TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Seperti Hantu


__ADS_3

" Eh, tunggu-tunggu …!"


Terdengar suara pria menghentikan langkah Isabella dan Fauziah yang baru saja keluar ruang kelas mata kuliah terakhir yang mereka ikuti. Sontak Isabella dan Fauziah menoleh ke arah orang yang menghalangi langkah mereka, dan mereka melihat Romeo lah orang yang menghentikan mereka.


Isabella langsung mencengkram lengan Fauziah, dengan ketakutan. " Zie ..." Isabella langung berlindung di belakang Fauziah.


" Tenang, Bel." Fauziah menepuk tangan Isabella yang memegang erat lengannya. Fauziah memang lebih berani ketimbang Isabella yang memang sangat penakut.


" Hei, cewek yang tadi itu kakak kamu, ya? Siapa namanya? Aku boleh tahu, kan? Dia sudah punya pacar belum?" Sepertinya Romeo masih penasaran dengan sosoK Grace yang baru dilihatnya muncul di lingkungan kampus itu. Walaupun tadi dia sempat ciut melihat mobil mewah yang dipakai Grace, namun rasa penasarannya itu membuat Romeo ingin tahu soal Grace.


" Wanita tadi itu bodyguardnya dia!" Fauziah yang menjawab pertanyaan Romeo seraya menunjuk ke arah Isabella dengan gerakan matanya.


" Hahh? Bodyguard? Cewek cantik kayak gitu jadi bodyguard?" Romeo seakan tak percaya pada pendengarannya. Dia tidak menyangka wanita yang berpenampilan girly itu seorang bodyguard. Sangat tidak cocok menurutnya, walaupun memang terlihat galak.


" Iya! Kenapa? Makanya kamu jangan berani macam-macam sama dia kalau tidak ingin kena bo gem mentah darinya!" Fauziah sengaja menakuti Romeo agar tidak terus mengganggu Isabella juga Grace.


" Aku cuma ingin kenalan saja, bukan ingin mengganggu, kok!" sanggah Romeo, menampik tudingan Fauziah.


" Dia sudah menikah, sudah punya suami, untuk apa pakai kenalan segala!?" Fauziah sengaja menyebut status Grace yang sudah menikah.


" Dia sudah menikah?" Romeo semakin dibuat terkejut dengan status Grace yang ternyata sudah bersuami.


" Iya, dan suaminya juga jago beladiri. Kalau kamu tidak ingin dibikin geprek sama suaminya, itu, jangan berani dekati dia!" kembali Fauziah menebar ancaman agar Romeo tidak meneruskan niatnya yang ingin mendekati Grace.


Melihat Romeo masih tercengang, Fauziah segara menarik tangan Isabella untuk segera menjauh dari Romeo. " Ayo, Bel!"


" Semoga dia tidak terus-terusan mengganggu kamu hanya untuk mencari tahu soal Grace, Bel." ujar Fauziah setelah mereka meninggalkan Romeo.


" Apa kamu yakin, dia tidak akan mengganggu aku lagi, Zie?" Isabella masih terlihat khawatir,


" Kan ada aku, Bel. Kamu tenang saja, deh!" Fauziah mencoba menenangkan Isabella agar tidak perlu mengkhawatirkan Romeo.


***


Isabella menatap paper yang diletakan di sudut sofa kamarnya. Dia tidak tahu apa isi paper bag berwarna abu-abu itu? Tapi dia tahu jika paper bag itu sudah sejak kemarin tergeletak di sana.


Isabella mendekat untuk mengetahui isi dari paper bag tersebut. Setelah dibuka ternyata berisi sebuah blazer.


" Kenapa Blazer Papih di taruh di sini, sih?" Isabella justru mengira jika Blazer itu adalah milik Rizal. Padahal Blazer itu adalah milik Rivaldi yang kala itu menolongnya. Mungkin karena terlalu syok hingga dia melupakan hal tersebut.


Isabella memperhatikan lagi blazer itu, ada yang aneh menurutnya karena karena di taruh di dalam paper bag dana begava di kamarnya.


Tak ingin menerka-nerka, Isabella lalu berjalan keluar kamarnya untuk mengantar Blazer itu ke kamar Rizal. hingga kini berdiri di depan pintu kamar Papihnya itu.


Tok Tok Tok


Isabella mengetuk pintu kamar karena dia tahu ada Grace di dalam kamar itu. Tidak seperti biasanya, dia bebas keluar masuk ke dalam kamar Papihnya tanpa ijin, saat Papihnya itu tidak ada. Kali ini dia harus lebih menjaga etika karena sekarang kamar itu tidak hanya dihuni oleh Rizal, tapi oleh Grace juga


" Masuk saja!" Suara Grace terdengar sedikit teredam.


" Isabella membuka pintu kamar itu yang tidak terkunci, hingga dia melihat Grace yang sedang menonton televisi dengan posisi telungkup.


" Ada apa, Bel?" tanya Grace saat melihat kemunculan Isabella dari balik pintu kamar tidurnya.


" Mau antar ini, punya Papih. Tadi Bibi salah taruh di kamarku," balas Isabella menunjukkan Blazer yang ada ditangannya.


" Punya Papih?" Grace yang sedang tidur dengan posisi telungkup langsung bangkit, lalu mendekat ke arah Isabella dan melihat blazer yang dimaksud Isabella itu


Grace mengerutkan keningnya. Dia tahu jika Blazer itu bukanlah milik suaminya. Dan dia juga tahu, jika blazer itu milik Rivaldi yang dipakai Isabella saat Rivaldi menolong Isabella dari niat jahat Joe.


" Ini bukan punya Papih, Bel. Tapi punya Aldi! Kamu lupa waktu Aldi tolong kamu? Dia lepas blazernya untuk menutupi pakaian kamu yang robek." Grace menyebutkan siapa pemilik blazer itu.


" Punya Kak Aldi?” Isabella terkesiap mengetahui blazer itu ternyata milik Rivaldi, pria yang menyelamatkannya dari Joe

__ADS_1


" Iya, kalau ingin mengembaikan blazer itu ke Aldi, nanti aku suruh orang untuk mengantar blazer itu ke kantornya." Grace lalu mengambil blazer milik Rivaldi dari tangan Isabella, namun Isabella menahannya.


" Tidak usah! Hmm, biar nanti aku saja yang mengembalikan," ucap Isabella kemudian dengan malu-malu.


Grace mengerutkan keningnya mendengar perkataan Isabella yang berencana mengembalikan sendiri blazer milik Rivaldi.


" Aku ingin mengembalikan blazer ini sendiri ke Kak Aldi, karena dia sudah menolongku. Tidak enak kalau menyuruh orang yang menyerahkan ini ke kak Aldi.” Isabella beralasan kenapa harus dia sendiri menyerahkan blazer itu sebagai tanda terima kasihnya.


" Ya sudah, nanti aku antar kalau kamu ingin mengantar blazer itu ke kantor Aldi," sahut Grace.


" Hmmm, tidak apa-apa, kan? Aku sendiri yang mengantar blazer ini ke Kak Aldi? Papih tidak marah, kan?" Khawatir akan jadi masalah jika dia mengantar blazer milik Rivaldi, Isabella takut Rizal akan melarangnya.


" Tidak apa-apa. Ada aku yang mengantar kamu, Papih pasti tidak akan melarang," jawab Grace. " Lagipula hanya mengantar itu saja ,kan?"


" Iya, ya sudah, besok pulang kuliah saja aku antar blazernya. Thank’s, ya!?" Isabella lalu kembali ke kamarnya meninggalkan Grace.


Senyuman seketika terkulum di bibir Grace, melihatnya sikap Bella saat ini kepadanya. Dia tahu, butuh waktu bagi Isabella untuk dapat menerimanya. Namun, dia rasa tidak butuh waktu lama bagi Isabella untuk dapat menerima posisinya sebagai istri dari Rizal.


" Sabar, Grace. Sebentar lagi juga anak kesayangan suamimu itu akan luluh terhadapmu," gumam Grace dengan senyum bahagia.


***


Tok Tok Tok


" Papih boleh masuk, Sayang?" Rizal mengetuk pintu meminta ijin anaknya untuk masuk ke kamar Isabella. Tentu saja cerita Grace jika ada pria yang berusaha mendekati Isabella membuat Rizal cemas. Dia ingin tahu apakah pria itu masih mengganggu putrinya atau tidak? Karena itu dia menghampiri kamar Isabella.


" Ada apa, Pih?* tanya Isabella.


Saat melihat Rizal ada di depan pintu kamarnya, pikirannya langsung mengarah pada rencana dia yang ingin mengantarkan blazer milik Rivaldi. Apakah Grace sudah bercerita pada Papihnya dan Papihnya itu merasa keberatan dengan rencananya? Itu pemikiran Isabella.


" Kamu sedang apa, Nak? Apa Papih boleh masuk?" tanya Rizal menanggapi pertanyaan putrinya.


" Baru selesai sholat, Pih. Ada apa, Pih?" Kembali Isabella bertanya tujuan Rizal mendatanginya. Dia lalu mempersilahkan Papihnya itu untuk masuk ke dalam kamarnya.


" Bisa Papih bicara sebentar, Nak?" Rizal merangkulkan tangannya di pundak Isabella dan membawa Isabella duduk di tepi tempat tidur Isabella.


" Papih dengar dari Grace, katanya ada pria yang menggoda kamu di kampus. Apa itu benar, Bella?" Rizal masih merasa penasaran dengan kabar yang dihembuskan istrinya siang tadi mengenai sosok pria yang menggoda Jsabella.


Isabella menaikkan alisnya mendengar perkataan Rizal soal pria yang tak lain adalah Romeo yang menurut laporan Grace kepada Papihnya, kalau Romeo sedang menggodanya.


" Apa dia mengganggu kamu tadi di kampus?Papih khawatir jika dia mempunyai maksud jahat pada kamu, Nak." Rizal merasa khawatir kepada Isabella, karena Isabella baru saja mengalami peristiwa buruk.


" Hmmm ... tidak, Pih. Orang itu tidak mengganggu Bella, kok." Isabella menampik dugaan Rizal soal Romeo yang mencoba mengganggunya.


" Syukurlah kalu memang dia tidak mengganggu kamu, Bella." Rizal mengusap kepada Isabella dengan menarik nafas lega..


" Memangnya Grace bilang ada pria yang menggoda aku, Pih?" Isabella tidak tahu kenapa Grace mengatakan jika Romeo menggodanya pada Rizal? Padahal Grace sendiri yang berusaha didekati dan digoda oleh Romeo.


" Iya, dia bilang seperti itu. Sampai dia menyuruh Papih makan siang lebih awal agar dia bisa kembali ke kampus kamu secepatnya, supaya kamu tidak terus diganggu oleh pria itu." Rizal menceritakan bagaimana Grace begitu mementingkan keselamatan Isabella.


Isabella mengerutkan keningnya mendengar cerita Rizal soal sikap Grace. Sebegitu perhatiannya Grace terhadap dirinya.


" Sebenarnya bukan Bella yang diganggu Romeo, Pih." Grace menampik dengan mengatakan jika bukan dia digoda oleh Romeo.


" Romeo? Siapa itu Romeo?" tanya Rizal, merasa tidak kenal dengan nama yang disebut oleh Isabella.


" Pria yang Papih kira menggoda Bella. Tapi bukan Bella sasaran Romeo yang sebenarnya, Pih." Isabella menjelaskan siapa Romeo dan mengatakan jika bukan dia wanita yang menjadi target incaran pria itu.


" Bukan kamu? Lalu siapa? Fauziah?" Rizal kini menebak Fauziag yang sedang diincar oleh Romeo. Sama sekali tidak terpikirkan olehnya jika Sebenarnya Grace lah yang sedang dalam incaran Romeo.


" Bukan Zie, Pih. Tapi …" Isabella menjeda ucapannya sambil melirik ke arah Papihnya, karena dia ingin tahu reaksi papihnya itu jika dia mengatakan kalau Grace lah yang sedang diincar oleh Romeo.


" Tapi apa, Bella ?” Rizal dibuat penasaran dengan perkataan putrinya yang terjeda itu.

__ADS_1


" Tapi istri Papih.yang diincar oleh Romeo itu," ucap Isabella, walau agak Rabu, namun dia menceritakan juga apa yang sebenarnya terjadi.


Rizal membelalakan matanya begitu anaknya melaporkan, jika orang yang sebenarnya sedang didekati Romeo adalah Istrinya sendiri. Tapi, Grace justru menutupi hal tersebut bahkan menyebut yang sebaliknya.


" Grace yang sedang diincar pria itu? Itu maksud kamu, Bella?” Rizal tentu saja kaget setelah dia tahu justru istrinya lah yang sedang diincar oleh Romeo.


" Iya, Pih. Memangnya sekarang itu istri Papih siapa? Bukan Mamih, kan?" sindir Isabella melihat kepanikan Rizal saat mengetahui jika Grace sedang diincar oleh pria lain.


" Maaf, Sayang." Rizal membelai kepala Isabella lalu memberi satu kecupan di pucuk kepala anaknya itu.


" Lalu ,kenapa dia bilang justru kamu yang sedang didekati pria itu?" Rizal mengerutkan keningnya merasa heran.


" Mana Bella tahu ,Pih!" Isabella mengedikkan bahunya. " Papih tanyakan saja sendiri pada istri Papih itu!" lanjutnya kemudian.


" Ya sudah, kalau orang itu tidak menggoda kamu. Papih bisa tenang." Setelah mengusap kepala sang putri, Rizal pun kemudian meninggalkan kamar Isabella.


Isabella menggelengkan kepala melihat kepergian Papihnya. Dia yakin, pasti akan ada perdebatan antara Papihnya dan Grace, mengetahui hal tersebut, Isabella justru terkikik seraya menutup mulut dengan tangannya.


***


" Ada apa , Pih?” tanya Grace saat melihat suaminya berjalan terburu-buru masuk ke dalam kamar, apalagi suaminya itu langsung menarik tangannya.


" Kenapa kamu bilang jika pria itu menggoda Bella, Padahal kamu sendiri yang sedang didekati pria itu? Apa kamu senang digoda pria lain yang lebih muda, hmm?" Rizal kini melingkarkan tangannya dipinggang Grace dan merapatkan tubuhnya dengan tubuh sang istri.


" Kalau aku bilang, aku yang digoda oleh orang itu, Papih pasti melarang aku menjemput Bella. Padahal Bella butuh diantar jemput aku, kan?" Grace menyeringai melihat suaminya yang melotot.


" Dan aku memang akan melarang kamu menjemput Bella mulai sekarang! Biar nanti aku suruh Indra atau Jamal yang menjemput Bella dari kampus. Kalau berangkat ke kampus biar aku saja yang antar." Rizal langsung memutuskan melarang Grace mengantar dan menjemput Isabella agar Grace tidak bertemu dengan Romeo lagi


" Pih, kalau Papih melarang aku mengantar dan menjemput Bella, akan susah lagi menemukan moment yang pas untuk kami bisa dekat lagi, Pih." Grace tidak setuju dengan keputusan Rizal yang melarangnya menemani Isabella ke kampus.


" Lalu bagaimana jika pria itu terus berusaha mendekatimu? Aku tidak suka Istriku digoda pria lain!" tegas Rizal merasa cemburu ada pria lain yang menginginkan istrinya yang cantik itu.


" Ya ampun, Pih! Dia itu hanya seorang mahasiswa bukan bos besar yang kaya raya seperti Rivaldi. kenapa Papih mengkhawatirkan itu?" Grace memutar bola matanya menanggapi kecemburuan Rizal pada Romeo, yang memang tidak membuatnya tertarik.


" Kenapa kamu membawa nama Rivaldi?" Rizal mengerutkan dahinya, hingga membuat kedua alisnya bertautan


" Maksudku, Aldi yang seorang bos saja tidak aku anggap. Apalagi mahasiswa yang masih mengandalkan uang dari orang tua!" Grace mencoba penjelasan kepada sang suami agar suaminya itu tidak mencemaskannya dan tidak meragukan kesetiaannya.


" Oh ya, Pih. Ngomong-ngomong soal Aldi, tadi Bella minta aku untuk mengantar dia ke kantor Aldi besok pulang kuliah." Grace menjelaskan kepada suaminya soal rencana Isabella yang menyerahkan blazer milik Rivaldi.


" Bella ingin ke kantor Rivaldi? Untuk apa?" tanya Rizal kaget. Tentu saja dia merasa khawatir jika Rivaldi akan memanfaatkan keluguan sikap Isabella.


" Bella ingin mengantar blazer milik Aldi yang kemarin dipakai Bella untuk menutupi tubuh Bella karena pakaian Bella robek, Pih. Tidak apa-apa 'kan, Pih? Ada aku yang mengantar, kok! Aku yakin Aldi tidak mungkin berani macam-macam pada Bella, Pih." Grace mencoba meyakinkan Rizal agar mengijinkan niat putrinya itu.


" Baiklah, tapi jangan lama-lama di sana. Aku tidak ingin Rivaldi kembali punya niat mengejarmu saat melihat kehadiranmu di sana." Rizal tetap khawatir Rivaldi masih berniat merebut Grace darinya.


" Jangan berpikiran seperti itu terus, dong, Pih! Bagaimanapun juga dia sudah membantu menyelamatkan Bella dari peristiwa kemarin." Grace mengusap lengan suaminya agar tidak terus berburuk sangka terhadap Rivaldi.


Rizal tersenyum melihat sikap Grace yang mulai banyak perubahan, khususnya perhatian Grace kepada Isabella, putri kesayangannya itu.


" Terima kasih, Grace. Kamu sudah begitu perhatian pada Bella." Rizal membelai wajah cantik sang istri.


" Kan biar makin disayang sama Papih." Grace mengembangkan senyuman lebar hingga menampakkan lesung pipinya.


" Oh ya, Pih. Bagaimana soal Joe? Apa sudah mendapat informasi di mana keberadaan ba jingan itu?" tanya Grace tiba-tiba menanyakan soal pencarian Joe


" Wanita itu belum memberi kabar padaku. Jaka yang aku suruh mengawasi apartemen orang itu pun belum melihat tanda-tanda kemunculan Joe. Begitu juga di apartemen tempat kejadian, hasilnya nihil. Si breng sek itu benar-benar seperti hantu bisa muncul dan menghilang begitu cepat." Rizal mendengus kasar, sejak setahun lalu, Joe memang sangat pintar dalam hal bersembunyi. Namun Rizal berjanji akan terus mengejar pria itu sampai ke lubang tikus sekalipun.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading ❤️


__ADS_2