
Agatha hampir tidak percaya dengan kenyataan yang mengatakan jika putrinya telah melakukan kejahatan kriminal meni kam orang. Mungkin ketakutan yang dia rasakan saat ini lebih menyeramkan dibanding ketakutan saat Grace melakukan penyerangan terhadap Gavin dulu.
Walau dia merasakan beberapa hal dari Grace berubah, namun masih ada sifat Grace yang tetap bertahan hingga saat ini. Membalaskan sikap orang yang sudah menyakiti orang-orang terdekatnya. Seperti dulu Grace salah paham dan mengira Gavin menceraikannya karena Gavin selingkuh setelah menguras kekayaan orang tua Grace.
" Bagaimana Grace bisa sampai terlihat peni kaman terhadap Joe, Aldi?" Bola mata Agatha bahkan mulai berkaca-kaca. Rasa takut dan cemas akan nasib Grace itulah yang saat ini membelenggunya.
" Itu semua karena salah saya, Tante. Saya bercerita soal rencana menjebak Joe sehingga Rena ingin ikut dalam rencana kami ini. Saya sudah berusaha melarang, namun Rena tetap memaksa bahkan mengancam akan datang sendiri ke tempat kami menjebak Joe kalau saya tidak mengajak dia." Rivaldi masih merasa bersalah dengan keputusannya memberitahu Grace dan membiarkan Grace ikut.
" Lalu kalau sampai Joe tewas bagaimana, Aldi? Tante tidak ingin Grace dipenjara." Kini Agatha justru menangis. Sungguh dia tidak tega melihat anaknya harus dibui, apalagi anaknya itu kini sedang mengandung, belum lagi menantunya, suami dari Grace, yang dia harapkan bisa mengeluarkan Grace dari masalah ini masih belum juga sadarkan diri.
Melihat Agatha menangis, Rivaldi langsung merangkul pundak Agatha, mencoba menenangkan hati wanita itu yang sedang bersedih.
" Tante tenang dulu. Saya akan berusaha mengurus hal ini. Saya juga berharap Joe tidak sampai kenapa-napa." Sejujurnya, Rivaldi pun bingung harus bagaimana jika sampai Joe tidak bernyawa, hal ini pasti akan melibatkan dirinya juga anak buahnya. Namun yang membuatnya khawatir adalah tuntutan terhadap Grace yang dengan sengaja melakukan tindakan yang mengakibatkan nyawa orang melayang.
***
Setelah membersihkan tubuh dan mengganti pakaian, Grace terduduk di tempat tidur. Dia bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Dia memikirkan apakah Joe saat ini masih hidup atau sudah mati.
Grace mengambil sling bag nya untuk mengambil ponsel miliknya. Dia berniat menghubungi Pak Bondan, karena dia ingin tahu kabar soal kondisi Joe saat ini. Jika dia belum mendapatkan kepastian soal kondisi Joe, dia pasti tidak akan tenang. Bukan karena dia masih peduli apalagi masih cinta terhadap Joe, tapi karena dia takut akan diproses hukum karena melakukan kejahatan kriminal tersebut.
Grace memang secara sengaja membeli belati sebelum dirinya ke rumah sakit siang tadi. Dia memang berniat melakukan pembalasan terhadap Joe. Namun dia tidak memikirkan akibat dari masalah yang telah dia timbulkan saat ini.
Grace segera mencari nomer Bondan untuk menanyakan bagaimana kondisi terupdate soal Joe.
" Halo, Pak Bondan. Bagaimana kondisi Joe saat ini? Apa dia tewas?" Dengan jantung berdebar kencang, Grace menanti jawaban dari Bondan soal kondisi Joe. Sejujurnya dia takut jika sampai kondisi Joe parah dan membuat dia terlibat masalah hukum. Dia menyadari jika dia tidak berpikir panjang. Dia hanya membalaskan dendam atas apa yang sudah diperbuat Joe kepadanya dan juga keluarganya.
" Kamu tidak usah mengkhawatirkan pria itu, Grace. Kamu cukup fokus dengan Rizal dan calon anak kalian." Suara dan jawaban yang diucapkan Bondan terdengar cukup tenang, seolah tidak ada masalah genting yang terjadi.
" Apa artinya Joe selamat, Pak Bondan?" Grace masih penasaran karena Bondan tidak secara terang-terangan menyebut Joe selamat atau tidak.
__ADS_1
" Semua bisa kami atasi, Grace. Kamu tidak perlu merasa khawatir," sahut Bondan kembali.
Dari kalimat yang diucapkan oleh Bondan, Grace kini yakin dan bisa bernafas lega karena menganggap jika Joe selamat.
" Syukurlah kalau begitu, Pak Bondan." ucap Grace tenang.
Sesudah mendapatkan kepastian kondisi Joe selamat, Grace segera mengakhiri sambungan teleponnya dengan Pak bondan. Dia lalu membuka rekaman cctv di kamar rawat Rizal yang tersambung juga di ponselnya saat dia teringat akan suaminya itu. Namun rekaman cctv tidak memperlihatkan apa-apa, hanya warna hitam dengan tulisan video loss yang terlihat di layar ponselnya saat itu, sehingga membuat Grace kini menghubungi nomer ponsel Isabella, tapi panggilannya tak juga diangkat oleh anak dari suaminya itu.
Grace lalu mencoba menghubungi Surti yang bertugas menemani Isabella berjaga malam. Dia ingin tahu kenapa rekaman cctv ngeblank tidak menampakkan gambar apa-apa.
" Halo, Non Grace?" Syukurlah Surti dengan cepat membalas panggilan video call dari Grace.
" Bi, kenapa aku tidak bisa melihat hasil rekaman cctv, ya? Gambarnya kok, ngeblank hanya ada tulisan video loss saja?" Grace langsung menanyakan kenapa dia tidak bisa melihat rekaman cctv yang dipasang di dekat brankar Rizal.
" Oh, itu, Non. Hmmm ... itu cctv nya kata Non Bella rusak kayaknya, Non." jawab Surti.
" Rusak? Masa, sih, Bi? Itu Mama aku belikan yang bagus, lho, Bi! Masa baru dipakai beberapa hari saja sudah rusak, sih? Coba dicek adaptornya, Bi. Tersambung ke listrik atau tidak?" Grace tentu tidak percaya dengan alasan cctv yang baru dibeli Agatha itu rusak.
" Ya sudahlah, aku mau lihat Papih Tolong arahkan kamera ponsel Bibi ke Papih." Grace meminta Surti memperlihatkan kondisi Rizal saat ini.
" Iya, Non. Sebentar ..." Dari video di ponsel Grace terlihat gerakan Surti berlari ke arah brankar Rizal, hingga memperlihatkan Rizal yang masih berbaring dengan berbalut selimut.
" Apa Papih mengigau lagi, Bi?" tanya Grace menanyakan apakah Rizal masih memanggil nama mantan istrinya yang sudah meninggal.
" Tidak, Non. Bapak tidak mengatakan apa-apa, kok!" sahut Surti kembali.
" Kondisi Papih bagaimana? Dokter sudah kontrol tadi?" Grace selalu menanyakan kondisi terbaru suaminya.
" Dokter bilang kondisi Pak Rizal stabil, Non." jawab Surti.
__ADS_1
" Oh ya, Bella mana, Bi? Aku telepon tapi tidak diangkat." Grace menanyakan keberadaan Isabella.
" Oh, Non Bella sedang ke kantin, Non. Tadi bilang mau cari minuman." Surti menjelaskan keberadaan Isabella.
" Oh ...."
" Non Grace dari mana? Tadi Bibi ke apartemen, Non Grace tidak ada di sana. Telepon Non juga tidak diangkat. Surti sempat khawatir, soalnya Surti telepon Bi Saonah sama Bi Tinah juga Non tidak ke sana." Surti menyampaikan kecemasannya karena Grace tadi seolah menghilang tidak ada kabar.
" Aku tadi pergi ada perlu, Bi." Grace beralasan.
" Non sekarang di apartemen sendirian?" tanya Surti lagi.
" Aku di rumah Mamaku, Bi." Grace beralasan.
" Oh, ya sudah kalau Non ada di rumah Ibu Agatha. Mending Non di rumah Mama Non daripada di apartemen sendirian. Nanti kalau Non butuh apa-apa tidak ada yang meladeni." Surti mengkhawatirkan jika Grace sendirian di apartemen saat hamil muda.
" Iya, Bi. Ya sudah, besok pagi aku ke sana. Buat urus kepulangan Papih. Aku tutup dulu teleponnya, ya, Bi. Assalamualaikum ..." Grace berniat mengakhiri percakapannya melalui video call dengan Surti.
" Waalaikumsalam, Non." sahut Surti sebelum Grace mengakhiri percakapannya.
Grace menghempas nafas panjang. Hari ini terasa berat baginya karena dia baru saja mengalami peristiwa di luar kendali akal sehatnya. Sejak bersama Rizal dia ingin merubah dirinya menjadi pribadi yang baik, tidak lagi melakukan kekerasan atau hal yang melawan hukum, namun hari ini dia sudah mengingkari janjinya itu.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️