TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Sebuah Kecupan


__ADS_3

Jam delapan malam Rizal sampai di rumahnya. Dia langsung menuju kamar Isabella, karena dia tidak ingin putri kesayangannya itu terbebani dengan masalah Grace yang sedang dia tangani.


Tok tok tok


" Sayang, kamu sudah tidur belum?" tanya Rizal seraya mengetuk pintu kamar Isabella.


" Isabella ..." Kembali Rizal memanggil nama putrinya.


Tak lama setelah panggilan kedua, pintu kamar Isabella terbuka.


" Papih ..." Isabella langsung memeluk tubuh Rizal seraya terisak. " Pih, maafkan Bella, karena tadi pagi Bella sudah bicara kasar sama Papih." Setelah mengetahui cerita dari Vito. Dan dia juga mendengar sendiri Papihnya itu marah pada Grace, Isabella merasa bersalah, karena dia sudah menyalahkan Rizal dan sudah menuduh Papihnya itu mempunyai wanita simpanan wanita nakal. Tentu saja Isabella memberi label wanita nakal. Seseorang wanita yang dengan bangga memproklamirkan dirinya sebagai sugar baby, dia rasa wanita itu tidak mempunyai harga diri dan rasa malu. Dan wanita seperti itu tidaklah pantas untuk mendampingi Papihnya, terlebih usia wanita itu seumuran dengannya.


" Sudahlah, Sayang. Jangan menangis. Papih tidak menyalahkan kamu, Bella." Rizal mengusap puncuk kepala Bella kemudian mengecupnya. Rizal memang sangat menyanyangi putri semata wayangnya itu.


" Pih, sebaiknya Papih sudahi saja menangani kasus wanita jahat itu. Bella tidak ingin wanita itu balas dendam pada Papih." Isabella meminta Papihnya itu berhenti berurusan dengan Grace.


" Tidak bisa, Sayang. Orang yang meminta Papih menangani kasus ini kenal baik dengan Papih." Tentu Rizal tidak bisa melepas begitu saja kasus yang sedang ditanganinya, karena David Richard lah yang memerintahnya.


" Tapi Papih harus janji, Papih jangan tergoda dengan wanita jahat itu ya!?" Grace memperingatkan Rizal agar tidak sampai tergoda pada aksi nakal Grace.


" Tidak mungkin, Sayang. Papih tidak mungkin tergoda, apalagi dengan wanita seperti dia." Rizal menegaskan jika dirinya akan kuat iman, tidak akan terpengaruh dan tidak akan goyah pada Grace.


" Tapi dia cantik dan sek si, Pih! Sebaiknya Papih serahkan saja ke Kak Vito untuk mengurus wanita jahat itu!" Isabella justru menyarankan agar Vito yang menanggani Grace, agar Rizal tidak terus bertemu dengan Grace.


" Vito?" Rizal mengerutkan keningnya. Mengingat anak buahnya itu sepertinya menyukai putrinya, mana mungkin Rizal menyerahkan Grace kepada Vito.


" Kamu tidak kasihan pada Vito jika dia harus bersama wanita itu? Vito itu sedang menyukai seorang gadis belia baik-baik. Kasihan jika harus dipusingkan dengan Nona Grace," lanjut Rizal.


" Panggil saja dia wanita jahat! Tidak usah memanggil Nona-nona segala!" protes Isabella karena Papihnya itu masih memanggil Grace dengan formal dan sopan.


Rizal kembali terkekeh mendengar ucapan putrinya.


" Sudah, sudah, jangan membahas itu lagi. Kamu sudah makan malam belum? Papih belum makan, temani Papih kalau kamu sudah makan yuk!" Rizal merangkul pundak putrinya itu dan mengajak putrinya itu untuk bergabung dengannya di meja makan.


***


Grace berjalan ke luar menuju rooftop hotel milik David Richard selepas membeli beberapa pakaian untuk berganti. Sebenarnya siang tadi dia berniat membeli pakaian. Namun, kemunculan Rizal yang tiba-tiba membuatnya tidak bisa keluar dari kamar hotel seenaknya.


Grace mengedar pandangan ke setiap sudut interior rooftop cafe itu. Memang dia akui, hotel milik ayah dari Gavin itu memang terlihat sangat mewah. Pelayanan dan fasilitas yang ada di hotel itu pun benar-benar sangat memuaskan.


" Ternyata si gembel itu benar-benar anak orang kaya. Kenapa juga mau menikahi Mamaku? Dasar pria bo doh!" Grace mencibir Gavin yang dianggapnya terlalu bo doh, mau saja dinikahkan dengan wanita yang jauh lebih tua usianya dari Gavin.


Grace lalu mengeluarkan ponselnya. Dia mengetikkan nomer ponsel Joe.


" Si al! Ke mana dia sekarang? Enak sekali dia bisa bernafas tenang, sedangkan aku harus menghadapi hukuman dan harus berhadapan dengan pria tua si alan itu!" Grace menggerutu saat ponsel Joe masih saja sulit dia hubungi.


" Permisi, Mbak. Ini pesanannya." Seorang pelayan mengantarkan makanan dan minuman yang dipesan oleh Grace.


" Oke." sahut Grace segera menyantap makanan yang telah dia pesan. Sementara satu tangan lainnya sibuk mengetik nomer telepon seseorang.


" Hai, Grace. Apa kabar?" suara seorang wanita terdengar di telinga Grace, saat panggilan teleponnya terangkat.


" Shar, kau tahu Joe di mana?" Sharon adalah teman Grace dan Joe yang saat ini bermukim di Jepang. Dia sengaja menghubungi Sharon, karena dia berharap Sharon mempunyai kabar seputar Joe. Walaupun dia yakin Joe tidak mungkin kembali ke Jepang, karena paspor Joe masih tertinggal di apartemen miliknya.


" Joe? Bukankah dia itu bersamamu?" Sharon balik bertanya. Karena setahunya, Grace dan Joe adalah pasangan yang hampir tidak pernah berpisah. Di mana ada Grace di situ ada Joe, begitu pula sebaliknya. Karena itu Sharon merasa heran saat Grace menanyakan keberadaan Joe.

__ADS_1


" Dia kabur!" Nada suara Grace terdengar kecewa mengingat saat Joe melukai dan meninggalkannya, hingga membuat dirinya tertangkap.


" Kabur? Memang kamu ada di mana?" tanya Sharon kembali.


" Aku di Jakarta dan Joe meninggalkanku di saat aku mengalami kesulitan. Aku tidak tahu dia ada di mana? Karena ponselnya tidak dapat dihubungi." Grace menjelaskan apa yang membuat dirinya kecewa kepada Joe. Walaupun tidak semuanya dia ceritakan kepada Sharon.


" Maksudmu, Joe kembali ke Jepang tanpa mengajakmu?" tanya Sharon terkejut.


" Paspornya masih ada padaku, jadi tidak mungkin dia kembali ke Jepang. Aku meneleponmu, siapa tau dia ada menghubungimu," ujar Grace.


" Tidak, Joe sama sekali tidak menghubungiku. Lain kali kalau aku dapat kabar soal Joe aku akan kabari kamu, Grace." ucap Sharon.


" Oke, thanks, Shar. Kalau gitu aku tutup dulu teleponnya. Bye ..." Grace menyudahi obrolannya via telepon dengan Sharon. Dia lalu melanjutkan makannya, karena dia ingin kembali ke kamar.


Saat ini dia menyadari ada orang yang sedang mengawasi gerak-geriknya. Sejak dia keluar hotel untuk membeli beberapa pakaian, ada yang sengaja mengikutinya. Dan orang itu saat ini berada dalam cafe itu juga, hal itu tentu membuat Grace tidak nyaman. Grace tahu jika orang itu pastilah orang suruhan Rizal yang disuruh mengawasinya.


Sementara itu di kamarnya, Rizal yang baru saja mendengar rekaman hasil percakapan antara Grace dengan temannya tersenyum meledek.


" Anda benar-benar wanita bo doh, Nona. Sudah tahu pria itu breng sek, masih saja diharapkan!" Rizal mencibir Grace yang dianggapnya terlalu bo doh. karena masih mencari Joe.


" Jadi si Joe itu masih berada di sini ..." Rizal mengusap rahangnya sambil berpikir." Sayang Om David tidak melanjutkan perkara Joe." David Richard memang tidak mengintruksikan untuk tidak mengejar Joe saat dia beritahu kemungkinan Joe sudah kembali ke Jepang. Dengan alasan Gavin tidak berurusan dengan Joe. Urusan Joe melukai Grace, David anggap itu urusan pribadi kedua orang tersebut.


***


Jam delapan pagi Rizal sudah tiba untuk menjemput Grace di kamar hotelnya. Sebelumnya dia meminta kunci duplikat kamar hotel Grace, karena dia yakin jika wanita itu belum bangun saat ini.


Lebih dari lima kali Rizal menekan tombol bel di dekat pintu kamar hotel yang ditempati oleh Grace. Namun, wanita itu tidak juga membukakan pintu kamar hotelnya.


" Apa kamu yakin, wanita di dalam kamar ini tidak kabur?" tanya Rizal kepada salah satu pegawai hotel yang diminta memantau Grace. Tentu saja atas persetujuan dari David Richard.


" Ya sudah, tolong kamu bukakan pintunya." Rizal menyuruh petugas hotel itu untuk membukakan pintu kamar Grace.


" Silahkan, Pak." Setelah berhasil membukakan pintu kamar, petugas hotel mempersilahkan Rizal untuk masuk ke dalam.


" Tolong kamu lihat, sedang apa dia di dalam!" Rizal menyuruh petugas hotel yang berjenis kelamin wanita itu untuk mengecek Grace. Dia tidak ingin kejadian kemarin pagi di apartemen Grave terulang kembali.


" Baik, Pak." Petugas hotel itu masuk ke dalam kamar yang diikuti Rizal di belakangnya. Namun, Rizal berhenti dan menunggu di ruang tamu.


" Mbak Grace masih tertidur, Pak." Tak lama petugas hotel itu meyampaikan informasi kepada Rizal.


Rizal sebenarnya ingin menyuruh petugas hotel itu untuk membangunkan Grace. Namun, mengingat sifat Grace yang temperamen, dia khawatir justru petugas hotel yang akan mendapatkan amukan dari Grace.


Rizal menolehkan kepala menatap cermin di meja rias yang memantulkan posisi benda di depannya. Dari cermin yang berada di ruangan tidur itu terlihat Grace tidur bergelung selimut. Hanya kepalanya saja yang terlihat.


" Oh, oke ..." sahut Rizal.


" Apa Bapak masih membutuhkan bantuan saya lagi?" Sepertinya petugas itu berniat berpamitan kepada Rizal.


" Hmmm, tunggu sebentar!" Rizal lalu bangkit dan berjalan ke ruangan tidur. Dia melihat Grace seolah tidak terganggu dengan kehadiran orang di sekitarnya. Mungkin jika ada orang yang mencelakainya, wanita itu tidak akan menyadarinya.


" Nona, bangunlah! Kita harus pergi dari sini!" Rizal membangunkan dengan menguncang pundak Grace yang saat itu tidur telungkup.


" Nona, bangunlah!" Kali ini Rizal sedikit meninggikan suaranya.


" Pak, maaf. Saya tinggal dulu, soalnya saya ditunggu di lobby." Pertugas hotel yang membantu Rizal tiba-tiba mengatakan jika dirinya harus meninggalkan Rizal.

__ADS_1


" Oh, ya sudah. Terima kasih sudah membantu." Sebenarnya Rizal meminta petugas hotel itu untuk menunggu agar tidak terjadi fitnah, karena dia masuk ke dalam kamar wanita di dalam hotel.


Rizal lalu menoleh ke arah Grace setelah petugas hotel meninggalkannya. Dia melihat botol air mineral di atas nakas. Dengan senyum menyeringai Rizal mengambil dan menuangkan air mineral itu ke telapak tangannya lalu dia menciprati wajah Grace dengan air mineral itu.


Rizal mengulang aksinya itu karena Grace masih belum terusik dengan perbuatannya itu. Setelah tindakan kedua, barulah Grace mulai terganggu tidurnya.


" Iiihh, kok ada air??" Grace langsung bangkit dan terduduk di tempat tidur.


" Segeralah mandi, karena saya harus membawa Anda pergi, Nona!"


Suara Rizal yang terdengar membuat Grace terperanjat. Dia tidak mengira kalau Rizal bisa sampai masuk ke dalam kamarnya, padahal kamar itu sudah dia kunci.


" Kau lagi?! Siapa suruh masuk-masuk kamarku!?" Grace langsung berdiri di atas tempat tidur dengan berkacak pinggang. Wanita itu mengenakan kemeja tipis sepanjang setengah paha dan tanpa mengunakan BRA hingga kembali memperlihatkan bagian yang menonjol di sekitar dadanya.


" Saya tunggu di depan! Sebaiknya segeralah berkemas!" Rizal yang tak ingin tergoda dengan keindahan tubuh Grace memilih melangkah dan menuju ke ruang tamu.


" Aku tidak akan ikut denganmu, Pak tua!" seru Grace tak menggubris perintah Rizal. Grace justru menghempaskan kembali tubuhnya di atas tempat tidur dan menutup tubuh dengan selimut.


Rizal mengawasi apa yang diperbuat oleh Grace. Pria itu mendengus kasar karena wanita itu tidak memperdulikan apa yang diperintahkan olehnya. Dia pun bangkit kembali dan melangkah menuju ruang tidur Grace.


" Anda benar-benar membuat kesabaran saya habis, Nona!" Rizal menyingkap kasar selimut yang menutupi tubuh Grace. Dia kemudian mengangkat tubuh ramping Grace dan menaruhnya di pundak seperti karung beras menuju kamar mandi.


" Hei, lepaskan aku, Pak tua si alan!" Grace meronta memukuli tubuh Rizal.


" Segeralah mandi!" Rizal menurunkan Grace di bathtub. Namun, dia tidak membasahi tubuh Grace dengan shower karena dia takut akan kembali tergoda dan berniat meninggalkan kamar mandi.


" Hei, kau senang sekali membawaku ke kamar mandi. Apa kau masih berharap berciuman denganku, Pak tua?" Mengingat saat itu Rizal sangat marah saat mereka gagal berciuman, Grace justru menjadikan hal itu untuk menyindir Rizal.


" Kalau kau ingin cium bibir aku, bilang saja, dong! Tidak usah modus-modus seperti ini!" sindir Grace kembali.


" Nih, kalau masih penasaran!" Grace manarik pundak Rizal hingga membuat tubuh Rizal tertarik ke arahnya. Dan saat wajah mereka hampir berdekatan, Grace menempelkan bibirnya ke bibir Rizal.


Cup


Sebuah kecupan disematkan Grace di bibir Rizal. Sontak hal itu membuat Rizal tercengang hingga membulatkan kedua matanya. Dia sama sekali tidak menyangka jika wanita itu berani melakukannya.


" Sudah, kan? Sekarang kau keluarlah dari kamar hotelku!" Grace menarik tangan Rizal yang masih tertegun atas perbuatan nekat Grace, hingga ke pintu kamar hotel.


" Aku masih punya waktu menginap dua hari lagi di sini. Jadi kalau kau ingin membawaku pergi, kembalilah lusa!" Grace membuka pintu dan mendorong tubuh Rizal sampai pria itu keluar dari kamar Grace, setelah itu Grace menutup dan mengunci kembali pintu kamar hotelnya.


Sedangkan Rizal seakan tersadar saat Grace menutup kasar pintu kamar hotel. Dia mengusap bibirnya yang baru saja disentuh bibir lembut Grace. Sungguh dia tidak menduga jika Grace berani melakukan hal itu kepadanya. Padahal semalam ketika dia goda, wanita itu menolaknya.


" Dasar bocah nakal!" gerutu Rizal menatap ke arah pintu kamar Grace. Dia berpikir sesaat. Tindakan Grace yang tiba-tiba menciumnya seolah membuyarkan ingatannya hingga membuat dia lupa apa yang harus dikerjakannya.


Rizal akhirnya memutuskan meninggalkan Grace. Dia tadi sempat mendengar jika Grace bersedia mengikutinya setelah masa menginap wanita itu selesai. Lagipula ada orang yang mengawasi Grace di hotel itu, sehingga membuat dirinya tidak terlalu khawatir jika Grace akan kabur.


*


*


*


Bersambung ..


Happy Reading ❤️

__ADS_1


__ADS_2