TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Bergabung Dengan Rencana Rivaldi


__ADS_3

Setelah dari rumah sakit, Grace segera pergi ke rumah suaminya. Dia ingin berbicara dengan Isabella secepatnya. Isabella sendiri mendapat tugas jaga malam hari di rumah sakit bersama Surti.


" Assalamualaikum ..." Grace mengucap salam saat membuka pintu rumah sang suami,


" Waalaikumsalam ... Non Grace? Ada apa, Non?" Surti kaget saat melihat kedatangan Grace. Karena selama Rizal di rawat, Grace tidak pernah pulang ke rumah itu. Bahkan saat dilarang berlama-lama di rumah sakit pun, Grace lebih memilih menyewa apartemen terdekat dari rumah sakit daripada pulang ke rumah milik Rizal dengan alasan agar lebih cepat kembali ke rumah sakit.


" Bella sudah datang, Bi?" Grace bertanya keberadaan Isabella sambil berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Isabella.


" Non Bella sedang istirahat, Non. Buat persiapan nanti malam menjaga Papihnya di rumah sakit," jawab Surti.


" Oh, ya sudah." Grace terus melangkah menuju kamar Isabella, seakan tidak memperdulikan apa yang dikatakan Surti jika Isabella sedang beristirahat Bukannya dia tidak kasihan kepada Isabella, namun dia ingin urusannya segera selesai, karena dia harus mampir ke rumahnya dulu sebelum kembali ke apartemennya.


Tok tok tok


" Bel! Aku Ingin bicara sebentar. Apa aku boleh masuk?" Grace mengetuk pintu kamar Isabella.


" Bel ...!" Kembali Grace memanggil nama Isabella. Hingga tak berapa lama pintu kamar Isabella terbuka.


Terlihat wajah Isabella yang terbangun dari tidur, saat pintu kamar Isabella terbuka.


" Sorry aku ganggu waktu istirahat kamu, Bel. Ada yang ingin aku diskusikan dengan kamu." Grace langsung masuk ke dalam kamar Isabella tanpa menunggu persetujuan dari Isabella. Matanya langsung mengarah kepada figura besar di mana foto Rizal dengan Sonia terpampang. Hati Grace berdebar kencang melihat foto wajah Sonia dengan lirikan mata tajam dan senyum tipis yang seolah mengejek dirinya.


" Ada apa, Grace?"


Suara Isabella seketika membuat Grace terkesiap dan memutus pandangan dari figura foto Rizal dan Sonia itu.


" Bel, aku sudah konsultasi dengan dokter soal kondisi Papih ..." Grace berjalan ke arah tempat tidur Isabella dan duduk di tepinya.


" Papih kenapa, Grace?" Isabella menanggapi dengan serius perkataan Grace, dengan jantung berdebar-debar takut terjadi hal buruk dengan Papihnya.


" Papih masih dalam kondisi yang stabil. Secara medis, kondisi Papih sudah semakin membaik, tinggal menunggu kapan Papih akan terbangun dari tidur panjangnya." Grace menjelaskan, karena dia melihat wajah Isabella terlihat khawatir.


" Aku memutuskan untuk membawa Papih untuk pulang dan dirawat di rumah saja, agar kita bisa fokus mengurus Papih tanpa harus pulang pergi ke rumah sakit," sambungnya.


" Membawa Papih pulang? Apa itu aman untuk kesehatan Papih, Grace?" Isabella masih khawatir Papihnya tidak akan bertambah baik jika dirawat di rumah.


" Dokter Peter bilang tidak apa-apa, asalkan peralatan medis untuk Papih dirawat bisa disediakan dan kondisi kamarnya disesuaikan dengan kamar rawat Papih selama ini. Nanti kita akan membayar perawat khusus untuk membantu mengurus Papih di rumah. Dokter Peter juga nanti akan rutin kontrol kondisi Papih." Grace berusaha meyakinkan Isabella jika yang diputuskannya sudah atas rekomendasi Dokter yang menanggani Rizal selama dirawat di rumah sakit.


" Ya sudah, kalau memang itu yang terbaik untuk Papih, aku terserah kamu saja, Grace." Isabella tidak punya pilihan lain selain mengikuti apa yang diputuskan oleh Grace. Dia juga merasa tenang jika Papihnya dirawat di rumah. Setidaknya dia setiap saat bisa melihat Papihnya walaupun Papihnya itu hanya tertidur.


" Oke kalau kamu setuju. Lusa rencananya Papih akan dipindahkan ke rumahku. Karena aku juga mesti mempersiapkan kamar buat Papih dirawat di sana." Grace menerangkan kapan rencana Rizal akan pulang.


" Di rumahmu? Maksudnya gimana, Grace? Papih pulang ke rumah ini, kan?" Isabella bingung dengan ucapan Grace yang menyebut akan membawa Rizal ke rumah Grace, bukan rumahnya ini.


" Tidak, Bel! Aku akan rawat Papih di rumahku, tidak di sini!" tegas Grace, menepis ucapan Isabella yang bertanya apakah Rizal akan pulang ke rumah milik Rizal ini.


" Memangnya kenapa tidak pulang ke rumah ini saja, Grace?" Terlihat kecewa dari mimik wajah Isabella, saat Grace menyebut akan membawa Rizal pulang ke rumah Grace.


" Karena aku tidak ingin Papih terus terbelunggu dengan kenangan indahnya dengan Mamih kamu, Bel!" Grace menyebut alasannya memilih rumahnya dibandingkan rumah Rizal untuk merawat Rizal.


" Apa maksud kamu, Grace!?" Dengan mata menyipit hingga kedua alisnya saling bertautan, Isabella nampak tidak menyukai tindakan Grace yang seolah membenci Sonia.


" Kamu ingin membuat Papih melupakan semua soal Mamih aku, karena sekarang ini kamu istri Papih aku, begitu!?" Bahkan Isabella langsung menghardik Grace, karena dia beranggapan Grace berniat jahat, apalagi saat ini dia tahu Grace sedang hamil. Dia berpikir Grace berniat menguasai Papihnya.


" Papih dua kali mengigau menyebut nama Mamih kamu, Grace! Bi Tinah yang pertama kali mendengar Papih menyebut nama Mamih kamu kemarin. Silahkan kamu tanya sendiri pada Bibi, benar atau tidak ucapanku ini. Kedua, aku sendiri tadi yang mendengarnya. Bi Tinah bilang, jika orang sakit didatangi orang yang sudah tiada, kemungkinan dia diajak orang yang sudah meninggal itu untuk ikut ke alamnya." Grace menjelaskan secara detail penyebab dia memutuskan membawa Rizal ke rumahnya.


Isabella yang awalnya memicingkan mata kini membulatkan matanya dengan sempurna mendengar penjelasan Grace soal Papihnya yang menyebut nama Mamihnya.


" Aku tidak ingin Papih dibawa oleh Mamih kamu, Bel! Aku tidak rela Mamih kamu membawa Papih pergi dari kita! Papih harus bertahan hidup demi kita. Karena kita butuh Papih!" Cairan bening mulai mengembun di bola mata Grace, sementara pipi Isabella sudah dibasahi oleh air mata lebih dulu.

__ADS_1


" Papih ..." Isabella bahkan sudah mulai terisak sedih mengetahui kemungkinan terburuk yang bisa terjadi.


" Aku harap kamu dapat mengerti, Bel. Aku mengambil keputusan ini demi kebaikan kita. Demi kesembuhan Papih! Aku tidak berniat menguasai Papih karena aku membawa Papih pulang ke rumahku. Aku hanya tidak ingin Papih pergi meninggalkan kita. Kamu bisa ikut tinggal di rumahku. Di sana ada tiga kamar yang kosong. Sementara ini kita tinggal di rumahku dulu sampai Papih benar-benar sadar. Kita sama-sama mengurus Papih di sana." Grace merangkul Isabella hingga kini mereka berdua saling terisak dan saling berpelukan beberapa saat. Grace juga berniat mengajak Isabella untuk tinggal di rumahnya bersama-sama merawat Rizal.


Grace kemudian mengurai pelukannya dengan Isabella. Dia lalu melangkah ke depan figura foto Rizal dan Sonia.


" Bu Sonia, saya tahu jika Ibu Sonia sangat mencintai Papih. Saya juga tahu Papih dulu sangat mencintai Ibu Sonia, karena Ibu adalah cinta pertama Papih. Tapi itu dulu, Bu. Saat ini alam kalian berdua sudah berbeda. Kami semua di sini masih membutuhkan Papih. Papih punya tanggung jawab di sini, Bu. Jangan bawa Papih bersama Bu Sonia. Jangan biarkan Papih menelantarkan istri dan anak-anaknya di sini." Kepada foto Sonia, Grace berbicara, seolah mereka berdua saling berhadapan dan Sonia ada di hadapan Grace.


" Mih, Mamih jangan bawa Papih pergi meninggalkan Bella, Mih. Bella masih belum ikhlas harus kehilangan Mamih, jangan buat Bella semakin sedih kalau Mamih tega membawa Papih pergi meninggalkan Bella di dunia ini, Mih. Bella sayang sama Mamih, tapi Bella ingin Papih tetap menemani Bella di sini, Mih." Isabella pun menyampaikan hal yang sama seperti Grace menolak Papihnya pergi meninggalkan dirinya.


***


Rivaldi sedang mengendarai mobilnya sepulang dari kantor saat ponselnya berbunyi. Dia melihat layar ponselnya, ternyata nama Jimmy yang menghubungi saat ini.


" Bagaimana, Jim?" tanya Rivaldi saat mengangkat panggilan masuk dari anak buahnya itu.


" Saya ingin memberitahukan jika Joe sudah masuk jebakan kita, Bos. Baru saja Joe menghubungi Bobby, dia mengaku bernama Jonathan." Jimmy menyampaikan kabar baik kepada Rivaldi.


" Apa kau yakin jika dia itu adalah Joe?" tanya Rivaldi memastikan apakah orang yang dimaksud oleh Jimmy benar-benar Joe, sang buronan yang sedang mereka cari selama ini.


" Dia memang benar Joe, Bos. Bobby meminta Joe untuk mengirimkan foto seluruh badan dengan alasan untuk mengetahui apakah postur calon pelamar cocok atau tidak untuk mengikuti pelatihan itu. Dan Joe terpancing hingga mengirimkan fotonya." Jimmy menjelaskan jika orang yang dia maksud memang Joe yang mereka cari.


" Baguslah kalau begitu! Besok kau suruh dia ke tempat yang sudah kita siapkan untuk kita eksekusi dia sebelum kita serahkan dia ke polisi." Rasanya kurang puas jika tidak memberi Joe pelajaran sebelum memproses Joe ke jalur hukum. Sehingga Rivaldi ingin memberikan 'hadiah spesial' kepada Joe atas semua kejahatan kriminal Joe yang sudah telah Joe perbuat selama ini.


" Baik, Bos." sahut Jimmy. Nanti Bobby akan aku suruh hubungi Joe untuk datang ke tempat yang sudah mereka siapkan.


" Jim, kali ini kita harus berhasil, jangan biarkan ba jingan itu kabur lagi dari kita!" Rivaldi minta Jimmy dan anak buahnya bertindak dengan hati-hati dan tanpa membuat Joe curiga hingga membuat pria itu berhasil kabur lagi.


" Siap, Bos!" jawab Jimmy memastikan kali ini dia dan anaknya akan lebih hati-hati dan tidak akan melepaskan Joe begitu saja.


Setelah melakukan percakapan dengan Jimmy di telepon, Rivaldi melanjutkan membawa mobilnya. Dia memutar arah ingin datang ke rumah sakit menemui Grace untuk memberitahu Grace soal penemuan lokasi Joe berada.


***


Beberapa menit menunggu pintu kamar terbuka hingga memperlihatkan Isabella bersama Vito dan Sam keluar dari kamar rawat itu.


" Kak Aldi? Kak Aldi sudah dari tadi di sini?" tanya Isabella terkejut mendapati Rivaldi sedang duduk menunggu di depan kamar rawat Papihnya.


" Tidak juga, aku baru datang," sahut Rivaldi lalu bangkit dari duduknya.


Vito menperhatikan gestur Isabella saat berbicara dengan Rivaldi. Dia tahu jika Rivaldi pernah menolong Isabella. Dia juga tahu jika dulu Rivaldi sempat mendekati Isabella dengan tujuan membalas dendam kepada Rizal. Dan entah mengapa dia mencurigai jika kehadiran Rivaldi lah yang membuat Isabella menolaknya. Apalagi gestur tubuh Isabella tidak dapat dipungkiri saat berbicara dengan Rivaldi sedikit berbeda dengan Isabella saat berbicara dengan pria lain.


" Bel, kami pamit dulu. Semoga Pak bos cepat tersadar " Sam yang tidak mempunyai urusan dengan Rivaldi merasa tidak ada yang dipermasalahkan dengan kehadiran Rivaldi. Meskipun dia dulu sempat mengawasi Rivaldi atas tugas yang diberikan atas permintaan Erlangga, namun setelah dia tahu jika Rivaldi sudah menyelamatkan Isabella, dia rasa semua baik-baik saja.


" Iya, Kak Terima kasih sudah menjenguk Papih," sahut Isabella.


" Ayo, Vit!" Sam mengajak Vito yang kini menatap tajam ke arah Rivaldi.


Rivaldi menyadari jika sejak melihat kehadirannya. Anak buah Rizal itu langsung memberikan tatapan mata tajam kepadanya. Dia tidak tahu kenapa Vito mengarahkan pandangan seperti bermusuhan kepadanya. Padahal dia merasa tidak pernah bermasalah dengannya.


" Bel, Kak Vito pulang dulu. Jaga diri baik-baik!" Vito sengaja mengusap kepala Isabella di hadapan Rivaldi. Tentu saja apa yang dilakukan Vito membuat Isabella terkesiap, bahkan Rivaldi pun terkejut dengan sikap Vito pada Isabella.


" Hmmm, i-iya, Kak." Isabella menjauhkan tangan Vito dari kepalanya sembari melirik ke arah Rivaldi. Isabella tidak ingin Rivaldi menjadi salah paham dengan sikap Vito tadi.


Penolakan Isabella dengan sikapnya membelai kepala wanita itu dan pandangan mata Isabella yang mengarah kepada Rivaldi semakin menegaskan kecurigaannya kepada Rivaldi.


" Ayo, Vit!" Sam kini menarik lengan Vito untuk segera meninggalkan kamar Rizal. Walaupun sebenarnya Vito enggan menjauh dari Isabella, namun dia terpaksa meninggalkan Isabella dengan Rivaldi.


" Apa Rena ada di dalam?" tanya Rivaldi saat Vito dan Sam sudah menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


" Grace sudah pulang. Dia hanya datang saat waktu besuk siang saja, karena dilarang Mamanya berlama-lama di rumah sakit, sebab saat ini dia sedang hamil." Isabella memberitahu Rivaldi soal alasan Grace tidak ada di sana sekarang ini.


" Rena hamil?" Meskipun dia sudah memprediksi kemungkinan jika Grace sedang mengandung, tetap dia tak bisa memungkiri jika hatinya sedikit kecewa.


" Iya. Grace sedang mengandung anak Papih aku. Ikatan mereka saat ini sangat kuat dengan hadirnya anak dalam perut Grace." Isabella seolah menegaskan jika saat ini tidak ada orang yang sanggup memisahkan Papihnya dengan Grace.


" Oh, begitu ...."


" Lusa Papih juga akan pulang ke rumah Grace. Grace sudah memutuskan merawat Papih di rumah sendiri. Aku dan Grace akan tinggal di rumah Grace sampai Papih aku tersadar nanti. Grace begitu sangat mencintai Papih aku. Hingga dia rela membawa Papih ke rumahnya, karena di rumah, Grace bisa lebih intens merawat Papih aku." Isabella menyebutkan jika Grace tidak akan berpaling pada siapa pun, termasuk pada Rivaldi. Karena Isabella merasa yakin jika Rivaldi itu menyukai Grace meskipun Rivaldi sempat menyangkalnya.


***


" Bi, tolong pijat kakiku! Rasanya pegal sekali." Grace meminta Bi Saonah memijatkan betisnya. Hari ini terasa lelah bagi Grace, karena dia harus ke rumah sakit, ke rumah suaminya, ke rumahnya sebelum akhirnya kembali ke apartemen selepas Maghrib.


" Baik, Non." Bi Saonah langsung melakukan apa yang diminta oleh Grace.


" Bi, besok Bibi pulang saja ke rumah, ya! Soalnya lusa Papih akan mulai dirawat di rumah. Besok barangkali ada orang yang ingin memasang peralatan medis untuk Papih bisa dirawat di rumah." Grace mengatur Bi Saonah untuk kembali ke rumah esok hari.


" Baik, Non. Lalu Non sendiri nanti sama siapa di sini?" Bi Saonah khawatir Grace tidak ada yang menjaga di apartemen sendirian.


" Aku bisa tinggal sendirian, kok, Bi."


" Sebaiknya Non Grace jangan sendirian, Non. Sebaiknya suruh Surti saja menemani Non di sini." Bi Saonah menyarankan Grace untuk ditemani oleh ART suami Grace.


" Bibi tidak usah memikirkan hal itu." Grace mengibaskan tangan ke udara, meminta ART nya untuk tidak mengkhawatirkannya.


Ddrrtt ddrrtt


Grace langsung menolehkan pandangan saat melihat panggilan telepon masuk. Dia melihat Rivaldi yang menghubungi saat ini.


" Ada apa, Aldi?" Grace langsung mengangkat panggilan telepon tadi.


" Halo, Rena. Aku baru saja mencarimu di rumah sakit. Tapi Bella bilang kalau kamu sudah tidak menginap di rumah sakit." Suara Rivaldi terdengar di telinga Grace.


" Mama melarangku menginap di sana." Grace beralasan.


" Aku dengar dari Bella kalau kamu sedang hamil. Selamat atas kehamilanmu, Rena." Suara Rivaldi dengan nada berat.


" Thanks, Aldi." Grace memang selalu menampik, tapi dia juga mulai merasakan jika Rivaldi memang benar menyukainya.


" Bella juga bilang kalau kamu ingin membawa Pak Rizal pulang ke rumah."


" Iya, karena dokter bilang kondisi suamiku sudah membaik. Hanya menunggu waktu suamiku tersadar saja, makanya aku pikir sebaiknya merawat suamiku di rumah karena aku tidak ingin terlalu lama berjauhan dengan suamiku." Bukan bermaksud memancing kecemburuan Rivaldi, Grace mengatakan hal tersebut karena dia ingin mengungkapkan rasa sayang dia kepada Rizal.


Seketika hening, tak ada kalimat dari mulut Rivaldi, maupun ucapan dari Grace hingga beberapa saat.


" Oh ya, Rena. Aku hanya ingin memberitahu jika aku sudah mendeteksi keberadaan Joe sekarang." Rivaldi akhirnya mengatakan tujuannya menghubungi Grace.


" Joe sudah tertangkap?" Grace seketika terbelalak mendengar ucapan Rivaldi. " Di mana si breng sek itu sekarang berada, Aldi!?" Grace merasa geram, rasanya dia ingin sekali membalaskan apa yang sudah dilakukan Joe kepada dirinya, kepada suaminya dan juga anak suaminya itu.


" Besok aku akan menjebak dia di suatu tempat untuk aku beri pelajaran sebelum dia diserahkan ke polisi." Rivaldi menyebutkan rencananya kepada Grace.


" Kau ingin memberi dia pelajaran kepada Joe? Di mana, Aldi? Aku ikut ke sana!" Grace bahkan berniat ikut dengan Rivaldi yang ingin menangkap Joe. Dia pun tentu merasa ingin sekali memberi pelajaran kepada Joe atas kejahatan yang sudah dilakukan oleh Joe kepada keluarganya, sehingga dia pun ingin ikut bergabung dengan rencana Rivaldi menjebak Joe.


*


*


*

__ADS_1


Besambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2