
Hati Rizal yang dibalut rasa cemburu membuat pria itu pergi dari rumahnya. Awalnya dia ingin menemui Agatha, karena dia ingin menyampaikan keinginannya menikahi putri tunggal Agatha itu. Namun, mengingat saat ini menunjukkan waktu yang sudah tidak sewajarnya bertamu ke rumah orang, akhirnya Rizal memilih mendatangi rumah Grace yang berada di depan kantornya.
Rizal datang lebih dahulu di rumah Grace, sementara Grace sendiri belum sampai di rumahnya. Padahal, semestinya Grace sudah tiba di rumahnya itu Hal tersebut tentu saja membuat Rizal semakin senewen. Dia takut jika Grace diikuti oleh Rivaldi dan Rivaldi membawanya kabur. Apalagi saat dihubungi pun, Grace tidak juga mengangkat panggilan teleponnya.
" Ck, angkat, Grace! Di mana kau sekarang?!" Rizal menggerutu kesal karena panggilan teleponnya tak juga diangkat oleh Grace.
Tuga puluh menit berselang, mobil Grace terlihat memasuki pekarangan rumahnya, membuat Rizal manarik nafas lega.
Grace memperhatikan mobil Rizal yang terparkir di depan rumahnya. Dia terheran karena Rizal tiba-tiba ada di rumahnya saat ini.
" Kenapa lama sekali sampainya? Kenapa tidak diangkat teleponnya?" Dari arah teras, Rizal sudah menyambut Grace dengan pertanyaan penuh selidik, persis seperti pekerjaan yang dia geluti selama ini.
" Aku tadi kabur dari dinner, tapi ternyata Rivaldi berhasil mencegatku dan membawaku ke apartemennya," Grace sengaja berbohong, karena dia yakin Rizal saat ini sedang cemburu dirinya bertemu Rivaldi.
" Dia membawamu ke apartemennya? Apa yang kalian lakukan di sana?" Rizal menarik lengan Grace yang berjalan santai masuk ke dalam rumah.
" Apa yang Rivaldi lakukan padamu?" Tatapan tajam Rizal menandakan jika dia sedang dilanda rasa cemburu yang tidak dapat dikendalikan.
" Kau menyeramkan sekali jika sedang cemburu, Pak tua!" Grace mengusap rahang Rizal, seperti yang dia lakukan kepada Rivaldi tadi.
Wajah menegang Rizal kini mulai sirna saat telapak tangan Grace menyentuh wajahnya. Pria itu lalu mengambil tangan Grace dan menciumi tangan Grace, menunjukkan jika dia takut akan kehilangan Grace.
" Apa yang Rivaldi lakukan padamu tadi?" Rizal mengulang pertanyaannya. Namun, kali ini bernada lebih lembut.
" Dia hanya ingin tahu apa motifku menipu dia, dan apa hubunganku dengan Erlangga, karena dia sudah menduga jika Erlangga lah yang menyuruh kita melakukan tugas ini." Grace menceritakan yang sebenarnya terjadi.
" Yakin tidak ada hal lain yang dilakukan oleh dia padamu? Dia membawamu ke apartemennya, hanya untuk menanyakan hal itu?" Rizal menganggap jika Rivaldi benar membawa Grace pergi ke apartemen Rivaldi. Dia takut ada hal lain yang dilakukan pria itu pada Grace.
" Memangnya kau berharap dia melakukan apa padaku? Menciumku? Memelukku? Atau ...."
" Tidak akan aku biarkan dia menyentuhmu!" tegas Rizal menatap dua bola mata Grace bergantian.
" Dan hanya kau saja yang boleh menyentuhku? Begitu?" Grace balas menatap mata elang Rizal. Grace memang senang menggoda Rizal, terutama membuat Rizal cemburu.
" Tentu saja! Karena kamu akan menjadi milikku." Kini Rizal menarik pinggang Grace dan merapatkan tubuh mereka.
" Mama pasti tidak akan merestui kita. Mama lebih setuju aku bersama Rivaldi," ucap Grace terus menguras kecemburuan Rizal.
" Akan aku tunjukkan jika aku lebih layak darinya!" sahut Rizal percaya diri.
" Oh ya?"
" Besok aku akan menemui Mamamu, dan akan melamarmu."
" Yakin itu akan berhasil? Bagaimana kalau Mamaku menolak?"
" Aku yakin Mamamu tidak akan menolak, karena anaknya juga menginginkan bersamaku!"
Grace menyipitkan matanya mendengar kalimat terakhir dari Rizal.
" Siapa yang bilang aku ingin bersamamu?" Grace mengangkat wajah dan menaikkan dagunya.
" Hatimu, hatimu yang menginginkan bersamaku! Walau mulutmu sering menampik, nyatanya kau merasa nyaman bersamaku." Rizal menangkup wajah Grace dengan kedua tangannya lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Grace. Tanpa kelembutan dan bru tal Rizal melu mat bibir ranum wanita itu penuh has rat.
Grace terkesiap saat Rizal menciumnya dengan liar. Lagi dan lagi Grace tidak menolak apa yang dilakukan pria itu terhadapnya. Grace justru menikmati permainan bibir dan lidah Rizal, bahkan dia pun membalasnya.
Rizal tersenyum melihat Grace membalas sentuhannya. Grace mulai terpancing dengan permainan yang dilakukan Rizal. Hal itu membuat Rizal semakin bersemangat.
" Benar, kan? Kalau putri dari Nyonya Agatha ini sebenernya menginginkan bersamaku?" ledek Rizal saat mereka menjeda pagutan mereka karena sama-sama butuh pasokan oksigen.
__ADS_1
Rizal mengulum senyuman melihat mata Grace yang seperti sedang meredam has rat. Bahkan kini justru Grace lah yang menyambar bibirnya, membuat mereka kembali berpagutan dengan suara decapan saling bersahutan.
Rizal yang semakin bersemangat kini mulai nakal. Tangannya bahkan meremas bo kong Grace dan meraba paha mulus wanita itu.
Sentuhan Rizal tentu membuat wanita seperti Grace yang pernah melakukan hubungan in tim suami istri menginginkan sesuatu yang lebih. Namun dia yakin, Rizal tidak akan berani melakukan hal yang terlalu jauh. Rizal bukanlah Joe, yang pasti akan menerkamnya jika dia sudah dipenuhi gelora asmara seperti saat ini.
Grace menghentikan pagutan mereka. Dia menyandarkan kepala di bahu Rizal dengan nafas tersengal.
" Apa kau ingin melakukannya, Pak tua?" tanya Grace dengan terus mengatur nafas karena saat ini dia sedang meredam keinginan untuk bercinta.
" Aku menginginkanmu. Tapi, aku tidak akan melakukannya sekarang," jawaban Rizal tepat seperti dugaan Grace.
Grace memejamkan matanya guna meredam ga irah yang mulai terbakar dalam dirinya. Perlahan dia menjauhkan tubuhnya dari tubuh Rizal.
" Sebaiknya kau pulang saja, Pak tua!" Tanpa menatap wajah Rizal, Grace lalu berjalan menuju anak tangga meninggalkan Rizal sendirian yang berdiri mematung.
Rizal menatap tubuh Grace yang terus menjauh darinya sampai hilang di ujung anak tangga.
" Aku tahu jika kamu pun sebenarnya menginginkanku, Grace." gumam Rizal tersenyum samar. Tak lama dia pun melangkah ke luar rumah Grace dan meninggalkan rumah Grace.
Dari pintu balkon kamarnya, Grace menatap mobil Rizal yang meninggalkan rumahnya. Dia lalu memutar tubuh kemudian berjalan dan menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Sungguh dia tak menduga jika kedekatannya dengan Rizal akan menjadi seperti ini.
Sejujurnya, berada dekat dengan Rizal membuat dirinya merasa nyaman. Bersentuhan dengan Rizal selalu membangkitkan ga irahnya. Namun, apakah benar dia sudah benar-benar jatuh cinta pada pria itu?
Sementara di kamarnya, Rivaldi masih terus memikirkan soal Grace dan hubungan antara Grace dengan Erlangga. Dia berpikir untuk apa Grace membantu Erlangga?
" Aku harus tahu, ada hubungan apa di antara mereka berdua? Apa Rena itu kekasih gelapnya Erlangga? Rena anak orang kaya, tidak mungkin dia melakukan hal itu karena dibayar dengan uang oleh Erlangga." Rivaldi mengusap rahangnya dan menduga-duga jika ada affair antara Grace dan Erlangga.
" Si al! Sudah mendapatkan Kayra, dia masih menginginkan wanita lain!" umpat Rizal kesal karena dia sedang berpikiran buruk tentang Erlangga.
***
" Permisi, Bu. Ada Pak Rizal ingin bertemu ..." Arini memberitahu Agatha jika Rizal tiba di kantor Rumah Mode Agatha kepada bosnya itu.
" Pak Rizal?" Agatha memicingkan mata hingga guratan terlihat di keningnya.
" Selamat pagi, Nyonya." Belum sempat Arini menjawab, Rizal sudah masuk lebih dulu ke ruangan kerja desainer kondang itu.
" Oh, selamat pagi, Pak Rizal." Agatha bangkit dan menghampiri Rizal. " Mari silahkan duduk, Pak Rizal." Lalu dia menyuruh Rizal untuk duduk di sofa.
" Terima kasih, Nyonya." Rizal masih bersikap dan memanggil dengan formal pada Agatha.
" Ada apa, Pak Rizal? Apa Grace membuat masalah lagi?" tanya Agatha. Perasaannya mengatakan kedatangan Rizal ke kantornya bukan karena Grace membuat ulah, seperti biasa jika Rizal datang ke tempatnya.
" Tidak, Nyonya! Grace baik-baik saja. Saya kemari karena saya ingin menyampaikan sesuatu kepada Nyonya."
" Menyampaikan apa, Pak Rizal?" Entah mengapa hati Agatha berdebar-debar menunggu kalimat Rizal selanjutnya.
" Begini, Nyonya. Sejujurnya saya mencintai Grace. Dan kedatangan saya kemari karena saya berniat melamar Grace untuk menjadi istri saya, Nyonya. Saya ingin meminta ijin kepada Nyonya, untuk menikahi Grace." Tanpa banyak basa-basi, Rizal menyampaikan niatnya ingin memperistri Grace kepada Agatha.
Agatha tercengang dan membulatkan bola matanya mendengar kalimat yang diucapkan oleh Rizal tadi. Inilah hal yang dia takutkan setelah melihat Rizal menggenggam tangan Grace saat bertemu dengan mereka beberapa waktu lalu di sebuah cafe.
Agatha tahu jika Rizal bukanlah orang jahat seperti Joe. Dia juga tahu Rizal tidak akan menjerumuskan Grace ke dalam pergaulan yang tidak sehat. Tapi, usia dan pekerjaan yang digeluti Rizal saat ini membuat dia meragukan pria itu dapat membahagiakan kehidupan Grace, karena dia tahu bagaimana watak Grace.
" Hmmm, begini, Pak Rizal. Sebagai orang tua, tentu saya menginginkan anak saya mendapatkan pasangan hidup yang terbaik untuk dia. Saya tahu jika Pak Rizal ini orang baik, saya tidak meragukan itu. Tapi, kalau untuk menjadi suami dari Grace ... maaf, Pak Rizal, saya rasa Grace kurang cocok berpasangan dengan Anda." Agatha menyampaikan pandangannya jika Rizal bukanlah jodoh yang cocok dengan putrinya.
" Apa masalahnya karena status dan usia saya, Nyonya?" Rizal dapat menebak, itulah alasan yang digunakan Agatha untuk menentang keinginannya menikahi Grace.
" Yaaaa, salah satunya itu. Grace masih sangat muda. Dia baru dua puluh tahun, sedangkan Pak Rizal, maaf usia Pak Rizal berapa kalau saya boleh tahu?" Agatha memang tidak mengetahui jelas usia Rizal. Namun, dia yakin Rizal berusia cukup dewasa.
__ADS_1
" Tiga puluh sembilan tahun, Nyonya." sahut Rizal tak malu menyebutkan usianya.
" Tiga puluh sembilan tahun. Berarti perbedaan usianya sembilan belas tahun, kan? Itu sangat jauh sekali, Pak Rizal. Saya akui saya juga pernah memiliki pasangan yang lebih muda. Namun, pernikahan itu akhirnya kandas. Dan saya tidak ingin hal itu terjadi pada Grace." Agatha menjelaskan alasannya menentang rencana Rizal yang ingin menjadikan Grace sebagai istrinya.
" Apakah pria yang berusia muda dapat menjamin Grace mendapatkan kebahagian, Nyonya?" Rizal ingin mematahkan anggapan Agatha jika usianya yang sudah terlalu dewasa untuk menjadi suami Grace dianggap tidak dapat memberikan kebahagiaan kepada Grace.
" Dan menurut Anda, Nyonya. Pria seperti apa yang dapat membuat Grace hidup bahagia? Nyonya lihat bagaimana Grace setelah saya dampingi hampir satu tahun ini, kan? Apakah masih sama seperti Grace yang dulu ketika masih bersama kekasihnya yang pengecut itu? Nyonya dapat melihat interaksi yang baik antara Grace dengan rekan-rekan di kantor saya. Bagaimana pergaulannya sekarang. Apa Nyonya tidak dapat merasakan jika Grace sebenarnya nyaman di tempat saya, bersama saya!?" Dengan kalimat tegas Rizal menyebutkan perubahan sikap Garce yang kini lebih baik setelah hampir satu tahun berada dalam pengawasannya.
" Jika Nyonya memberikan kesempatan kepada pria lain untuk mendapatkan Grace, saya berharap Nyonya juga dapat memberikan kesempatan tersebut kepada saya."
" Saya berjanji saya akan membahagiakan Grace. Percayalah, Nyonya." Rizal mencoba meyakinkan Agatha jika dia memang benar tulus mencintai Grace.
Agatha menarik nafas perlahan. Harus dia akui, dia senang melihat Grace sekarang yang lebih ceria, apalagi jika sedang bersama teman-temannya di kantor Rizal. Pergaulan yang dijalani oleh Grace bersama mereka terlihat sangat positif dan Grace lebih perduli kepada orang lain.
" Grace pernah bilang kepada saya jika dia ingin menikmati masa mudanya lebih dahulu. Dan dia juga tidak ingin menikah dalam usia muda apalagi menikah dengan pria yang jauh lebih dewasa usianya dari dia saat ini." Agatha mengatakan alasan yang pernah dia dengar dari Grace tentang keinginannya menolak menikah di usia muda.
" Saya rasa, saya dapat merubah keinginannya itu, Nyonya. Grace sebenarnya menginginkan bersama saya." Dengan percaya diri Rizal mengatakan jika Grace pun sebenarnya menginginkannya.
" Hmmm, begini saja, Pak Rizal. Beri saya waktu untuk berpikir. Saya juga harus membicarakan hal ini dengan Grace dan juga Om nya Grace di Jerman." Agatha tidak ingin gegabah menyetujui permintaan Rizal. Walaupun dia adalah orang tua Grace, akan tetapi dia juga merasa perlu bertukar pikiran dengan adik dari Papanya Grace yang tinggal di Jerman.
" Baiklah, Nyonya. Kalau begitu saya pamit dulu. Saya harap, Nyonya dapat mempertimbangkan keinginan saya ini. Permisi." Merasa tidak ada lagi yang perlu di sampaikan olehnya Rizal lalu berpamitan kepada Agatha untuk menuju ke kantornya.
Setelah kepergian Rizal, Agatha bergegas ke mejanya untuk mengambil ponsel, karena dia ingin segera menghubungi seseorang dengan ponselnya.
" Halo, ada apa, Tante?" Suara Rivaldi terdengar di telinga Agatha. Ketika panggilan teleponnya tersambung
" Aldi, apa kamu serius menginginkan Grace?" tanya Agatha.
" Memangnya kenapa, Tante?" tanya Rivaldi kembali.
" Kapan orang tua kamu akan meminang Grace? Kalau kamu serius ingin Grace menjadi istri kamu, sebaiknya kamu secepatnya melamar Grace, karena ada pria lain yang datang ke Tante dan melamar Grace untuk menjadi istrinya." Agatha menceritakan jika ada pria lain yang akan menjadi saingan Rivaldi dalam memperebutkan Grace.
" Apa pria lain yang melamar, Grace? Siapa Tante?" Rivaldi terkejut mendengar informasi yang dia dengar dari Agatha.
" Pak Rizal. Dia tadi datang kemari dan menyampaikan niatnya itu kepada Tante."
" Pak Rizal? Pengawal pribadi itu?" Rivaldi semakin dibuat terkejut saat Agatha mengatakan jika pria yang dia kenal sebagai Firman lah yang melamar Grace.
" Hmmm, nanti Tante ceritakan yang sebenarnya. Kapan kita bisa bertemu? Nanti Tante akan ceritakan bagaimana Garce bisa kenal dengan Pak Rizal." Agatha memilih untuk menceritakan siapa Rizal yang sebenarnya kepada Rivaldi.
" Baiklah, Tante. Nanti makan siang saja kita bertemu, bagaimana?"
" Oke, nanti Tante pilihkan tempatnya, ya! Ya sudah kita ketemu nanti siang, ya!"
" Baik, Tante."
Agatha langsung mengakhiri sambungan teleponnya setelah mendapat jawaban dari Rivaldi.
" Maaf, Pak Rizal. Saya kurang suka jika Grace mempunyai suami seperti Anda." gumam Agatha kemudian.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1