
Grace memperhatikan pintu ruangan Rizal yang masih tertutup dengan keberadaan Rizal dan Vito di dalam ruangan itu. Senyuman penuh kepuasan terus saya mengembang di bibirnya, karena dia tahu apa yang sedang dibahas di dalam sana antara bos dan anak buahnya itu.
Tak lama kemudian pintu ruangan itu terbuka, dan menampakkan Vito yang keluar dari pintu itu dengan mengarahkan pandangan ke arah Grace penuh tanda tanya. Di belakangnya, Rizal pun kini muncul dengan sorot mata menyeramkan dengan wajah memerah.
" Kau, masuklah ke ruangan saya!" Bahkan kata Anda atau Nona yang biasa disematkan Rizal sama sekali tak terdengar. Pria itu justru menyebut kata Kau pada Grace.
Grace menurunkan kakinya yang sejak tadi dia angkat di atas meja. Lalu bangkit dan berjalan masuk ke dalam ruangan kerja Rizal dengan santainya sambil melipat tangan di dada.
Brraaakkk
Ketika Grace sudah masuk ke dalam ruangan Rizal, pria itu menutup pintu dengan kasar hingga menyebabkan Grace tersetak. Namun, amarah Rizal sama sekali tidak menciutkan hati wanita itu.
" Apa maksudmu dengan menyebarkan video itu?!" Rizal menarik pundak Grace yang berdiri membelakanginya hingga kini wanita itu berputar menghadap ke arahnya.
" Maksudku? Tentu saja aku ingin membuktikan kalau kamu ..." Grace menunjuk ke arah wajah Rizal dengan telunjuknya, " Kalau kamu itu senang juga digoda oleh wanita penghibur sepertiku! Jangan suka munafik jadi orang! Bilang aku ini seperti pela cur, nyatanya kamu sendiri menikmati apa yang aku suguhkan, kan!?" ketus Grace membuang pandangan kearah jendela.
" Semua itu tidak ada sangkut pautnya dengan anak buah saya! Kenapa kamu menyebarkan video itu untuk dilihat oleh anak buah saya!?!" geram Rizal karena Grace sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah dan penyesalannya.
Apa yang diperbuat Grace dengan mengirimkan potongan video saat dia berciuman dengan Grace tentu saja membuat Rizal sangat malu. Selama ini dia dikenal karyawannya sebagai bos yang penuh wibawa, dengan pembawaan yang tenang namun tetap bersahaja. Kini, semua itu seolah luntur karena perbuatan Grace yang menyebarkan video adegan in tim dirinya dengan wanita yang menjadi tawanannya itu.
" Aku tidak perduli ini ada sangkut pautnya dengan anak buahmu atau tidak! Kau sudah menghina aku, aku balas sesuai dengan caraku. So, kita impas, kan??" sahut Grace santai dan tanpa merasa bersalah.
" Dan kau senang kelakuanmu itu dipertontonkan pada semua orang!?" kesal hati Rizal melihat Grace seolah tak acuh, sementara dirinya pusing memikirkan bagaimana menghadapi anak buahnya nanti.
" Aku tidak perduli!" sergah Grace.
" Kau benar-benar keterlaluan!" Rizal mencengkram tangan Grace. " Sekarang juga, kau harus memberikan klarifikasi di hadapan anak buah saya, kalau kau sengaja menjebak saya!" Rizal menyuruh Grace memberi penjelasan, atau lebih tepatnya membersihkan namanya dari pandangan buruk anak buahnya nanti.
" Memberi klarifikasi apa? Kalau kau sebenarnya menikmati ciuman denganku!?" sindir Grace tersenyum meledek.
" Jangan pernah bermimpi seperti itu!" sanggah Rizal menepis kalau dirinya menikmati kehangatan saat bersentuhan bibir dengan Grace. Jika dia berani berkata jujur, sebenarnya sentuhan itu justru sangat mempengaruhi dirinya, jika tidak, tidak mungkin dia sampai bermimpi liar dengan Grace.
" Aku tidak mau! Kau saja sana, yang buat klarifikasi sendiri!" tegas Grace menolak.
Rizal semakin geram, bahkan tangannya kini mengepal. Jika saja di hadapannya saat ini adalah seorang pria, rasanya tak segan dia melayangkan bogem mentah ke wajah orang itu.
" Jangan buat kesabaran saya habis! Sekarang juga kau harus menjelaskan apa yang terjadi malam itu!" perintah Rizal pada Grace yang membangkang.
" Aku bilang aku tidak mau!" sergah Grace kembali.
" Kau benar-benar keras kepala! Kau sama sekali tidak malu orang menganggapmu wanita penggoda, wanita murahan!!" Saking emosi menghadapi Grace, Rizal sampai berucap dengan nada dan kalimat kasar.
" Aku bukan wanita murahan!!" bantah Grace menolak diserbut sebagai wanita murahannya.
" Nyatanya memang seperti itu, kan? Meskipun kau bilang hanya melakukan hubungan in tim dengan kekasihmu, nyatanya kau masih berharap disentuh pria lain. Kau selalu berusaha menggoda saya. Kau menghalalkan segala cara agar bisa lepas dari hukumanmu dengan menyodorkan tubuhmu itu! Lalu namanya apa jika bukan wanita murahan?!" cibir Rizal dengan kalimat menohok.
Plaakk
Sebuah tamparan mengenai pipi Rizal bersamaan dengan Rizal mengakhiri kalimatnya. Pria itu bahkan tersentak saat Grace tiba-tiba menampar pipinya.
" Aku sumpahi kata-katamu itu akan berbalik kepada anakmu! Kau dan anakmu selalu menghinaku! Kau rasakan lah jika nanti anak kesayananmu itu menyerahkan tubuhnya pada kekasihnya sebelum menikah!" Grace menyumpahi jika anak dari Rizal kelak akan mengalami apa yang dia rasakan saat ini.
" Jangan pernah membawa-bawa anak saya! Saya mendidik dia dengan baik, tidak seperti Mamamu yang membebaskanmu hidup liar!" Mendengar Grace menyinggung soal Isabella bahkan mendoakan buruk tentang Isabella, seketika amarah Rizal berkobar hingga dia mencengkram leher Grace, membuat wanita itu meringis kesakitan.
" Aaakkhhh ... sakit, si alan!" Grace menepis tangan Rizal di lehernya.
__ADS_1
" Saya peringatkan! Jika kau ingin selamat, jangan pernah menyentuh putri saya!" desis Rizal menebar ancaman menakutkan. Jika berhubungan dengan putrinya, sudah pasti Rizal akan pasang badan untuk melindungi putrinya tercintanya itu.
" Kembali ke mejamu! Jangan banyak bertingkah! Jalani hukumanmu satu tahun ke depan. Setelah masa hukumanmu selesai, saya tidak akan menghalangimu pergi dari sini! Karena saya juga sudah muak menghadapi perangaimu itu!" Dengan nada dingin dan ketus, Rizal menyuruh Grace segera meninggalkan ruangannya dan memperingatkan Grace agar tidak membuat kekacauan yang membuat kesabarannya hilang.
Tak kalah emosi, Grace pun segera keluar ruang kerja Rizal dengan membanting pintu dengan keras, lebih kencang dari Rizal tadi menutup pintu itu.
Rizal memijat pelipisnya. Menangani kasus Grace ternyata lebih sulit dari kasus berat yang dia tangani. Sampai dia harus berkata dan berbuat kasar kepada wanita itu.
***
Selepas Grace meninggalkan ruangannya, beberapa menit kemudian, Rizal berjalan keluar ruang kerjanya. Tanpa menoleh ke arah Grace, dia menuruni anak tangga.
Di lantai bawah, Rizal memperhatikan anak buahnya yang langsung menurunkan pandangan saat melihat Rizal mengawasinya.
Rizal mendengus kasar, sejujurnya dia malu berhadapan dengan anak buahnya itu. Namun, dia tetap harus menjaga wibawanya sebagai pimpinan di sana.
" Apapun yang kalian lihat dari video itu, itu tidak seperti yang kalian pikirkan! Dan saya tidak ingin kalian terus membahas soal video itu! Kalian paham!?" Kalimat penuh penekanan dan intimidasi keluar dari mulut Rizal.
" Paham, Pak." sahut semua pegawai Rizal kompak.
Setelah mendapat jawaban dari anak buahnya, Rizal pun meninggalkan kantornya. Membuat anak buahnya saling pandang. Mereka ingin saling bergosip, akan tetapi tidak berani mendengar ucapan bosnya tadi.
Rizal mengendarai mobilnya keluar dari pekarangan kantor. Matanya kini menatap pada dua orang yang sedang memasang banner di pagar rumah yang berada tepat di depan kantornya.
For Sale
Itulah tulisan yang sepintas Rizal lihat dari banner tersebut. Rizal menghentikan mobilnya lalu turun untuk bertanya pada orang sedang memasang banner tersebut.
" Maaf, Pak. Mau tanya, rumah ini mau dijual?" tanya Rizal kepada salah seorang pria yang memasang banner yang kini sudah terpasang sempurna di pagar rumah yang luasnya hampir sama dengan luas kantor Rizal.
" Benar, Pak. Apa Bapak berminat? Nanti saya sampaikan kepada pemiliknya. Tapi, jangan lupa komisinya ya, Pak." Pria itu secara terang-terangan ingin menjadi perantara jika Rizal berminat membeli rumah itu.
" Oh, Bapak penghuni daerah sini juga? Kirain orang luar wilayah sini." Pria itu terlihat kecewa karena merasa gagal menjadi perantara jual beli.
" Terima kasih informasinya ya, Pak. Permisi ..." Rizal berpamitan dan kembali ke dalam mobilnya.
Di dalam mobilnya, Rizal berpikir seraya terus memandangi rumah yang ingin dijual tersebut. Dia pun lalu mengambil foto banner tersebut dengan kamera ponselnya. Sepertinya dia menemukan sebuah ide. Dia pun segera menghubungi seseorang dari alat komunikasinya itu.
" Selamat pagi, Nyonya." Rizal melirik arlojinya yang baru menunjukkan pukul 10.00. " Apa Anda ada waktu, Nyonya? Saya ingin bicara dengan Nyonya mengenai putri Anda." Orang yang dihubungi Rizal tidak lain adalah Agatha.
" Baik, Nyonya. Satu jam lagi saya akan ke kantor, Anda." Setelah mendapatkan jawaban dari Agatha, Rizal pun menutup teleponnya, lalu dia melanjutkan perjalanannya ke tempat yang dia tuju.
***
" Silahkan masuk, Pak." Arini, sekretaris Agatha mempersilahkan Rizal untuk masuk ke dalam ruangan kerja desainer itu.
" Terima kasih, Mbak." Sembari mengucapkan terima kasih, Rizal masuk ke dalam ruang kerja orang tua dari wanita yang belakangan ini membuat batas kesabarannya menipis.
" Sama-sama, Pak." Arini tersenyum membalas Rizal. Wajah tampan pria itu tentu saja menjadi magis tersendiri bagi wanita yang melihatnya.
" Selamat siang, Nyonya." Rizal menyapa Agatha yang masih duduk di kursi kerjanya.
" Selamat siang, Pak Rizal. Mari silahkan duduk ...!" Agatha lantas bangkit dan mempersilahkan Rizal duduk di sofa tamu di depan meja kerjanya.
" Ada apa, Pak Rizal? Apa Grace berbuat ulah kembali?" Setelah Rizal terduduk, Agatha langsung bertanya pada Rizal.
__ADS_1
" Anda tahu bagaimana putri Anda itu, Nyonya." jawab Rizal datar.
" Apa lagi yang diperbuat Grace, Pak Rizal?" tanya Agatha penasaran. Agatha pun mulai pusing menghadapi sikap keras kepala putrinya itu.
" Pagi ini putri Anda berniat kabur ke Singapura, Nyonya. Dia bahkan sudah membeli tiket pesawatnya. Jika saya tidak menggagalkannya, mungkin saat ini dia sudah berada di sana." Rizal menceritakan apa yang sudah dilakukan Grace tanpa sepengetahuan Mamanya.
" Grace mau ke Singapura? Mau apa dia di sana?" Seingat Agatha, putrinya itu tidak punya kerabat di sana.
" Yang pasti putri Anda itu ingin menghindari hukuman yang harus dia jalani." Rizal kini tidak memanggil Nona lagi pada Grace. Bahkan Rizal lebih sering menggunakan kata dia untuk menyebut Grace dalam percakapannya dengan Agatha.
" Ya ampun, Grace." Agatha memijat pelipisnya.
" Saat ini putri Anda berada di kantor saya. Saya dan Tuan David sudah memutuskan mempekerjakan dia di kantor saya, untuk membantu anak buah saya menyelidiki beberapa kasus yang kami tangani. Putri Anda termasuk wanita yang punya keberanian, saya rasa tugas itu akan cocok untuk putri Anda, Nyonya." Rizal menjelaskan bentuk hukuman yang akan dijalani Grace selama satu tahun ke depan.
" Jika sebelum masa hukuman putri Anda berakhir, dia sudah bisa merubah perangainya, Tuan David akan mempertimbangkan membebaskan putri Anda, Nyonya." lanjut Rizal.
" Hmmm, maaf, Pak Rizal. Grace membantu pekerjaan Pak Rizal? Apa itu aman untuk keselamatan putri saya, Pak Rizal?" Agatha tentu saja merasa khawatir dengan tugas detektif seperti yang Rizal jalani saat ini.
" Pekerjaan saya hanya menyelidiki dan mencari informasi yang dibutuhkan klien, bukan pekerjaan yang berhubungan dengan kriminal, Nyonya." Rizal berusaha meyakinkan Agatha agar wanita itu tidak mengkhawatirkan pekerjaannya.
Agatha memperhatikan Rizal yang sedang menjelaskan dengan kalimat yang penuh ketegasan. Tanpa dia sadari dia saat ini tengah mengagumi fisik pria yang duduk di hadapannya saat ini. Dengan tubuh tinggi tegap. Sorot mata yang tajam juga rambut yang tumbuh di sekitar rahang, dagu dan di atas bibirnya, pria itu tidak saja terlihat tampan namun juga terlihat sangat sek si.
" Jadi saya rasa Anda tidak perlu mengkhawatirkan hal itu, Nyonya."
Agatha mengerjap saat mendengar suara Rizal yang menyadarkan dari ketertegunannya pada pesona pria itu.
" Ah, oh, i-iya, Pak Rizal. Saya percayakan putri saya kepada Anda, Pak Rizal." Agatha tersipu seraya menyampirkan rambutnya ke belakang telinga karena tiba-tiba dia menjadi salah tingkah.
" Oh ya, Nyonya. Maksud kedatangan saya kemari, saya ingin minta bantuan Nyonya untuk menyediakan tempat tinggal untuk putri Anda. Kami tidak bisa membiarkan dia tinggal di apartemennya. Awalnya kami ingin mencarikan tempat kost yang bisa kami pantau. Namun, kamar di kost-an itu baru akan kosong bulan depan." Rizal menerangkan hal yang menjadi kendala.
" Biarkan Grace tinggal bersama saya, Pak Rizal." Agatha memohon agar Grace bisa diijinkan tinggal bersamanya.
" Maaf, Nyonya. Kami bisa mengabulkan permintaan Nyonya itu. Jika Anda tidak berkenan, kebetulan di depan kantor saya ada rumah yang akan dijual. Mungkin Nyonya bisa membeli rumah itu untuk tempat tinggal putri Anda satu tahun ini." Rizal lebih condong meminta Agatha menyediakan tempat tinggal untuk Grace, daripada dia harus meminta bantuan pada David Richard, meskipun rencana memberi hukuman pada Grace itu adalah perintah David Richard.
" Bagaimana, Nyonya? Apa Anda bisa membantu menyediakan tempat tinggal untuk putri Anda? Karena letaknya sangat strategis, jadi kami bisa memantau putri Anda itu," Rizal menjelaskan alasannya meminta Agatha membeli rumah itu. Apalagi untuk pengusaha kaya seperti Agatha, mengeluarkan uang untuk membeli rumah di depan kantornya bukanlah hal sulit.
" Baiklah, apa Pak Rizal punya nomer pemilik rumah itu?" tanya Agatha menyetujui usulan Rizal.
" Ada, Nyonya. Sebentar ..." Rizal lalu mengambil ponselnya. " Apa saya bisa pinjam pulpen dan kertas, Nyonya?" Rizal berniat menyalin nomer ponsel Hendrawan, pemilik rumah di depan kantornya yang dia ketahui.
" Oh, sebentar, Pak Rizal." Agatha bangkit lalu mengambil apa yang diminta Rizal darinya.
" Ini, Pak Rizal." Tak lama Agatha sudah membawa buku memo dan pulpen lalu menyerahkannya kepada Rizal.
Rizal lalu menulis nama dan nomer telepon Hendrawan yang bisa dihubungi oleh Agatha lalu mengembalikan kertas dan pulpen itu pada Agatha.
" Nyonya bisa katakan kepada Pak Hendrawan, jika Nyonya mengetahuinya dari saya, siapa tahu Pak Hendrawan akan cepat melepas rumah itu dan bisa segera ditinggali oleh putri Anda." Rizal sedikit memaksa Agatha agar dia tidak dipusingkan lagi dengan tempat tinggal Grace.
*
*
*
Bersambung ....
__ADS_1
Eits, jangan sampai kasus yg lagi viral terjadi di sini ya! Ibuku, sainganku 😂😂
Happy Reading ❤️