TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Singa Tua


__ADS_3

Tak ada pembicaraan selama perjalanan menuju kantor RG Special Agent. Yang ada ketegangan yang terasa dalam mobil yang masih dikendarai oleh Indra. Bahkan Indra yang selama ini dikenal sebagai orang yang senang berbicara pun tak mengeluarkan sepatah kata pun melihat Rizal yang saat ini diselimiti aura kemarahan.


Grace sendiri tidak memperdulikan kemarahan Rizal, karena dia pun merasa kesal kepada pria itu. Dia marah karena Rizal justru membela pria hidung belang seperti Handy yang sudah melakukan tindakan pele cehan kepadanya, daripada membela dirinya yang saat ini bertugas sebagai anak buah Rizal.


Sekitar empat puluh menit kemudian mereka tiba di kantor Rizal. Saat mobil sudah terparkir, Rizal melepas seat belt nya dan berucap dengan nada ketus kepada Grace, " Kamu, ke ruangan saya sekarang!"


Rizal keluar dari mobil dengan sangat emosi. Bahkan sapaan security dan beberapa pegawai yang berpapasan dengannya tak digubrisnya.


" Lho, Bapak sudah kembali?" Vito yang ingin mengembalikan arsip ke lantai bawah terheran saat melihat kemunculan Rizal di sana, karena bosnya itu sudah kembali ke kantor begitu cepat. Namun, Rizal sama sekali tidak merespon ucapannya. Pria itu justru membuka pintu cukup kasar dan langsung masuk ke dalam ruangannya


Tak mendapat jawaban dari Rizal, Vito kini mengarahkan pandangan kepada Grace. Yang ditanggapi Grace dengan mengedikkan bahunya. Apalagi saat ini Grace pun ikut berjalan masuk ke ruangan Rizal. Vito yakin jika terjadi sesuatu yang berhubungan dengan Grace sehingga membuat bosnya itu terlihat sangat marah.


Vito pun bergegas turun ke bawah untuk menaruh arsip yang dia pegang sambil mencari informasi pada Indra yang tadi pergi bersama Rizal dan Grace.


" Ndra, ada apa?" tanya Vito setelah dia menyimpan arsip ke tempatnya semula.


" Sepertinya Pak Handy membatalkan memakai jasa kita, Vit." jawab Indra.


" Kok, bisa begitu? Bukannya kita sudah melakukan penyelidikan dan memberikan informasi kepada Pak Handy, Ndra?" Vito kaget dengan info yang disampaikan oleh Indra soal hal yang menyebabkan bos mereka terlihat marah besar.


" Ada insiden tadi, Vit."


" Insiden? Maksudmu?"


" Sepertinya Pak Handy itu tertarik dengan Mbak Grace. Karena saat mereka bersalaman, Mbak Grace memegang tangan Pak Handy dengan sangat kuat hingga membuat Pak Handy kesakitan. Setelah itu Mbak Grace membentak Pak Handy dengan mengatakan jika Pak Handy itu kurang sopan. Dan Pak Handy justru marah karena perkataan kasar Mbak Grace tadi." Indra menjelaskan apa yang terjadi saat mereka berada di rumah makan. tadi.


" Aku lalu disuruh Pak Rizal membawa Mbak Grace ke mobil. Aku tidak tahu apa yang diperbincangkan oleh Pak Rizal dan Pak Handy seterusnya, karena tak lama Pak Rizal keluar dari restoran dan menyuruh kita putar balik," lanjut Indra menceritakan pada Vito.


Sementara itu di ruang kerja Rizal, bos pemilik RG Special Agent itu menatap tajam dengan berkacak pinggang ke arah Grace ketika Grace masuk ke dalam ruangannya.


" Kau tahu apa yang sudah kamu lakukan tadi?" tanya Rizal menahan emosi yang meletup-letup. " Kau sudah membuat saya kehilangan klien! Apa kau memang sengaja ingin mempermalukan saya di. hadapan klien saya!?" geram Rizal tidak mampu menutupi rasa kecewanya.


" Memangnya berapa nilai kerugian yang ditimbulkan olehku tadi? Bilang saja, nanti aku ganti!" Merasa orang tuanya mampu membayar fee yang akan diterima Rizal dari Handy, Grace justru menantang Rizal dengan mengatakan akan membayar ganti rugi pada Rizal.


Mendengar ucapan Grace, justru semakin membuat Rizal murka, tentu saja dia merasa tersinggung karena Grace meremehkannya hanya karena kemampuan finansial orang tua Grace.


" Ini bukan soal materi berapa uang yang saya terima! Tetapi soal reputasi atas profesi saya!" Nada tinggi keluar dari mulut Rizal. " Kau sudah membuat reputasi saya jelek di mata klien saya! Mereka akan beranggapan jika saya tidak menghargai klien karena perbuatan kamu yang tidak dapat bersikap sopan kepada klien saya!" Rizal benar-benar terlihat murka karena Grace sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalahnya. Bahkan dengan kesombongannya mengatakan akan memberikan ganti rugi.


" Memangnya kamu pikir yang orang tua itu lakukan tadi sopan?!" Grace merasa tidak terima disalahkan sepihak oleh Rizal. " Dia itu mele cehkan aku!" Grace memberikan alasannya kenapa berbuat seperti itu kepada Handy.


Rizal tersenyum sinis menanggapi alasan Grace yang dirasanya terlalu berlebihan.


" Mele cehkan kamu? Bukankah kamu memang senang memancing pria untuk bersikap seperti itu kepadamu!?" Mengingat bagaimana sikap Grace selama ini terhadapnya, dia merasa jika semua yang terjadi karena imbas sikap Grace sendiri.


" Kau menyalahkan aku karena aku bersikap kasar kepada klienmu itu tanpa tahu alasannya mengapa?" Grace tersenyum miris. " Apa kau juga akan menyalahkan jika hal ini terjadi pada anak buah wanitamu yang lain?!" Grace mengumpakan jika yang tadi menerima perlakuan genit dari Handy bukanlah dirinya namun pegawai wanita RG Special Agent lainnya.


" Pegawai wanitaku yang lain tidak ada yang liar sepertimu!" sanggah Rizal tetap menyalahkan Grace.


Grace kini menatap Rizal dengan penuh kebencian. Dia beranggapan jika Rizal ingin mengumpannya pada Handy demi kelancaran pekerjaannya.


" Kau selalu mengatakan jika Joe adalah pengecut karena memgumpanku agar dia bisa kabur! Sekarang, apa bedanya denganmu? Kau ingin tetap kerjasama dengan tua bangka itu tetap berjalan! Kau ingin nama baikmu terjaga dengan baik, tanpa kamu perdulikan jika anggotamu dilecehkan oleh klienmu itu!!" pungkas Grace lalu meninggalkan ruang kerja Rizal dengan membanting pintu meninggalkan Rizal yang berteriak melarangnya untuk keluar.


Grace turun ke bawah. Namun, dia tidak kembali ke tempatnya melainkan berjalan ke luar kantor Rizal menuju rumah tinggalnya yang kini berada di seberang kantor Rizal.

__ADS_1


***


" Maaf, Pak. Apa Pak Handy benar memutuskan kerja sama dengan kita?" Saat waktu menjelang sore, Vito yang sedang berada di ruangan Rizal memberanikan diri untuk bertanya, karena terlihat bosnya itu sudah mulai mereda dari emosinya.


Rizal melirik ke arah Vito. Dia yakin jika Vito mengetahui hal tersebut dari Indra, karena dia sendiri tidak sempat menceritakan kepada anak buahnya itu.


" Ya, memang seperti itu." Dengan mendengus kasar, Rizal menjawab pertanyaan Vito.


" Kenapa Pak Handy terlalu cepat mengambil keputusan untuk mengakhiri kerja sama kita ya, Pak? Saya rasa Nona Grace bersikap seperti itu bukan bermaksud untuk mempermalukan Pak Rizal. Tapi, mungkin memang ada sesuatu yang diperbuat Pak Handy kepada Nona Grace sehingga membuat Nona Grace tidak nyaman." Vito mencoba memberi tanggapan atas apa yang terjadi dengan Grace dan Handy.


" Menurutmu apa yang dilakukan Pak Handy padanya, Vit?" Rizal bertanya pada Vito yang justru tidak berada di tempat kejadian.


" Kalau yang saya dengar dari Indra, mungkin Pak Handy memberikan kode saat bersalaman dengan Nona Grace, Apalagi Indra sendiri mengatakan jika Pak Handy mengacuhkan uluran tangan Indra yang ingin mengajak Pak Handy bersalaman. Pak Handy justru memilih bersalaman dengan Nona Grace." Vito merasa ada keanehan dari cerita yang disampaikan Indra kepadanya.


" Ya, saya memang melihat Pak Handy tidak merespon Indra. Tapi, saya merasa tidak ada yang aneh saat beliau dan Grace bersalaman." Walau dia melihat Handy memang menampakkan ketertarikan dengan Grace. Namun, dia menganggap sikap kasar Grace terlalu berlebihan terhadap Handy.


" Apa Pak Rizal tidak menanyakan kepada Nona Grace, apa yang dilakukan oleh Pak Handy saat bersalaman?" tanya Vito, sepertinya Vito ingin agar Rizal mendengar penjelasan dari sudut pandang wanita itu dan tidak menyalahkan seluruhnya pada Grace.


" Dia pasti punya alasan untuk menyangkal perbuatannya, Vit." Namun, Rizal seakan tidak perduli pada apa yang dialami oleh Grace.


" Menurutmu, memangnya pele cehan apa yang bisa dilakukan oleh pria saat bersalaman dengan wanita, Vit?" tanya Rizal penasaran, karena dia tidak melihat ada sesuatu yang aneh dari cara bersalaman Handy.


" Mungkin Pak Handy berjabat tangan genit kepada Nona Grace, Pak. Seperti mengelitik telapak tangan Nona Grace saat bersalaman misalnya. Itu mengartikan jika Pak Handy menunjukkan ketertarikannya kepada Nona Grace. Untuk orang yang baru saja berkenalan, saya rasa tindakan Pak Handy memang kurang sopan, Pak. Dan itu bisa dikategorikan sebagai tindakan pele cehan." Vito menyampaikan analisanya.


Rizal menghela nafas mendengar penjelasan dari Vito. Mungkin itulah yang membuat Grace sangat marah terhadap Handy, dan berkeras tak ingin mengakui kesalahannya telah bersikap kasar terhadap Handy.


***


Sejak bertengkar dengan Rizal siang tadi, Grace tidak kembali lagi ke kantor milik pria itu. Grace lebih memilih kembali dan berdiam di kamarnya daripada harus bertemu dengan Rizal yang menurutnya sangat menyebalkan.


Grace menoleh ke arah kantor Rizal saat dia mendengar suara mobil keluar dari arah gerbang kantor itu. Dia melihat mobil Rizal yang keluar dari sana. Grace memalingkan wajahnya, walaupun dia tahu jika Rizal tidak akan melihat keberadaannya di atas balkon itu. Namun, dia tidak mendengar suara mobil itu pergi membuat Grace menoleh kembali ke arah kantor Rizal.


Grace melihat mobil Rizal berhenti. Dia juga melihat sosok Rizal yang sedang memandang ke arahnya dari balik kemudinya. Tak ingin terus berpandangan dengan Rizal, Grace pun akhirnya memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar tidurnya.


" Kenapa juga dia berhenti di situ? Kalau dia menyuruh aku meminta maaf, sampai kapanpun aku tidak akan minta maaf!" gumam Grace menganggap Rizal sedang mengawasinya.


" Dia juga punya anak gadis. Memangnya dia senang anak gadisnya diperlakukan hal itu!?" umpat Grace kesal.


Sedangkan dari dalam mobilnya, Rizal yang tadi menghentikan mobilnya saat melihat sosok Grace berdiri di balkon kamar, kini melanjutkan perjalanannya saat melihat tubuh Grace menghilang dari balkon kamar wanita itu.


" Kenapa aku tadi justru berhenti dan memperhatikan wanita itu?" gumam Rizal mengusap kasar wajahnya. Karena apa yang dilakukanya tadi seperti sebuah refleks yang dia lakukan.


Keesokkan harinya, Grace datang ke kantor Rizal lebih siang dari Rizal dan Grace akan pulang lebih awal sebelum Rizal pulang. Tentu saja alasannya agar dia tidak bertatap muka dengan Rizal . Melihat wajah Rizal seperti melihat sesuatu yang paling dibencinya di dunia ini. Mungkin, kebenciannya pada Gavin sebelum ini masih kalah dibanding rasa bencinya terhadap Rizal.


Tiga bulan berselang, hubungan antara Rizal dan Grace tidak juga membaik. Apalagi Rizal juga sudah tidak pernah menyuruh Grace untuk ikut bergabung dengan anak buahnya yang lain untuk menyelidiki kasus-kasus yang dia terima dari kliennya.


Walau tidak pernah diperintah oleh Rizal untuk menangani suatu kasus. Namun, Grace tetap selalu hadir di kantor Rizal untuk membantu rekan-rekannya di sana. Grace hanya ingin cepat menyelesaikan hukumannya lalu terbebas dari kekangan Rizal.


***


" Grace, tolong scan data-data ini lalu kirimkan ke alamat email yang tertera di situ. Saya sama Jaka mau ada tugas." Yuanita, salah seorang wanita yang menjadi tim anggota Rizal menyerahkan beberapa lembar kertas bergambar kepada Grace.


" Oke." Grace menerima tugas yang diserahkan kepadanya. " Kalian mau menangani kasus apa?" tanya Grace kemudian.

__ADS_1


" Kita mau menangani kasus pelakor, Grace." sahut Yuanita terkekeh. Selama tiga bulan bertemu setiap hari dengan rekan-rekan di kantor Rizal, membuat Grace akhirnya bisa mengakrabkan diri dengan mereka.


" Kasus pelakor? Memang kantor ini menerima kasus seperti itu?" tanya Grace heran.


" Di sini terkena kasus apa saja, Grace. Selama itu bukan kasus yang melanggar hukum," sahut Yuanita menjelaskan.


" Terus apa yang kalian lakukan dalam penyelidikkan itu?" Bagi Grace menanggani kasus yang disebutkan oleh Yuanita adalah hal yang aneh.


" Klien kita ini curiga jika suaminya itu punya wanita simpanan, karena itu dia minta bantuan kita untuk menyelidiki hal tersebut. Jika dugaannya itu terbukti benar, klien kita akan mengajukan gugatan cerai terhadap suaminya dan langsung mendepak dia dari jabatan yang dipegang oleh suaminya saat ini. Karena ternyata, perusahaan yang dipegang oleh sang suami itu milik keluarga istrinya alias klien kita." Yuanita menjelaskan kasus yang akan dia selidiki bersama Jaja.


" Oh, jadi suaminya itu gembel yang numpang hidup sama istrinya yang berduit?" celetuk Grace langsung berkomentar. Mungkin anggapannya itu sama seperti anggapan dirinya terhadap Gavin dulu. Tanpa dia sadari jika dia pun salah korban dari pria seperti itu, karena Joe pun selama ini sebenarnya memanfaatkan kekayaan yang dimiliki oleh Grace.


" Ya seperti itulah kira-kira," sahut Yuanita.


" Dasar parasit! Kalau saja aku boleh ikut, ingin aku tonjok muka laki-laki itu!" Grace merasa geram sendiri mendegar kasus yang akan ditangani oleh Yuanita dan Jaja.


" Wah, jangan ikut deh, Grace! Nanti Pak Rizal marah lagi kalau kamu sampai tonjok-tonjok muka orang." Mengingat kejadian sebelumnya, Yuanita merasa khawatir jika sampai Grace membuat keributan kembali dan membuat RG Special Agent kehilangan kliennya lagi.


" Nanti singa tua itu akan mengamuk, ya?"sindir Grace.


" Singa tua?" Yuanita mengeryitkan keningnya saat mendengar Grace menyebut kata singa tua.


" Bos mu itu singa tua!" sahut Grace.


" Ya ampun, kamu ini ada-ada saja, Grace. Pak Rizal keren ganteng gitu, kok dibilang singa tua?" Yuanita terkekeh mendengar julukan untuk Rizal yang diberikan oleh Grace.


" Nit, kita berangkat sekarang?" Jaja yang akan bertugas bersama Yuanita mengajak wanita itu untuk segera berangkat.


" Aku tinggal dulu ya, Grace! Tolong jangan lupa diemail." Yuanita berpamitan kepada Grace karena Jaja sudah mengajaknya pergi.


" Oke, good luck." sahut Grace.


Saat Jaja dan Yuanita melewati pintu kantor, secara bersamaan dari arah yang berlawanan Isabella masuk ke dalam ruangan kantor Papihnya itu.


" Hai, Bella ..." Jaja dan Yuanita menyapa Isabella bersamaan.


" Hai, Kak. Papih aku ada di ruangannya, kan?" tanya Isabella kepada dua orang anak buah Papihnya itu.


" Pak Rizal ada di ruangannya, kok" jawab Yuanita.


" Oh, oke. makasih ya, Kak." sahut Isabella yang kini menangkap sosok Grace yang saat itu juga sedang mengarahkan pandangannya ke arah Isabella saat mendengar Yuanita dan Jaja tadi menyebut nama Isabella.


" Kamu?? Kamu sedang apa di kantor Papih aku?! Kamu sengaja ingin menggoda Papih aku dengan terus mendekati Papih, kan?!" Isabella yang berjalan mendekat ke arah Grace langsung mendamprat denga melemparkan tuduhannya kepada Grace.


*


*


*


Bersambung ....


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2