TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Suaminya Mbak Itu


__ADS_3

Agatha turun dari mobilnya dan berlari menghampiri mobil yang ditumpangi oleh Grace, ketika dia melihat tidak ada satu pun orang yang berada di dalam mobil yang dikemudikan oleh Rizal keluar dari mobil.


Agatha mendengar suara Grace yang berteriak, bahkan terdengar juga suara jendela pintu dipukul dari dalam mobil. Inilah yang Agatha takutkan Putrinya itu akan mengamuk jika mengetahui hukuman apa yang akan dijalani oleh Grace.


Sementara di dalam mobil ....


" Nona, sebaiknya Anda berhenti berteriak-teriak! Ini akan sangat mengganggu penghuni panti ini." Vito menegur Grace yang tidak juga berhenti memukul jendela pintu mobil.


" Buka pintunya, breng sek!! Aku tidak sudi tinggal di tempat ini!!" Grace menghardik Vito.


" Jika Anda tidak juga diam, kami akan membawa Anda langsung ke kantor polisi, Nona Grace!" Rizal yang kesal menghadapi Grace langsung mengertak dengan mengancam menyerahkan Grace ke kantor polisi.


Ancaman Rizal sontak membuat Grace menghentikan aksinya yang menggedor-gedor pintu mobil.


" Silahkan kau bawa aku ke kantor polisi! Aku tidak takut, si alan!!" sembur Grace tidak sedikit pun merasa takut dengan ancaman Rizal.


" Dia benar-benar tidak ada takutnya, Pak." Vito mengomentari sikap keras kepala Grace.


Rizal tersenyum tipis dan berucap, " Kita lihat saja, seberapa keberanian dia dengan ancaman kita, Vit." sahut Rizal yang menganggap jika Grace hanya berani di mulut saja. " Kita ke kantor polisi sekarang. Saya akan menghubungi rekan saya yang bertugas di sana." Rizal sepertinya tidak main-main dengan ancamannya.


" Grace ...!" Suara ketukan pintu dari luar membuat ketiga orang di dalam mobil itu menolehkan pandangan ke arah jendela yang diketuk oleh Agatha.


Vito menurunkan sedikit kaca jendela pintu yang diketuk oleh Agatha.


" Grace, kamu jangan seperti ini. Ini akan mempersulitmu, Grace!" Agatha yang khawatir terhadap sikap Grace yang tak terkendali meminta agar Grace tidak terus membangkang.


" Sepertinya kami akan mengurungkan niat kami mempekerjakan Nona Grace di tempat ini, Nyonya. Nona Grace sepertinya lebih senang diproses hukum atas kesalahannya itu daripada melakukan pekerjaan sosial di panti ini. Karena itu, kami akan menyerahkan Nona Grace ke kantor polisi," ucap Rizal menjelaskan kepada Agatha.


" Apa??" Agatha nampak terkejut mendengar penjelasan Rizal jika pria itu berniat melaporkan putrinya ke pihak yang berwajib.


" Pak Rizal, saya mohon jangan lakukan itu!" Agatha memohon agar Rizal tidak melaksanakan niatnya.


" Grace, Mama mohon. Kamu jangan keras kepala. Akan lebih menyulitkan jika kamu harus berada di penjara, Grace. Mama tidak bisa membayangkan jika kamu harus berada di jerugi besi." Seketika Agatha terisak. Tangisan karena rasa frustasi Agatha menghadapi kekerasan hati Grace yang tidak dapat menempatkan diri, padahal posisi anaknya itu sedang terpojok.

__ADS_1


Grace memperhatikan Agatha yang menangis. Dia hampir tidak pernah melihat Mamanya selemah ini selain ketika Papanya meninggal. Dia tidak ingin kalah dan menyerah dengan ancama Rizal, namun melihat Mamanya sedih karena dirinya, akhirnya dengan sangat terpaksa Grace menerima tugas yang harus dia kerjakan.


" Jadi bagaimana, Nona Grace? Apa Anda tetap ingin kami laporkan ke pihak berwajib?" Rizal menantikan kepastian dari Grace. Ingin mengikuti rencana David Richard atau dilaporkan ke pihak berwajib.


" Buka pintunya! Aku mau keluar!" Grace menendang secara kasar pintu mobil.


Vito melirik ke arah Rizal, menanti persetujuan dari Rizal. Apakah dia boleh membukakan pintu untuk Grace atau tidak. Dan setelah mendapatkan anggukkan kepala dari Rizal, Vito pun membukakan kunci pintu mobil di sisi Grace duduk.


Grace dengan cepat keluar dari mobil dengan nafas naik turun karena menahan emosi. Dia berdiri di samping Agatha dengan tangan berlipat di dada dan wajah memberengut.


Setelah Rizal dan Vito turun dari mobil, mereka berempat pun berjalan ke dalam bangunan panti.


" Ya Allah, suamiku menjemput ...!" Tiba-tiba seorang lansia berlari mendekat ke arah Rizal dan melingkarkan tanganya di lengan Rizal seraya menyandarkan kepalanya di lengan kokoh Rizal itu ketika Rizal baru memasuki teras panti.


Kelakuan lansia wanota itu sontak membuat Rizal dan yang lainnya terbelalak. Bahkan, Grace sampai tersenyum mencibir seolah merasa senang lansia itu berbuat seperti itu kepada Rizal.


" Papa mau menjemput Mama ya?" tanya wanita yang usianya diperkirakan kisaran tujuh puluh tahun itu.


" Hmmm ..." Rizal sampai bingung ingin menjawab apa.


" Nek, Nenek jangan menggangu tamu yang datang.'" Seorang wanita muda berlari mendekat ke arah Nenek m yang sedang menggandeng Rizal.


" Maaf, atas gangguannya." Wanita yang tak lain adalah salah satu pekerja di panti itu menyampaikan permohonan maafnya.


" Tidak apa-apa, Mbak." Rizal bisa memaklumi ulah wanita berusia senja itu.


" Ayo, Nek. Nenek harus makan siang dulu." Wanita muda itu mengajak si nenek untuk mengikutinya


" Neng, Nenek ini baru bertemu dengan suami Nenek. Nenek boleh makan sama suami ini Nenek ini?" Nenek itu masih tetap menganggap Rizal adalah suaminya.


" Bapak ini bukan suami Nenek. Coba lihat, Bapak ini masih muda, sedangkan Nenek? Lihat ... kulit Nenek saja sudah keriput, Nek. Bapak ini lebih pantas jadi anak atau cucu Nenek." Pekerja panti menjelaskan kepada Nenek jika Rizal bukan suami si nenek.


" Masa bukan suami Nenek? Tapi wajahnya sama ganteng seperti suami Nenek, kok." Mata tua Nenek memperhatikan wajah Rizal yang terlihat tampan di matanya.

__ADS_1


" Iya, Nek. Tapi, Bapak ini bukan suami Nenek. Tapi ..." Pekerja panti melirik ke arah Grace. " Tapi suaminya Mbak cantik itu ..." Pekerja panti asal bicara dengan menunjuk Grace.


Sontak yang dikatakan pekerja panti kembali membuat ke empat orang itu tercengang, terutama Grace yang langsung berkacak pinggang. Dia tidak menyangka, bisa-bisanya pekerja panti mengatakan jika dia adalah istri dari Rizal. Padahal wajah Rizal lebih cocok jika disandingkan dengan Mamanya.


" Eh, Mbak! Jangan sembarang bicara ya! Siapa juga yang istri dia!? Apa Mbak tidak melihat kalau muka dia itu sudah tua!? Bahkan sudah layak jadi penghuni panti jompo ini!" Kesal disebut istri Rizal, Grace melabrak pegawai panti tersebut.


" Grace!" Agnes menahan lengan Grace yang ingin mendekati wanita tadi.


" Oh, maaf, Mbak. Saya tidak bermaksud seperti itu." Pekerja panti langsung menyampaikan permintaan maafnya karena ucapannya tadi sudah membuat Grace tersinggung.


" Pak Rizal, Bapak sudah datang rupanya." Dari dalam panti terdengar suara yang menyapa Rizal.


" Selamat siang, Bu Henny." Rizal membalas sapaan wanita yang dipanggil dengan nama Henny yang baru keluar dari dalam panti.


" Ada apa tadi ribut-ribut, San?" tanya Ibu Henny kepada Santy, pegawainya.


" Ini, Bu. Si Nenek berulah lagi." Santy mengadukan kelakuan si nenek kepada Ibu panti.


" Ya sudah kamu bawa Nenek Farida ke dalam." Ibu Henny menyuruh Santy mengurus Nenek yang bernama Farida itu.


" Baik, Bu. Ayo, Nek ..." Santy menuntun Nenek Farida agar mau mengikutinya.


" Maaf atas gangguannya, Pak Rizal." Ibu Henny juga menyampaikan permohonan maafnya.


" Tidak apa-apa, Bu." sahut Rizal. " Oh ya, Bu. Perkenalkan, ini rekan saya Vito. Dan ini Nyonya Agatha berserta putrinya Nona Grace, yang akan diperbantukan bekerja di sini." Rizal memperkenalkan satu persatu orang-orang yang bersamanya.


" Mbak ini yang akan bekerja di sini, Pak Rizal?" Ibu Henny memperhatikan penampilan Grace dari ujung kaki sampai ujung kepala. Apalagi saat melihat sorot mata tajam Grace saat menatapnya dan wajah Grace yang terlihat tidak bersahabat, membuatnya tidak yakin jika wanita muda itu akan bisa bekerja dengan baik dan sabar meladeni penghuni panti yang dihuni orang-orang di usia enam puluh tahun ke atas.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2