TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Rencana Bertemu Om Daniel


__ADS_3

Rizal bersiul seraya merapihkan rambut dengan jari tangannya lalu menyemprotkan kembali parfum ke leher dan di titik nadi di pergelangan tangannya. Setelah pulang dari kantor tadi, sore, membersihkan badannya dilanjut dengan Sholah Maghrib. Rizal lalu berganti pakaian karena dia ingin ke rumah Grace.


Rizal benar-benar sedang dimabuk asmara. Seharian bertemu Grace di kantor, sepertinya terasa kurang untuknya, sehingga malam ini dia berniat mengunjungi rumah Grace untuk menghabiskan waktu bersama atau menikmati makan malam bersama wanita pujaan hatinya itu.


Tok tok tok


" Pih ..." Dari arah pintu kamar terlihat Isabella masuk ke dalam kamar Rizal. Putri tunggal Rizal itu memicingkan matanya saat mencium aroma parfum milik Papihnya yang terhirup di penciuamannya saat dia membuka pintu kamar. Apalagi penampilan Rizal yang terlihat rapih.


" Papih mau ke mana?" tanya Isabella menatap Papihnya dengan penuh selidik.


" Sayang ..." Rizal menghampiri Isabella lalu merengkuh tubuh putri kesayangannya itu seraya memberi kecupan di kening Isabella.


" Papih mau pergi sama wanita itu, ya!?" Isabella bertanya dengan nada ketus dan memberengut.


" Papa hanya ingin pergi makan malam sebentar, Sayang." sahut Rizal menjelaskan ke mana dia akan pergi.


" Jadi, Papih tidak makan di rumah menemani Bella?" Isabella merasakan jika Rizal lebih mengutamakan Grace daripada makan malam bersama dirinya.


" Malam ini saja, Sayang. Besok Papih makan malam menemani kamu." Rizal kembali mencium, kali ini pucuk kepala Isabella yang dia kecup.


" Malam ini saja?? Bukannya dari kemarin-kemarin juga Papih sering keluar malam? Bahkan kadang tidak pulang ke rumah! Pasti Papih sama dia!" Isabella mengeluhkan sikap Rizal yang dianggapnya berbeda sejak mengenal Grace.


" Sayang, percayalah pada Papih! Apapun yang Papih lakukan tidak mengurangi rasa sayang Papih ke Bella." Rizal membawa Isabella duduk di sofa sementara dia sendiri duduk menekuk lutut di hadapan Isabella dengan tangan menggenggam tangan putrinya.


" Papih saat ini sedang berjuang untuk mendapatkan cinta Papih. Pesaing Papih kali ini sedang berusaha merebut Grace dari Papih. Papih akan memperjuangkan cinta Papih karena Grace juga mencintai Papih!" Rizal berusaha meluluhkan kekerasan hati Isabella yang masih sulit menerima kebersamaan dirinya dan Grace.


" Dari mana Papih bisa yakin jika Grace itu mencintai Papih?" Grace menyangsikan kata-kata Rizal yang mengatakan jika Grace mencintai Papihnya itu.


" Papih merasakan itu, Sayang. Papih pernah katakan ke Bella. Jika Grace itu bisa mendapatkan pria yang lebih muda, lebih kaya dan lebih tampan dari Papih. Tapi, dia lebih memilih Papih yang orang biasa-biasa saja." Rizal kembali meyakinkan jika Grace bukan wanita yang ingin memanfaatkan dirinya.


" Tadi siang, kami dan anak buah Papih makan siang bersama. Lalu kami bertemu Mamanya Grace dan Rivaldi. Kamu ingat pria yang mobilnya kamu tabrak dulu? Dia adalah pria yang ingin dijodohkan Nyonya Agatha dengan Grace. Nyonya Agatha memperkenalkan Rivaldi sebagai calon tunangan Grace pada Papih dan anak buah Papih. Tapi, Grace justru menentangnya dan mengatakan jika dia lebih memilih Papih sebagai pendamping daripada calon tunangannya yang masih muda, tampan dan seorang bos itu. Jadi menurut Bella, apa tujuan Grace melakukan hal tersebut jika bukan karena Grace mencintai Papih?" Untuk semakin meyakinkan Isabella jika Grace juga mencintainya, Rizal sampai menceritakan apa yang terjadi saat dia, Grace dan anak buahnya makan siang bersama siang tadi ketika bertemu dengan Agatha dan Rivaldi.


Isabella hanya diam tak merespon apa-apa atas ucapan Papihnya tadi.


" Oh ya, ada apa Bella cari Papih?" Rizal menanyakan maksud sang putri mencarinya sampai ke kamar.


" Bella mau minta ijin sama Papih untuk mengajar di lembaga bimbingan belajar. Dosen di kampus Bella ada yang mempunyai lembaga bimbel. Dan beliau menawarkan ke Bella untuk bergabung sebagai pengajar di sana." Isabella menjelaskan maksud dan tujuannya menemui Papihnya di kamar.


" Mengajar? Sayang, kamu ini juga 'kan masih belajar. Memangnya kamu bisa mengajar?" Rizal ragu dengan keinginan putrinya itu.


" Bella hanya memberikan bimbingan belajar ke anak-anak SD. Dan Bella bisa kok, Pih. Terutama pada pelajaran Matematika. Banyak anak SD yang membutuhkan bimbingan pada mata pelajaran itu, Pih." Isabella mencoba membujuk Rizal agar memberikan ijin pada rencananya untuk menjadi pengajar di lembaga bimbingan belajar milik dosennya itu.


" Apa itu tidak akan mengganggu kuliah kamu, Sayang?" Rizal tidak begitu dengan mudah memberikan ijin kepada putrinya karena dia takut kegiatan yang ingin dilakukan oleh Isabella akan mengganggu konsentrasi kuliah Isabella.


" Tidak kok, Pih! Dapat waktu mengajar sehari cuma dua jam saja. Dan itu dilakukan di luar jam kuliah. Jadi tidak akan mengganggu waktu kuliah Bella." Isabella menjelaskan lebih lanjut agar Rizal tidak menghalanginya.


" Dari mengajar itu, Bella akan mendapatkan penghasilan sendiri. Biar Bella juga bisa belajar mandiri." Isabella juga menyebutkan alasannya lainnya mau menerima tawaran dari dosennya.


" Sayang, apa uang bulanan yang Papih berikan ke Bella kurang?" Rizal justru menduga Isabella mengambil tawaran untuk mengajar karena kekurangan uang bekal.


" Tidak kok, Pih! Bukan begitu maksud Bella. Uang itu bukan tujuan utama Bella mau menerima tawaran mengajar. Tapi, sebagai pengalaman juga bagi Bella. Di mana ilmu yang selama ini Bella dapatkan dari pendidikan akademik bisa diberikan dan dimanfaatkan pada orang lain." Isabella menepis dugaan Papihnya.


Rizal berpikir sejenak seraya menatap wajah cantik putrinya yang semakin beranjak dewasa. Dia tahu apa yang dilakukan putrinya itu adalah hal yang sangat positif. Mungkin apa yang ingin dilakukan Isabella adalah suatu kegiatan yang bermanfaat daripada sekedar nongkrong di mall atau cafe yang banyak dilakukan anak muda sekarang.


" Baiklah, kalau Bella memang menginginkan hal itu. Papih akan ijinkan selama tidak mengganggu kuliah kamu!" Rizal memberi syarat jika Isabella menginginkan menjadi pengajar di lembaga bimbingan belajar milik dosennya itu.


" Kalau begitu Papih tanda tangan di sini. Karena kegiatan ini harus diketahui orang tua dan mendapatkan persetujuan dari orang tua." Isabella menyodorkan berharap lembar kertas yang harus di tanda tangani oleh Rizal sebagai orang tua Isabella.


Rizal mengambil kertas itu dan membaca isi surat itu. Rizal selalu teliti membaca isi surat yang akan dia tanda tangani. Setelah dibaca dan dipahami olehnya. Rizal lalu membubuhkan tangan tangan sebagai bukti jika dia menyetujui apa yang ingin dilakukan oleh putrinya itu.


***

__ADS_1


Tok tok tok


" Non, Non Grace. Ada Pak Rizal di depan!" Suara ketukan pintu dan suara Bi Saonah terdengar dari luar kamar Grace.


Grace sedang mendengarkan musik sambil berbaring dengan posisi tekungkup dan membaca informasi seputar selebritis mancanegara dari ponselnya, saat mendengar suara Bi Saonah.


Grace lalu bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu. " Ada apa, Bi?" tanya Grace saat pintu sudah dia buka.


" Ada Pak Rizal di depan, Non." jawab Bi Saonah.


" Suruh ke sini saja, Bi!" Grace membuka daun pintu lebar-lebar dan kembali masuk ke dalam kamarnya.


" Hmmm, baik, Non." Walau agak aneh dengan permintaan Grace, akan tetapi Bi Saonah tetap melakukan apa yang diminta oleh majikannya itu.


Grace lalu duduk di sofa dengan melipat satu kakinya di bawah bo kongnya. Dia malas turun ke bawah sehingga menyuruh Bi Saonah memberitahu Rizal untuk naik ke kamarnya. Karena dia yakin, Rizal tidak akan melakukan sesuatu yang terlalu jauh hingga dia tidak takut menyuruh Rizal masuk ke kamarnya.


" Kamu menyuruhku masuk ke dalam kamarmu, bukan sebuah kode untuk melakukan sesuatu, kan?" Tak lama suara Rizal terdengar di pintu kamar Grace.


" Walau aku beri kode pun, kau tidak akan berani melakukannya, kan?" Grace masih belum merubah panggilan kau pada Rizal yang berusia jauh lebih tua darinya.


" Jika sudah sah nanti, tanpa kamu kasih kode pun, aku akan dengan senang hati melakukannya." Rizal menyeringai seraya melangkah menghampiri Grace dan duduk di sebelah Grace. Dia memperhatikan setelan piyama setengah paha yang dipakai Grace.


" Aku pikir kamu akan memakai baju tidur seperti saat aku video call beberapa waktu lalu." Rizal berseloroh mengingat saat Grace memakai lingerie transparan sehingga memperlihatkan keindahan kedua pegunungan yang menjulang.


" Aku yakin kau akan tersiksa jika kau melihat itu sekarang!" balas Grace dengan memutar kedua bola matanya. " Ada apa kau kemari?" tanya Grace kemudian.


" Tadinya aku mau ajak kamu makan malam di luar. Tapi, sepertinya kamu lebih senang mengajakku ngamar." Rizal mengulum senyum nakal di bibirnya.


Grace menyandarkan kepala ke sandaran sofa dengan posisi miring menghadap Rizal. Dia memperhatikan senyum nakal di bibir pria yang selama ini selalu dia sanggah dapat membuatnya jatuh cinta.


" Kau sepertinya sudah tidak sabar sekali ingin memakanku, Pak tua!" Kali ini Grace yang tersenyum nakal.


" Apa kamu tidak dapat melepas panggilan Pak tua itu?" Rizal membelai wajah Grace.


" Tapi pria tua ini yang akhirnya dapat membuatmu jatuh cinta, kan?" Rizal terus membelai wajah berkulit lembut Grace.


Grace menjauhkan tangan Rizal dari wajahnya. Tak lama dia merebahkan tubuhnya di sofa dengan menjadikan paha Rizal sebagai bantalan kepalanya dan lutut menekuk. Rizal awalnya terkejut. Namun, dia membiarkan Grace bermanja-manja padanya.


" Kau ingin makan malam di mana?" tanya Grace kemudian.


" Kau ingin makan di mana?" Rizal menyerahkan pilihan pada Grace. Tangannya kembali membelai wajah cantik Grace.


" Aku malas keluar. Kita makan di sini sajalah! Nanti minta Bibi buatkan makan malam saja untuk kita!" ujar Grace yang sedang tidak ingin keluar rumah. Jangankan keluar rumah, keluar dari kamar saja sedang malas dia lakukan.


" Ya sudah, terserah kamu saja." Rizal tidak ingin memaksa Grace untuk pergi ke luar untuk makan malam. Justru dengan interaksi yang mereka berdua lakukan seperti sekarang ini, lebih menyenangkan baginya. Lagipula, tujuan dia adalah bisa dekat dengan Grace, di mana pun berada.


" Apa benar kau tidak pernah jatuh cinta pada wanita lain selain mantan istrimu dulu?" Grace penasaran ingin tahu apa yang dikatakan anak buah Rizal yang mengatakan Rizal tidak pernah dekat dengan wanita lain benar atau tidak


" Kenapa memangnya?" Rizal bertanya karena tidak menduga akan mendapatkan pertanyaan itu dari Grace.


" Ingin tahu saja karena anak buahmu bilang begitu."


" Ternyata selama ini diam-diam kamu mencari informasi tentang kehidupan pribadiku, hmm?" Rizal mencubit hidung Grace.


" Issshh jangan terlalu pede! Anak buahmu itu 'kan sejak lama menjodohkan kita! Mereka itu mempromosikanmu agar aku mau menerimamu!" Grace menolak disebut mencari info soal kehidupan pribadi Rizal.


" Benarkah mereka melakukan hal itu?" Rizal terkejut saat Grace mengatakan anak buah di kantornya sudah lama menjodohkan dirinya dengan Grace.


" Kalau kau berhasil mendapatkanku, kau harus memberi bonus pada anak buahmu itu!" sindir Grace.


" Hahaha, tenang saja! Calon istriku ini 'kan anak orang kaya." Rizal justru membalas dengan bercanda. " Oh ya, kapan kamu akan menghubungi Om Daniel?" tanya Rizal kemudian.

__ADS_1


Grace melirik jam dinding yang saat ini sudah menunjukkan pu kul 19.30 malam.


" Di sana sekitar jam setengah empat sore, Sepertinya Om Daniel masih sibuk dengan pekerjaannya." Grace menghitung perbedaan waktu Jakarta dan Jerman sekitar lima jam sehingga dia memperkirakan jika Om Daniel belum memasuki waktu santai.


" Tapi, tidak ada salahnya di coba." Garce kemudian mencoba menghubungi nomer ponsel Om Daniel, berharap beruntung dapat tersambung dengan Om nya itu.


" Halo, Grace?" Sepertinya Grace sedang beruntung karena dia berhasil tersambung dengan ponsel adik Papanya itu.


" Halo, Om. Om sedang sibuk, ya? Grace mengganggu waktu Om tidak?" Grace menyapa Om Daniel.


" Om baru selesai memimpin rapat. Ada apa, Grace? Apa kamu ingin mengenalkan calon tunanganmu itu pada Om?" tanya Om Daniel seraya terkekeh.


Grace mengerutkan keningnya saat mendengar Om Daniel mengatakan soal calon tunangan. Seketika dia berpikir jika Mamanya telah menghubungi Om Daniel dan mengatakan soal rencana perjodohannya dengan Rivaldi.


" Apa Mama sudah menghubungi, Om?" tanya Grace bangkit dari posisi berbaring dan menatap Rizal.


" Iya, Mamamu tadi pagi menghubungi Om dan mengatakan jika dia berencana menjodohkan kamu dengan seorang pengusaha muda. Mamamu juga sudah mengirimkan foto calon tunanganmu itu kepada Om. Cukup tampan. Kalau kamu memang menyukai dia dan dia pria yang baik, tidak ada alasan bagi Om untuk menghalangi niat kalian." Om Daniel memberi restu pada rencana Agatha yang ingin menjodohkan Grace dengan Rivaldi.


" Tidak, Om! Aku tidak ingin menikah dengan pria licik seperti dia, Om!" Grace menolak jika dia ingin menikah dengan Rivaldi.


" Pria licik? Maksud kamu apa, Grace? Mamamu bilang dia pria baik, seorang pengusaha dan anak pengusaha Garment terkenal." Om Daniel merasa heran dengan ucapan Grace.


" Om, kapan Om ada waktu? Aku ingin bertemu dengan Om langsung dan membicarakan tentang masalah ini, karena aku sudah punya pilihan lain, Om!" Grace kembali menatap Rizal. Dan Rizal langsung menggenggam tangan kiri Grace.


" Pria lain? Apakah pria yang sudah menjerumuskanmu itu?!"


" Tidak, Om! Bukan dia!" sanggah Grace. " Justru pria lain itu yang menolong Grace dari Joe, Om! Pria itu yang selama ini membantu Grace dan merubah pandangan hidup Grace, Om!" Grace tidak dapat menampik jika Rizal sedikit banyak telah membantunya menjadi lebih baik.


Ucapan Grace sudah pasti membuat Rizal tersenyum bangga. Dia lalu mengecup tangan Grace yang sedang digenggamnya.


" Justru pria yang ingin Mama jodohkan dengan Grace itu bukan pria yang baik, dia itu pengecut bahkan berotak licik." Grace mencoba meyakinkan Om Daniel agar tidak menyetujui rencana Agatha yang ingin menjodohkannya dengan Rivaldi.


" Om jadi bingung, mana yang harus Om dengar?" Om Daniel bingung harus mempercayai siapa.


" Om kapan punya waktu? Grace ingin bertemu sama Om."


" Begini saja, midweek pekan depan Om akan ke Singapura. Bagaimana kalau kita bertemu di sana?" Om Daniel akhirnya menentukan waktu agar mereka bisa bertemu karena kebetulan pekan depan dia mempunyai perjalanan bisnis ke Asia, Singapura dan Tiongkok.


" Boleh, Om! Om kasih tahu saja Om menginap di mana? Nanti Grace akan temui Om di sana!" Grace menyetujui rencana Om Daniel yang mengajak mereka bertemu di Singapura.


" Oke, nanti Om kabari kamu kalau Om berangkat ke sana."


" Oke, Om. Tapi, Om jangan bilang ke Mama kalau aku ingin bertemu dengan Om di Singapura ya, Om!?" Grace meminta Om nya tutup mulut dari Mamanya. Karena dia tidak ingin Agatha menggagalkan rencananya.


" Oke, Om juga tidak ingin mendengar kamu dan Mamamu bertengkar jika kalian bertemu." Om Daniel sudah paham bagaimana hubungan Grace dan Agatha.


Grace tertawa mendengar ucapan Om Daniel.


" Ya sudah, Om. Aku tutup dulu teleponnya. Sampai jumpa nanti. Danke Onkel. Tschüss ."( Terima kasih, Om. Bye ) Grace segera mengakhiri sambungan teleponnya dengan Om Daniel.


" Pertengahan Minggu depan Om Daniel akan ke Singapura. Kita akan ke sana menemui Om aku." Grace menyampaikan rencananya bertemu dengan Om Daniel pada Rizal.


" Mamamu sudah menghubungi Om mu lebih dulu, ya?" Rizal sejak tadi mendengarkan perkataan Grace dengan Om nya di telepon.


" Tidak masalah, yang penting kita dulu yang bertemu dengan Om Daniel." Grace bangkit dan berdiri. " Aku mau suruh Bibi siapkan makan untuk kita dulu ..." Grace lalu berjalan meninggalkan kamarnya meninggalkan Rizal yang tersenyum bahagia menatap tubuh Grace yang menghilang dari pintu kamar Grace.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2