
Grace menatap Isabella yang memberikan pertanyaan cukup ketus, menanyakan apa yang sedang dia lakukan di ruangan kerja Rizal.
" Kamu? Apa yang kamu lakukan di ruang kerja Papihku!?"
Namun, Grace tak berniat meladeni pertanyaan bernada ketus Isabella. Dia memilih berlalu dari hadapan Isabella. Karena dia yakin, jika diladeni, urusannya akan semakin panjang.
" Pih, kenapa dia masuk-masuk ruangan Papih, sih!? Bella 'kan sudah bilang supaya Papih tidak dekat-dekat dengan wanita itu! Kenapa Papih masih saja berduaan di ruangan ini sama dia!?" protes Isabella terlihat kesal karena dia merasa Rizal melanggar janjinya untuk menjauh dari Grace.
" Sayang, jangan marah-marah seperti itu. Tidak enak terdengar sama karyawan Papih." Rizal mendekati Isabella dan merangkul putrinya lalu membawa Isabella duduk di sofa.
" Dia mau apa tadi di sini, Pih? Dia rayu-rayu Papih lagi?" selidik Isabella curiga.
" Tidak, Sayang. Kamu jangan berprasangka buruk terhadap Grace seperti itu." Rizal mencoba menenangkan Isabella yang terlihat emosi.
" Papih membela dia? Pasti Papih sudah terpengaruh sama wanita itu!" Isabella memberengut kesal karena menganggap Rizal lebih membela Grace daripada dia sebagai anak dari Rizal.
" Tidak seperti itu, Sayang. Papih tidak membela siapa-siapa. Papih hanya ingin kamu tidak menuduh orang tanpa ada bukti yang jelas." Rizal membelai kepala putrinya. Inilah alasannya dia menolak permintaan Grace untuk mengakui perasaannya terhadap Garce di hadapan Isabella. Karena dia yakin akan ada keributan di kantornya saat itu juga.
" Nanti kita bicarakan hal ini di rumah. Sekarang, ada apa Bella kemari?" Rizal mengalihkan topik pembicaraan agar Isabella tidak terus membahas soal Grace.
" Bella tadi menabrak mobil orang, Pih." Isabella yang awalnya terlihat menggebu-gebu karena emosi seketika tertunduk menyampaikan alasannya datang ke tempat Papihnya.
" Menabrak? Kamu tidak apa-apa, kan? Lalu bagaimana dengan yang ditabrak? Apa ada korban jiwa? Bagaimana kondisinya sekarang? Di mana kejadiannya?" Rizal seketika cemas mengetahui peristiwa yang baru saja menimpa Isabella, hingga dia memberondong pertanyaan pada putrinya itu.
" Tadi tidak jauh dari kampus, Pih. Orangnya tidak apa-apa. Tapi, bagian belakang mobilnya penyok, Pih. Dan, mobil itu mobil mewah. Orang itu minta ganti untuk biaya perbaikan mobil mewahnya." Isabella menjelaskan.
" Lalu bagaimana dengan mobil yang kamu tabrak itu?" tanya Rizal kembali.
" Mobilnya dibawa ke bengkel. Tapi, KTP sama SIM Bella diminta sama orang itu, Pih." Isabella menggigit bibirnya menceritakan apa yang diminta korban darinya.
" Kamu punya nomer kontak orang itu?"
Isabella menggelengkan kepalanya. Dia tidak sempat memikirkan soal nomer telepon si korban karena dia terlebih dahulu diselimuti rasa takut dan kalut.
" Ya ampun, Bella. Kenapa kamu tidak minta nomer telepon orang itu? Lalu sekarang bagaimana Papih bisa mengurusnya? Dan kenapa kamu tidak langsung menghubungi Papih saat kejadian tadi?" Rizal menyesalkan sikap Isabella yang tidak cepat tanggap meneleponnya saat kecelakaan itu terjadi.
" Bella kalut, Pih. Bella juga takut lihat orang itu marah." Bola mata Isabella sudah dibanjiri cairan bening yang siap tumpah di pipi mulusnya.
Melihat putrinya tertekan, Rizal langsung memeluk Isabella. Dia merasa bersalah karena dia juga menyalahkan Isabella hingga Isabella terlihat sedih saat ini.
" Maafkan Papih, Sayang. Nanti Papih urus soal itu." Rizal berusaha menenangkan Isabella yang terisak didadanya. " Nanti Papih akan suruh orang mencari rekaman cctv untuk mengetahui mobil yang kamu tabrak itu. Lalu kita akan mencari siapa pemiliknya agar bisa diurus untuk biaya perbaikannya agar KTP dan SIM kamu bisa kembali." Rizal mengurai pelukannya di tubuh Isabella. " Sekarang ini Papih harus bertemu dengan klien. Kamu ikut Papih. Tapi, kamu tunggu di mobil sambil menunggu soal laporan rekaman cctv. Setelah dari sama kita cari pemilik mobil itu." Rizal yang sudah mempunyai janji bertemu Rivaldi siang ini, tentu tidak bisa membatalkan pertemuannya begitu saja. Sehingga dia terpaksa menemui Rivaldi terlebih dahulu sebelum menyelesaikan masalah yang menimpa putrinya.
Satu jam sebelumnya ...
Isabella mengendarai mobilnya menuju arah rumahnya. Dia sengaja pulang lebih cepat dan tidak mengikuti jam mata kuliah berikutnya karena tiba-tiba perutnya terasa tidak enak.
Ddrrtt ddrrtt
Isabella melihat ponselnya berbunyi. Dan saat dia lihat ternyata Fauziah yang menghubungi. Isabella segera mengangkat panggilan telepon dari sahabatnya itu.
" Assalamualaikum, ada apa Zie?" tanya Isabella menjawab panggilan masuk dari Fauziah.
" Waalaikumsalam. Bel, kamu di mana?" tanya Fauziah.
" Aku ijin pulang, Zie. Perut aku sakit banget, deh." sahut Isabella.
" Maag kamu kambuh?"
" Sepertinya begitu, Zie."
" Oh, ya sudah ... cepat minum obat dan jangan telat makan!" Fauziah menasehati. " Hati-hati bawa mobilnya, Bel Assalamualaikum ..." Fauziah pun berniat mengakhiri percakapannya dengan Isabella.
" Iya, Zie. Waalaikumsalam ..." Isabella mematikan ponselnya dan memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.
Braaakkk
" Astaghfirullahal adzim ...!" Karena kelalaian Isabella tidak fokus terhadap jalan di hadapannya membuat mobil yang dikendarainya menabrak mobil lain yang ada di hadapannya.
Isabella menaikan pandangan dan menatap benda di depan yang baru saja dia tabrak. Tak lama seseorang keluar dari mobil yang baru saja ditabraknya. Seorang pria tampan, dan pria itu memperhatikan bagian belakang mobil miliknya tak lama pria itu menghampiri mobil milik Isabella.
__ADS_1
Tok tok tok
Isabella yang ketakutan langsung membuka pintu mobilnya.
" M-maaf, Kak. S-saya tadi tidak liat mobil Kakak." ujar Isabella terbata karena dia dihinggapi rasa syok dan takut.
" Tidak lihat? Kamu mengendarai mobil dan kamu bilang tidak melihat mobil di depan kamu!?" Pria itu terlihat geram dengan jawaban Isabella.
" Maaf, Kak. Tadi saya ... saya sedang terima telepon," aku Isabella jujur.
" Kamu tahu, kelalaian kamu itu bisa berakibat fatal! Untung hanya mobil, bagaimana jika kamu menabrak orang dan orang itu meninggal!?" Pria yang menjadi korban Isabella menegur Isabella karena menganggap Isabella melakukan kesalahan fatal.
" Maaf," lirih Isabella dengan menundukkan kepalanya.
" Mana KTP sama SIM kamu?" Pria itu meminta identitas Isabella. " Jangan-jangan kamu tidak punya SIM lagi!" ketusnya kemudian.
Karena merasa takut, akhirnya Isabella mengeluarkan dompet untuk mengambil KTP dan juga SIM lalu menyerahkan kedua identitasnya kepada pria itu.
Pria itu lalu menerima kedua kartu tanda pengenal milik Isabella.
" Apa benar kamu tinggal di sini?" tanya pria itu memperhatikan KTP dan SIM milik Isabella.
" Iya, Kak."
" Baiklah, nanti billing perbaikan mobil saya akan saya kirim ke alamat ini." Setelah mengatakan hal tersebut, pria itu kemudian berlalu meninggalkan Isabella yang terlihat masih syok karena kejadian tadi.
***
" Kamu tunggu di sini sebentar. Papih tidak akan lama." Di parkiran kantor PT. Abadi Jaya, Rizal meminta Isabella untuk menunggu di mobil selama dirinya menemui Rivaldi.
" Iya, Pih." sahut Isabella. Rasa syok dan takut karena kejadian tadi membuat sakit perut yang dia rasakan seketika hilang.
Setelah berpesan kepada Isabella, Rizal pun turun dari mobil lalu masuk ke dalam kantor milik Rivaldi.
" Selamat siang, Pak Rivaldi." Rizal menyapa Rivaldi saat dia masuk ke dalam ruangan kerja Rivaldi.
" Selamat siang, Pak Firman. Mari, silahkan ..." Rivaldi mempersilahkan Rizal untuk duduk di sofa.
" Oh ya, Nona Rena tidak ikut kemari, Pak Firman?" Rivaldi menyebut Nona, karena dia menduga jika Rizal tidak tahu jika dirinya dan Grace sudah beberapa kali berjumpa tanpa sepengetahuan Rizal.
" Sudah beberapa hari ini Nona Rena tidak datang ke kantor. Dihubungi juga susah sekali. Pesan yang saya kirim pun masih terpeding sampai sekarang belum terkirim ke ponselnya. Maklumlah, Pak Rivaldi. Anak bos, suka moddy an." Rizal menjelaskan apa yang terjadi dengan Grace.
" Hmmm, begitu, ya?" Rivaldi mengerutkan keningnya. " Oh ya, bagaimana, Pak Firman? Apa sudah ada keputusan tentang rencana kerjasama perusahaan kita?" tanya Rivaldi kemudian.
" Kami sudah diskusikan dengan atasan kami, Pak Rivaldi. Perusahaan kami memang sangat berminat melakukan kerja sama dengan perusahan Bapak. Tapi, kami ingin tahu, bagaimana soal pembayarannya, Pak Rivaldi? Karena selama kami bekerjasama dengan rekanan bisnis kami yang sekarang, setiap suplai barang yang dikirim ke perusahaan kami, pembayarannya dengan cara tempo kisaran enam puluh sampai tujuh puluh lima hari dari tanggal pembelian. Apa di Abadi Jaya juga bisa seperti itu?" Rizal melakukan penawaran atas produk yang akan dipesannya dari perusahaan milik Rivaldi.
" Di mitra bisnis Langgeng sebelumnya, biarpun pembayarannya cukup lama, tapi harganya mahal 'kan, Pak Firman? Sedangkan di tempat kami lebih murah. Kalaupun tempo, mungkin hanya satu bulan saja, Pak Firman." Rivaldi menjelaskan keunggulan soal harga di tempatnya.
" Apa tidak bisa disamakan saja, Pak Rivaldi? Agar perusahan kita bisa bekerja sama. Anda juga pasti tahu bagaimana reputasi perusahaan kami, kan? Walaupun pembayarannya lama, tapi pembayaran kami lancar." Rizal tetap pada pendiriannya. Tentu saja tujuannya agar tidak terjadi kesepakan antara Langgeng Putra Persada dan Abadi Jaya.
" Nanti kami akan pertimbangkan terlebih dahulu, Pak Firman. Saya tidak bisa memutuskan sekarang. Karena harga yang sudah kami tawarkan sudah sangat murah." Rivaldi masih berpikir ulang untuk menyetujui permintaan Rizal tadi.
" Tidak apa-apa, Pak. Mungkin Anda juga perlu mempertimbangkan beberapa hal agar kesepakatan ini bisa terjalin." sahut Rizal.
" Kalau begitu saya pamit dulu, Pak Rivaldi. Saya tidak bisa berlama-lama, karena ada tugas lain yang harus saya kerjakan." Rizal berpamitan.
" Baiklah, Pak Firman." Rivaldi pun ikut bangkit dan mengantar Rizal ke pintu ruangannya.
" Saya permisi dulu, Pak Rivaldi. Terima kasih sudah meluangkan waktu. Semoga Anda bisa segera mengambil keputusan."
" Baik, Pak Firman. Secepatnya saya akan mengambil keputusan," sahut Rivaldi.
" Pih ...."
Rizal terkesiap saat mendengar suara Isabella ditambah kemunculan putrinya itu dari sofa tunggu di depan ruang kerja Rivaldi.
" Bella? Kenapa kamu di sini?" Rizal terkejut karena ternyata Isabella sudah berada di dalam kantor Abadi Jaya.
Flash back on
__ADS_1
Isabella merasa jenuh menunggu lama, hingga membuatnya keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kantor Abadi Jaya.
" Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya security saat melihat kemunculan Isabella.
" Hmmm, saya mau menyusul Papih saya. Tadi dia kemari untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan ini. Papih saya berkumis dan bercambang, Pak." Isabella lalu menunjukkan foto Rizal dari ponselnya kepada security itu.
" Oh, tamunya Pak Rivaldi, ya? Silahkan masuk saja, Mbak. Ada di lantai lima. Bilang saja ke karyawan di sana mau ke ruangannya Pak Rivaldi." Security yang tadi menerima Rizal langsung mengarahkan Isabella menuju ruangan Rivaldi.
" Terima kasih, Pak." Isabella kemudian berjalan ke arah lift untuk menuju ruangan Rivaldi.
Sesampainya di lantai di mana ruang kerja bos PT. Abadi Jaya berada, Isabella bertemu dengan sekretaris Rivaldi.
" Permisi, Mbak. Saya sedang menunggu Papih saya yang sedang menghadap Pak Rivaldi." Isabella memperkenalkan dirinya kepada sekretaris Rivaldi.
" Oh, anaknya Pak Firman, ya? Silahkan ditunggu saja dulu, Mbak." Sekretaris Rivaldi mempersilahkan Isabella untuk duduk menunggu di sofa.
Flashback off
" Bella jenuh menunggu di mobil, Pih." Isabella menyebutkan alasannya. Namun, matanya mengarah kepada sosok Rivaldi di hadapan Rizal. Seketika itu juga bola matanya melebar, karena pria di hadapannya saat ini adalah pria yang tadi mobilnya dia tabrak.
" Kamu?" Rivaldi pun mengenali Isabella. " Sedang apa kamu di sini?" tanya Rivaldi dengan tatapan serius.
" Pak Rivaldi kenal dengan putri saya?" Rizal terkejut karena ternyata Rivaldi mengenal Isabella.
" Dia ini putri Anda, Pak Firman?" Rivaldi pun sana terkejutnya dengan Rizal mengetahui jika Isabella adalah putri dari Rizal.
" Benar, Pak Rivaldi. Dia ini putri saya satu-satunya. Tadi saat ingin kemari, dia datang ke kantor saya dan melaporkan jika dia baru saja terkena musibah menabrak mobil orang." Rizal menjelaskan soal Isabella dan peristiwa yang baru dialami oleh putrinya.
" Oh, saya tidak tahu jika dia adalah putri Anda, Pak. Kebetulan mobil yang dia tabrak tadi adalah mobil saya, Pak Firman." Rivaldi menjelaskan bagaimana dia bisa mengenali Isabella.
" Benarkah?" Rizal kembali terperanjat, dia lalu menoleh ke arah Isabella. " Benar begitu, Sayang?" tanya Rizal kepada Isabella. Dia tidak menyangka jika mobil yang Isabella tabrak adalah mobil milik Rivaldi.
" I-iya, Pih." Isabella menganggukkan kepalanya.
" Saya minta maaf soal mobil Anda dan kelalaian putri saya, Pak Rivaldi. Soal kerusakan dan biaya perbaikan biar saya yang tangani nanti." Rizal bersedia menanggung kerugian akibat kelalaian Isabella.
" Oh, tidak usah, Pak Firman. Jika dia ini anak Pak Firman. saya tidak masalah dengan biaya perbaikan mobil saya. Sebentar, Pak Firman." Rivaldi masuk ke dalam ruangannya untuk mengambil sesuatu dan kembali keluar ruangannya menemui Rizal dan Isabella.
" Ini KTP dan SIM kamu. Lain kali hati-hati jika berkendaraan." Rivaldi menyerahkan kartu identitas milik Isabella.
" Terima kasih, Kak." ucap Isabella menerima kartu identitasnya kembali dari Rivaldi.
" Sekali lagi saya minta maaf atas keteledoran putri saya ini, Pak Rivaldi." Rizal yang merasa tak enak hati kembali menyampaikan permohonan maafnya kepada Rivaldi.
" Tidak apa-apa, Pak Firman." sahut Rivaldi melirik ke arah Isabella yang langsung menundukkan wajahnya.
" Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak Rivaldi. Permisi ..." Rizal kembali berpamitan kepada Rivaldi kemudian merangkul pundak Isabella lalu berjalan ke arah pintu lift.
Saat menunggu di depan lift, Isabella sempat menoleh ke arah Rivaldi. Namun, pria itu sudah lebih dulu masuk ke dalam ruangan kerjanya.
" Pih, kenapa orang tadi menyebut nama Pak Firman?" Setelah sampai di mobil, Isabella menanyakan soal nama yang disebut oleh Rivaldi.
" Papih sedang melakukan penyamaran, Sayang. Untung saja KTP sama SIM kamu sudah dikembalikan. Semoga saja dia tidak sampai mengcopy KTP sama SIM kamu itu." Rizal berharap Rivaldi tidak terlalu ingat dengan identitas Isabella.
" Memangnya kenapa, Pih? Orang itu siapa sebenarnya?" tanya Isabella penasaran.
" Dia itu orang licik. Sebaiknya kamu tidak berhubungan lagi dengan dia."
" Dia orang jahat? Tapi, dia terlihat baik tadi saat bicara sama Papih. Dan ... tampan juga wajahnya." Isabella tidak merasa jika Rivaldi seperti orang yang jahat, apalagi jika melihat penampilan charming Rivaldi.
" Kau belum tahu siapa dia yang sebenarnya, Bella. Dia tidak sebaik penampilannya!" Rizal memperingatkan Isabella.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Yang belum mampir di novel Skandal Video Masa Lalu ditunggu kehadirannya di sana. Yuk, bantu ramaikan novelnya Indhira & Bagas. Makasih 🙏
Happy Reading❤️