya yang tiba-tiba berbunyi. Dia lalu mengambil ponsel yang ada di tas nya untuk mengetahui siapa yang menghubunginya.


" Bella?" Grace segera mengangkat panggilan telepon dari Isabella. Karena dia khawatir terjadi sesuatu pada Rizal.


" Assalamualaikum, ada apa, Bel?" Tanya Grace saat mengangkat panggilan telepon dari Isabella.


" Waalaikumsalam. Grace, apa kamu sudah selesai bertemu dengan klien nya?" tanya Isabella.


" Iya, aku baru saja keluar mau arah pulang. Ada apa memangnya, Bel?" Kembali Grace menanyakan apa yang membuat Isabella menghubunginya.


" Ya sudah, sebaiknya kamu segera pulang, Grace."


" Ada apa, Bel? Apa terjadi sesuatu pada Papih? Grace semakin penasaran karena Isabella tidak juga menjelaskan Rizal yang sudah tersadar.


" Nanti kamu akan tahu sendiri, Grace."


Grace merasakan ada yang ditutupi soal Rizal oleh Isabella, namun saat mendengar kalimat yang diucapkan Isabella tak terdengar nada kecemasan, dia merasa tidak ada hal buruk yang menimpa suaminya itu.


" Ya sudah, aku sedang meluncur pulang. Assalamualaikum ..." Grace ingin mengakhiri sambungan teleponnya.


" Waalaikumsalam ..." Suara Isabella masih sempat terdengar sebelum sambungan telepon mereka benar-benar terputus.


" Ada apa, Bu? Apa terjadi sesuatu pada Pak Rizal?" tanya Vito yang sempat mendengar Grace menerima telepon dari Isabella.


" Bella menyuruh aku cepat pulang, Vit." sahut Grace. " Tapi dia tidak mau menjelaskan ada apa?" lanjutnya.


" Ya sudah, kita segera ke sana." Vito hendak mempercepat laju kendaraannya, saat tiba-tiba ponselnya berbunyi.


Vito mengambil ponselnya saat melihat sebuah pesan masuk dari Isabella. Keningnya berkerut saat mengetahui lsabella mengirimkan pesan padanya, karena Isabella baru saja menelepon Grace.


" Kak Vito, Papih sudah sadar, tapi jangan bilang Grace dulu. Ini akan jadi kejutan buat Grace. Jadi Kak Vito bawa mobilnya janga terlalu ngebut."


Vito menarik nafas lega mengetahui kabar dari Isabella. Sepertinya Isabella sengaja mengirim pesan kepadanya, takut dia akan kencang membawa mobil karena pasti Grace akan menyuruhnya agar cepat sampai di rumah.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❤️


__ADS_2