
Rizal membungkukkan tubuhnya untuk mengambil benda yang dia tahu jika itu adalah alat kontrasepsi pria, walaupun dia sendiri tidak pernah menggunakannya.
Rizal melirik dan tersenyum meledek ke arah Grace, dia lalu menunjukkan benda itu kepada Grace.
" Jadi ini mainanmu dengan kekasih pengecutmu itu?" cibir Rizal kemudian.
Grace membelalakkan matanya, karena dia tidak menyangka kalau alat yang biasa digunakan oleh Joe saat bercinta dengannya terselip di tumpukan pakaian yang dia ambil tadi. Grace lalu merebut alat itu dari tangan Rizal dengan wajah memerah.
" Kenapa kekasihmu itu memakai itu saat melakukan hubungan in tim? Takut kau hamil atau karena dia tidak mau bertanggung. jawab?" Rizal kembali menyindir wanita di hadapannya itu.
" Jangan sok tahu! Kalau tidak mau memakai baju ini ya sudah!" Merasa malu karena ketahuan memakai alat pengaman saat bercinta, Grace segera mengambil kemeja dan celana milik Joe untuk di taruh kembali ke dalam lemari.
" Sebaiknya kau simpan saja kenang-kenangan dari kekasihmu itu, Nona!" Rizal menertawakan Grace yang memasang wajah memberengut.
" Kita akan segera pergi dari sini, Nona! Jangan banyak beralasan dengan menunda-nunda lagi!" Rizal berseru saat Grace sudah berada di kamarnya.
" Kau mau membawa aku ke mana lagi?" Grace berdiri di dekat pintu kamarnya dengan melipat tangan di depan dadanya, setelah menaruh pakaian Joe.
Rizal menyampirkan hoodie di lengannya lalu berjalan mendekat ke arah Grace.
" Nona akan saya bawa ke markas saya dulu!" Rizal berniat membawa Grace ke markasnya. Di sana dia akan memikirkan ke mana dia akan menitipkan Grace.
" Ke markasmu? Apa aku akan dieksekusi di sana?" tanya Grace curiga.
" Tidak dieksekusi, paling hanya digantung saja." Rizal meledek sambil melangkah ke arah pintu apartemen. " Tolong buka pintunya, Nona!" Rizal menyuruh Grace membuka pintu apartemen milik wanita itu karena dia ingin segera terbebas dari tempat yang hampir membuatnya terjebak dengan permainan Grace.
Grace pun kemudian masuk ke dalam kamar mengambil tasnya kemudian kembali ke luar untuk membuka pintu.
" Kau ini detektif, masa membuka ini saja tidak bisa!? Jangan-jangan kau ini Detektif abal-abal!" Grace bahkan mengatakan jika profesi yang dijalani oleh Rizal itu palsu.
" Saya tidak akan mungkin dapat menangkap Anda, jika profesi yang saya jalani ini palsu, Nona!" tegas Rizal merasa kredibilitasnya sebagai detektif diragukan oleh Grace.
Grace tak menjawab, mungkin benar apa yang dikatakan oleh Rizal. Bagaimana Rizal tahu jika dirinya adalah pelaku penyerangan terhadap Gavin jika bukan karena kecerdikan Rizal.
" Aku lapar, aku mau makan dulu!" Setelah sampai di mobil Rizal, Grace meminta Rizal membawanya ke restoran untuk sarapan.
" Nanti kita cari nasi uduk sambil jalan ke arah markas saya," sahut Rizal menyalakan mesin mobilnya.
" Nasi uduk? Di pinggir jalan maksudnya?" Grace langsung bereaksi dengan ucapan Rizal yang ingin mengajaknya makan nasi uduk.
" Iya, kenapa?*
" Aku tidak mau makan di pinggir jalan! Banyak bakteri, kurang higienis!" tolak Grace.
" Anda jangan menghina, Nona! Banyak orang kaya seperti Anda yang mau makan di kaki lima. Mereka rendah hati dan tidak sombong seperti Anda!" Rizal menegur sikap Grace yang dinilainya terlalu congkak.
" Terserah jika mereka suka, tapi aku tidak! Jadi jangan paksa aku untuk makan di tempat itu!" Grace tetap menolak makan di kaki lima.
" Anda harus ingat, Nona! Anda ini sedang menjalani hukuman! Sebaiknya Anda turuti saja apa yang sudah diperintahkan dari pada Anda kelaparan!" ketus Rizal. Wanita yang dihadapinya kali ini seperti batu.
" Cih, aku ini anak orang kaya, mana mungkin aku kelaparan!" tegas Grace dengan sombongnya.
Rizal menoleh ke arah Grace tanpa menghentikan laju mobilnya. " Tidak mungkin kelaparan? Lantas semalam apa, Nona? Bukankah Anda terlihat rakus, seperti orang yang tidak pernah bertemu makanan setahun!?" sindir Rizal kembali.
" Hei, itu bukan karena aku tidak sanggup membeli makanan, ya! Tapi karena aku tidak bisa bebas pergi berkeliaran!" sanggah Grace cepat.
" Dan sampai detik inipun, Anda masih tidak diinjinkan berkeliaran, Nona. Anda harus menjalani apa yang sudah disepakati!" Rizal mencoba mengingatkan posisi Grace saat ini yang masih harus menjalani hukuman.
__ADS_1
" Kesepakatan? Siapa yang membuat kesepakatan? Aku tidak merasa melakukan kesepakatan dengan siapapun!" Grace membantah karena dia tidak melakukan kesepakatan dengan Rizal apalagi David Richard.
" Tapi Mama Anda sudah membuat kesepakatan itu, Nona. Jika Nona menolak menjalani hukuman ini, maka Nyonya Agatha lah yang akan menggantikan posisi Anda. Beliau yang akan dituntut atas tuduhan melakukan percobaan pembu nuhan terhadap Tuan Gavin Richard." Tentu Rizal tidak serius dengan ucapannya, dia hanya ingin menakut-nakuti Grace.
" Tidak mungkin! Mamaku tidak mungkin melakukan perjanjian sekonyol itu!" sanggah Grace tidak percaya ucapan Rizal.
" Anda pikir, kenapa Nyonya Agatha menyuruh Anda menerima hukuman ini kalau bukan karena beliau tidak ingin dipenjara?!" Rizal mencoba mempengaruhi Grace yang sepertinya sudah terbawa dengan hasutannya.
" Karena itu, sebaiknya Anda jadilah anak yang baik dan jangan menyusahkan orang tua Anda, Nona!" Senyum tipis terlihat di sudut bibir Rizal karena berhasil membuat Grace berpikir ulang jika melawan atas hukuman yang nanti akan diterima wanita itu.
Sekitar lima belas menit kemudian, mobil Rizal terparkir di sebuah warung nasi uduk yang ada di tepi jalan. Dia sering menyantap sarapan di tempat itu. Dan benar saja yang dikatakan oleh Rizal. Banyak mobil berjejer di depan warung nasi uduk itu, yang menandakan bukan hanya orang-orang biasa yang menikmati makanan tersebut.
" Ayo turun, Nona!" Rizal menyuruh Grace yang masih belum melepas seat belt nya untuk segera turun.
" Aku tidak mau! Aku mau di sini saja!" Grace melipat tangan di dadanya. Dia ingin tetap berada di dalam mobil Rizal.
" Turunlah, Nona! Jangan seperti anak kecil! Atau Anda ingin saya paksa turun!?" ancam Rizal. Sepertinya harus selalu menggunakan ancaman untuk menghadapi wanita seperti Grace.
" Kau tidak bisa memaksaku, Pak tua!" Grace melawan karena dia tidak ingin diintimidasi oleh Rizal.
" Apa Anda ingin saya antar kembali ke dalam sel, Nona?" desis Rizal kali ini terdengar lebih menakutkan. Sungguh, tidak ingin lagi rasanya Grace berada dalam kurungan seperti itu. Apalagi jika nanti bergabung dengan Napi-napi lainnya, yang pasti baunya bercampur berbagai aroma yang tidak enak.
Dengan menekuk wajahnya, akhirnya Grace melepas seat belt dan turun dari mobil dengan menutup kasar mobil Rizal.
" Sepertinya aku harus minta penggantian mobil baru pada Nyonya Agatha." Melihat Grace berlalu kasar mobilnya, Rizal langsung berkomentar yang tidak ditanggapi oleh Grace.
Kursi kayu panjang yang ada di warung nasi uduk itu terlihat penuh, karena banyaknya orang yang menikmati sarapan di sana
" Bu, nasi uduk dua, teh hangatnya dua ..." Walau tak terlihat bangku kosong, Rizal tetap memesan makanannya.
" Baik, Pak." jawab si ibu penjual nasi uduk.
" Silahkan, duduk di sini, Pak!" Suami dari ibu pemilik warung mengambil dua kursi plastik dan disodorkan kepada Rizal juga Grace.
" Terima kasih, Pak." sahut Rizal. " Kita duduk di sini saja." Rizal lalu menyuruh Grace duduk di kursi palstik berwarna hijau.
" Silahkan, Pak." Suami penjual nasi uduk menyodorkan dua piring nasi uduk kepada Rizal menaruh teh hangat di meja.
" Terima kasih, Pak." balas Rizal kembali. " Makanlah!" Lalu Rizal menyerahkan satu piring nasi uduk pada Grace.
Grace hanya memandangi, tak menyentuh piring yang disodorkan oleh Rizal. Malas rasanya menyentuh makanan itu.
" Apa perlu saya suapi?" tanya Rizal dengan nada berbisik.
" Tidak usah!" Grace merebut kasar piring yang ada di tangan Rizal. Dia pun mulai menyantap nasi uduk itu. Walau awalnya terlihat ragu, namun ternyata Grace merasakan jika makanan yang sedang disantapnya itu memang terasa enak.
Saat Rizal dan Grace berserta pengunjung lain menikmati sarapan nasi uduk, tiba-tiba terdengar dengan sedikit berteriak. Dan Rizal sangat kenal dengan pemilik suara itu.
" Papih! Papih sedang apa di sini bersama sama wanita itu!?"
***
" Bel, makasih ya sudah jemput aku berangkat." Fauziah, sahabat Grace mengucapkan terima kasih kepada Isabella mau menjemputnya, karena mobil miliknya sedang dipinjam oleh kakaknya.
" It's Oke. Kebetulan aku juga 'kan ingin ke kampus," sahut Isabella yang menjemput Fauziah atas permintaan sahabat sejak SMA dulu sebelum berangkat ke kampus.
" Tapi jangan sering-sering juga, Zie." Isabella menyeringai bercanda.
__ADS_1
" Hahaha, cuma sekali ini saja kok, Bel. Kalau Kakakku tidak pinjam mobilku pasti aku berangkat sendiri." Fauziah menyahuti.
" Aku bercanda, Zie. Jangan dibawa serius, dong!" ucap Isabella ikut tertawa kecil.
" Eh, Bel. Itu bukannya mobil Papih kamu ya?" Tiba-tiba Fauziah menunjuk ke arah sebuah mobil di sisi sebelah kanan jalan yang mereka lewat dan terparkir di sebuah warung nasi uduk.
" Mana?" Isabella memutar kepalanya mencari mobil yang ditunjuk oleh Fauziah.
" Itu, yang parkir di warung nasi uduk. Tadi aku melihat Papihmu keluar sama cewek lho, Bel." Fauziah adalah salah satu dari sahabat Isabella yang mengenal Rizal berbeda dengan teman-teman Isabella lainnya.
" Sama cewek??" Isabella terkejut hingga membelalakkan matanya mendengar ucapan Fauziah yang mengatakan Papihnya itu jalan dengan wanita.
" Iya, kelihatannya masih muda ceweknya." Fauziah merasa penglihatannya tidaklah salah.
" Serius sama cewek muda?" Isabella seolah tidak percaya dengan informasi yang disampaikan oleh Fauziah. Karena Papihnya itu mengatakan sedang menjalankan tugas. Lalu, kenapa saat ini sedang bersama wanita muda
" Kamu nanti putar balik di depan kalau kurang yakin." Fauziah menyarankan Isabella untuk melihat sendiri apakah benar Rizal bersama wanita atau tidak.
" Oke, nanti aku putar balik di pertigaan di depan." Isabella yang merasa penasaran akhirnya mengikuti saran dari Fauziah.
Sebelah putar balik, mobil Isabella terparkir tepat di belakang mobil Rizal. Isabella mematikan mesin mobil dan melepas seat belt setelah itu turun dari mobilnya.
Isabella memperhatikan mobil yang terparkir di depan mobilnya memang benar milik Papihnya.
" Benar mobil Papihmu, kan?" Fauziah menegaskan dengan pertanyaannya.
" Iya." Isabella lalu masuk ke dalam warung yang ditutupi oleh kain spanduk untuk mencari Papihnya. Dia mengedar pandangan mencari Rizal saat dia sudah berada di dalam warung nasi uduk itu, hingga akhirnya dia mendapati sosok Rizal yang sedang menyantap makanan bersama seorang wanita, yang jika dilihat dari wajahnya terlihat seusia dengannya.
" Benar 'kan? Apa yang aku bilang, kalau Papih kamu itu pergi sama cewek?! Itu dia ceweknya!" Isabella menunjuk wanita yang duduk bersebelahan dengan Rizal.
Isabella mendengus kesal karena ternyata Papihnya itu tidak bekerja seperti yang dia perkirakan.
" Papih! Papih sedang apa di sini bersama wanita itu!?" Dengan suara sedikit meninggi, bahkan tidak memperdulikan orang lain yang ada di sekitar, Isabella seperti sedang melabrak seorang kekasih yang ketahuan selingkuh.
Rizal tercengang saat melihat kehadiran Isabella, putrinya di warung itu.
" Bella?" Rizal sampai menghentikan makannya dan langsung berdiri. Dia tidak menyangka jika akan bertemu dengan putrinya saat dia sedang bersama dengan Grace.
" Kamu kok bisa ada di sini, Sayang?" Rizal pun menjadi salah tingkah seperti orang yang ketahuan telah berselingkuh.
Grace sendiri melihat interaksi antara Rizal dengan gadis cantik membuat pikirannya beranggapan jika Isabella adalah kekasih Rizal atau mungkin selingkuhan Rizal. Apalagi saat dilihatnya gadis itu menatapnya dengan tatapan tidak bersahabat bahkan cenderung tidak menyukainya. Sementara orang-orang yang ada di sekitar warung nasi memandang mereka seraya berbisik.
" Siapa wanita itu, Pih?" selidik Isabella menatap curiga kepada Grace yang juga sedang menatap sinis ke arahnya
" Dia ..." Rizal binggung harus mengatakan apa kepada Isabella tentang Grace.
Melihat Rizal kebingungan menjelaskan siapa dirinya kepada Isabella, seketika sebuah ide muncul di benak Grace.
" Kamu mau kenal saya? Saya Grace, saya ini sugar baby nya Om Rizal." Grace ikut bangkit setelah meletakkan piring nasi uduknya yang belum habis, lalu melingarkan tangannya di pinggang Rizal dan menyandarkan kepalanya di dada duda beranak satu itu. " Benar 'kan, Om?" Grace mendongakkan kepala ke arah Rizal dengan senyum menyeringai dan mengedipkan matanya.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading ❤️