
Dengan bersungut-sungut Rizal menggerutu dan memakai kembali celana panjang yang tadi tercecer di lantai kamar. Dia merasa kesal karena has ratnya yang sudah berada di puncak seakan terhempas seketika dengan suara bel hotel yang terus berbunyi.
Dia siap menghardik pengganggunya yang membuat dia tertunda mendapatkan kenikmatan malam pengantinnya itu bersama Grace.
" Happy wedding, Bro! Kau mengundang Bondan tapi tidak memberitahu soal pernikahanmu padaku!?"
Rizal mendapati seorang pria bertubuh kekar seperti dirinya menyodorkan buket kepadanya. Pria itu adalah Erik, sahabatnya yang mempunyai profesi sebagai polisi. Rizal sempat meminta bantuan Erik saat dia menitipkan Grace ketika baru menjadi tawanannya.
" Si al kau, Rik! Kau datang di waktu yang tidak tepat!" umpat Rizal kesal. Rizal memang lupa tidak sempat mengundang Erik karena semua serba mendadak.
" Mana mempelai wanitamu itu? Apa masih liar seperti dulu?" Erik dengan santai ingin melenggang masuk ke dalam kamar hotel yang disewa Rizal untuk menikmati bulan madunya bersama Rizal.
" Apa kau gi la!?" Rizal menahan bahu Erik, menghalangi Erik masuk ke dalam kamarnya.
" Hei, aku ingin mengucapkan selamat kepada mempelai wanitamu, Zal!" Erik menyeringai.
" Kau benar-benar menggangu kami, Rik! Sebaiknya besok saja kau kembali kemari." Rizal mendorong tubuh Erik lalu menutup pintu dengan kencang.
Tok tok tok
" Hei, Zal! Kau mengusirku!? Aku menyempatkan diri datang kemari untuk mengucapkan selamat kepada kalian berdua!" Bahkan teriak Erik di luar kamar tidak digubris oleh Rizal. Dia lalu kembali ke ruangan di mana Grace masih menunggunya.
" Kembalilah besok!" balas Rizal dengan berteriak. Dia tidak perduli pada jabatan tinggi yang disandang oleh sahabatnya itu.
" Bunga dari siapa, Pih?" tanya Grace bangkit dan duduk di tepi tempat tidur melihat Rizal membawa buket di tangannya.
" Dari Erik." Rizal melempar buket itu ke sofa.
" Erik? Erik siapa?" Seketika Grace teringat akan Erick, anak dari teman Mamanya yang mempunyai nama yang sama.
" Kamu ingat temanku yang polisi waktu aku menitipkanmu di kantor polisi?" Rizal membuka dan menurunkan kembali celananya hingga kini senjatanya yang masih menegang itu setelah melambai ingin kembali disentuh seperti tadi.
" Itu hal tergi la yang Papih lakukan ke aku!" Grace medongakkan kepala menoleh ke arah suaminya dengan mencebikkan bibirnya.
Rizal terkekeh mengingat tindakannya dulu saat menghukum Grace karena dia merasa kewalahan menghadapi sikap liar dan bar-bar Grace.
" Lakukan lagi yang seperti tadi!" Tangan kanan Rizal membelai kepala Grace, sementara satu tangannya lagi mengarahkan alat tempurnya ke bibir Grace.
Tangan Grace kini menggantikan tangan Rizal memengang alat tempur sang suami sampai penuh dalam genggaman tangannya. Grace menggerakkan tangannya pada pusaka milik Rizal. Kepalanya menengadah menatap Rizal dengan senyum nakal di bibirnya. Beberapa detik kemudian alat tempur itu sudah dalam penguasaan rongga mulut Grace.
Tubuh Rizal pun bergerak memasukkan sang pusaka ke dalam rongga mulut Grace hingga suara erangan terdengar dari mulutnya, karena dia merasakan kenikmatan atas permainan mulut Grace pada alat tempurnya.
Rizal lalu menjatuhkan tubuh Grace kembali ke tempat tidur. Mengungkung tubuh Grace dan mencum bu Grace dengan menautkan bibir mereka. Membangkitkan kembali ga irah mereka yang tadi sempat menyusut karena gangguan dari Erik.
Rizal menyapu bibir, kedua bukit, perut sampai inti Grace dengan bibirnya. Dia lalu membuka paha Grace lebar-lebar. Mendekatkan miliknya dan menepuk bagian luar inti Grace dengan miliknya. Tak lama kemudian secara perlahan memasukkan miliknya itu ke dalam inti Grace dan mulai bergerak melakukan penyatuan tubuh mereka berdua. Menuntaskan apa yang mereka inginkan sejak mereka sering melakukan sentuhan.
" Aaakkh ..." suara de sahan tak pernah hilang dari mulut Grace, apalagi saat Rizal mempercepat gerakannya.
" Oouugghh, Pih ..." Grace menarik tengkuk Rizal hingga bibir mereka berdua kembali bertemu, saling berpagutan, melu mat dan mengecap, membuat mereka semakin bersemangat melakukan percin taan mereka.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Rizal menjatuhkan tubuhnya di samping Grace dengan memeluk erat tubuh Grace setelah mendapatkan pelepasan untuk yang ketiga kalinya. Sementara Grace terlihat kewalahan meladeni naf su bira hi Rizal yang cukup tinggi karena sudah terlalu lama dipendam oleh pria itu.
" Bagaimana, Sayang? Apa pria tua ini kurang ahli membuatmu mencapai kenikmatan?" desis Rizal berbisik di telinga Grace. Pria itu masih melakukan sentuhan yang membuat darah Grace berdesir. " Apa mau lagi?" Jari Rizal memainkan kembali inti Grace membuat pinggul Grace terangkat.
" Sudah, Pih! Capek!" keluh Grace, menolak tawanan Rizal.
" Kenapa? Bukankah kamu sempat meragukan
keperkasaanku!? Mengatakan jika punyaku cepat loyo? Mengatakan milikku seperti timun rebus!? Aku bisa buktikan sekarang jika aku bisa memuaskanmu, kan?" Wajah Grace kini kembali disapu oleh bibir Rizal. Justru Rizal yang sepertinya belum puas. Karena ini pertama kalinya dia melakukan hubungan in tim suami istri setelah enam tahun pusakanya itu tidak bertemu dengan sarangnya.
" Ampun, Pih! Iya, iya, maaf, Pih!" Grace memutar tubuhnya dan memeluk tubuh Rizal, meminta maaf karena selalu meremehkan kemampuan Rizal melayaninya di atas ranjang.
__ADS_1
" Jadi tidak ingin tambah?" sindir Rizal.
" Besok lagi ..." Grace bergelayut manja.
" Oke, oke, besok kita tarung dua belas ronde, ya!?" Rizal terkekeh merequest jumlah yang dia inginkan.
" Astaga, Pih!" Grace melotot mendengar Rizal memintanya melakukan hubungan suami istri sampai dua belas ronde.
***
" Morning, Mrs, Rizal Gunawan." Sebuah sapaan dan kecupan lembut di pipi Grace membuat wanita itu mengerjapkan matanya.
" Jam berapa sekarang, Pih?" tanya Grace dengan menggeliat dan meregangkan otot-ototnya.
" Jam setengah lima," sahut Rizal.
" Masih pagi ..." Grace kembali memejamkan matanya dan memeluk pinggang Rizal yang duduk di tepi tempat tidur.
" Kamu bangun dulu terus mandi. Setelah itu kita sholat bersama." Rizal meminta Grace bangun dan mulai melaksanakan kembali ibadah yang sudah lama ditinggalkan oleh istrinya itu.
" Sholat??" Grace membuka kembali kelopak matanya.
" Iya, kita sholat shubuh dulu sebelum kita lanjut aktivitas semalam," sahut Rizal seraya memainkan kedua alisnya.
" Tapi, aku tidak membawa mukenah." Grace beralasan karena dia tidak menyangka akan diperintah melakukan hal tersebut oleh Rizal.
" Aku sudah menyiapkan sajadah dan mukenah untuk kamu." Rizal bangkit dan melangkah menuju lemari untuk mengambil mukenah dan sajadah yang sempat dia beli sebelum hari pernikahan kemarin.
" Tapi aku juga lupa bacaannya, Pih." Grace menggigit bibirnya. Dia memang sudah lama jauh dari Sang Penciptanya dan sudah lama tidak melaksanakan kewajiban yang harus dikerjakan olehnya sebagai seorang muslimah.
" Ini ada buku panduannya. Nanti bisa kamu hapalkan lagi." Rizal kembali duduk di tepi tempat tidur.
" Ayo, cepat bangun! Kamu harus cepat mandi mensucikan tubuhmu karena semalam kita sudah berbunga in tim. Kamu juga harus menghapal bacaannya, kan!? Nanti keburu habis waktu shubuhnya kalau kamu berlama-lama seperti ini." Rizal terus meminta Grace menuruti apa yang diinginkan olehnya. Hingga akhirnya Grace pun bangkit dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh suaminya itu.
Selepas menjalankan sholat Shubuh untuk pertama kalinya setelah sekian lama Grace meninggalkan ibadahnya itu, kini tubuh Grace sudah kembali ke dalam penguasaan sang suami. Rizal benar-benar seperti orang yang baru menemukan kembali sesuatu yang sudah lama tidak dia nikmati, sehingga dia ingin terus dan terus melakukan aktivitas tersebut. Hingga seharian ini dari pagi hingga malam hari, Rizal hanya mengurung Grace di dalam kamar. Bahkan untuk sarapan pagi, makan siang dan makan malam pun dia lakukan di dalam kamar hotel
***
Arina membuka pintu kamar Rivaldi. Dia tidak menemukan putranya itu di dalam kamar putranya itu. Namun, dia melihat pintu balkon kamar Rivaldi terbuka sehingga membuat tirainya bergerak tertiup angin
Perlahan Arina masuk ke dalam kamar Rivaldi dan melangkah ke arah balkon, hingga dia menemukan putra sambungnya itu berdiri dengan tangan menopang di tepi pagar balkon.
" Ada apa, Aldi?"
Rivaldi yang sedang termenung terkesiap saat dia merasakan sebuah tepukan halus di bahunya dibarengi suara Arina yang tiba-tiba sudah berada di dekatnya.
" Mama?" Rivaldi mencium punggung tangan Arina lalu memeluk tubuh Arina. Saat dia datang ke rumah orang tuanya tadi, dia langsung menuju kamar tanpa menemui orang tuanya terlebih dahulu.
" Kamu datang tidak menemui Mama dan Papa dulu?" tanya Arina heran, karena dia mendengar dari ART nya soal kedatangan Rivaldi di rumah. Namun, pria itu tidak menemuinya dan suaminya.
" Maaf, Ma." Rivaldi lalu mengajak Arina duduk di sofa di teras balkon kamarnya.
" Ada apa, Aldi? Apa ada masalah yang sedang mengganggu pikiranmu?" tanya Arina merasakan ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh Rivaldi.
" Tidak ada apa-apa, Ma." Rivaldi meghempas nafas seraya menyandarkan tubuhnya di punggung sofa.
" Aldi, kalau kamu ada masalah, jangan hanya kamu pendam sendiri saja, Nak. Kamu punya Papa, punya Mama. Kamu bisa cerita pada Mama dan Papa untuk sedikit meringankan apa yang sedang kamu pikirkan sekarang ini." Arina membujuk Rivaldi untuk terbuka kepadanya.
Rivaldi kembali menghempas nafas dengan cukup keras seraya menoleh ke arah Arina.
" Kenapa setiap orang yang Aku kenal tidak sebaik Mama?" tanyanya dengan nada kecewa.
__ADS_1
Arina mengerutkan keningnya mendengar anak sambung yang sudah dia urus sejak kecil dan sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri itu mengatakan kalimat bernada penuh kekecewaan.
" Kenapa mereka begitu tega menipu orang tanpa perasaan?" keluh Rivaldi, seolah dirinya adalah orang paling tersakiti, karena merasakan kekecewaan dari dua orang wanita yang dicintainya dan wanita yang mulai menarik perhatiannya. Dua wanita itu tidak lain adalah Kayra dan Grace.
" Apa ini ada hubungannya dengan Rena?" Arina sepertinya tahu siapa yang dimaksud oleh Rivaldi.
Rivaldi diam tak mengiyakan atau menepis tebakan Arina. Sehingga Arina merasa jika tebakannya itu benar.
" Apa kamu sebenarnya menyukai Rena, Aldi?" tanya Arina mulai merasakan jika Rivaldi menyimpan perasaan kepada Grace, sehingga Rivaldi terlihat kecewa saat Grace ternyata telah membohongi Rivaldi.
" Kalau kamu menyukai dia, kenapa kamu tidak mengejarnya?" tanya Arina kemudian.
" Dia itu penipu ulung, Ma!" keluh Rivaldi.
" Apa kamu sudah menyelidiki alasan dia melakukan kebohongan itu kepadamu?" tanya Arina kembali
" Tidak ada gunanya! Dia sudah melakukan kebohongan dan menipuku! Itu sudah keterlaluan! Lagipula, dia sudah menikah dengan partnernya yang melakukan penipuan itu, Ma."
" Rena sudah menikah?" Arina terkesiap setelah mendengar kabar dari Rivaldi jika wanita yang dia harapkan bisa menjadi menantunya itu telah menikah. Pantas saja Rivaldi terlihat sedih, mungkin inilah yang membuat putranya itu tadi termenung.
" Mungkin Rena bukan jodohmu. Mama selalu berharap, kelak kamu akan menemukan wanita yang tepat untuknya. Yang dapat mencintai kamu setulus hati dan juga kamu pun mencintainya." Meskipun hanya anak sambung, namun Arina tentu berharap Rivaldi mendapatkan jodoh yang terbaik.
" Oh ya, Aldi. Mama punya kabar gembira." Arina ingin menyampaikan kabar gembira soal putrinya yang selama ini dia cari.
Beberapa hari lalu, Erlangga sudah menemui Arina dan memberitahu Arina di mana keberadaan putri Arina yang hilang dulu. Erlangga juga membawa bukti yang kuat berupa hasil test DNA dirinya dengan putrinya yang hilang dulu
" Kabar apa, Ma?" tanya Rivaldi menoleh ke arah Arina.
" Mama sudah menemukan putri Mama yang selama ini Mama cari, Aldi." Arina menyampaikan kabar bahagia itu dengan mata berbinar.
Kabar bahagia yang disampaikan Arina tentu membuat Rivaldi ikut merasa senang.
" Kania sudah ketemu, Ma? Di mana dia sekarang, Ma? Apa dia ada di sini?" Kegalauan yang sedang dirasakan oleh Rivaldi ternyata tidak dapat menutupi rasa senangnya mengetahui anak yang selama ini dicari oleh Mama sambungnya itu berhasil ditemukan.
" Iya dia sudah Mama temukan keberadaannya, Aldi." Tak dapat menutupi rasa harunya, bola mata Arina sampai berkaca-kaca.
" Mana dia, Ma? Aldi ingin bertemu." Tentu Rivaldi juga ingin bertemu dengan saudara tirinya itu. Apalagi selama ini dia tidak mempunyai adik perempuan sehingga dia merasa senang jika memiliki saudara perempuan.
" Dia tidak di sini, Aldi. Dia tinggal bersama suaminya. Alamdulillah, selama ini dia berada di tangan yang tepat. Dirawat oleh sepasang suami istri yang melimpahkannya kasih sayang. kepadanya. Dan kini menikah dengan pria yang tepat karena dia sangat dicintai oleh suaminya itu." Arina menceritakan tentang kehidupan putrinya yang selama ini dicarinya.
" Lantas Kania tinggal di mana sekarang ini, Ma? Apa dia tinggal di Bandung juga?" tanya Rivaldi semakin antusias ingin mengenal adik tirinya itu.
" Dia tinggal di Jakarta, Aldi. Karena suaminya itu seorang pengusaha terkenal di sana. Kamu pasti kenal siapa suaminya itu, Aldi. Dia itu Elang, Erlangga Mahadika Gautama. Elang yang dulu pernah Mama asuh saat kecil dulu," ungkap Arina memberitahu Rivaldi siapa suami dari putrinya.
Rivaldi terbelalak mendengar nama yang disebut oleh Arina. Nama seseorang yang justru dibencinya. Nama orang yang menjadi pesaing terberatnya dalam memperebutkan Kayra, hingga akhirnya dirinya yang tersingkir.
" Erlangga Mahadika Gautama?" Rivaldi seakan tidak percaya akan pendengarannya.
" Iya, Aldi. Adikmu itu ternyata istri dari kakak sepupunya sendiri. Dan nama dia bukan Kania lagi. Nama anak Mama itu sekarang Kayra Ainun Zahra, orang tua asuhnya yang memberi nama itu." Arina kembali menjelaskan soal adik tiri Rivaldi.
" Kayra?" Sepertinya Rivaldi agak sulit percaya pada kenyataan yang dihadapinya kini. Wanita yang dulu dikejarnya. Wanita yang begitu dia inginkan menjadi miliknya adalah adik tirinya sendiri.
" Iya, Aldi. Bagus juga 'kan nama itu?"
" Dari mana Mama tahu jika Kayra itu anak Mama yang hilang dulu?" selidik Rivaldi ingin mengetahui dari mana Mamanya itu yakin jika Kayra adalah anaknya. Karena dia masih meragukan soal itu walaupun dia menyadari sifat lembut Kayra memang mirip seperti sifat lembut Arina.
" Elang sendiri yang bercerita pada Mama dan Papa. Beberapa hari lalu Erlangga datang kemari memberitahukan Mama tentang anak Mama dan menunjukkan bukti hasil DNA yang menyatakan jika Kayra itu adalah anak Mama." Arina menjelaskan secara rinci bagaimana dia bisa mengetahui soal Kayra adalah anaknya.
Rivaldi menarik nafas yang terasa berat dihirupnya. Kesibukannya mengurus masalah pribadinya sendiri seakan menutup perhatiannya pada apa yang terjadi pada keluarganya beberapa hari belakangan ini.
***
__ADS_1