
Grace masih bermalas-malasan di tempat tidurnya ketika Agatha datang ke rumah tinggal putrinya itu. Agatha sengaja datang untuk mengajak Grace, karena putrinya itu terlihat ogah-ogahan saat dia beritahu akan mengadakan dinner merayakan hari ulang tahun Grace bersama rekan-rekan Grace dari kantor Rizal.
Agatha sendiri senang Grace berteman dengan anak buah Rizal, karena menurutnya mereka membawa aura positif bagi putrinya itu. Daripada Grace terus menjalankan pergaulan penuh toxic seperti saat menjalin hubungan dengan Joe.
" Grace, ya ampun ... kamu kok masih tidur-tiduran begini? Ayo kamu siap-siap! Kita ada acara. makan malam dengan rekan-rekan kamu, lho! Nanti kita telat, kasihan mereka menunggu di sana sementara yang punya acara belum datang." Agatha menegur Grace yang masih menikmati musik dengan menggunakan headphone di telinganya.
Melihat Agatha masuk ke dalam kamarnya, Grace langsung melepas benda yang sejak tadi menutup telinganya dari suara-suara di luar.
" Mama kenapa kemari?" tanya Grace merubah posisi hingga kini terduduk.
" Mau ajak mau ke acara dinner. Kita ada acara dinner sama teman-teman kamu! Sudah, ayo cepat berdandan dan pakai ini!" Agatha menyodorkan gaun yang dia bawa untuk dipakai Grace di acara makan malam itu.
" Ya ampun, Mam. Cuma mau dinner sama teman saja pakai gaun kayak gitu!" protes Grace melihat gaun yang dibawa Agatha untuk dia pakai.
" Tapi ini ulang tahun kamu, Grace. Kamu harus tampil spesial malam ini. Kamu itu kalau pakai baju jangan malu-maluin Mama, deh!" Sebagai desainer, Agatha merasa tidak ada yang salah dengan gaun yang dia bawa untuk dipakai oleh Grace.
" Tapi itu terlalu formal, Mam. Aku ini mau makan malam sama teman-teman kantor depan doang, bukan sama pacar!" Grace keberatan memakai gaun yang sudah disiapkan oleh Agatha.
" Sudah jangan banyak bicara! Cepat kamu berhias, kita harus cepat berangkat!" Agatha menarik tangan Grace agar anaknya itu segera bangkit dari tempat tidur dan bersiap untuk berdandan.
Satu jam kemudian mereka sudah sampai di restoran mewah yang sudah dipilihkan Agatha untuk acara malam malam merayakan ulang tahun putrinya. Semua pegawai Rizal termasuk Rizal sudah datang berkumpul di sebuah ruangan private room yang dipesan Agatha. Mungkin bagi pegawai di kantor Rizal, makan malam di restoran mahal itu adalah pengalaman pertamanya. Mereka nampak syok melihat harga menu makanan yang harganya mencapai jutaan rupiah.
" Hai, sorry aku telat ya, aku telat." Saat tiba di room yang telah mereka pesan, Grace menyampaikan permintaan maafnya karena telah membuat rekan-rekannya menunggu.
" Hai, Grace. Wah, cantik sekali kamu, Grace. Kamu terlihat lebih dewasa dan lebih feminim kalau begini, Grace." Yuanita memuji kecantikan Grace yang malam itu tampil sangat cantik dan feminim.
" Iya, Mbak Grace seperti bidadari lho, cantiknya." ' menimpali.
" Setuju!! Top markotop!" Jaja bahkan mengacungkan ibu jarinya membuat Grace terkekeh.
Tak hanya anak buah Rizal saja yang terlihat mengagumi penampilan cantik Grace malam itu, Rizal yang malam ini mengenakan sweater berwarna abu-abu pun sampai tidak mengerjapkan matanya melihat penampilan Grace, apalagi saat melihat wanita itu tersenyum. Bahkan senyuman tipis terlihat di bibir Rizal seakan terpesona dengan wanita yang selama ini selalu berpenampilan cuek kini terlihat anggun dan lebih dewasa.
" Halo, Pak Rizal. Terima kasih sudah mau datang kemari." Di saat rekan-rekan Grace menyapa dan memuji Grace, Agatha justru menyapa Rizal.
" Sama-sama, Nyonya." jawab Rizal.
Grace menoleh ke arah Rizal saat mendengar Mamanya menyapa Rizal. Pada saat yang bersamaan Rizal pun masih memandangnya dengan mengulum senyuman di bibir pria berkumis itu.
Grace langsung memutus pandangan, dan memalingkan wajahnya tidak ingin terus berpandangan dengan Rizal. Senyuman yang melengkung tipis di bibir Rizal seperti mengandung arti yang menakutkan bagi Grace.
" Happy birthday to Grace, happy birthday to Grace, happy birthday, happy birthday, happy birthday to Grace ..." Dari arah pintu masuk room, Jamal datang membawa bolu ulang tahun yang disambung lagu yang dinyanyikan oleh rekan-rekannya dengan bertepuk tangan.
" Ayo tiup lilinnya, Grace. Jangan lupa make a wish, supaya cepat dapat jodoh ..." celetuk Indra, membuat yang lain terkekeh.
Grace tersenyum mendengar ucapan Indra. Tanpa sadar netra matanya melirik ke arah Rizal yang semakin melebarkan lengkungan senyum di bibirnya, membuat Grace kembali memalingkan wajahnya dan melempar pandangan ke arah bolu ulang tahun yang disodorkan oleh Jamal.
Grace memejamkan matanya dan berdoa dalam hati, " Ya Allah, semoga pria tua itu tidak punya niat menjadikanku istrinya."
Setelah mengucapkan harapannya, Grace lalu meniup lilin yang langsung disambut tepuk tangan rekan-rekannya. Grace pun memotong bolu dan memberikan potongan bolu ulang tahunnya untuk Mamanya.
Selanjutnya mereka menyantap makanan yang sudah tersaji di meja makan. Agatha saat ini duduk tepat di sebelah Rizal sedangkan Grace duduk di hadapan Agatha. Suasana makan malam itu cukup hangat dengan obrolan Grace bersama anak buah Rizal.
__ADS_1
Agatha merasa senang melihat pergaulan anaknya bersama anak buah Rizal. Bersama mereka, Agatha berharap Grace bisa hidup normal dan lebih baik dibanding saat bersama Joe. Namun, masa hukuman Grace hanya tinggal setengah tahun lagi, dia khawatir setelah itu Grace akan kembali kepada pergaulan yang tidak sehat.
" Grace, Mama senang melihat hubungan kamu dengan teman-teman kamu sekarang ini sangat akrab. Kalau kamu tidak ingin mengurus usaha Papa dan Mama, bagaimana jika kamu tetap bekerja di tempat Pak Rizal saja?" Tiba-tiba Agatha menyinggung soal masa depan Grace setelah masa hukuman Grace berakhir.
" Bagaimana, Pak Rizal? Apa putri saya bisa dipekerjakan di tempat Pak Rizal jika hukumannya sudah berakhir?" Kini Agatha bertanya kepada Rizal.
" Mam, Mama ini apa-apaan, sih? Masa Mama ingin aku terus di tempat Pak tua itu!?" Grace langsung memprotes keinginan Mamanya.
" Grace, Mama senang melihat pertemanan kamu dengan karyawannya Pak Rizal, makanya Mama ingin kamu tetap di sana agar kamu bisa kembali hidup normal seperti kehidupan kamu sebelum diracuni oleh Joe!"
Semua orang yang awalnya saling berbincang dan bercanda seketika terdiam saat mendengar perdebatan kecil antara Grace dan Agatha.
" Mam, aku selama ini berusaha bersikap baik itu karena aku ingin cepat-cepat lepas dari sana! Kenapa Mama malah menahan Grace tetap berada di tempat itu?!" protes Grace.
" Bukannya kamu senang banyak teman di sana, Grace?" tanya Agatha heran. " Mama pikir kamu senang berada di sana," lanjutnya.
" Teman-teman di sana memang menyenangkan, Mam. Tapi, bosnya yang menyebalkan!" sindir Garce tanpa melirik ke arah Rizal.
Sontak pandangan anak buah Rizal kini mengarah kepada bos mereka, termasuk juga Agatha.
" Oh, pasti itu karena sikap kamu yang selalu membuat masalah di sana. Mama yakin Pak Rizal bersikap seperti itu agar kamu bisa menghilangkan sikap keras kepala kamu, Grace." Agatha justru membela Rizal.
" Mama kenapa malah membela dia daripada anak Mama sendiri? Apa jangan-jangan Mama suka ya sama dia, ya?"
Kembali ucapan Grace membuat semua orang terperanjat dan kembali memusatkan pandangan ke arah Rizal dan Agatha bergantian.
" Astaga, Grace! Kamu ini kalau bicara ..." Agatha menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Grace yang membuatnya malu, apalagi saat ini dirinya telah menjadi pusat perhatian anak buah Rizal.
Tak beda dengan Agatha, Rizal juga dibuat mati kutu dengan ucapan Grace. Jika saat ini dirinya hanya berdua dengan Grace, ingin rasanya dia memberi hukuman agar Grace jera tidak terus meledeknya seperti ini.
" Kalau Mama suka sama dia, aku sih tidak masalah. Aku akan dukung-dukung saja, kok! Jangan pakai aku sebagai alasan supaya Mama bisa bertemu pria itu!" lanjut Grace tanpa memperdulikan Agatha dan Rizal yang semakin dibuat malu.
Sementara Rizal menghela nafas perlahan. Pandangan matanya kini tajam memperhatikan Grace yang terlihat tidak merasa bersalah dengan perkataan-perkataannya.
Setengah jam kemudian acara makan malam merayakan ulang tahun Grace berakhir. Anak buah Rizal pun sudah berpamitan pulang. Hanya tersisa Grace, Agatha juga Rizal.
" Nyonya, biar putri Anda saya yang antar pulang, kebetulan sama mau ke kantor." Rizal beralasan ingin ke kantor untuk mengantar Grace pulang. Padahal pria itu sudah merencanakan sesuatu kepada Grace.
" Mam, aku tidak mau! Aku pulang sama Mama saja!" Grace menolak diajak Rizal pulang bersama.
" Tidak apa-apa, Grace. Kamu bisa sekalian pulang dengan Pak Rizal." Namun, Agatha tidak memperdulikan penolakan Grace.
" Mam, Mama tega menyerahkan anak perempuan Mama pada duda tua itu?" Grace tahu ada yang direncanakan oleh Rizal, hingga pria itu mengajaknya pulang bersama.
" Kamu jangan mengada-ngada, Grace! Ya sudah, kalau begitu saya titip Grace ya, Pak Rizal."
" Baik, Nyonya." sahut Rizal.
" Kalau begitu saya duluan, Pak Rizal. Grace, Mama pulang dulu, ya." Agatha memeluk Grace dan pergi meninggalkan Grace dan Rizal berdua.
Grace mendengus melirik ke arah Rizal, karena pria itu berhasil mempengaruhi Mamanya.
" Apa yang kau rencanakan sebenarnya, Pak tua?" Grace melipat tangan di dada.
Rizal berjalan mendekat ke arah Grace dengan mata terus menatap wajah cantik Grace.
__ADS_1
" Ini hari ulang tahunmu, dan saya harus memberikan kado ulang tahun, kan?" Rizal melingkarkan tangan di pinggang Grace lalu menarik tubuh ramping wanita itu hingga merapat ke tubuhnya.
" Kau mau apa, Pak tua?" Grace terbelalak melihat tindakan Rizal saat ini. Apalagi tatapan mata Rizal terlihat penuh damba seolah menginginkan sesuatu dari dirinya.
" Saya tidak bisa membelikan barang berharga sebagai kado ulang tahun karena pasti apa yang saya beri tidak berharga bagimu. Tapi, saya bisa memberikan sesuatu yang berkesan untukmu." Rizal menjentikkan jarinya membuat lampu di private room itu padam, hanya ada lampu sorot LED yang menerangi tubuh mereka berdua. Bersamaan dengan itu muncul seseorang yang masuk ke dalam ruangam memegang biola lalu memainkan alat musik itu membawakan lagu Careless Whisper untuk mengiringi Rizal dan Grace berdansa.
Sebelum acara makan malam selesai tadi, Rizal sengaja minta ijin ke toilet. Dia menemui pelayan restoran dan minta untuk disiapkan kejutan untuk Grace.
Rizal mulai menggerakkan kakinya mengajak Grace berdansa membuat tangan Grace reflek memegang pundak Rizal.
" Kamu terlihat cantik sekali malam ini, Grace," ucap Rizal menyebut nama Grace dengan punggung tangan mengusap pipi mulus Grace. Sepertinya Rizal sudah tidak kuasa menutupi has ratnya yang menggebu terhadap Grace. Apalagi sikap Grace yang kini terlihat sering menghindarinya dan perkataan Grace yang tadi seakan mengoloknya, membuat dia tertantang untuk menaklukan wanita cantik di hadapannya kini.
" Kau berani sekali menyentuhku, Pak tua!" Grace memberengut karena sikap Rizal yang dia rasa sudah semakin berani menyentuhnya.
" Bukankah selama ini justru kamu yang selama ini bersemangat menggodaku?" Kini tangan Rizal mengusap bibir Grace. Bahkan Rizal sudah mengubah panggilan saya menjadi aku. " Dan ini, yang selalu senang mengolokku? Sekarang aku akan memberikan hukuman atas setiap kalimat sindiran yang keluar dari bibir ini." Rizal lalu mendekatkan bibirnya lalu menghisap bibir bawah Grace.
Grace terkesiap saat Rizal kembali menciumnya. Bahkan Rizal melu mat bibir Grace seolah sedang melepaskan kerinduan, setelah terakhir kali Rizal merasakan bibir ranum wanita cantik itu.
" Lepaskan, Pak tua!" Grace mendorong tubuh Rizal agar menjauh darinya dan Rizal melepas pagutan mereka.
" Selama ini aku hanya menggodamu agar aku tidak diberikan hukuman. Bukan karena aku tertarik kepadamu, jadi kau jangan salah paham!" Grace mencoba menjelaskan agar Rizal tidak salah paham dengan sikapnya selama ini.
" Apalagi sampai mengharapkan aku menjadi milikmu!" Grace menegaskan agar Rizal tidak berharap untuk memilikinya.
" Bagaimana jika aku justru menginginkan itu?" tanya Rizal tak terpengaruh dengan ucapan Grace. Dia justru mengulum senyuman. Rizal sendiri seolah tidak perduli dengan peryataannya yang mengatakan jika dirinya tidak mungkin tertarik pada wanita seperti Grace.
" Jangan terlalu bermimpi!" sergah Grace.
" Baiklah, kita lihat saja nanti. Apa benar kau tidak tertarik padaku?!" Rizal menantang Grace dan merasa yakin jika dia dapat menaklukan hati Grace.
" Teruslah bermimpi, Pak tua! Aku tidak akan mungkin tertarik pada pria tua sepertimu!" Sementara Grace sendiri yakin pada pendiriannya.
Rizal kembali tersenyum mendengar sanggahan Grace. " Jika aku bisa meluluhkanmu, kau tidak akan bisa lepas dariku, Grace!" Kalimat yang keluar dari mulut Rizal kali ini benar-benar membuat Grace merinding.
Ibarat senjata makan tuan, apa yang dilempar oleh Grace justru mengenai dirinya sendiri. Dan dia benar-benar tidak ingin hal itu terjadi.
Grace yakin jika Rizal tidak main-main dengan perkataannya tadi. Akan sulit bagi Grace karena Rizal sudah terang-terangan mengakui jika pria itu tertarik pada dirinya.
***
" Ini benar-benar gawat! Pak tua itu sepertinya tidak main-main dengan ucapannya. Aku harus segera bertindak!" Sepulang dari restoran tadi,
Grace berjalan mondar-mandir di kamarnya sambil berpikir agar Rizal tidak melaksanakan niatnya. Grace bahkan belum sempat mengganti gaunnya, karena dia sudah dibuat ketakutan dengan ancaman Rizal tadi.
" Kalau aku kabur dari sini, dia pasti akan terus mengejarku. Aku harus memikirkan cara agar dia tidak bisa mengancamku seperti itu." Grace menggigit kuku-kuku jarinya.
Namun, tiba-tiba dia menjentikkan jarinya setelah menemukan ide yang dia rasa dapat menggugurkan ancaman Rizal tadi.
" Isabella, aku harus mengatakan hal ini kepada Isabella agar Pak tua itu tidak dapat melaksanakan keinginannya." Seringai tipis langsung terukir di sudut bibir Grace karena merasa telah menemukan cara untuk menggagalkan niat Rizal yang sepertinya sudah mulai tergoda dengan pesonanya.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️