
Grace tak kuasa menahan rasa kantuknya, hingga akhirnya dia tertidur di kursi tunggu dengan menyandarkan kepalanya di pangkuan Agatha.
Agatha menatap wajah putrinya yang sedang tertidur di pangkuannya. Dia membelai wajah cantik Grace yang terlihat kelelahan. Sungguh dia tidak menyangka Grace mengalami perubahan besar dalam hidupnya. Dia juga tidak menyangka kedekatan Grace dengan Rizal memang membawa perubahan positif dalam hubungannya dengan Grace.
Ingatan Agatha seakan terlempar ke masa lalu. Di saat dia menemani suaminya dirawat, Grace sering tertidur di pangkuannya.
" Mama tidak menyangka, kamu sudah bertambah dewasa, Grace. Mama senang, kamu sudah kembali ke kehidupan yang normal sejak lepas dari laki-laki breng sek itu." Harus diakui olehnya, kehadiran Rizal lah yang banyak mempengaruhi sikap Grace sekarang ini. Dan justru musibah yang menimpa Rizal memberi hikmah bagi hubungannya dengan Grace yang semakin membaik. Lama rasanya dirinya tidak merasakan kehangatan dan keakraban seperti ini dengan Grace.
Saat Agatha sedang memusatkan pandangannya menatap Grace, dua orang pria dari dua generasi berbeda melangkah mendekat ke arah mereka berdua.
" Bagaimana kondisi Rizal?"
Agatha terkejut mendengar seseorang bertanya padanya. Dia pun seketika menaikkan pandangannya untuk melihat orang yang berbicara padanya tadi.
" Tuan David? Gavin?" Agatha terkesiap melihat kehadiran David Richard dan Gavin.
" Bagaimana keadaan Rizal saat ini?" Jika tadi suara David Richard yang terdengar, kali ini justru Gavin lah yang berbicara kepadanya.
" Hmmm, Rizal masih belum sadar," sahut Agatha. Dia lalu mene puk pelan pipi Grace, mencoba untuk membangunkan Grace.
" Grace, ada Tuan David dan Gavin ..." Agatha berbisik agar Grace tidak kaget ketika terbangun.
Garce mengerjapkan matanya saat Agatha membangunkannya. Matanya lalu melihat David dan Gavin Richard kini sudah berdiri menjulang di hadapannya.
Grace seketika bangkit berdiri karena dia tidak menduga jika sampai tertidur di pangkuan Mamanya.
" Om David?" Hanya David yang disapa oleh Grace. Grace memanggil David dengan panggilan Om mengikuti suaminya memanggil David.
" Apa kondisi Rizal sudah membaik?" tanya David pada Grace
" Suamiku sudah melewati masa kritis, tapi masih belum siuman, Om." Grace menjelaskan pada Rizal kondisi suaminya saat ini.
" Boleh saya melihat ke dalam?" tanya David kembali.
" Silahkan ..." Grace membuka pintu dan mempersilahkan David masuk. Grace lalu menatap Gavin. " Apa kau juga ingin masuk?" tanyanya kemudian.
__ADS_1
" Biar Daddy ku saja yang masuk," sahut Gavin.
Grace milirik ke arah Mamanya. Tentu dia merasa khawatir jika Mamanya itu masih terpesona dengan Gavin.
" Mam, jangan macam-macam!" Grace langsung menebar ancaman kepada Agatha. Karena bagaimapun juga, Gavin pernah menjadi suami Agatha, dan dia mengira Mamanya masih mencintai Gavin.
" Astaga, Grace!" Dengan mata melotot Agatha menyangkal apa yang dituduhkan oleh putrinya itu.
Setelah memberi ancaman kepada Mamanya Grace lalu masuk ke dalam ruangan ICU untuk menemani David yang sudah lebih dulu masuk ke dalam.
Sedangkan Gavin memilih berdiri bersandar ke dinding dan tidak ikut bergabung dengan Agatha di kursi tunggu.
" Dari mana kalian tahu Rizal ada di rumah sakit?" tanya Agatha berbasa-basi dengan Gavin yang memilih berdiri di dekat jendela.
" Vito yang mengabari Daddy David," sahut Gavin.
" Oh ...."
" Pak Rizal banyak membantu keluargaku menangani kasus-kasus, termasuk saat penye rangan yang terjadi padaku oleh anakmu itu." Sedikit menyindir, Gavin mengingatkan apa yang pernah dilakukan oleh Grace kepadanya
Tatapan mata Agatha berubah saat mendengar Gavin menyinggung soal penye rangan Grace terhadap Gavin sekitar satu tahun lalu.
" Apa kamu senang melihat masalah yang sedang Grace alami?" Agatha merasa tidak terima, melihat Gavin sepertinya mengolok apa yang terjadi pada Rizal dan Grace.
" Tentu saja tidak, tapi menurutku Pak Rizal berhak mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik dari anakmu, Agatha!" Gavin sempat terkejut saat David memberitahu jika Rizal menikahi Grace.
Agatha membelalakkan mata mendengar Gavin berkata seperti itu.
" Apa kau pikir anakku tidak pantas untuk Rizal!?" Agatha kesal mendengar ucapan sindiran Gavin tadi.
" Bukan tidak pantas, tapi ... mungkin jika tidak menikah dengan anakmu, Rizal tidak akan mengalami nasib seperti ini." Gavin menjelaskan alasannya mengatakan hal tadi.
Agatha mendengus kesal mendengar Gavin justru menyudutkan putrinya, padahal Grace sendiri merasakan sedih dengan musibah yang menimpa Rizal.
" Apa kamu pikir kami juga menginginkan ini, Gavin!? Grace begitu bersedih dengan musibah yang menimpa suaminya. Jangan kamu pikir dia bahagia dengan kejadian ini!" Agatha harus bisa menahan amarahnya, karena saat ini dia berada di rumah sakit.
__ADS_1
Gavin hanya mengangkat bahunya tak menjawab lagi kalimat yang diucapkan oleh Agatha. Dia lalu mengambil ponselnya dan sibuk memainkan ponselnya itu.
Sementara di dalam ruangan ICU
" Pih, ada Om David membesuk Papih. Papih cepetan bangun, dong!" Grace berbicara mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Rizal berharap suaminya itu cepat bereaksi.
" Apa lukanya cukup parah?" tanya David melihat kondisi Rizal yang tak sadarkan diri.
" Dokter bilang semua sudah normal, masa kritis nya sudah dilewati, tinggal tunggu kesadarannya saja, Om." Grace menjelaskan kondisi Rizal.
" Apa kamu berbiat membawa Rizal ke rumah sakit di luar negeri?" David seakan memberi solusi untuk Grace agar Rizal bisa cepat pulih.
" Aku belum kepikiran ke arah sana, Om. Aku masih menunggu perkembangannya beberapa hari ke depan. Semoga saja Papih sudah siuman. Aku sebenarnya suamiku dirawat di sini saja." Dengan membelai wajah Rizal penuh kasih sayang, Grace menerangkan jika dirinya lebih sreg Rizal tetap berada di Jakarta daripada harus di pindah ke rumah sakit di luar negeri.
Sikap Grace memperlakukan Rizal begitu lembut sempat membuat David tertegun. Dia tidak menyangka perubahan drastis dari sikap Grace begitu cepat. Dia tidak menduga jika wanita yang saat ini sedang menemani dengan sabar, Rizal yang berbaring tak sadarkan diri adalah wanita yang hampir mencelakai putranya satu tahun lalu. Wanita keras kepala dengan tingkahnya yang liar dan membuat pusing kepala.
***
Satu minggu berlalu, namun Rizal belum menampakkan tanda-tanda akan siuman, padahal kondisi Rizal sudah stabil. Bahkan Rizal pun sudah dipindahkan ke kamar rawat inap, bukan dia kamar ICU lagi. Selama Rizal di rawat di rumah sakit, Grace tidak pernah meninggalkan rumah sakit sedetik pun. Grace selalu setia menunggu Rizal sampai suaminya itu terjaga dari tidur panjangnya.
" Pih, kok Papih tidak bangun-bangun juga!? Papih jangan buat aku takut, dong!" Grace berbicara di depan Rizal yang masih belum membuka matanya. Hatinya merasakan khawatir melihat suaminya itu tak juga sadarkan diri.
" Ayo bangunlah, Pih! Papih tidak kangen bermesraan denganku? Kita sudah seminggu tidak gituan, lho, Pih! Padahal aku tidak sedang haid." Bibir Grace mengerucut menyampaikan keluhannya.
Grace terus memperhatikan wajah Rizal yang tidak terpengaruh dengan ocehannya.
" Beberapa hari ini Aldi sering kemari, lho, Pih. Dia perhatian sekali sama aku. Kalau Papih tidak bangun-bangun juga, nanti aku lama-lama kabur sama Aldi, lho! Memangnya Papih mau aku kabur dengan Aldi!?" Grace sengaja memancing dengan menyebut nama Rivaldi, karena dia tahu suaminya itu tidak suka jika dia membicarakan soal Rivaldi.
Sementara seseorang menghentikan langkahnya masuk ke dalam kamar inap Rizal ketika mendengar kalimat yang diucapkan Grace yang membuat mata orang itu terbelalak.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading ❤️