
Setelah Surti membelikan testpack di apotik. Bi Tinah bergegas masuk ke kamar majikannya. Dia pun merasa penasaran apakah istri muda majikannya itu sedang hamil atau tidak. Dia dapat membayangkan jika Grace benar positif hamil, bosnya pasti akan senang bukan kepalang.
" Non, ini testpack nya. Cepat diperiksa, Non. Ini wadah untuk urine nya. Nanti dilihat saja petunjuk pemakaiannya." Bi Tinah terlihat sangat bersemangat mengantarkan alat test kehamilan kepada Grace, dan meminta Grace segera melakukan pengecekkan terhadap urine nya.
Grace lalu menerima alat pengecek kehamilan itu dari Bi Tinah. Dia pun segera melangkah ke kamar mandi untuk melakukan apa yang disarankan oleh Bi Tinah dengan mengikuti petunjuk yang ada di kemasan alat itu.
Grace membuka kemasan testpack untuk membaca aturan pakai testpack itu. Dia kemudian mengambil sampel urine ke dalam wadah yang diserahkan oleh Bi Tinah sebelumya sesama testpack.
Grace memasukan alat test kehamilan itu ke dalam wadah sampai batas yang ditentukan sesuai petunjuk yang dia baca kemudian menunggu beberapa detik, lalu dia mengeluarkan alat test kehamilan itu dan menunggu sampai tanda merah muncul di alat test kehamilan tadi.
Setelah menunggu beberapa saat akhirnya tanda yang ditunggu muncul juga. Namun, hanya satu garis merah yang muncul di alat itu. Tidak yang diharapkan dan dia inginkan sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
Grace menatap benda kecil yang menampakkan satu garis merah begitu jelas. Satu garis, ya, hanya satu garis. Bukan dua garis yang seperti dia harapkan saat mencelupkan benda itu pada wadah kecil yang telah dia isi dengan urine nya.
Grace menghela nafas panjang. Meskipun awalnya dia tidak memperkirakan jika dirinya sedang hamil. Namun, karena Bi Tinah seolah menyemangatinya dengan mengatakan kemungkinan dirinya hamil, tentu saja harapan itu seketika terbentuk di hati Grace. Dan kini, setelah dia lihat sendiri ternyata hasilnya tidak sesuai dengan harapnya. Rasa kecewa seketika menyeruak di hatinya.
Grace mendengus kasar dengan menurunkan tangan yang memegang testpack itu dari pandangannya, lalu berjalan ke luar dari kamar mandi, untuk menyerahkan benda itu kepada Bi Tinah.
" Bagaimana hasil, Non?" Saat Grace membuka pintu kamar mandi, Bi Tinah yang sejak tadi bersemagat menduga Grace hamil sudah menyambutnya dengan penasaran untuk mengetahui hasil testpack itu. Namun, melihat wajah Grace yang terlihat lesu, Bi Tinah merasa hasil yang didapat kurang memuaskan.
" Ini, Bibi lihat saja sendiri!" Grace menyerahkan testpack itu kepada Bi Tinah, lalu melangkah tidak bersemangat ke arah tempat tidur dan kembali bergelung selimut.
Sedangkan Bi Tinah memperhatikan hasil negatif dari testpack di tangannya, ternyata tidak sesuai dengan prediksi dan harapannya. Dia pun merasakan kecewa dengan hasil yang didapat dari hasil testpack itu.
Bi Tinah melangkah mendekat ke arah tempat tidur Garce. " Hasilnya negatif, Non?" Bi Tinah seolah tidak percaya pada hasil testpack yang didapat dari urine milik Grace. Padahal dia sangat bersemangat jika mengetahui Grace hamil.
" Menurut Bibi itu hasilnya apa?? Aku 'kan sudah bilang sama Bibi. Aku ini tidak mual-mual, jadi tidak mungkin hamil! Hanya sakit kepala dan badan lemas saja!" Grace seolah menyalahkan Bi Tinah yang sudah melambungkan asa nya, sehingga dia juga berharap dia benar-benar hamil. Jujur dia akui, dia merasa kecewa walaupun awalnya dia tidak berpikir kalau dia sedang hamil.
" Maaf, Non. Soalnya gejala wanita hamil muda juga suka pusing dan lemas. Maaf kalau Bibi salah memperediksi, Non!" Merasa jika Grace seolah menyalahkannya, Bi Tinah langsung menyampaikan permintaan maafnya.
" Ya sudah, Bibi keluar saja, deh! Bawa alat itu sekalian. Daripada buat aku kesal!" Kali ini Grace kembali menggunakan kalimat ketus yang sudah lama tidak dia gunakan ketika bicara dengan Bi Tinah atau dengan Surti.
" Baik, Non. Maaf ya, Non!?" Bi Tinah buru-buru keluar dari kamar Grace daripada dia mendapat omelan dari Grace kembali.
" Bi ...!"
Ketika keluar dari kamar Grace, Bi Tinah mendengar suara Isabella memanggil namanya dari kamar Isabella yang dipisahkan oleh ruang gym pribadi.
" Ada apa, Non?" tanya Bi Tinah mendekat ke arah Isabella. Dia tidak menyangka jika Isabella sedang menunggunya keluar dari kamar Grace.
" Bagaimana hasilnya?" Tentu Isabella pun penasaran dengan hasil testpack Grace. Dia juga tidak menampik jika dia juga ingin tahu apakah dia akan mendapatkan adik lagi atau tidak.
" Ini, Non." Bi Tinah menyodorkan alat pengecek kehamilan itu kepada Isabella.
__ADS_1
Isabella memperhatikan alat test kehamilan dibtangannga yang menunjukkan satu garis merah saja. " Tidak hamil, Bi?" tanya Isabella kemudian seraya menggelengkan kepalanya.
" Iya, Non." Bi Tinah menganggukkan kepalanya.
" Apa ini hasilnya akurat, Bi?" tanya Isabella kemudian.
" Hampir mendekati, Non. Tapi untuk memastikan biasanya orang langsung cek ke dokter kandungan atau ke bidan, Non." Bi Tinah menjelaskan jika kadang pernah terjadi satu atau dua kasus, hasil negatif di testpack, ternyata saat dicek di dokter kandungan ternyata hamil.
" Berarti ada kemungkinan hasil ini salah juga 'kan, Bi?" Isabella menyerahkan kembali alat pengecek kehamilan itu kepada Bi Tinah.
" Iya, bisa juga begitu, Non. Bisa jadi karena usia kandungan masih muda jadi belum dapat terdeksi, Non." Bi Tinah memperhatikan Isabella, lalu bertanya, " Non Bella sebenarnya mengharapkan Non Grace hamil atau tidak?" Tiba-tiba Bi Tinah melempar pertanyaan yang tak terduga bagi Isabella.
Pertanyaan Bi Tinah tentu saja membuat Isabella terkesiap. dia lupa jika ART di rumahnya itu suka penasaran dan selalu ingin tahu apa yang terjadi di rumah itu.
" Kenapa Bi Tinah tanya seperti itu!?" Tanpa memberi jawaban atas pertanyaan Bi Tinah, Isabella justru masuk kembali ke dalam kamarnya meninggalkan Bi Tinah.
Tak mendapatkan jawaban dari Isabella, Bi Tinah memutuskan turun ke bawah menuju arah dapur dan membuang alat test kehamilan yang memberikan harapan palsu bagi Grace.
" Bagaimana, Bi Tinah? Non Grace hamil tidak?" Surti yang sejak tadi menunggu di dapur pun menunggu kabar hasil testpack Grace.
" Negatif, Sur ..." Dengan mendengus, Bi Tinah menyodorkan alat test kehamilan kehamilan itu lalu menarik kursi dan duduk lemas di atasnya.
" Yaaa, gagal jadi baby sitter, dong!" Surti pun tak kalah kecewa dengan yang lainnya mendapati hasil negatif dari testpack itu.
" Non Grace marah sama Bibi, Sur. Karena Bibi yang menyuruh Non Grace periksa tadi." Bi Tinah menyampaikan penyesalannya karena telah memberikan harapan palsu bagi Grace.
" Karena Bibi tadi yang maksa. Padahal Non Grace tadi menolak, Sur." Bi Tinah menjelaskan.
***
Rizal berlari memasuki rumahnya saat pulang dari kantor. Rasanya dia tidak sabar ingin bertemu sang istri, karena seharian ini dia bekerja tanpa ditemani Grace sejak mereka menikah. Apalagi saat ini. istrinya itu sedang sakit, membuat Rizal ingin segera menemui pujaan hatinya itu.
" Assalamualaikum ..." Rizal masuk dan menyapa penghuni di rumahnya yang saat itu mendengar sapaannya.
" Waalaikumsalam, Pak." jawab Surti yang sedang bertugas mengepel lantai. " Eh, Bapak sudah pulang?" Surti menghentikan. aktivitas mengepelnya.
" Kamu sedang ngepel, Surti?" Rizal menarik langkahnya kembali saat mengetahui ART nya itu sedang mengepel lantai ruangan tamu.
" Tidak apa-apa, Pak! Langkahi saja! Nanti biar saya pel lagi." Surti mempersilahkan Rizal masuk ke dalam rumah.
" Maaf, ya, Surti." Rizal berjinjit melangkah masuk ke dalam rumahnya. Biarpun dia majikan di rumah itu, namun dia tetap menghargai pekerjaan ART nya.
" Iya, Pak Tidak apa-apa" m sahut Surti.
__ADS_1
" Grace masih di kamar, Surti?" tanya Pak Rizal kembali.
" Masih, Pak. Sejak pagi Non Grace sama sekali tidak keluar kamar," jawab Surti. " Bi Tinah malah menduga Non Grace sedang hamil muda sampai menyuruh saya membelikan testpack, Pak. Tapi ternyata hasilnya negatif." Surti justru memceritakan apa yang telah terjadi di rumah itu siang tadi pada Grace.
Rizal mengerutkan keningnya mendengar cerita Surti tentang dugaan Bi Tinah yang mengira Grace hamil.
" Grace sempat test kehamilan?" tanyanya terkejut. Dia lalu menoleh ke kamarnya di lantai atas.
" Iya, Pak. Tapi kata Bi Tinah, Non Grace marah waktu tahu Non Grace tidak hamil. Sepertinya Non Grace kecewa sama hasil testpacknya, Pak," lanjut Surti menjelaskan kondisi Grace saat mengetahui ternyata tidak hamil.
" Ya sudah, saya mau ke atas dulu." Rizal lalu berpamitan dan meninggalkan Surti menuju kamarnya.
Rizal membuka pintu kamar perlahan saat dia sampai di depan kamarnya. Dia masih mendapati Grace yang masih bergelung selimut di atas tempat tidur empuk.
Rizal berjalan mendekat lalu duduk di tepi tempat tidur, kemudian mengusap kepala Grace dengan lembut dan memberi kecupan di pipi Grace
" Apa masih sakit?" bisiknya kemudian.
Grace yang sedang memejamkan mata seketika terkesiap saat mendegar suara Rizal dibarengi belaian lembut tangan Rizal di kepalanya ditambah kecupan di pipinya.
" Papih sudah pulang?" Grace memaksakan bangkit dari tidurnya.
" Apa masih sakit kepalanya?" tanya Rizal kembali membelai kepala Grace.
" Masih pusing sedikit, Pih." Grace berniat turun dari tempat tidur.
" Kamu mau ke mana?" tanya Rizal saat melihat Grace hendak beranjak dari tempat tidur.
" Papih mau mandi, kan? Aku mau ambilkan baju untuk ganti." Grace menjelaskan tujuannya turun dari tempat tidur.
" Tidak usah, biar aku saja yang ambil bajuku." Rizal menahan Grace yang ingin bangkit kembali dari tempat tidur.
" Kalau kamu masih sakit, kamu istirahat saja! Sudah makan? Sudah minum obat lagi belum?" tanya Rizal kembali.
" Sudah, kok! Biar aku yang ambilkan saja, Pih! Lagipula dari tadi aku tidak mengerjakan apa-apa, malah bikin badan aku tambah sakit." Garce tak mau dilarang dan memaksa ingin menyiapkan pakaian untuk suaminya.
Rizal tersenyum melihat sikap Grace sejak menjadi istrinya, mulai belajar cara melayani dirinya dengan baik. Membiasakan diri melakukan hal-hal kecil menyiapkan pakaian ganti untuknya, bahkan mulai belajar memasak, walaupun hasilnya masih belum pas di lidah Rizal.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️