TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Terhalang Restu


__ADS_3

" Terima kasih ya, Pak. Nanti saya akan ke sini lagi jika teman saya sudah pulang dari Lampung. Permisi, Pak " Grace berpamitan kepada security di sebuah rumah di kawasan Setia Budi, Bandung. Dia bergegas kembali ke arah mobil Rivaldi. Untung saja Rivaldi tidak ikut turun dari mobil itu sehingga dia bisa memberikan kode kepada security agar mau mengikuti sandiwaranya. Tidak lupa dia menyelipkan uang dua ratus ribu rupiah untuk rokok ke security itu di dekat pagar sebagai ucapan terima kasih karena sudah membantunya.


" Ada apa, Rena? Benar ini rumah temanmu?" tanya Rivaldi saat Grace kembali masuk ke dalam mobil.


" Teman aku sedang ke Lampung sejak dua hari lalu." Grace menampakkan wajah sedih.


" Kamu tidak memberitahu temanmu terlebih dahulu saat ingin kemari?" tanya Rivaldi.


Grace menggelengkan kepala sambil menjawab, " Aku tidak memberitahu dia mau kemari. Aku pikir dia tidak pergi.


" Lalu sekarang bagaimana? Kamu mau kembali ke Jakarta?" tanya Rivaldi.


" Aku ingin menginap di hotel sambil menunggu temanku kembali dari Lampung."


" Kamu mau menginap di hotel?"


" Iya." Grace mengangguk.


" Hmmm, bagaimana kalau kamu menginap di apartemenku saja? Aku jarang tidur di sana karena aku bekerja di Jakarta. Paling sesekali menengok apartemen kalau aku pulang ke Bandung." Rivaldi tiba-tiba menawarkan apartemennya.


" Aku tidak enak merepotkan kamu terus, Aldi. Kamu sudah baik sekali menemani aku ke Bandung dan meninggalkan pekerjaan kamu." Grace menolak. Namun, dia yakin Rivaldi akan membujuknya.


" Tidak apa-apa, Rena. Daripada kamu menginap di hotel. Sebaiknya menginap di apartemenku." Rivaldi seakan tidak memperdulikan penolakan Grace dan segera membawa wanita itu ke apartemennya yang tidak terlalu jauh dari rumah yang diakui sebagai rumah teman Grace itu


" Silahkan masuk ..." Hanya membutuhkan waktu lima belas menit bagi Rivaldi untuk sampai ke apartemennya, hingga kini dia sudah berada di depan unit apartemen miliknya dan mempersilahkan Grace masuk.


" Masuklah, aku tidak akan berbuat macam-macam," ucap Rivaldi kembali karena Grace terlihat ragu untuk melangkah memasuki apartenen miliknya.


Grace memperhatikan apartemen Rivaldi tidak beda jauh dengan apartemen miliknya. Hanya saja interior dan pemilihan warna yang terkesan maskulin yang membedakannya.


" Kamu bisa memakai kamar di lantai bawah." Rivaldi menunjuk kamar yang akan ditempati Grace.


" Satu Minggu sekali aku menyuruh ART dari rumah orang tuaku datang kemari untuk membersikan apartemen ini.." Rivaldi menjelaskan, meskipun tidak dihuni. Namun, apartemen miliknya selalu rutin dibersihkan.


" Apa kau akan tidur di sini juga, Aldi?" tanya Grace.


" Tidak, sore nanti aku harus kembali ke Jakarta karena besok pagi ada meeting," sahut Rivaldi.


" Apa tidak apa-apa aku sendirian di apartemenmu ini? Bagaimana jika tiba-tiba kekasihmu datang?" tanya Grace walaupun dia pernah dengar sendiri Rivaldi mengatakan jika tidak mempunyai kekasih.


" Bukankah aku pernah bilang kalau aku tidak mempunyai kekasih?"


" Oh iya, aku lupa. Aku pikir, siapa tahu ketika setelah bicara padaku kemarin, kamu bertemu bidadari cantik dan langsung kamu jadikan kekasih." Grace berseloroh seraya tertawa kecil meledek Rivaldi.


Melihat Grace tertawa renyah membuat Rivaldi tertegun menatap wajah wanita di hadapannya saat ini. Bahkan dia tidak mengedipkan matanya cukup lama, seakan terhipnotis dengan tawa renyah Grace.


" Jangan menatapku seperti itu, Aldi. Nanti aku jadi baper." Menyadari jika saat ini dirinya ditatap lembut oleh Rivaldi. Grace menutup wajah dengan kedua tangannya.


Tingkah Grace menutupi wajahnya itu membuat Rivaldi melebarkan senyumannya. Entah kapan dia pernah terlihat tersenyum sebahagia ini sebelumnya. Yang pasti keberadaan Grace benar-benar membuat harinya berwarna, tidak terus didominasi oleh ambisi dan pekerjaan.


" Aku tidak yakin kau akan terbawa perasaan? bukankah kau bilang tidak berminat mengejarku?" Pertanyaan Rivaldi diakhiri dengan tawa kecil.


" Untuk apa aku mengejar pria yang susah jatuh cinta? Bukankah itu hanya akan menimbulkan rasa patah hati?" Grace membalas pertanyaan Rivaldi dengan pertanyaan.


" Oh ya, kamu tidak membawa baju, kan? Bagaimana kalau aku antar kamu ke butik lalu kita mampir ke rumah orang tuaku sebentar?" Rivaldi ingin mengajak Grace mampir ke rumah orang tuanya sekalian membeli pakaian karena Grace memang tidak membawa pakaian ke Bandung.


" Ke rumah orang tuamu?" Grace terlihat kaget. Namun, justru inilah yang dia harapkan agar cepat mendapat informasi tentang Arina tanpa Rivaldi sadari.


" Iya. Mama pasti senang kalau kamu main ke rumah. Apa kamu keberatan?"


" Aku tidak enak terlalu merepotkan kamu, Aldi." Grace harus berakting seolah menolak permintaan Rivaldi.


" Membawa kamu mampir ke rumah Papa, tidak merepotkan." Rivaldi menepis anggapan Grace jika dirinya dirinya direpotkan oleh Grace.


" Benar tidak apa-apa?"


" Benar, Rena. Aku justru senang jika kamu mau berkunjung ke rumah orang tuaku." Rivaldi mencoba meyakinkan Grace yang terlihat ragu.


" Kita pergi sekarang. Aku antar kamu mencari pakaian untuk ganti dulu."


Grace pun tidak menolak permintaan Rivaldi yang akan membawanya ke butik kemudian mengunjungi rumah orang tua Rivaldi.


***


Setelah membeli pakaian di butik, Rivaldi langsung membawa Grace ke rumah orang tuanya. Ketika sampai di rumah keluarga Nugraha, Papa dan Mama Rivaldi sedang menyantap makan malam.

__ADS_1


" Assalamualaikum, Pa, Ma ..." Rivaldi menyapa kedua orang tuanya setelah sampai di ruang makan


" Waalaikumsalam, Aldi?" Kedua orang tua Rivaldi terkejut melihat kedatangan Rivaldi.


" Lho, Rena?" Bahkan Arina semakin terkejut melihat Grace di samping putra mereka.


" Selamat malam, Om, Tante." Grace menyapa kedua orang tua Rivaldi.


" Kalian dari mana? Kenapa tidak mengabari kami terlebih dahulu?" tanya Nugraha.


" Aku habis mengantar Rena mencari rumah temannya di Bandung, Pa. Tapi temannya itu sedang pergi ke Lampung. Jadi aku ajak Rena mampir kesini," Rivaldi menjelaskan kenapa dia dan Grace berada di Bandung.


" Kalian sudah makan belum? Ayo, ikut makan bersama! Bi, tolong ambilkan piring dua lagi buat Aldi sama Rena." Arina bahkan meminta Grace bersama Rivaldi ikut bergabung menikmati makan malam.


" Tidak udah repot-repot, Tante." Grace menolak.


" Kita belum makan, sebaiknya kita makan saja dulu." Berbeda dengan Grace, Rivaldi justru menyetujui permintaan Arina, tentu saja karena itu adalah rumah orang tuanya.


" Papa senang, Aldi mengajak kamu datang kemari, Rena. Iya 'kan, Ma?" ucap Nugraha tiba-tiba, membuat Grace menoleh ke arah Nugraha dan Arina bergantian.


" Iya, semoga saja kamu bisa sering-sering datang kemari, Rena." Arina menyahuti.


" Soalnya Aldi itu tidak pernah membawa teman wanita datang kemari. Kamu ini wanita pertama yang Aldi ajak datang ke rumah ini, Rena." sambung Nugraha meneruskan perkataan istrinya.


" Pa ...!" Rivaldi meminta orang tuanya tidak membicarakan hal pribadinya kepada Grace.


Grace kini menatap Rivaldi yang kemudian menatapnya. Dia melihat Rivaldi terlihat salah tingkah dan tidak nyaman disinggung hal privasi oleh kedua orang tua pria itu.


Setelah selesai makan malam, Grace diajak berbincang santai bersama keluarga Rivaldi di ruangan keluarga. Mata Grace tertarik memperhatikan foto keluarga yang terpajang di ruangan itu. Foto yang terdiri dari lima orang. Tiga orang di antaranya adalah Nugraha, Arina dan Rivaldi. Dua orang lainnya adalah dua orang pria muda, yang dia duga adalah adik dari Rivaldi.


" Oh ya, tadi Aldi bilang, kamu ke tempat teman kamu, tapi teman kamunya tidak ada. Lalu, apa kamu akan langsung kembali ke Jakarta malam ini, Rena?" tanya Nugraha.


" Rena tadinya mau menginap di hotel sambil menunggu temannya kembali dari luar pulau, Pa. Tapi, aku suruh dia pakai apartemen aku saja." Rivaldi yang justru menjawab pertanyaan Papanya.


" Apartemen kamu?" Nugraha seketika berpandangan dengan istrinya.


" Iya, bagaimana menurut Papa?" Rivaldi meminta pendapat Papanya.


" Hmmm, tidak masalah. Apartemen itu juga 'kan tidak ditempati kalau kamu di Jakarta," sahut Nugraha.


" Lalu kamu sendiri akan tinggal di apartemen itu, Aldi?" tanya Arina.


" Sebaiknya kalian menginap di sini saja. Rena juga selama di Bandung menginap di sini saja, jangan di apartemen kamu. Kasihan Rena jika di sana sendirian. Lebih baik di sini, ada Tante, jadi kita bisa banyak mengobrol." Arina minta Grace dan Rivaldi menginap di rumahnya.


" Gimana, Rena? Kamu ingin di apartemenku atau di sini?" tanya Rivaldi pada Grace.


" Aduh, aku jadi tidak enak merepotkan Om, Tante dan Aldi." sahut Grace.


" Tidak apa-apa, Rena. Tante justru senang jika kamu mau menginap di sini. Jadi Tante bisa ada teman bicara kalau Papanya Aldi ke kantor." Arina berharap Grace mau menginap di rumahnya.


" Terima kasih ya, Om, Tante. Om dan Tante baik sekali terhadap saya." Grace benar-benar tidak menduga jika dia akan disambut hangat di rumah orang tua Rivaldi.


" Kamu jangan sungkan-sungkan, Rena. Nanti Tante suruh di bibi siapkan kamar untuk kamu."


" Aldi, Papa mau bicara sama kamu ..." Nugraha bangkit dari duduknya. Dia ingin berbicara di ruangan kerjanya bersama Rivaldi. " Rena, Om tinggal sebentar, ya?" Nugraha pun berpamitan pada Grace


" Silahkan, Om." sahut Grace.


" Aku tinggal sebentar." Rivaldi kemudian mengikuti langkah Papanya.


" Hmmm, itu adik-adik Aldi ya, Tan?" Grace langsung menanyakan dua orang di foto keluarga yang terpanjang itu.


" Iya, itu adik-adik Aldi," sahut Arina.


" Anak Tante laki-laki semua ya, Tan?"


" Hmmm, i-iya. Anak Tante ... hmmm ... semua laki-laki." Jawaban terbata Arina membuat kening Grace mengerut. Karena terlihat Arina ragu-ragu menjawab pertanyaannya


" Mereka berdua kuliah di Australia," lanjut Arina mengatasi kegugupannya.


" Oh, begitu ...."


" Aldi lebih mirip sama Om wajahnya, Tan. Kalau adik-adiknya lebih mirip ke Tante, ya?" Wajah kedua adik Rivaldi memang terlihat perpaduan Nugraha dan Arina


" Oh, iya. Sebenarnya Tante ini Mama sambung Aldi. Tante menikah dengan Papanya Aldi saat Aldi masih berumur empat tahun." Arina mengaku jika dia bukanlah ibu kandung dari Rivaldi.

__ADS_1


" Mama sambung? Tapi Tante dan Aldi terlihat sangat akrab dan terlihat seperti hubungan antara ibu dan anak kandung lho, Tan."


" Iya, mungkin karena Tante sudah sejak kecil mengurus Aldi," Arina merasa nyaman berbincang dengan Grace, sehingga dia tidak ragu terbuka tentang hubungan dia dengan Rivaldi yang sesungguhnya.


" Berarti Tante memang senang mengasuh anak kecil, ya? Jadi bisa mudah akrab dengan Aldi."


" I-iya." jawab Arina dengan menampakkan aura kesedihan di wajahnya. Entah apa yang ada di pikiran Arina, Grace sendiri tidak tahu.


" Aku kira Aldi punya adik perempuan, Tan. Soalnya Aldi baik sekali sama aku, seperti ke adik sendiri," ucap Grace kemudian. Grace pun merasakan perubahan di wajah Arina saat dia menyebut kata pengasuh.


" Memang selama ini Aldi hanya menganggap kamu ini hanya sekedar adik?" Arina terlihat kecewa saat Grace mengatakan Rivaldi hanya menganggap Grace seperti adik, padahal dia berharap jika Grace bisa menjadi pendamping Rivaldi. Arina juga tidak mengerti. Dia baru bertemu dua kali dengan Grace. Namun, dia merasa begitu akrab dengan wanita itu.


" Memangnya kenapa, Tante? Maaf kalau aku menganggap jika Aldi itu baik seperti seorang kakak."


" Oh, tidak, Grace. Kamu tidak perlu minta maaf seperti itu. Tante justru berharap jika kalian itu bisa lebih dekat lagi. Tante dan Om itu sudah lama ingin melihat Aldi mengakhiri masa lajangnya. Tante sendiri tidak mengerti apa yang dicari lagi oleh Aldi? Sehingga dia tidak juga segera menikah." Arina mengeluhkan pilihan. hidup Rivaldi yang tidak juga berumah tangga.


" Aduh, Tante. Saya jadi tidak enak ini. Saya dan Aldi hanya sekedar berteman saja kok, Tante." Grace merasa tidak enak hati karena dia melihat kedua orang tua Rivaldi sepertinya sudah terpikat dengannya.


" Tante berharap, lambat laun pertemanan kalian bisa berkembang ke arah yang lebih serius," harap Arina seraya menggenggam tangan Grace.


Grace hanya merespon harapan Arina dengan tersenyum canggung. Seandainya dia tidak sedang dalam penyamaran. Mungkin dia beruntung sekali disayangi oleh orang tua pria yang sepertinya tertarik kepadanya.


" Oh ya, Tan. Kita sudah banyak berbincang tapi aku tidak tahu nama Tante."


" Nama Tante itu Arina. Kamu panggil saja Tante Rina." Arina menyebut namanya.


" Oh, baik, Tante Rina." Grace tersenyum. Akhirnya apa yang dia cari dia dapatkan juga jawabannya.


***


Rizal mencoba menghubungi nomer ponsel Grace. Namun, wanita itu tidak juga mengangkat panggilan teleponnya.


" Sedang apa dia sampai mengacuhkan panggilan teleponku?" Rizal terlihat geram, karena dia belum mendapat kabar dari Grace, sementara langit kota Jakarta semakin gelap.


Ddrrtt ddrrtt


Rizal langsung melihat ponsel saat dia mendengar notif pesan masuk di ponselnya itu. Ternyata Grace yang mengirim pesan kepadanya.


" Aku sedang berada di rumah keluarga Rivaldi. Jadi jangan telepon! Aku takut ada cctv di kamar tamu rumah ini."


Grace meminta Rizal tidak melakukan panggilan telpon karena saat ini dia berada di rumah Nugraha.


" Kau di rumah orang tua Rivaldi? Kau tidak kembali ke Jakarta?" Balas Rizal cepat. Rizal sudah pasti tidak menyukai Grace berada di rumah Nugraha, apalagi sampai menginap.


" Aku dan Rivaldi menginap di sini," balas Grace.


" Kenapa harus menginap? Apa tidak bisa kembali ke Jakarta malam ini?" Mungkin jika berbicara secara langsung, akan semakin jelas kekesalan Rizal mengetahui Grace menginap di rumah orang tua Rivaldi.


" Aku pulang ke Jakarta malam begini? Kalau ada pria tampan yang menculik aku bagaimana? Nanti kau tidak bisa bertemu denganku lagi, Pak tua!" Balasan dari Grace membuat Rizal mendengus kesal.


" Lagipula di sini aku disambut hangat oleh orang tua Rivaldi. Bahkan, aku dianggap calon menantu oleh mereka. Anggap saja ini sedang pedekate antara calon menantu dan calon mertua😜. Mamaku juga pasti akan senang jika aku bersama Rivaldi daripada bersamamu, Pak tua."


" Jangan macam-macam!!!!😡😡" Rizal bahkan memberi banyak tanda seru dan emoji marah di pesan yang dia kirim pada Grace.


" Jangan marah-marah begitu, Pak tua! Nanti kau semakin tua, tidak ada wanita yang mau denganmu! 🤣"


Rizal kembali melakukan panggilan telepon pada Grace, meskipun Grace sudah melarangnya. Dan Grace pun masih mengacuhkan panggilannya.


" Sudah kubilang jangan hubungi aku. Aku ini sedang bertugas. Aku sudah mendapat info soal Mama Rivaldi. Namanya adalah Arina, ternyata dia itu Mama sambung Rivaldi. Dia menikah dengan Nugraha dan akhirnya mempunyai dua orang anak laki-laki."


" Sebaiknya cepat kau laporkan hal ini kepada Erlangga, apa yang mesti aku buat lagi. Kalau ingin berkomunikasi denganku VA pesan saja karena aku tidak dapat menerima telepon."


" Oke, aku akan kabari Bondan sekarang juga. Hati-hati di sana, jangan menimbulkan kecurigaan mereka. Dan ingat, jangan jatuh cinta pada Rivaldi!" Kembali Rizal memperingatkan Grace untuk tidak membuka hati pada Rivaldi.


" Daripada kau bersudah payah mengancamku, sebaiknya kau bujuk saja putrimu itu😜."


" Sudah dulu ya, ya! Rivaldi memanggilku. Bye, Pak tua 😘"


" Si al! sepertinya wanita itu senang sekali memancingku cemburu! Awas saja jika kau kembali ke Jakarta, Grace!" Rizal mengeratkan giginya, karena dia benar-benar dibakar api cemburu. Sepertinya dia kalah start dari Rivaldi, karena Grace begitu mudah mendapat restu dari orang tua Rivaldi. Berbeda dengan dirinya yang masih terhalang restu dari sang putri, Isabella.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2