
Selepas waktu Maghrib, Rizal bersama Grace dan Isabella menikmati makan malam bersama. Grace mulai terbiasa melayani sang suami dengan mengambilkan nasi dan lauk yang ingin dimakan oleh sang suaminya.
Grace memang mudah mempelajari sesuatu yang tidak dia kuasai, terutama perannya sebagai seorang istri. Di usianya yang masih muda, namun dia sudah menikah, tidak membuatnya bermalas-malasan belajar menjalankan tugas seorang istri,
" Bagaimana waktu bertemu Rivaldi tadi, Bella? Apa dia bersikap baik terhadapmu?" Rizal menanyakan soal anaknya yang mengantarkan blazer milik Rivaldi ke kantor pria itu di sela-sela menyantap makanannya.
" Baik, Pih." Isabella menjawab tak bersemangat. Dia masih kecewa dengan sikap Rivaldi yang terlihat acuh kepadanya.
" Syukurlah kalau dia bersikap baik kepadamu, Bella." Rizal merespon jawaban putrinya itu. Dia takut jika Rivaldi akan memanfaatkan keluguan Isabella.
Grace melirik ke arah Rizal. Dia tahu pasti kalau suaminya itu sangat mengkhawatirkan Isabella, terlebih putri dari suaminya itu baru saja mengalami hal buruk. Namun, melihat tindakan yang dilakukan oleh Rivaldi dalam menolong Isabella, dia merasa jika pria itu tidak mempunyai maksud jahat kepada mereka.
" Terlepas dari ambisi dia menjatuhkan keluarga Mahadika dan keinginan memiliki istri Erlangga, secara pribadi, Aldi itu sebenarnya baik, Pih. Kalau menolong orang juga tidak tanggung-tanggung. Papih ingat waktu Aldi sampai mengantar aku ke Bandung? Dia sampai meninggalkan pekerjaannya cuma mau menemani aku ke Bandung sampai mengenalkan aku pada orang tuanya? Dia juga berada dalam lingkungan keluarga yang baik. Mungkin saat dia bertemu dengan pendamping yang dapat meredam ambisinya, Aldi bisa menjadi pribadi yang lebih baik." Tanpa ditanya oleh suaminua, Grace malah memberi penilaian tentang Rivaldi. Dan dia memberikan penilaian secara obyektif terhadap Rivaldi.
Isabella memperhatikan saat Grace bercerita tentang Rivaldi. Ia baru mengetahui jika Grace memang begitu dekat dengan Rivaldi, sampai dikenalkan kepada orang tua Rivaldi di Bandung. Pantas saja jika Rivaldi masih menginginkan Grace. Padahal saat itu Grace sedang menyamar, tapi bisa membuat hati Rivaldi terpikat. Bahkan setelah ketahuan siapa Grace yang sebenarnya pun, pria itu tetap mengharapkan Grace. Ada rasa iri di hati Isabella terhadap perlakukan Rivaldi yang terlihat kontras kepadanya juga terhadap Grace.
" Kamu sengaja memuji pria lain di depan suamimu?" Sementara Rizal langsung bereaksi terhadap ucapan Grace soal Rivaldi tadi.
" Maaf, Pih. Aku bukan bermaksud memuji. Tapi, memang seperti itu kenyataannya. Papih lihat sendiri tindakan yang dilakukan Aldi pada Bella. Dia merasa curiga terhadap gerak-gerik Joe saat menjemput Bella, dia mengikuti mereka. Aldi bisa saja bersikap masa bo doh, tapi nyatanya dia tetap mengikuti dan justru menjadi penolong Bella." Grace menyebut alasannya memberi penilaian terhadap Rivaldi.
" Ya sudah, kita sudah usah membicarakan soal itu lagi!" Rizal sepertinya tidak nyaman membahas soal Rivaldi, padahal, dia sendiri yang memulai menyinggung soal Rivaldi. Sepertinya Papih dan anaknya itu sama-sama kompak cemburu karena sosok yang sama, Rivaldi.
" Papih sendiri bukannya yang tadi membahas soal Aldi?" Grace memutar bola matanya menanggapi ucapan suaminya.
" Ya sudah, kita tidak usah membutakan hal itu lagi. Bicara yang lain saja. Oh ya, pria yang menggangu di kampus kemarin masih saja menggoda kalian berdua?" tanya Rizal mencoba mengalihkan pembicaraan dari seputar Rivaldi.
" Tidak, Pih." sahut Isabella. Sejak Fauziah mengatakan jika Grace sudah mempunyai suami dan suami dari Isabella jago beladiri, dia tidak pernah melihat Romeo menemuinya lagi, dan dia juga merasa bersyukur, tidak terus dihadapkan dengan pria-pria seperti itu.
***
Di kamar yang bersuhu dingin, Grace dan Rizal baru selesai melakukan aktivitas bercinta. Mereka berdua sama-sama kelelahan dan kini berbaring dengan posisi Grace membelakangi Rizal namun dengan tangan Rizal melingkarkan tangannya di pinggang Grace hingga kulit mereka saling bersentuhan.
Beberapa menit kemudian ...
" Pih ...."
" Hmmm ...."
Grace menoleh ke arah suaminya yang sedang memeluk tubuhnya dari belakang dengan mata yang sudah terpejam.
" Papih sudah mau tidur, ya?" tanya Grace karena suaminya itu tidak membuka kelopak matanya.
" Kenapa? Mau lagi?" Rizal mengakhiri ucapannya dengan sebuah kecupan di pipi Grace.
" Tidak, iihhh! Capek, Pih." sergah Grace membantah jika dirinya menginginkan berhubungan badan kembali, karena dia memang merasa lelah harus melayani ga irah suaminya itu
" Kalau capek, cepat tidur!" Rizal mengeratkan pelukannya dibtubuh Grace yang hanya berbalut selimut.
" Aku belum mengantuk ..." ucap Grace kemudian memutar tubuhnya kini menghadap sang suami. Dia melihat suaminya membuka matanya sebentar dari menutupnya kembali meskipun saat ini dia berhadapan dengannya.
" Papih sudah mengantuk berat, ya?" tanya Grace kembali karena suaminya itu terlihat kurang semangat menanggapi perkataannya.
" Hmmm ..." sahut Rizal dengan menganggukkan kepalanya. " Kamu tidur juga, ini sudah malam," ucapnya kemudian.
__ADS_1
" Pih, aku rasa sepertinya Bella menyukai Aldi, deh!" Grace tidak menggubris permintaan suami untuk tidur. Dia juga seolah tidak perduli jika suaminya itu mengatakan sudah mengatuk.
Perkataan Grace sontak membuat Rizal kembali membuka matanya dengan terbelalak lebar. Dia memang merasa mengantuk dan juga kelelahan setelah bermain selama lebih dari satu jam bersama sang istrinya. Namun perkataan sang istri, seolah menghilangkan rasa kantuk yang tadi menggelayut di kelopak matanya.
" Apa maksudmu, Grace?" Rizal kini mengerutkan keningnya sambil mengangkat kepalanya.
" Aku rasa, sepertinya Bella itu menyukai Aldi, Pih." Grace mengulang kembali kalimatnya.
" Dari mana kamu punya pemikiran seperti itu, Grace?" tanya Rizal, tidak yakin dengan apa yang disampaikan istrinya tadi soal perasaan Isabella kepada Rivaldi.
" Itu baru feeling aku saya saja, Pih." jawab Grace, dia sendiri tidak terlalu pasti, hanya baru meraba dari sikap Isabella yang dia lihat saat berkunjung ke kantor Rivaldi tadi.
" Kamu jangan menduga-duga seperti itu, Garce. Kalau Bella tahu kamu salah menduga, dia pasti akan salah paham, lho!" Rizal meminta agar Grace tidak memikirkan hal yang tidak pasti.
" Tapi kalau itu benar, gimana, Pih? Apa Papih akan merestui?" tanya Grace penasaran sikap suaminya jika benar Isabella ternyata menyukai Rivaldi. Karena dia yakin, Rizal tidak akan merestui begitu saja.
" Aku lebih setuju Bella dengan Vito. Vito sudah lama menyukai Bella. Dia juga pria baik. Aku merasa Bella berada di tangan yang tepat jika bersama Vito." Rizal menyampaikan keinginan yang terbaik untuk anaknya.
" Tapi, cinta itu tidak bisa dipaksakan 'kan, Pih? Nyatanya, meskipun Bella tahu kalau Vito menyukainya, dia masih belum membuka pintu hatinya untuk Vito, kan?"
Rizal mengerutkan kening memperhatikan sang istri. " Apa kamu mengharapkan Rivaldi bersama Bella, agar Rivaldi bisa terus mendekatimu?" tanya Rizal curiga.
Grace membelalakkan matanya mendengar tuduhan sang suami. Wanita cantik itu kini mengerucutkan bibirnya.
" Kenapa Papih masih saja berpikir seperti itu sih, Pih? Aldi itu tidak pernah menyukaiku! Dia menemui Mama dan mengatakan ingin menikahiku hanya bertujuan agar kita batal menikah, karena dia dendam dengan ulah kita dulu terhadapnya!" Grace meminta agar suaminya itu tidak terus salah paham pada sikap Rivaldi kepadanya.
" Aku hanya tidak ingin istriku ini diusik pria lain." Rizal mengecup bibir Grace singkat.
" Sudah, ayo tidur!" Rizal mengangkat kepala Grace untuk diletakkan di lengannya, dan membiarkan sang istri memeluk tubuhnya.
" Orang tua Aldi itu baik, lho, Pih! Om Nugraha dan Tante Arina sangat ramah. Aku rasa jika Bella menjadi menantu mereka, mereka pasti akan menyayangi Bella seperti anaknya sendiri.
" Apa kamu menyesal tidak menjadi menantu mereka?" Rizal malas membahas soal Rivaldi hingga dia langsung menyindir istrinya itu.
Grace menaikkan pandangan menatap sang suami yang tanpa berdosa telah menuduhnya menyesal tidak memilih Rivaldi.
" Iya, aku menyesal! Kenapa aku tidak mendengarkan Mama saja untuk menikah dengan Aldi!? Kalau aku menikah dengan Aldi, pasti dia akan mengajakku berbulan madu ke luar negeri sesuai keinginan. Aku juga tidak dipusingkan anak sambung yang manja seperti anak Papih itu!" Grace tiba-tiba merasa tersinggung dengan ucapan Rizal, dia langsung membalas Rizal dengan telak.
Grace bahkan turun dari tempat tidur dengan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lalu berjalan ke arah pintu ingin meninggalkan kamar Rizal.
" Garce kamu mau ke mana?" Rizal pun ikut turun, namun karena dia sibuk memakai boxer dan kaos nya kembali, membuat Grace lebih dulu keluar dari kamar mereka.
" Grace, tunggu!!" seru Rizal mengejar istrinya.
Grace tidak memperdulikan suara teriakan suaminya yang memanggil namanya. Dengan tubuh berbalut selimut, Grace belari menuruni anak tangga. Sebelum keluar kamar tadi, dia sempat mengambil kunci mobilnya.
" Non? Non Grace mau ke mana?" Surti terkejut melihat Grace berlari dengan menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya dengan bagian bahu terbuka. Surti menduga jika Grace baru selesai melakukan aktivitas berhubungan in tim dengan Rizal, karena Grace terlihat tidak berpakaian. Namun, yang membuatnya aneh, kenapa Grace keluar kamar mengenakan selimut dengan terburu-buru.
" Grace, tunggu!" teriak Rizal kembali.
Surti kini melihat Rizal yang berlari di belakang Grace. Surti kali ini memperhatikan majikannya itu yang memakai boxer dan kaos terbalik, Surti menduga bosnya itu sedang terburu-buru mengejar Grace.
" Kamu mau ke mana, Grace?" Rizal berhasil mengejar Grace dan menahan langkah Grace dengan memegang lengan Grace.
__ADS_1
" Aku mau ke rumah Aldi!" jawab Grace ketus.
" Apa kamu sudah gi la!? Mau apa kamu ke sana? Dengan memakai selimut begini?" Rizal geram karena istrinya itu mengatakan akan menemui Rivaldi.
" Kalau aku gi la, kanapa Papih mau menikahi aku!?" tanya Grace dengan kesal dan mata melotot.
" Pak Rizal, Non Grace? Bapak dan Non habis apa?" Bi Tinah keluar dari kamarnya karena terdengar ribut-ribut di depan kamarnya. Seperti halnya Surti, Bi Tinah pun dibuat terkejut melihat penampilan pasangan pengantin baru itu.
" Tidak ada apa-apa, Bi. Sebaiknya kalian kembali ke kamar masing-masing!" Rizal menyuruh Surti dan Bi Tinah kembali ke kamar mereka masing-masing. Sementara dia langsung mengangkat tubuh Grace ala bridal style dan kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Surti langsung terkikik melihat tingkah Grace dan Rizal setelah Rizal menghilang dari pandangannya.
" Ya ampun, Bi Tinah. Surti mau juga digedong kayak gitu." Surti kini memeluk tubuh Bi Tinah seraya berjalan ke arah dapur.
" Apa-apaan sih kamu, Sur?" Bi Tinah memu kuli tangan Surti yang memeluk tubuhnya.
" Membayangkan jadi Non Grace, Bi." Surti kembali terkekeh dengan mengurai pelukannya.
" Menurut Bi Tinah, Non Grace sama Pak Rizal itu kenapa, ya? Non Grace seperti marah terhadap Pak Rizal. Padahal kalau dilihat dari penampilan mereka, Non Grace hanya memakai selimut dan Pak Rizal yang memakai baju terbalik, sepertinya mereka habis begituan, ya, Bi?" Surti merasa kepo dengan menyeringai.
" Jatahnya kurang mungkin, Sur. Non Grace minta nambah tapi Pak Rizal nya sudah kecapean." Bi Tinah menebak asal ikut tertawa kecil.
" Atau Pak Rizalnya yang kepingin terus, tapi Non Grace nya yang kewalahan. Pak Rizal 'kan sudah lama menduda, Bi. Lalu sekarang mendapatkan istri yang masih muda dan cantik. Bisa jadi Pak Rizal inginnya terus-terusan, Non Grace nya tidak sanggup dan menyerah, Bi." Kedua ART Rizal itu justru bergosip menggunjingkan adegan suami istri yang terjadi di depan mata mereka tadi.
" Astaga, Bi. Kita berdosa, lho! Menggunjingkan bos sendiri." Surti menegur Bi Tinah seraya terkekeh.
" Kamu yang mulai 'kan, Sur?" Bi Tinah tidak ingin disalahkan sendirian, karena menurutnya Surti lah yang awalnya bergosip.
***
Di ruangan Direktur Utama di sebuah perusahaan besar, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun sedang berbincang dengan asisten pribadinya.
" Jadi si Joe itu kabur setelah mencoba memper kosa guru les cantika?" Fendy sangat terkejut dan terlihat geram saat Iwan, sang asisten memberitahu jika orang yang diberi tugas mengawal istri dan anaknya terlibat tindakan kriminal. Fendy adalah Daddy dari Cantika.
" Benar, Pak. Dan ternyata dia menggunakan mobil dari Nyonya Cyntia saat membawa korban ke apartemen untuk melaksanakan aksinya itu." Iwan kembali menjelaskan.
" Apa Cyntia masih kurang melayani dia sampai dia berniat ingin memper kosa wanita lain?" tanya Fendy dengan emosi. Selama ini, suami Cyntia itu tahu jika Joe bukan hanya sekedar pengawal bagi istri simpanannya itu. Namun dia memang sengaja membiarkan saja agar Cyntia tidak terlalu banyak menuntut kepadanya. Karena jika Cyntia terlalu menuntutnya dan membahayakan rumah tangga bersama istri pertamanya. dia bisa menjadikan perselingkuhan antara Cyntia dengan Joe, sebagai alasan untuk meninggalkan Cyntia.
" Saya rasa itu memang sudah menjadi penyakit bagi dia yang senang berhubungan in tim dengan wanita, Pak. Dan yang jadi masalah, orang tua dari wanita yang ingin diper kosa oleh Joe ternyata seorang detektif swasta yang cukup handal dalam menyelesaikan kasus-kasus berat. Orang yang menolong wanita itu juga ternyata seorang pengusaha pemilik perusahaan Abadi Jaya. Orang-orang di lingkungan wanita itu bukan orang-orang sembarangan. Jika sampai terendus kalau Joe bekerja pada Nyonya CYntia, saya takut ini akan menyeret nama Bapak juga." Iwan menerangkan kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi jika sampai ketahuan jika Cyntia adalah istri simpanan Bos nya.
" Lalu, apa yang harus saya lakukan, Wan?" Tanya Fendy khawatir.
" Sementara ini jangan datang ke apartemen Nyonya Cyntia atau menghubungi Nyonya Cyntia, Pak. Karena saya yakin jika Nyonya Cyntia pasti sedang diawasi orang suruhan detektif itu untuk mencari keberadaan Joe." Iwan menyarankan agar Fendy tidak berinteraksi dengan Cyntia dalam beberapa waktu ini.
" Si al! Cari perkara saja orang itu!" geram Fendy sambil mengge brak meja kerjanya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️