
Grace mendengus kasar mendengar sindiran Agatha yang mengatakan jika dirinya dan Rizal datang ke kantor Mamanya itu karena ingin memamerkan kebahagiaan mereka. Sementara Rizal terlihat lebih tenang. Rizal segera mengusap lengan Grace, agar istrinya itu tidak terpancing emosi.
Agatha sendiri masih berdiri dengan melipat tangan di dada dan tatapan sinis, seakan tidak menyukai kehadiran Grace bersama Rizal di kantornya pagi ini.
" Mam, kenapa Mama punya pikiran seperti itu? Kami datang ke sini karena kami memang ingin mengunjungi Mama, selayaknya anak kepada orang tuanya," Grace mengatakan tujuannya menemui Agatha, sama sekali tidak bermaksud pamer terhadap Mamanya itu.
" Kalau kamu menganggap Mama itu sebagai orang tua kamu, kenapa kamu menentang Mama? Kenapa kamu tidak berbakti kepada Mama dengan menuruti apa yang Mama inginkan, Grace?" Agatha menjadikan perkataan Grace untuk menyerang putrinya itu.
" Mam, sudah, deh! Kenapa Mama masih saja mempermasalahkan hal itu!? Kenapa Mama masih belum bisa menerima pernikahan kami? Aku bahagia menikah dengan Papih, Mam! Seharusnya Mama bisa ikhlas melihat kebahagiaan kami!" kesal karena Agatha masih saja memojokkannya akhirnya Grace terpancing untuk berkata dengan nada tinggi.
Agatha mengerutkan keningnya mendengar Grace memanggil Rizal dengan sebutan Papih. Terasa mengelikan di telinganya saat putrinya yang dia kenal tomboy itu memakai panggilan Papih pada Rizal yang dia anggap terlalu berlebihan.
" Papih? Kamu memanggil Pak Rizal ini sebagai Papih? Semestinya kamu sadar, Grace! Jika Pak Rizal itu lebih cocok menjadi seorang Papa daripada suami kamu!" Agatha menyindir cara putrinya itu memanggil Rizal. Tanpa bermakasud lain, menurut Agatha, pria seusia Rizal tidak pantas menjadi suami Grace. Pria seusia Rizal lebih pandas menyandang predikat seorang ayah bagi Grace.
Namun, ucapan Agatha kali ini justru membuat Rizal dan Grace terbelalak hingga saling berpandangan. Mereka berdua pun salah mengartikan maksud dan tujuan Agatha mengatakan kalimat itu. Bahkan Grace justru berpikir jika Agatha sebenarnya diam-diam menyukai Rizal. Tak heran sebenarnya jika Agatha menyukai sosok Rizal. Selain karena Rizal sangat good looking, Grace juga dulu sempat menjodohkan Rizal untuk Mamanya itu.
" Maksud Mama, apa Papih ini lebih cocok menjadi suami Mama daripada menjadi suamiku?" sindir Grace dengan cepat mengartikan perkataan Agatha tadi.
Agatha terkesiap saat menyadari jika dia telah salah memilih kata dalam menyampaikan maksud ucapannya. Apalagi putrinya sendiri langsung memberi sindiran telak atas kesalahan ucap tadi.
" Apa jangan-jangan Mama itu menginginkan Papih sebagai suami Mama, sehingga Mama menghalangi kami menikah!?" Grace langsung berpikiran negatif dengan maksud Mamanya.
Agatha membulatkan matanya, karena Grace justru menuduhnya menghalangi pernikahan Rizal dan Grace karena dirinya menyukai dan menginginkan Rizal menjadi miliknya. Padahal dia mengatakan seperti tadi bukan bermaksud seperti yang Grace tuduhkan kepadanya, walaupun harus dia aku sosok Rizal memang sangat mempesona. Tapi, mana mungkin dia bersaing dengan anaknya sendiri demi mendapatkan seorang pria.
" Omong kosong apa itu!? Kamu jangan mengada-ada, Grace!" tepis Agatha seketika karena perkataannya tadi justru menimbulkan kesalahpahaman.
" Bukankah Mama sendiri yang berkata seperti itu?" Grace masih menyerang Agatha dengan sindiran tajam. Dia masih salah paham dengan maksud ucapan Agatha yang sebenarnya tidak bermaksud menginginkan Rizal
" Kamu jangan bicara sembarangan, Grace!Mama tidak pernah mempunyai keinginan seperti itu!" Agatha memang sempat merasa terpesona dengan ketampanan Rizal. Tapi, dia tetap menampik tuduhan Grace yang mengatakan jika dirinya menginginkan Rizal.
" Mama tidak suka aku menuduh Mama, tapi Mama sendiri dengan seenaknya menuduh kami!" cibir Grace masih dengan nada tinggi. Dia kesal atas tuduhan Mamanya yang menganggap jika kedatangannya hanya ingin memamerkan kebahagiaannya menikah dengan Rizal. Memangnya apa yang salah? Lagipula bukankah suatu hal yang lumrah jika sang anak menunjukkan jika dia sangat bahagia dengan pernikahannya. Bukankah orang tua seharusnya senang melihat anaknya bahagia dalam berumah tangga.
" Sayang, jangan bicara seperti itu pada Mama." Rizal yang sejak tadi hanya mendengarkan perdebatan antara anak dan ibu, kini mulai mengambil sikap, karena dia tidak ingin hubungan Grace dan Agatha semakin memburuk karena Grace menikah dengannya. Rizal menasehati Grace agar istrinya itu tetap bersikap hormat kepada Agatha sebagai seorang anak kepada Ibunya.
__ADS_1
" Maaf, Bu. Saya dan Grace datang kemari, karena kami memang ingin mengunjungi Ibu sebagai orang tua Grace dan sebagai Ibu mertua saya. Sebagai suami Grace, saya berkewajiban membimbing Grace, agar tetap menghormati Ibu sebagai orang tua yang melahirkan Grace. Saya tidak ingin silahturahmi ibu dan anak antara ibu dan Grace menjadi semakin renggang karena pernikahan kami. Saya berharap, Ibu dapat memahami kami." Penuh dengan wibawa Rizal berbicara, mencoba membuat Agatha mengerti dan tidak salah paham akan maksudnya. Dia memberi penjelasan kepada Agatha agar desainer kondang yang berstatus sebagai Mama mertuanya itu tidak salah paham. atas tujuan kedatangan mereka ke kantor Agatha.
Agatha memalingkan wajahnya setelah mendengarkan kalimat yang diucapkan oleh Rizal. Harus diakui olehnya, Rizal memang penuh pesona, bukan hanya dari penampilannya saja, namun dari sikap dan ucapannya. Tak heran jika putrinya pun jatuh hati pada pesona Rizal. Sampai tidak memperdulikan perbedaan sikap dan usia mereka berdua yang sangat mencolok. Grace dengan keras kepalanya karena masih sangat muda, sedangkan Rizal lebih bijak karena berusia dewasa.
" Pih, sebaiknya kita pergi saja dari sini. Banyak hal penting yang mesti Papih kerjakan daripada membuang waktu di sini!" Grace menaruh cake untuk Agatha di atas meja, lalu dia menarik lengan suaminya untuk segera meninggalkan kantor Agatha. Dia memilih untuk pergi dari sana daripada terus terlihat perdebatan dengan Mamanya itu
" Kami permisi dulu, Bu. Maaf jika Ibu kurang berkenan dengan kedatangan kami kemari," ujar Rizal berpamitan kepada Agatha sementara Grace tidak berpamitan karena merasa kesal terhadap Agatha. Wanita keras kepala itu enggan untuk mengalah pada sosok wanita yang tidak lain adalah Mamanya sendiri.
Tak kalah dengan Grace, Agatha pun memilih tak merespon kepergian anak dan menantunya itu. Dia hanya memalingkan wajah dengan melipat tangan di dadanya.
Sedangkan Rizal, yang memaklumi jika kedua wanita yang ada di hadapannya ini sama-sama memiliki watak yang keras tidak mengambil pusing mendapati Agatha yang mengacuhkannya. Dia pun akhirnya meninggalkan kantor Agatha bersama Grace.
***
" Papih lihat sendiri, kan? Mama itu tetap keras kepala, tidak menghargai usaha kita yang ingin berdamai!" Setelah kembali ke dalam mobil, Grace kembali menggerutu mengeluhkan sikap keras kepala Agatha. Dia merasa percuma sudah datang ke kantor Agatha jika sambutan Agatha masih sekeras itu kepada mereka.
" Kamu juga sama keras kepalanya! Kalau menghadapi orang yang keras kepala, harus dengan sikap yang lembut. Tidak akan berhasil jika dihadapi dengan berdebatan." Rizal menasehati Grace agar lebih sabar dalam menghadapi Mamanya. Bagaimanapun juga seorang anak harus memaklumi dan mengalah kepada orang tuanya.
" Papih selalu menyalahkan aku!" Grace kesal karena terkesan selalu menyalahkannya entah itu saat berdebat dengan Isabella, ataupun dengan Mamanya. Menurutnya, Rizal tidak pernah membelanya sama sekali dan selalu menganggap dirinya selalu berada di pihak yang salah.
" Aku tidak menyalahkanmu, Grace. Aku hanya ingin kamu bersikap lebih sabar. Kelak kamu akan menjadi seorang Mama dan mempunyai anak. Aku ingin anak-anak kita menjadi anak yang baik dan patuh kepada kita. Karena itu dari awal kita harus membiasakan diri bersikap baik kepada orang tua kita. Agar keturunan kita nanti menjadi anak yang menurut dan sayang kepada orang tua." Rizal menjelaskan agar Grace mulai menurunkan egonya dengan tidak terus membantah Agatha, setidaknya tidak berkata-kata yang menyakitkan orang tua, meskipun Agatha tidak merestui pernikahan mereka. Dia ingin mulai dari sekarang, Garce belajar lebih sabar, karena suatu hari nanti, Grace juga akan mengalami menjadi orang tua bagi anak-anak mereka.
" Harusnya Mama itu dengar kalau Papih lagi bicara begini, biar Mama itu sadar kalau Mama itu sudah salah menilai Papih!" Grace berpikir, seandainya Agatha tahu, jika Rizal selalu berusaha menanamkan hal-hal positif kepadanya, mungkin Agatha akan berubah pikiran menilai Rizal dan merestui pernikahan mereka.
Tawa Rizal langsung terdengar merespon keluhan Grace atas sikap Agatha. Dia merasa istrinya itu terlalu berlebihan menilainya. Karena apa yang dia lakukan semata-mata karena dia ingin hubungan istrinya dengan Agatha semakin membaik.
" Kamu jangan menyanjungku terus, Grace! Aku takut nanti Mamamu akan benar-benar terpesona denganku. Hahaha ..." Rizal tertawa lebar menanggapi ucapan istrinya dengan berseloroh agar istrinya itu tidak terus mengeluhkan sikap Agatha kepada mereka
Grace menoleh ke arah Rizal yang tertawa senang meledeknya. Namun, dia tidak merasa marah karena suaminya tadi meledeknya.
" Pih, jujur, deh! Kalau seandainya tidak pernah kenal aku dan tiba-tiba Papih mengenal Mama, apa Papih akan jatuh cinta pada Mama? Mama itu cantik, lho, Pih! Walaupun usianya sudah hampir setengah abad, tapi Mama masih tetap terlihat cantik dan menarik." Grace merasa penasaran dengan sikap Rizal terhadap Mamanya, sehingga dia menanyakan hal tersebut kepada Grace dan menuntut kejujuran Rizal terhadap Agatha
" Kamu ini tanya apa sih, Sayang? Kalau aku tidak kenal kamu, mana mungkin aku bisa berjumpa dengan Mama kamu, Grace!" Rizal enggan berandai-andai. Dia juga tidak pernah berpikiran akan menyukai wanita seperti Agatha.
__ADS_1
" Iihh, aku bilang 'kan seandainya! Seandainya Papih kenal Mama aku, apa Papih akan jatuh cinta pada Mama?" Grace masih menanyakan hal yang sama. Karena dia ingin tahu bagaimana sikap sang suami kepada Mamanya jika mereka tidak menikah.
Rizal tersenyum menoleh ke arah Grace sepintas lalu kembali serius dengan kemudinya. Dia masih enggan menjawab pertanyaan Grace. Bukan karena dia ingin menutupi, tapi karena dia merasa tidak ada yang harus dijelaskan kepada istrinya itu atas sikap dia kepada Agatha
" Jawab dong, Pih!" Sikap Rizal yang hanya mengulum senyuman membuat Grace merasa penasaran dan curiga jika Rizal juga diam-diam pernah menyukai Agatha.
" Kamu tahu wanita yang aku tahu sukai sebelumnya seperti apa, kan? Kalau aku tidak mengenal kamu, yang pasti saat ini aku masih menduda. Sosok Mamamu tidak akan membuat aku jatuh cinta. Tapi, sosok anaknya sanggup membuatku tergila-gila." Rizal mengedipkan matanya dengan tangan mencolek dagu Grace membuat sang istri merasa senang mendengar jawabannya itu.
" Aaahhh ... Papih ..." Grace langung bergelayut manja dan merangkul pundak sang suami.
" Garce, aku sedang berkendaraan, lho! Jangan biki aku hilang konsentrasi!" protes Rizal seraya terkekeh melihat tindakan spontan yang dilakukan Grace kepadanya.
" Ya ampun, Papih! Cuma meluk, doang!" Grace langsung mengurai pelukannya, karena dia menyadari saat ini suaminya itu sedang memegang kemudi. Terlalu beresiko jika dia melakukan aksi yang bisa membahayakan mereka saat berkendaraan.
***
Isabella mendatangi sebuah apartemen yang dikirimkan oleh seseorang yang membutuhkan jasa privat untuk mengajar putranya. Isabella diperintah oleh Lembaga Bimbel tempat dia mengajar untuk memberikan les privat itu.
Langkah Isabella terhenti tepat di sebuah unit apartemen yang ada di lantai tiga nomer dua puluh lima. Nomer yang sama dengan alamat yang tertera di pesan masuk ponselnya.
" Huft, akhirnya ketemu juga tempatnya." Isabella merasa lega karena tidak terlalu sulit untuk menemukan alamat apartemen yang dia tuju.
Isabella lalu menekan bel apartemen dan menunggu di pemilik apartemen segera membukakan pintu. Dua kali Isabella menekan bel, barulah pintu apartemen itu dibuka.
Isabella mengeryitkan keningnya saat mendapatkan sosok yang muncul dari balik pintu. Sosok pria itu terasa tidak asing di matanya, tapi dia lupa pernah melihat di mana.
Tak beda jauh dengan Isabella, sosok pria itu langsung menyipitkan matanya dengan tatapan mata memperhatikan Isabella lekat dari ujung rambut sampai ujung kaki.
*
*
*
__ADS_1
Bersambung ...
Happy Reading❤️