TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Jajan Di Luar


__ADS_3

Rizal merebahkan tubuhnya dengan melipat tangan di belakang kepalanya untuk dijadikan sandaran. Dia masih memikirkan tindakannya tadi yang mencium Grace di parkiran cafe. Dia bahkan tidak menduga dia berani melakukannya di ruang terbuka yang bisa dilihat oleh orang-orang.


" Tidak mungkin ... aku tidak mungkin tertarik dengan dia." Rizal berusaha menampik perasaan aneh yang dia rasakan terhadap Grace.


" Gi la, mana mungkin aku tertarik pada remaja seusia anakku!" Rizal memejamkan mata dan mengelengkan kepala menepis kemungkinan dia jatuh hati pada Grace.


" Si al!" Rizal kemudian bangkit seraya mengusap kasar wajahnya. " Aku seperti anak muda yang baru tertarik dengan wanita." Rizal menertawakan dirinya sendiri yang bertingkah seperti remaja yang galau karena seorang wanita.


Rizal lalu melangkah ke arah kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang merasakan hawa panas saat bersentuhan dengan Grace tadi.


Keesokan harinya


Grace berangkat lebih awal dari biasanya. Dia sengaja datang sebelum Rizal datang karena tak ingin memberi kesempatan Rizal untuk memanggil dirinya ke ruangan Rizal jika dia berbuat kesalahan


Grace merasa jika apa yang dilakukan oleh Rizal belakangan ini dengan sengaja memanggil dirinya ke ruang kerja Rizal, itu hanya alasan agar Rizal bisa dekat dengannya. Apalagi saat mengingat rencana Rizal yang ingin membuatnya satu ruangan dengan pria itu. Sebab itu dia harus segera menghindari Rizal.


" Morning ..." sapa Grace saat masuk kantor Rizal.


" Eh, tumben Mbak Grace sudah sampai?" Indra langsung menyahuti.


" Daripada kena tegur bos kamu terus, mending berangkat cepat." Grace beralasan.


" Tumben, biasanya tidak takut sama teguran Pak bos, Mbak?" celetuk Jamal terkekeh.


" Lagi jadi orang benar ..." Grace memberi alasan sekenanya.


" Kemarin pergi ke mana sama Pak Rizal, Mbak? Kencan, ya?" Indra mulai mengorek informasi tentang kepergian Rizal dan Grace jelang jam kantor usai kemarin. Mengingat saat itu Grace mengganti pakaian yang membuat pesona kecantikan wanita itu semakin terpancar.


" Hei, jangan asal bicara! Siapa juga yang mau kencan sama pria tua itu!" Grace mengedikkan bahunya mendengar ucapan Indra tadi.


" Jangan bilang begitu, Mbak Grace. Siapa tahu nanti kesandung cinta Pak Rizal, menyesal lho, bilang seperti itu ..." Jamal ikut menggoda Grace.


Grace memutar bola matanya menanggapi Jamal yang juga mulai bicara seperti Indra.


" Kalian itu, daripada mendoakan aku jatuh cinta dengan bos kalian, mending kalian bantu bos kalian itu mencari jodoh!"


" Kita itu kemarin bertemu dengan klien. Namanya Tante Monica. Dia itu butuh bodyguard untuk menjaga dirinya dari calon mantan suaminya." Grace mulai menceritakan apa yang mereka kerjakan sore kemarin bersama Rizal.


" Calon mantan suami?" tanya Jamal bingung.


" Iya, dia sedang mengajukan cerai dengan suaminya. Dia takut suaminya itu menolak cerai, makanya dia butuh pengawalan." Grace memperjelas maksud ucapannya.


" Terus, Mbak Grace mau menjodohkan Pak Rizal dengan Tante-tante itu, gitu?" tanya Indra.


" Tante-tantenya itu masih muda dan cantik, kok! Ya, cocoklah kalau mendampingi bos kalian. Apalagi Tante Monica itu sepertinya naksir bos kalian, lho!" Tanpa sadar Grace menyebarkan gosip soal Rizal kepada anak buah Rizal.


" Masa sih, Mbak?" Indra mulai serius mendengarkan cerita Grace.


" Iya, soalnya dia minta bos kalian yang menjadi bodyguardnya bukan yang lain. Artinya apa coba? Pasti dia tertarik dengan pak tua itu, kan?" Grace mengungkapkan pendapatnya soal sikap Monica kepada Rizal kemarin.


" Lalu Pak Rizalnya gimana, Mbak? Apa Pak Rizal mau?" Jamal penasaran dengan cerita tentang bosnya yang disukai oleh wanita lain.


" Sayangnya bos kalian itu sok jual mahal! Menolak disuruh mengawal Tante itu." Grace mendengus seolah dia kecewa rencana menjodohkan Rizal dan Monica gagal, apalagi setelahnya Rizal justru menciumnya tanpa dia duga.


" Pak Rizal itu tidak mudah suka sama sembarang wanita, Mbak. Dulu saja sering ada beberapa wanita cantik datang kemari, alasannya ingin memakai jasa kami untuk membantu mengatasi masalah mereka, ternyata cuma modus mau mendekati Pak Rizal saja." Yuanita ikut bergabung mengobrol dengan dua rekannya.


" Iiihh, sudah tua saja pakai pilih-pilih cari wanita!" Grace mencibir Rizal.


" Kalian jangan merumpi di sini. Sebentar lagi Pak Rizal datang, kalau Pak Rizal dengar kalian sedang menggosipkannya, nanti kalian bisa kena tegur lagi!" Vito yang berjalan menuruni anak tangga dan sempat mendengar obrolan sesama rekannya mencoba memperingatkan teman-temannya agar tidak terus bergosip.


" Mal, tolong file ini di atar ke Pak Ridwan jika bertemu dengan beliau." Vito menyerahkan satu bendel arsip yang sudah dicek oleh Rizal kepada Jamal.


" Oke." Jamal menerima dokumen yang diserahkan oleh Vito.


" Sebaiknya Nona ke atas sebelum Pak Rizal datang." Vito menganjurkan Grace untuk ke ruangan atas.


" Nantilah, di atas itu aku stres menghadapi orang-orang seperti kalian! Enak di sini, lebih seru!" Grace menolak mengikuti anjuran Vito.


" Baiklah, Nona. Tapi hari ini Nona tetap bertugas diatas." Setelah dia memperingatkan Grace, Vito pun kembali menaiki anak tangga menuju meja kerjanya.


" Dia itu kaku sekali, persis seperti bosnya." Grace mengomentari Vito yang terlalu formal jika bicara dengannya.


" Hahaha, benar tuh, Mbak! Seperti dubing di film-film saja panggil Nona segala!" Indra menimpali seraya terkekeh.


Tiiinn


Grace menoleh ke arah pintu kantor saat mendengar klakson mobil Rizal yang menandakan pemilik kantor itu sudah tiba.

__ADS_1


" Aku mau ke toilet dulu, mau pup." Grace pura-pura memegangi perutnya. Dia ingin segera menghindar dari Rizal. Sehingga di bergegas menuju toilet.


" Pagi, Pak."


Saat Rizal muncul dari pintu, pria itu langsung disambut dengan sapaan anak buahnya.


" Pagi," balas Rizal melirik ke meja Grace di bawah yang kosong lalu melangkah menuju anak tangga.


" Pagi, Pak." Vito pun mengapa Rizal saat melihat kehadiran bosnya itu


" Dia belum datang juga, Vit?" Rizal menanyakan keberadaan Grace karena dia juga tidak melihat keberadaan Grace di meja wanita itu di ruangan atas.


" Nona Grace tadi di lantai bawah, Pak." Vito heran kenapa Rizal tak menjumpai Grace di bawah, padahal wanita itu ada di sana.


" Oh, ya sudah ..." Rizal melangkah ke ruangannya.


" Oh ya, Pak. Apa rencana memindahkan Nona Grace ke dalam jadi, Pak?" tanya Vito yang sejujurnya agak aneh mendengar permintaan bosnya kemarin.


Rizal menahan langkahnya mendengar pertanyaan Vito lalu menoleh ke arah anaknya buahnya itu.


" Tidak usah, Vit. Biar saja dia di sini!" Rizal memang sudah memutuskan membatalkan permintaannya memindahkan Grace ke dalam ruangannya. Dia juga takut dengan perasaannya sendiri. Dia takut mengingkari pernyataannya yang mengatakan jika dia tidak akan menyukai wanita muda seperti Grace. Rizal sudah berniat menjaga jarak dengan Grace. Dia tidak ingin terjerat asmara dengan Grace. Dia juga harus mempertimbangkan perasaan Isabella jika dia sampai jatuh cinta pada Grace.


***


Waktu terus berlalu. Sudah enam bulan Grace berada di kantor Rizal. Baik Rizal maupun Grace, mereka berdua sama-sama menjaga jarak. Mereka meminimalisir interaksi antara mereka berdua.


Grace justru merasa lega, sejak menciumnya, Rizal tidak pernah lagi mendekatinya. Sementara Rizal sendiri harus mati-matian meredam perasaannya sendiri yang sempat goyah karena sikap Grace yang sebelumnya senang menggodanya.


Tok tok tok


Grace mengerjapkan matanya saat mendengar suara pintu kamarnya diketuk dengan cukup keras. Tangannya meraba sisi tempat tidur mencari ponselnya berada.


Saat ini waktu sudah menunjukkan jam 00.05 dini hari, membuat keningnya berkerut. Siapa yang mengetuk pintu kamarnya dini hari begini.


" Ck, siapa juga yang tengah malam begini mengganggu orang tidur?" Grace menggerutu lalu bangkit melangkah ke arah pintu.


" Surprise ...!!"


Grace terperanjat saat melihat Mamanya, dan beberapa rekannya dari kantor Rizal berada di depan pintu kamarnya dan memberikan kejutan ulang tahunnya yang ke dua puluh tahun.


" Happy birthday Grace ..." Agatha memeluk dan mencium pipi putrinya itu.


" Thanks ya, aku tidak menyangka kalau kalian yang datang kemari dan mengetuk pintu tadi." Grace merasa terharu karena kehadiran Yuanita, Indra, Jamal dan beberapa rekan lainnya di rumahnya dini hari ini.


" Mama kamu yang memberi tahu kami kalau kamu ulang tahun. Dan Mama kamu yang merencanakan ini." Yuanita menjelaskan jika semua ini ide dari Agatha.


Grace menatap Mamanya. Dia tak menyangka Mamanya akhirnya memberikan kejutan ulang tahun kembali kepadanya, setelah beberapa tahun ini tidak pernah lagi dilakukan oleh Mamanya, Beberapa tahun terakhir, Grace selalu bersama Joe melewati ulang tahunnya.


" Thanks, Ma." Grace mengusap lengan Agatha mengucapkan terima kasih atas kejutan ini.


" Mama berharap di usia kamu yang beranjak dewasa ini, kamu bisa menemukan kebahagiaanmu yang sesungguhnya. Mama ingin melihat kamu menjadi anak Mama seperti dulu lagi." Sejak dirinya menikah dengan Gavin, dan Grace berhubungan dengan Joe, dia merasa jika Grace seperti anak hilang karena Grace menjauh darinya karena pengaruh Joe.


Grace hanya tersenyum tipis menanggapi harapan Mamanya itu.


" Aamiin ..." Sementara rekan-rekannya meng-amiinkan harapan Agatha.


" Oh ya, Tante bawa banyak makanan untuk kalian. Sebaiknya kalian makan saja dulu. Kalian jadi pada menginap di sini, kan?" Agatha memang sudah berkoordinasi dengan rekan-rekan Grace agar mereka bisa menghadiri acara kejutan di ulang tahun Grace dan menyuruh mereka menginap di rumah Grace yang memang cukup besar jika dihuni sendirian.


" Jadi dong, Tan!" jawab beberapa rekan Grace secara kompak.


***


Alarm di ponsel Rizal berbunyi, membuatnya terbangun pagi ini. Rizal mengecek ponselnya setelah mematikan alarm tersebut. Setelah dia melihat pesan yang masuk ke ponselnya. Kini dia mengecek story di aplikasi chating beberapa pegawainya yang terlihat bersamaan membuat story. Merasa penasaran, dia pun membuka salah satu story milik pegawainya yang berada di deretan paling atas di update story'.


" Happy brithday, Grace. πŸŽ‚πŸŽˆπŸŽŠπŸŽ‰ Panjang umur, murah rejeki dan semoga cepat diberikan jodoh. Wish you all the best lah pokoknya."


Itu story milik Yuanita yang mengapload gambar Yuanita berdua dengan Grace.


Rizal mengingat tanggal hari ini. Dia sama sekali tidak tahu jika hari ini Grace berulang tahun yang ke dua puluh tahunm Usia Grace hanya beda satu tahun lebih tua dari putrinya, Isabella.


Rizal kemudian membuka story pegawainya yang lain. Semuanya berfoto dengan Grace dengan caption yang hampir sama yaitu mendoakan kebaikan untuk Grace


Rizal melihat wajah Grace yang terlihat bahagia bersama rekan-rekannya. Bahkan ada pegawainya yang mengunggah video saat Grace bercanda dan tertawa hingga memperlihatkan lesung pipi wanita cantik itu.


Grace memang terlihat lepas jika bersenda gurau dengan anak buah Rizal, berbeda jika wanita itu berhadapan dengan dirinya, dan hal itu membuat Rizal cemburu.


" Ya Tuhan ..." Rizal mengacak rambutnya. " Kenapa aku harus merasakan ini? Aku mesti bisa meredam perasaan ini." tekad Rizal lalu berjalan ke luar dari kamarnya.

__ADS_1


Kantor Rizal


Jam sembilan tepat Rizal sampai di kantornya. Saat tiba di lantai atas, dia melihat Grace menelungkupkan wajah di atas lipatan tangannya di meja. Semalam hanya tertidur dua jam membuat Grace tak kuasa menahan kantuknya.


" Bapak sudah datang?" tanya Vito yang baru keluar dari ruangan Rizal setelah menaruh dokumen yang harus dicek oleh Rizal.


" Sejak kapan dia tertidur?" tanya Rizal karena Grace tidak menyadari kedatangannya.


Vito melirik ke arah meja Grace. " Sejak datang tadi, Pak. Menurut Nona Grace dia mengantuk karena semalaman ada acara di rumahnya sampai larut bersama rekan-rekan kantor ini. Karena hari ini kebetulan Nona Grace ulang tahun, Pak." Vito memberitahu Rizal soal hari ulang tahun.


" Ya sudah, biarkan saja ..." Rizal lalu melangkah masuk ke ruang kerjanya. Dia tidak berniat mengusik Grace dan membiarkan wanita itu tertidur di mejanya.


Ddrrtt ddrrtt


Rizal mengambil ponselnya yang berbunyi. Dia melihat nomer Agatha yang meneleponnya, membuat keningnya berkerut.


" Halo, selamat pagi, Nyonya." Rizal mengangkat panggilan telepon masuk dari Agatha.


" Selamat pagi, Pak Rizal. Pak Rizal, nanti malam saya ingin mengadakan acara makan malam bersama anak buah Pak Rizal sebagai perayaan ulang tahun Grace. Apa Pak Rizal berkenan datang di acara nanti malam?" Agatha menyampaikan tujuannya menghubungi Rizal karena ingin mengundang Rizal untuk datang di acara makan malam nanti.


Agatha memang merencanakan acara makan malam untuk merayakan ulang tahun Grace bersama rekan-rekan Grace dari kantor Rizal.


" Hmmm, jam berapa acaranya, Nyonya?" Rizal tidak menyangka jika Agatha meneleponnya hanya ingin mengundang dirinya untuk datang di acara ulang tahun Grace nanti malam.


" Jam tujuh, Pak Rizal. Apa Pak Rizal bisa datang nanti malam?" tanya Agatha berharap.


" Baiklah, Nyonya. semoga saya tidak ada halangan datang ke sana," sahut Rizal tak enak jika menolak undangan Rizal.


" Terima kasih, Pak Rizal. Kalau begitu saya pamit dulu." Agatha ingin menutup pembicaraannya bersama Rizal.


" Baik, Nyonya. Selamat siang." Rizal langsung mematikan panggilan telepon dengan Agatha.


Rizal menghela nafas seraya mendudukkan tubuhnya di atas kursi kerjanya. Hari ini Grace ulang tahun dan dirinya diundang untuk makan malam bersama anak buahnya yang lain.


" Apa aku harus membelikan dia kado? Aku harus memberi kado apa untuk dia?" Rizal memijat kepalanya karena dia bingung harus memikirkan kado untuk Grace.


***


Rizal kedatangan sahabat lamanya. Saat ini dia bersama sahabatnya itu sedang berbincang di ruangan kerjanya. Bondan, nama sahabatnya itu pernah satu perguruan bela diri dengannya. Bondan juga kini mempunyai profesi yang hampir sama dengannya. Bedanya, Bondan bekerja pada orang pribadi, kepada seorang pengusaha muda kaya raya CEO PT. Mahadika Gautama. Sementara dirinya menyewakan jasanya untuk umum.


Bondan meminta bantuan Rizal untuk menyidiki seseorang yang mengusik kenyamanan kehidupan bosnya. Sebagai sahabat, tentu saja Rizal menerima permintaan tolong Bondan kepadanya.


Setelah membahas tugas yang diserahkan Bondan kepada Rizal, kini mereka berdua sedang berbincang santai membahas masalah pribadi mereka.


" Oh ya, ngomong-ngomong ... wanita muda yang di depan ruanganmu itu siapa? Bukan anakmu, kan?" Bondan penasaran dengan sosok Grace, karena tadi duduk dengan menaikkan kakinya di atas meja saat Bondan pertama masuk ke kantor Rizal.


" Oh, dia ... tahanan kota." Rizal terkekeh seraya berseloroh.


" Tahanan kota?" Bondan mengeryitkan keningnya mendengar ucapan Rizal.


" Dia pernah berbuat kriminal hampir mencelakakan orang, tapi orang itu tidak ingin menjebloskan wanita itu ke dalam penjara. Mereka menyerahkan kepadaku untuk memberikan hukuman yang ... ya setidaknya membuat dia lebih baik daripada sebelumnya mengingat usianya yang masih muda." Rizal menjelaskan siapa Grace kepada Bondan.


" Lebih baik? Dengan menaikkan kedua kakinya ke atas meja? Sama sekali tidak menunjukkan kepribadian yang baik." Bondan mencibir cara duduk Grace yang dia anggap kurang sopan.


" Ya seperti itulah dia. Aku memperkerjakan dia secara sukarela dalam menjalankan hukumannya itu."


" Kau menempatkan dia di sini bukan karena dia cantik dan masih muda, kan?" sindir Bondan meledek.


" Maksud kamu apa, Dan?" Rizal melirik ke arah Bondan.


" Dia cantik dan cukup sek si. Apa kau tidak akan tergoda dengan dia, Zal?" Bondan menyeringai.


" Kau gi la!? Dia itu hampir seumuran putriku." Rizal menampik dugaan Bondan. Padahal apa yang dikatakan Bondan sekering benar terjadi. Dia sudah tergoda dengan kenakalan Grace


" Apa kau sudah menikah kembali, Zal?" tanya Bondan yang mengetahui Rizal berpisah dengan istrinya enam tahun lalu.


" Aku belum memikirkan ke arah sana lagi, Dan." tepis Rizal.


" Apa kau belum bisa move on dari mantan istrimu itu, Zal?" tanya Bondan penasaran, karena untuk pria seperti Rizal mana mungkin bisa tahan tidak dekat dengan wanita selama enam tahun. " Lantas bagaimana caramu melampiaskan kebutuhan biologisnya? Apa kamu jajan di luar?" Tanya iseng Bondan membuat Rizal membelalakkan matanya.


*


*


*


Bersambung ...

__ADS_1


Happy Reading❀️


__ADS_2