TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Duda


__ADS_3

" Bagaimana, Vit? Apa Nona Grace bisa mengikuti pekerjaan yang kamu ajarkan?" tanya Rizal saat Vito masuk ke dalam ruangan kerjanya menyerahkan kwitasi tanda terima pembayaran yang harus ditanda tangani oleh Rizal dari salah satu klien.


" Memang tidak mudah mengatur Nona Grace, Pak. Sejak tadi dia saya beri penjelasan, Nona Grace lebih asik dengan ponselnya sendiri." Vito menjelaskan bagaimana dia kesulitan mengatur Grace.


" Entah siapa orang yang bisa menaklukkan sikap Nona Grace itu, Pak." Vito yang baru beberapa jam bersama Grace sepertinya hampir menyerah menangani wanita itu.


" Dia memang ingin membuat kesabaran kita habis, Vit." ucap Rizal menyerahkan lembaran kwitasi yang sudah dia bubuhi tangan tangan kepada Rizal.


" Benar, Pak. Sepertinya Nona Grace ingin kita menyerah dan putus asa menghadapi ulahnya." Vito setuju dengan ucapan Rizal.


" Vit, tolong kamu carikan tempat untuk Nona Grace menginap, karena kita tidak mungkin membiarkan dia kembali ke apartemennya." Rizal menyuruh Vito mencari tempat tinggal untuk Grace.


" Kita akan mencarikan dia tempat kost, Pak?" tanya Vito.


" Hmmm, boleh juga. Ada anggota kita yang tinggal di kost dekat kantor ini, kan? Cari yang bisa satu kamar dengannya, agar bisa mengawasi dia," perintah Rizal.


" Baik, Pak. Nanti saya akan tanya sama anak-anak yang bekerja di kantor ini," sahut Vito.


" Pastikan harus bisa mengawasi dia, jangan sampai kabur! Nanti kita akan kasih bonus tambahan untuk dia." Rizal bahkan menjanjikan bonus untuk anak buahnya yang akan sekamar dengan Grace jika dapat mengawasi gerak-gerik Grace.


" Baik, Pak." sahut Vito kemudian pamit untuk kembali ke meja kerjanya.


***


" Hanya seperti ini saja pekerjaannya? Membosankan!" Grace mendorong mundur kursi yang sedang didudukinya lalu menaruh kakinya di atas meja dengan berlipat tangan di dada.


" Nona, tolong kakinya. Tidak enak dilihat jika ada tamu klien yang datang kemari." Melihat sikap Grace, Vito menegur wanita itu.


" Hei, kau jangan cerewet seperti bosmu itu, ya!" protes Grace karena Vito melarangnya menaikkan kaki ke atas meja.


" Saya bukannya cerewet, Nona. Tapi ini memang tidak sopan! Nona itu 'kan dari keluarga terpandang, sebaiknya Nona menjaga sikap Nona." Vito menyinggung soal status sosial dari Grace, seharusnya Grace bisa sopan dalam bersikap.


Grace bukannya tidak tahu bagaimana harus bersikap. Namun, dia memang sengaja melakukannya agar membuat Rizal dan Vito kewalahan menghadapi sikapnya.


" Hei, kau tidak usah mengatur aku, ya!" hardik Grace tak suka ditegur oleh Vito.


" Maaf, saya tidak bermaksud mengatur Nona. Tapi, Nona harus mengikuti aturan di sini!" Vito menegur Grace agar dapat menempatkan diri.

__ADS_1


" Aku di sini 'kan bukan atas dasar kemauanku! Aku dipaksa untuk berkerja di sini oleh kalian!" jawab Grace tak ingin kalah dalam berargumentasi.


Vito mendengus mendengar bantahan dari Grace. Akhirnya dia memilih diam daripada berdebat argumentasi dengan Grace yang mau menang sendiri saja.


Sedangkan di dalam ruangannya, Rizal sedang menerima panggilan telepon dari Isabella. Isabella berpamitan pada Papihnya karena dua hari ini dia akan mengikuti acara yang diselenggarakan pihak kampusnya, berkunjung ke luar kota.


" Hati-hati di sana ya, Sayang! Jangan pisah dengan teman-temanmu! Kalau ke mana-mana minta ditemani. Papih khawatir kalau kamu jauh dari Papih." Mempunyai seorang putri yang cantik tentu membuat Rizal khawatir jika Isabella pergi jauh hingga ke luar kota.


" Iya, Pih. Bella bisa menjaga diri, kok!" Isabella meyakinkan Rizal jika dia akan baik-baik saja.


" Oh ya, Papih mau Bella belikan oleh-oleh apa nanti di sana?" Belum juga berangkat, Isabella sudah menawarkan oleh-oleh untuk Rizal.


" Papih tidak ingin oleh-oleh apa-apa. Papih hanya ingin kamu kembali ke sini dengan selamat." Rizal tidak tertarik dengan oleh-oleh yang ditawarkan oleh Isabella. Dia lebih mengharapkan putrinya kembali dengan sehat dan selamat.


" Iya, Pih. Papih tidak usah khawatir soal itu. Ya sudah, Bella tutup teleponnya, ya! Assalamualaikum ...."


" Waalaikumsalam ..." Rizal menutup panggilan teleponnya setelah membalas salam dari Isabella.


Beberapa jam kemudian saat sudah masuk waktu petang dan beberapa karyawan sudah berpamitan pulang. Rizal pun keluar dari ruangan kerjanya. Dia mendapati Grace sedang tidur menelungkupkan wajahnya di atas meja, sementara Vito tidak terlihat di mejanya.


" Bapak sudah mau pulang?" tanya Vito yang terlihat muncul dari tangga.


" Saya sudah tanyakan, tapi katanya kamar kost penuh semua, Pak. Kemungkinan baru awal bulan depan ada kamar yang kosong karena


penghuninya akan pindah." Vito menyampaikan informasi yang didapat dari rekan-rekannya.


" Lantas dia akan tidur di mana malam ini?" Rizal menghembuskan nafas cukup kencang, karena pusing memikirkan tempat menginap bagi Grace.


" Saya rasa sebaiknya biarkan Nona Grace pulang ke apartemennya, Pak. Tapi, tetap dalam pengawasan kita. Kita bisa suruh Sam atau Jamal untuk mengawasasi Nona Grace." Vito memberikan saran.


Rizal melirik ke arah Vito saat mendengar usulan Vito. Dia berpikir, mungkin benar juga sementara belum mendapatkan tempat tinggal, Grace kembali ke apartemennya. Tapi, tentu tidak sembarangan orang yang bisa mengawasi Grace. Berbeda dengan saat Grace menginap di hotel David Richard.


Rizal berpikir, hanya dia atau Vito saja yang dapat mengawasi orang seperti Grace. Tapi, tentu dia tidak mungkin menyerahkan tugas itu pada Vito, karena dia takut Vito akan terkontaminasi oleh kelicikan Grace.


" Oke, biar saya saja yang akan mengawasi dia, Vit!" Akhirnya Rizal memutuskan jika dia yang akan mengawasi Grace di apartemennya.


" Apa Bapak yakin akan mengawasi Nona Grace?" Vito seakan meragukan Rizal melihat interaksi aneh antara Rizal dan Grace sejak menjemput wanita cantik itu pagi tadi.

__ADS_1


" Kenapa? Kau meragukan saya, Vit?" Rizal memicingkan matanya menatap Vito yang berkata dengan kalimat penuh keraguan.


" Hei, kau jangan terpengaruh dengannya! Buang anggapan burukmu itu, Vit!" tegur Rizal menyangkal keraguan Vito akan sikapnya.


" Baik, Pak. Maaf." Terkena tegur atasannya, Vito langsung menyampaikan permintaan maafnya.


Rizal lalu berjalan mendekati meja Grace yang berada di sebelah meja Vito.


" Nona, bangunlah! Kantor ini akan tutup, apa Nona ingin menginap di sini?" Rizal membangunkan Grace dengan menepuk pundak wanita itu.


Tidak seperti biasanya, kali ini Grace langsung terbangun dari tidurnya.


" Sudah selesai ya kerjanya?" Grace merengangkan otot-ototnya dengan membuka tangannya ke samping dan ke atas kepalanya. Dia pun langsung bangkit menyampirkan tasnya.


" Jadi, aku pulang ke rumah siapa? Ke rumah dia ..." Grace menunjuk ke arah Vito, " Atau ke rumahmu, Pak tua?" Grace melanjutkan pertanyaannya.


" Nanti Anda akan tahu. Ikutlah dengan saya!" Rizal menyuruh Grace mengikuti langkahnya yang menuruni anak tangga.


" Aku mau dibawa ke rumah dia?" Tak langsung mengekor di belakang Rizal, Grace justru bertanya kepada Vito.


" Benar, Nona." sahut Vito.


" Ke rumah dia? Apa dia tidak takut istrinya akan marah jika dia membawa wanita cantik seperti aku ke rumahnya?" Grace menyeringai. Sudah bisa dibayangkan olehnya, jika istri Rizal akan marah seperti Isabella saat melihatnya.


" Pak Rizal itu duda, Nona." ucap Vito menjelaskan status Rizal kepada Grace.


" Ooohhh ... dia duda rupanya?" Grace mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyuman yang sulit dipahami oleh Vito.


" Cepatlah, Nona!" Dari lantai bawah, Rizal berseru menyuruh Grace untuk segera turun.


" Terima kasih untuk infonya." Dengan mengedipkan matanya, Grace lalu berlari menyusul Rizal menuruni anak tangga, membuat Vito menggelengkan kepalanya melihat tingkah wanita cantik itu.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ....


Happy Reading❤️


__ADS_2