
Rizal menoleh ke arah pintu ruangan kerjanya saat pintu itu dibuka dari luar dan menampakkan Vito yang masuk dengan tangan menutupi bagian bawah perutnya.
" Jika kau ingin ke kamar kecil dulu, pergilah, Vit." Rizal menyangka jika Vito tidak tahan ini buang air kecil.
" Oh, tidak, Pak." tepis Vito, segera menyingkirkan tangannya yang tanpa sadar diperhatikan oleh Rizal. " Wanita itu benar-benar luar biasa ganasnya, Pak." lanjut Vito yang baru saja menjadi korban tendangan maut Grace.
" Maksudmu, Vit?" Rizal menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
" Dia menendang alat pencetak keturunan saya, Pak." aku Vito jujur.
Pengakuan Vito sontak membuat Rizal tertawa.
" Memangnya apa yang kau lakukan sampai dia menendang senjatamu, Vit?" Masih belum bisa menghentikan tawanya, Rizal bertanya penyebab Vito terkena tendangan kaki Grace.
" Dia mencoba kabur, Pak. Untung saja Sam datang tepat waktu," ujar Vito.
" Benar-benar liar wanita itu ..." Rizal menggelengkan kepala menanggapi sikap Grace.
" Dia juga mendorong petugas panti hingga jatuh karena menolak tinggal di kamar yang sempit, Pak." Vito melaporkan apa yang dilakukan Grace selama di panti tadi.
" Dia mendorong petugas panti?" Rizal terkejut dengan informasi yang disampaikan oleh Vito.
" Benar, Pak." sahut Vito kembali.
" Saya jadi khawatir, Nona Grace akan membuat semua penghuni panti di sana ketakutan, Pak. Hari ini saja sudah ada dua orang petugas panti yang kena amuk Nona Grace. Saya rasa Pak Rizal dan Tuan David harus berpikir ulang untuk menempatkan Nona Grace di sana." Sepertinya Vito sepemikiran dengan Nani yang merasa keberadaan Grace di sana justru berbahaya untuk penghuni panti.
" Menurut saya, di mana pun dia berada, dia itu memang berbahaya, Vit. Saya mengusulkan dia ditempatkan di sana untuk melatih kesabaran dia. Terutama cara bersikap dia terhadap orang yang lebih tua." Rizal tetap percaya keputusan dia mengusulkan panti sosial itu sebagai hukuman bagi Grace adalah tempat yang paling tepat
" Ya, semoga saja apa yang Pak Rizal rencanakan berjalan lancar," harap Vito.
Tok tok tok
" Assalamualaikum, Pih." Suara Isabella dengan kepala yang menyembul di balik ruang kerja Rizal membuat bos dan anak buahnya itu mengarahkan padangan ke pintu.
__ADS_1
" Waalaikumsalam, Bella? Ada apa kamu kemari, Nak?" Rizal langsung bangkit saat melihat kehadiran putrinya itu di kantornya.
" Aku mau main ke rumah teman, kebetulan lewat dekat sini, jadi aku mampir sekalian bawa ini, Pih." Isabella membawa plastik berisi kardus makanan untuk Rizal.
" Hai, Kak Vito." Bella menyapa Vito, menyadari di ruangan itu ada orang lain selain Rizal.
" Hai, Bella." Vito mengulum senyuman. Tentu saja bisa bertemu dengan Isabella secara tak terduga seperti ini membuat hatinya senang.
" Papih sudah makan belum? Bella belikan nasi Padang kesukaan Papih." Isabella menaruh kardus nasi padang itu di meja kerja Rizal.
" Ini buat Kak Vito juga. Terima kasih ya, Kak Vito waktu itu sudah menolong Bella waktu mobil Bella mogok." Sebagai rasa terima kasihnya, Isabella membelikan Vito makanan juga.
" Terima kasih, Bella. Kebetulan sekali, saya belum makan." Vito sengaja berbohong, padahal sebelum kembali ke kantor, dia sempat mampir di kedai sup iga.
" Wah, kebetulan sekali ... Ya sudah, dimakan dulu saja nasinya, Kak." Isabella menyuruh Vito segera menyantap makanan yang dia beli untuk Papanya juga Vito.
" Iya, terima kasih ya, Bella." Setelah menerima kotak nasi Padang, Vito pun kemudian permisi hendak meninggalkan ruang kerja Rizal, karena dia merasa Rizal membutuhkan privasi dengan anaknya.
" Hahh?? Papih jangan ngaco, deh!" sangkal Isabella dengan wajah bersemu merah.
" Lalu kenapa kamu membelikan Vito makanan segala? Apa semua karyawan Papih kamu belikan juga?" selidik Rizal menggoda putrinya itu.
" Apaan sih, Pih? Siapa juga yang suka sama Kak Vito. Kak Vito itu 'kan teman kerja Papih. Ketuaan deh kalau Bella suka sama Kak Vito. Mending cari yang seumuran saja sama Bella." Isabella masih menepis apa yang memang tidak dia rasakan.
" Vito masih muda, Kok. Belum setua Papih. Anak juga baik." Rizal juga tidak akan melarang jika anaknya itu memang menyukai Vito. Karena beberapa tahun bekerja bersamanya, dia mengenal Vito dengan baik.
" Papih kok jadi menjodohkan begini, sih? Bella itu tidak suka sama Kak Vito. Maksudnya tidak menyukai sebagai wanita kepada pria, Pih."
" Vito, baik orangnya. Ganteng juga, kan?" Rizal masih terus menggoda Isabella.
" Pih, Bella ini tidak ingin menikah di usia muda. Bella tidak ingin menikah muda seperti Papih sama Mamih dulu." Isabella mengetahui jika kedua orang tuanya menikah di usia sangat muda, " Bella ingin menyelesaikan kuliah dulu. Ingin bekerja, membahagiakan Papih. Kalau mencari kekasih seumuran Kak Vito, nanti yang ada Bella dikejar-kejar ingin dinikahkan. Bella tidak mau, Pih." Isabella menyampaikan alasan yang sudah menjadi keputusannya, tidak ingin mencari kekasih yang usianya jauh di atas dirinya.
" Oh ya, Papih sudah makan belum, sih? Kok belum jawab pertanyaan Bella?" Isabella mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
" Papih baru selesai makan tadi," jawab Rizal.
" Yah, jadi nasi Padang nya gimana, Pih?"
" Taruh saja, nanti kalau Papih lapar lagi pasti akan Papih makan," sahut Rizal.
" Ya sudah, kalau begitu Bella pamit ya, Pih!?" Isabella berpamitan kepada Rizal ingin meninggalkan kantor Papihnya itu.
" Lho, kok pamit? Baru juga sampai ...."
" Tadi 'kan Bella sudah bilang, kalau Bella mau ke rumah teman, Pih. Mereka ada di luar menunggu Bella." Isabella mengatakan kenapa dia ingin buru-buru pergi.
" Ada teman kamu di luar? Kenapa tidak disuruh masuk sih, Sayang?"
" Ck, jangan deh, Pih! Nanti yang ada mereka godain Papih terus ..." Isabella mengibaskan tangannya ke udara. Dia tidak ingin temannya itu pada jatuh cinta kepada Papihnya yang memang masih nampak terlihat muda dan tampan, walaupun sudah mempunyai anak gadis seperti dirinya.
Rizal tergelak mendengar penjelasan Isabella tentang teman-teman kuliah putrinya itu.
" Wah, berarti Papih masih ganteng dong, kalau teman-teman kamu ingin goda Papih?"
" Bella tidak ingin teman-teman Bella menjadikan Papih itu Sugar Daddy mereka. Nanti kalau teman Bella naksir Papih, Papih bisa kepincut 'kan bahaya." Isabella memang tidak ingin jika temannya jatuh cinta kepada Rizal atau sebaliknya, Rizal yang akan jatuh cinta pada teman-temannya yang tidak kalah cantik dengannya.
" Hahaha, kamu ini ada-ada saja, Sayang." Rizal mengacak rambut Isabella. " Mana mungkin Papih akan kepincut dengan gadis belia seumuran denganmu, Bella." Rizal menepis anggapan Isabella jika dirinya akan jatuh cinta pada teman anaknya itu. Tentu saja dia merasa tidak mungkin menyukai wanita yang usianya seumuran dengan putrinya itu.
*
*
*
Bersambung ...
Happy Reading❤️
__ADS_1