TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Buktikan Padaku!


__ADS_3

Grace menahan tawanya saat mendengar teman Mamanya itu menduga jika Rizal adalah calon Papa tirinya. Dia lalu melirik ke arah Rizal yang menatap tajam dengan meredam rasa kesal karena Grace seakan menikmati suasana canggung saat ini.


" Cocok sama Mama ya, Tan?" Grace justru iseng meladeni ucapan Susan tadi.


" Hmmm, cocok, kok! Mama kamu ini biarpun usianya sudah kepala empat tapi masih cantik seperti usia di bawah empat puluh tahun." Susan menjawab pertanyaan Grace. " Tapi, hati-hati juga kamu, Agatha." Susan menurunkan volume suaranya dan berbisik di dekat Agatha. " Kamu punya anak gadis secantik Grace. Jangan biarkan calonmu ini terlalu dekat dengan Grace, takutnya dia malah tertarik juga dengan anakmu, itu bahaya!" Susan seolah memperingatkan Agatha agar bersikap hati-hati.


" Hmmm, dia bukan calon saya kok, Mbak." Agatha segera menepis anggapan Susan yang menyangka Rizal adalah calonnya.


" Dia itu ..." Kini Agatha menatap ke arah Grace, seakan meminta jawaban dari Grace soal siapa Rizal yang sebenarnya. Karena dia tidak mungkin mengatakan hal yang sebenarnya tentang Rizal pada Susan.


" Om ini guru aku, Tante. Guru akting aku, Tan." sahut Grace tanpa menoleh ke arah Rizal, karena dia yakin Rizal pasti akan terkejut mendengar jawabannya.


" Guru akting? Kamu mau jadi aktris, ya? Pasti kamu mudah menjadi aktris terkenal, Grace. Karena kamu memilik wajah yang cantik seperti ini." Susan sepertinya percaya dengan penjelasan asal-asalan dari Grace.


" Terima kasih, Tan." Grace tersipu dipuji oleh Agatha.


" Kamu sudah punya pacar, Grace?" tanya Susan kemudian.


" Hmmm, sudah putus sih, Tan." Ekor mata Grace melirik ke arah Rizal sebelum menjawab pertanyaan Susan.


" Wah, kebetulan sekali, Erick juga sedang tidak punya pacar. Agatha, anakmu buat aku saja, ya!? Kita jodohkan Grace sama Erick, pasti mereka cocok." Susan bersemangat sekali menjodohkan Grace dengan putranya.


" Erick sekarang pasti tambah ganteng ya, Tan?" Grace sengaja membuat hati Rizal semakin terbakar karena dia seakan merespon permintaan Susan yang ingin menjodohkan dirinya dengan Erick.


" Ganteng, dong! Anak Tante pasti ganteng. Dia 'kan blasteran ..." Susan lalu menunjukkan foto dari ponselnya.



" Ya ampun, cakep banget, Tan." Grace mengambil ponsel Susan seraya memperhatikan foto Erick di ponsel milik Susan itu. Dia pun lalu menunjukkan foto Erick pada Rizal. " Menurutmu bagaimana? Cocok tidak aku sama aku?" Grace meledek Rizal yang semakin terlihat geram.


" Tan, bagi nomer Erick, dong!" Grace mengembalikan ponsel milik Susan.


" Boleh, nomer kamu berapa? Nanti Tante kirim nomernya." Susan merespon permintaan Grace.


" Nyonya Agatha, Nyonya Susan, Anda sudah ditunggu oleh Mr. dan Mrs. Bernard di private room." Seorang pria tiba-tiba mendekat dan berkata kepada Agatha dan juga Susan.


" Oh iya, Mas." Agatha menyahuti kata-kata orang tadi. " Ayo, Mbak. Mereka sudah menunggu kit." Lalu dia mengajak Susan untuk menemui orang yang sudah mereka janjikan untuk bertemu.


" Astaga, kita sampai lupa tujuan kita datang kemari. Ya sudah nanti nomer Erick Tante kirim ke Mamamu saja, ya!" ujar Susan.


" Iya, Tante."


" Kita perlu bicara nanti!" Sebelum meninggalkan Grace dan Rizal, Agatha masih menyempatkan berpesan kepada Grace. Dia butuh penjelasan dari putrinya tentang hubungan kedua orang itu, karena dia tadi sempat melihat Rizal menggenggam tangan Grace. Dan dia yakin pasti ada sesuatu di antara Rizal dan Grace yang tidak dia ketahui.


" Kau dengar apa yang Tante tadi katakan? Kau ini lebih cocok jadi Papa aku daripada jadi pasanganmu! Kau ini terlalu tua untukku. Sebaiknya kau cari wanita lain yang seumuran denganmu, yang pantas menjadi pendamping mu." Grace kembali duduk dan melempar kata-kata Susan pada Rizal.


" Tidak ada larangan mempunyai pasangan yang lebih tua atau lebih muda, selama wanita itu sudah memasuki usia dewasa dan layak untuk berumah tangga." Rizal tetap pada pendiriannya.


" Kau ini sebenarnya kekurangan stok wanita atau sudah frustasi tidak mendapatkan wanita yang kau idamkan hingga memilih aku? Apa kau lupa? Aku ini wanita nakal, sudah tidak perawan, keras kepala, sombong, bad attitude lah pokoknya. Tidak ada yang bagus pada diriku, apa yang bisa kau harapkan dari aku?" Grace sengaja menyebutkan semua hal buruk yang ada pada dirinya agar Rizal mengurungkan niatnya itu.


" Aku bisa membawamu menjadi lebih baik." Perkataan Grace sepertinya tidak berpengaruh pada diri Rizal, karena pria itu tetap bersikeras pada pendiriannya.


" Aku tidak mudah menjatuhkan pilihan pada wanita. Dan aku memilihmu karena aku yakin kamulah yang paling tepat untukku," sambung Rizal.


Grace tertawa mendengar ucapan Rizal. Dia tidak menyangka Rizal akan berkata demikian walaupun dia berpikir perasaan Rizal terhadapnya terlalu berlebihan.


" Kau jangan terlalu berlebihan, Pak tua!" Grace mengibas tangan ke udara.


" Beri aku kesempatan untuk membuktikan jika aku memang pria yang pantas untukmu." Rizal menatap netra Grace menbuat kedua orang itu saling berpandangan. Namun, tak lama Grace mengalihkan pandangan ke arah lain. Karena menatap mata elang Rizal akan membuatnya terperdaya dengan pesona pria dewasa itu.


" Baiklah ... tapi, kau tidak berhak melarangku untuk dekat dengan siapapun!" Grace memberikan syarat pada Rizal membuat kening pria itu dihiasi guratan.


" Biarpun aku banyak dikelilingi pria tampan, jika kau benar bisa membuatku terkesan, mungkin aku bisa luluh padamu. Begitu juga sebaliknya. Walaupun kau paksa aku untuk tidak berhubungan dengan pria lain, jika Tuhan tidak menentukan kita berjodoh, kau tetap tidak akan bisa memaksaku jadi milikmu, Pak tua!"

__ADS_1


Rizal menghela nafas panjang mendengar penjelasan 'Grace. Dia ingin menyetujui syarat yang diberikan Grace. Namun, sepertinya dia akan sulit menerima jika Grace berdekatan dengan pria lain.


" Bagaimana, Pak tua? Kau setuju atau tidak dengan syaratku? Aku tidak mau terlalu kau kekang harus begini dan harus begitu," ucap Grace kembali.


" Baiklah, jika itu yang kau inginkan." Rizal terpaksa menerima syarat yang diberikan oleh Grace, daripada wanita itu terus saja menolaknya. Karena dia juga merasa yakin dia akan mampu meluluhkan hati Grace.


***


Rizal mendengar pintu ruangannya diketuk dari luar dan tak lama Vito yang menyembulkan kepalanya dari luar pintu. Dia pun lalu mempersilahkan Vito untuk masuk ke dalam ruangannya.


" Masuk, Vito! Bagaimana pertemuan dengan Agnes kemarin? Berhasil?" tanya Rizal. Kemarin siang Vito sempat mengabarkan padanya soal Agnes yang mengajak Vito bertemu.


" Sudah, Pak. Nyonya Helen sudah tahu siapa Agnes yang sebenarnya. Dan tugas saya juga sepertinya sudah selesai 'kan, Pak?" Vito bersyukur urusannya dengan Agnes benar-benar sudah berakhir.


Rizal terkekeh melihat ekspresi Vito yang terlihat lega. Karena dia tahu, tugas yang dihadapi oleh Vito sangat berat. Menahan diri dari dogaan wanita adalah hal terberat bagi kaum pria tentunya.


" Apa dia berhasil memangsamu, Vit?" tanya Rizal penasaran apa yang terjadi pada Vito kemarin di apartemen milik Agnes.


" Hampir saja, Pak. Untung saja Nyonya Helen datang tepat waktu dan menggagalkan niat Agnes itu. Saya harap, Bapak jangan memberikan tugas seperti itu lagi kepada saya, Pak." keluh Vito yang merasa kapok diberi tugas itu oleh Rizal.


Rizal tertawa lepas disusul Vito pun ikut tertawa menyadari tugas konyol yang baru diselesaikannya.


Sementara dari arah pintu masuk, Grace muncul dengan mengeryitkan keningnya melihat bos dan anak buahnya sedang tertawa lebar, entah apa yang sedang mereka tertawakan.


" Apa kita jadi ke kantor Abadi Jaya siang ini, Pak tua?" tanya Grace membuat tawa Rizal dan Vito terhenti.


" Apa kau merindukan dia?" sindir Rizal membalas pertanyaan serius dari Grace. Dia lalu bangkit dan berjalan ke arah Grace.


" Tentu saja, bertemu dengan pria tampan seperti Rivaldi, siapa yang tidak senang? Daripada aku bosan melihat wajahmu terus!" Grace memutar bola matanya menanggapi sindiran Rizal.


" Oh ya, Vit. Mestinya sebelum menghadapi orang macam Agnes, kau harus berguru dulu pada Grace. Dia itu 'kan biasa menggoda pria, jadi kau tahu cara menolaknya jika ada wanita yang ingin mengajaknya berhubungan in tim." Rizal kembali meledek Grace, sepertinya perkataan Grace yang menyebut senang bertemu dengan Rivaldi memercikkan api cemburu di hatinya.


" Si alan, kau!" Grace kesal karena Rizal menyindirnya di hadapan Vito. Dia tak masalah jika Rizal menyindir perilakunya dulu bersama Joe. Namun, dia tidak suka hal itu dijadikan ejekan Rizal dihadapan orang lain. Apalagi Rizal sendiri sudah mengatakan akan berusaha merebut hatinya. Sementara sikap Rizal kali ini sudah membuatnya kesal.


" Kau harus sopan denganku, Nona." bisik Rizal di telinga Grace membuat darah Grace seketika berdesir saat hembusan hangat nafas Rizal menyentuh kulitnya.


" Saya permisi dulu, Pak." Melihat kein timan kedua orang di hadapannya saat ini, Vito memilih keluar dari ruang kerja Rizal.


" Mulai sekarang, biasakan bersikap sopan terhadapku!" Rizal melepas tangan Grace dan memutar tubuhnya untuk kembali ke kursinya.


Melihat Rizal lengah, Grace langsung mengarahkan kakinya ke punggung Rizal karena dia masih kesal dengan perkataan perbuatan Rizal tadi.


Buuuggghhh


Walaupun tidak terlalu kencang akan tetapi tetap mengenai punggung Rizal. Membuat Rizal memutar tubuhnya. Grace sendiri langsung berlari ingin meninggalkan ruangan Rizal agar dia tidak terkena balasan dari Rizal


Duuuggghh


" Aaawwww ...!" Grace memegangi pipinya. Akibat terburu-buru berlari keluar dari ruangan Rizal hingga Grace tidak melihat pintu ruangan Rizal yang masih terbuka, dan membuat tulang pipi wanita itu terkena han taman pintu.


Rizal justru terkekeh melihat penderitaan Grace. Dia mendekati Grace yang masih meringis kesakitan.


" Makanya jangan dzholim padaku. Sini aku lihat ..." Rizal menangkup rahang Grace dan menutup pintu ruang kerjanya.


" Kasihan sekali, mau bertemu dengan pujaan hati, wajahnya legam seperti ini," lanjut Rizal meledek Grace.


" Lepaskan!" Grace menepis tangan Rizal dari wajahnya.


" Sebaiknya kau tidak usah temui Rivaldi siang ini. Jangan aktifkan nomer ponsel yang kau beri pada Rivaldi. Aku punya ide agar kau bisa masuk ke dalam kehidupan keluarga Rivaldi lalu menyelidiki siapa Ibu dari Rivaldi dan apa hubungannya dengan keluarga Tuan Erlangga." Rizal mendapatkan ide agar Grace secepatnya mengetahui tentang keluarga Rivaldi, supaya Grace tidak terus berurusan dengan Rivaldi setelah tugas yang diberikan oleh Erlangga selesai.


" Kau ingin aku melakukan apa?" tanya Grace kemudian.


" Kau harus bisa bertemu dengan ibu dari Rivaldi itu." Rizal membawa Grace duduk di sofa. Dan Grace pun menuruti apa yang diminta pria itu.

__ADS_1


" Caranya?" tanya Grace.


" Kau jangan muncul sementara, dia pasti akan penasaran padamu. Apalagi jika dia melihatmu dengan wajah lebam ini, Dia pasti akan sangat khawatir. Aku nanti akan katakan pada Rivaldi jika kau tidak datang ke kantor dan nomermu sulit untuk dihubungi, dia pasti akan datang ke tempatmu. Kau harus bersandiwara seolah kau mendapatkan kekerasan dari Dave, aku yakin dia pasti bertindak." Rizal menjelaskan rencana apa yang akan dia jalankan.


" Oke," sahut Grace singkat.


Rizal lalu bangkit mengambil beberapa es batu dari kulkas dan membungkus dengan sapu tangan di saku celananya yang masih bersih belum dia pakai. Dia lalu kembali duduk untuk mengompres bagian wajah Grace yang tadi terkena pintu.


" Kenapa kau obati? Bukankah ini untuk bukti jika Rivaldi melihatku nanti?" tanya Grace heran karena Rizal justru mengobatinya.


" Ini untuk meredakan memarnya. Kasihan wajah cantikmu ini jika harus terkena memar seperti ini." Rizal menempelkan es batu yang sudah dibalut sapu tangan miliknya.


Rizal kemudian membelai lembut wajah Grace dan menatap bibir Grace.


" Saat bersama Rivaldi nanti, jangan biarkan dia menyentuhmu seperti ini." Rizal kembali mengingatkan Grace agar tidak bersentuhan fisik dengan Rivaldi.


" Agar kau saja yang boleh menyentuhmu, begitu?" sindir Grace, karena Rizal melarangnya bersentuhan dengan pria lain, sementara Rizal sendiri seenaknya saja menyentuhnya.


" Pintar kalau kau paham ..." Rizal justru terkekeh menanggapi ucapan Grace. Dia menatap wajah Grace yang memberengut, tapi tetap terlihat menarik di matanya.


" Kau cantik ..." ucapnya kemudian.


" Baru sadar kalau aku cantik!?" Grace memutar bola matanya.


" Aku pasti bisa memilikimu!" ucap Rizal penuh keyakinan.


" Tidak akan semudah itu," sahut Grace.


" Tak masalah, aku pasti bisa mendapatkanmu." tegas Rizal penuh keyakinan. Dia lalu memangkas jarak dengan Grace. Sepertinya dia sudah merasa candu dengan bibir manis milik Grace hingga ingin menyentuhnya lagi.


Rizal kemudian mendekatkan bibirnya pada bibir Grace, memberikan sentuhan lembut namun cukup lama. Tak ada penolakan dari Grace, bahkan Grace memejamkan matanya menikmati sentuhan Rizal di bibirnya.


Grace sendiri tidak mengerti, kenapa dia tidak menolak saat Rizal menyentuh bibirnya. Padahal mulutnya selalu menampik tidak menyukai pria tua seperti Rizal.


" Kak Vito, Papih ada?" suara Isabella tiba-tiba terdengar dari luar ruangan Rizal.


Rizal yang menyadari kehadiran putrinya segera melepas pagautannya pada bibir Grace dan menjauh dari Grace. Namun, Grace menahannya.


" Biarkan seperti ini! Buktikan padaku! Jika kau memang benar menginginkanku, katakan sekarang juga pada putrimu itu jika kau menyukaiku." Grace menantang Rizal untuk mengakui perasaan terhadapnya di hadapan Isabella.


" Aku pasti akan mengatakan pada Isabella. Tapi, tidak saat ini."


Jawaban Rizal membuat Grace mende sah. Dia sudah menduga jika Rizal tidak berani mengakui perasaannya itu di hadapan Isabella.


" Sudah aku duga ...."


" Grace, jangan salah paham!" Rizal meminta Grace bersabar. Rizal pasti akan mengatakannya pada Isabella. Tapi, tidak saat ini dan tidak di kantornya. Dia butuh tempat yang pas untuk membicarakan ini dengan putrinya dari hati ke hati. Apalagi Isabella pernah mengancam akan meninggalkannya jika dia tetap bersama Grace.


Grace menjauhkan tubuhnya dari Rizal lalu bangkit berjalan ke arah pintu.


" Grace ...!" Rizal memanggil Garce agar wanita itu tidak marah. Tapi, Grace tidak memperdulikannya hingga Grace kini berpapasan saat dia membuka pintu ruangan kerja Rizal.


" Kamu? Sedang apa kamu di ruang kerja Papih aku!?" Pertanyaan selidik langsung dilancarkan Isabella pada Grace.


*


*


*


Bersambung ...


Happy Reading❤️

__ADS_1


__ADS_2