
Hari ini Rizal sudah mulai beraktivitas kembali ke kantornya. Dan seperti kesepakatan sebelumnya dengan sang istri. Pagi ini Rizal membawa Grace ikut dengannya. Rencananya selama Rizal beraktivitas di kantor, Grace akan menunggu sambil belajar memasak pada Bi Saonah di rumah Grace yang berada di depan kantor Rizal.
Saat turun dari mobil, Rizal membantu Grace membawa beberapa paper bag berisi oleh-oleh yang akan dibagikan untuk anak buahnya . Begitu juga dengan Grace yang juga membawa banyak paper bag di tangan kanan dan kirinya.
" Selamat pagi, Pak, Mbak." sapa Pak Jun, security yang berjaga pagi ini saat melihat kedatangan Rizal dan Grace
" Pagi, Jun." Rizal pun menyahuti sapaan security.
" Ini oleh-oleh untuk Pak Jun." Grace menyerahkan paper bag kepada Pak Jun.
" Buat saya, Mbak? Barakallah, terima kasih banyak, Mbak Grace," ucap Pak Jun sambil membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai ungkapan rasa terima kasih pada Grace yang memberinya buah tangan.
" Sama-sama, Pak." sahut Grace kemudian bersama sang suami berjalan masuk ke dalam kantor.
" Morning ..." sapa Grace yang selalu memberi sapaan hangat terlebih dahulu kepada rekannya setiap datang ke kantor Rizal.
" Pagi, Pak bos, Bu bos ..." balas beberapa pegawai Rizal di dalam saat melihat Rizal dan Grace muncul dari pintu.
" Cieee, yang baru selesai honeymoon. Segar banget nih, kelihatannya." Yuanita menggoda Grace yang berjalan mendekatinya.
" Pak bos makin kelihatan awet muda saja sejak jadi pengantin baru, nih!" Indra pun sudah mulai dengan keisengannya.
" Awet mudalah, Dra. Sekarang 'kan sudah ada yang menemani bobo ne nen lagi," celetuk Jamal terkikik " Benar 'kan, Pak?"
" Hush ...!" Yuanita mentoyor kepala Jamal dengan telunjuknya karena membicarakan hal yang dia anggap tidak sopan diucapkan pada atasan mereka.
Grace dan Rizal hanya tersenyum mendegar celetukan beberapa pegawainya. Grace lalu menaruh beberapa paper bag di tangannya di meja Yuanita
" Ini oleh-oleh untuk kalian. Satu orang satu, ya! Sudah ada namanya masing-masing," ujar Grace kemudian. Grace juga mengambil paper bag yang dipegang oleh Rizal, menyisahkan satu paper bag saja untuk Vito.
" Wah, Makasih, Bu bos." Yuanita dan beberapa pegawai serentak mengucapkan terima kasih atas buah tangan yang diberi oleh Grace.
" Pak bos, kasih ilmunya ke kami dong, Pak! Gimana caranya biar bisa dapat istri seperti Bu bos ini? Kami juga mau dapat istri cantik tajir kayak Bu bos." Jamal menyeringai seraya menggaruk tengkuknya.
" Eh, tidak usah menghayal yang muluk-muluk! Wajah standard, isi kantong pas-pasan saja mau dapet jodohnya yang muluk kayak Bu bos!" cibir Yuanita menyindir Jamal.
" Namanya juga berharap, tidak ada salahnya kali, Nit!? Kayak kamu tidak pernah menghayal dapat suami ganteng dan kaya raya saja!" sahut Jamal menjulurkan lidahnya merespon sindiran Yuanita.
" Aku ke atas dulu." Melihat pegawainya saling berdebat ringan, Rizal memilih naik ke atas menuju ruangannya terlebih dahulu. Karena dia yakin, Grace pasti ingin berkumpul dan berbincang dengan beberapa anak buahnya yang selama ini menjadi sahabat bagi Grace.
" Nanti aku menyusul, Pih." sahut Garce mengijinkan Rizal.
" Makasih untuk oleh-olehnya ya, Pak!" ujar Indra sebelum Rizal menaiki anak tangga.
" Sama-sama, kalian lanjutkan aktivitas kalian, jangan bergosip!" pesan Rizal sebelum menghilang dari pandangan.
" Gimana bulan madunya, Bu? Mantap tidak Pak bos? Secara Pak bos 'kan pengalaman." Yuanita kepo ingin tahu bagaimana Grace dan Rizal melakukan hubungan in tim, karena jarak usia mereka sangat jauh.
" Garang, Nit!" Grace terkikik menutup mulutnya agar tidak didengar oleh pegawai lainnya.
" Gi la, tidak ada puasnya, mintanya begituan terus, Nit!" bisik Grace menceritakan bagaimana aktivitas mereka di atas ranjang.
" Maklumlah, Bu! Pak bos itu sudah lama tidak merasakan kehangatan. Giliran nikah lagi, dapat bininya cantik, masih muda, sek si gini, ya langsung saja tidak diberi ampun. Hahaha ..." Yuanita mengomentari sikap bosnya itu.
" Iya juga kali, ya!?"
" Tapi Ibu happy 'kan menikah sama Pak Bos?"
" Bangetlah, Nit."
__ADS_1
" Syukurlah kalau kalian berdua bahagia dengan pernikahan kalian. Aku ikut senang, Grace."
" Terima kasih, Nit."
" Woi, kerja woi, kerja ...! Jangan makan gaji buta!" Jamal menyindir Yuanita yang masih bergosip.
" Si alan kau, Ma! Siapa yang berani melarang mengobrol dengan Ibu bos!?" Yuanita berkacak pinggang sambil mendelik ke arah Jamal.
Grace terkekeh melihat perdebatan rekan-rekan yang sangat akrab dengannya selama ini.
" Sudahlah, Nit!" Grace akhirnya melerai berdebatan mereka.
" Oh ya, kalau Bella sendiri bagaimana? Masih belum bisa menerima kamu, Bu?" tanya Yuanita penasaran hubungan antara Grace dengan anak Rizal.
" Ya seperti itulah." Grace mengerdikkan bahunya saat Yuanita menanyakan soal Isabella yang kini berstatus sebagai anak sambungnya.
" Yang sabar saja, Bu! Mungkin Bella hanya butuh waktu. Dia belum tahu aslinya Ibu itu seperti apa!? Kalau sudah tahu, aku yakin dia juga akan dapat menerima ibu dengan baik, kok!" Yuanita menyemangati Grace dalam menghadapi sikap Isabella.
" Aku pribadi sih, tidak terlalu memikirkan, Nit. Hanya saja aku kasihan sama suamiku itu. Pasti pusing menghadapi kekerasan hati anak dan istrinya yang selalu bertentangan." Grace terkekeh mengatakan jika dirinya memang bersikap keras kepala.
" Lalu. bagaimana dengan Tante Agatha? Sudah berkomunikasi lagi dengan Tante Agatha? Apa Tante Agatha akhirnya merestui hubungan kalian?" Pertanyaan Yuanita semakin melebar, Kini menanyakan soal Agatha yang tidak hadir di acara ijab qobul dan dinner perayaan pernikanan Grace dan Rizal.
" Aku belum sempat berkomunimasi dengan Mama lagi, Nit. Mungkin Mama juga masih marah dengan keputusanku menikah dengan Rizal." Grace menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
" Si Rivaldi itu apa masih suka ganggu kamu?" Kini giliran Rivaldi yang ditanyakan oleh Yuanita. Yuanita sudah seperti penyidik yang mencari informasi secara detail dan rinci.
" Tidak! Aku tidak pernah dengar soal dia lagi sejak ..." Grace menjeda kalimatnya. Dia hampir saja keceplosan mengatakan jika terakhir bertemu dengan Rivaldi di Singapura dan saat dia memberitahu Rivaldi jika dirinya sudah tidak pera wan agar Rivaldi tidak terus mengejarnya. Karena Yuanita tidak tahu tentang masa lalunya yang sempat tinggal satu atap dengan pria tanpa ikatan pernikahan.
" Sejak Rivaldi datang ke rumahku dulu." Grace sempat cerita soal kedatangan Rivaldi pada Yuanita dan meminta Yuanita untuk merahasiakannya dari Rizal.
" Menurutmu, apa Mamamu dan Rivaldi sedang menyusun strategi baru?" Yuanita merasa curiga, karena orang-orang yang awalnya menentang pernikahan Grace dan Rizal kini terlihat senyap tak bersuara.
Grace memang tidak memikirkan rintangan yang ada di depannya kelak. Karena saat ini yang ingin dia rasakan adalah menikmati hidup bersama suaminya. Membangun rumah tangga dan melahirkan banyak anak untuk suaminya agar rumah mereka nanti akan ramai dengan kehadiran anak-anak yang lucu.
***
Setelah berbincang dengan Yuanita dan sempat menemui suaminya sebentar di ruangan kerja Rizal, sekarang ini Grace sudah berada di rumahnya.
Sesuai permintaan dari Rizal dan mengisi kekosongan waktu menunggu Rizal selesai beraktivitas. Grace mencoba belajar memasak pada Bi Saonah, sekaligus menyiapkan makan siang untuk sang suami.
" Bibi dulu belajar berapa lama sampai pandai memasak seperti ini?" tanya Grace kepada Bi Saonah yang membantunya menyiapkan menu makan siang untuk dia santap bersama suaminya.
" Bibi tidak ingat, Non. Soalnya Bibi dari kecil sering membantu orang tua Bibi masak di dapur, lama-lama bisa sendiri, Non." Bi Saonah menjelaskan.
" Oh, pantas ... dulu waktu aku kecil, Mamaku tidak pernah masuk dapur dan tidak pernah memasak, Bi. Mungkin karena itu aku jadi tidak pandai memasak, ya!?" tanya Grace dengan tawa kecil.
" Mungkin, Non. Non itu berasal dari keluarga yang mapan, dan untuk urusan dapur diserahkan kepada ART. Jadi Bibi maklum, Non." Bi Saonah ikut terkikik.
" Tapi, kalau seperti aku sekarang ini, suamiku kepingin aku yang masak makanan untuknya 'kan repot jadinya, Bi." Grace mencebikkan bibirnya. Karena dia tidak mempunyai keahlian dalam memasak.
" Non ikut kelas masak saja kalau begitu. Sekarang ini 'kan banyak kelas masak, Non. Siapa tahu nanti malah Non bisa jadi chef terkenal kayak Chef Renata yang jadi juri di MasterChef di TV itu, Non." Bi Saonah terkekeh.
" Hahaha, nanti Chef Renata nya ada dua dong, Bi!?" Grace terkekeh menimpali ucapan Bi Saonah, karena nama belakang dia adalah Renata.
" Ini wortelnya besar sekali ya, Bi?" Grace menggenggam wortel yang mempunyai ukuran cukup besar. Entah kenapa tiba-tiba dia teringat saat memegang milik sang suami.
" Iya, Non. Itu wortel import. Bentuknya lebih gemuk dan berisi," sahut Bi Saonah. Itu nanti dikupas lalu dipotong kecil-kecil setengah sentimeter, Non." Bi Saonah meminta Grace untuk memotong wortel itu.
" Bibi saja deh yang potong! Aku tidak tega!" Grace menyerahkan wortel itu kepada Bi Saonah.
__ADS_1
" Tidak tega kenapa, Non?" tanya Bi Saonah.
" Eh, hmmm, tidak apa-apa, Bi. Cuma ngilu saja rasanya kalau aku potong itu." Grace sampai mengedikkan bahunya menyebut alasannya tidak mau memotong wortel.
Bi Saonah terkekeh, sepertinya dia paham apa yang sedang ada di dalam pikiran Grace saat ini.
" Memangnya Non ingat apa kalau lihat ini?" Bi Saonah mengambil wortel itu lalu menunjukkannya kepada Grace.
" Ingat apa? Aku tidak ingat apa-apa kok, Bi!" tepis Grace langsung memutar badannya membelakangi Bi Saonah.
" Aku kupas kentang saja, deh!" Grace memilih mengupas bahan yang lainnya.
Sementara Bi Saonah masih terkekeh melihat Grace yang terlihat salah tingkah membahas soal bentuk wortel tadi. Namun tawa kecilnya itu terhenti saat melihat sosok Rizal yang muncul di dapur dengan menempelkan jari di bibirnya, memintanya untuk tidak bersuara dan menyuruh Bi Saonah untuk pergi dari dapur itu.
Bi Saonah pun akhirnya meninggalkan dapur atas permintaan Rizal.
" Ini dipotong dadu 'kan, Bi? Atau gimana?" tanya Grace setelah dia selesai mengupas kentang.
Tak mendengar jawaban dari Bi Saonah, Grace justru mendapatkan sebuah pelukan dari tangan yang tiba-tiba melingkar di pinggangnya.
" Istriku sedang apa?" Rizal lalu berbisik di telinga Grace, lalu mencium pundak sang istri.
" Ya ampun, Pih. Bikin aku kaget saja." Grace memegang dadanya karena dia benar-benar kaget dengan ulah sang suami.
" Kamu sedang masak apa?" tanya Rizal tidak memfokuskan pada apa yang dikerjakan oleh Grace, dia justru asyik menyapu leher sang istri dan seperti biasa meninggalkan gigitan lemah di leher Grace.
" Pih, ada Bibi ..." Grace mencoba. menghentikan apa yang dilakukan oleh Rizal karena dia menyadari jika saat ini di dapur ada Bi Saonah yang sedang membantunya memasak.
" Bi Saonah sudah aku suruh keluar." Rizal semakin mengeratkan pelukannya.
" Serius, Pih? Lalu masaknya gimana?" Grace lalu memutar tubuhnya menghadap Rizal sementara pandangannya mengedar mencari keberadaan Bi Saonah.
Rizal lalu mengangkat tubuh Grace dan mendudukkannya di atas meja. Dia kemudian mencium bibir Grace. Grace pun akhirnya melingkarkan tangannya di leher sang suami.
" Pih, nanti diintip sama Bibi, lho!"
" Bibi pasti paham. Dia tidak mungkin akan mengganggu pengantin baru seperti kita." Rizal kembali menghujani wajah Grace dengan bibirnya.
" Tahan dong, Pih! Aku ini sedang belajar memasak. Katanya Papih ingin aku pandai memasak!?" Grace menahan sang suami agar tidak terus memintanya untuk meladeni keinginannya untuk berhubungan in tim.
" Aku mana tahan lihat kamu, Sayang," sahut Rizal kembalikan menyatukan bibir mereka penuh has rat yang kini disambut oleh Grace hingga suara decapan terdengar dari pagutan bibir mereka.
" Maaf, Pak, Non, Bibi lupa belum matikan kompornya."
Ketika kedua insan yang sedang dimabuk cinta itu sedang dipengaruhi oleh ga irah, tiba-tiba Bi Saonah kembali ke dapur untuk mematikan kompor yang belum sempat dia matikan saat meninggalkan dapur. Bi Saonah yakin, kedua orang yang sedang kasmaran itu tidak akan mempedulikan jika saat itu kompor masih menyala.
" Harusnya sebelum meninggalkan dapur dimatikan dulu apinya, Bi!" Rizal terlihat kesal karena aktivitasnya terganggu dengan kemunculan Bi Saonah kembali di dapur.
" Maaf, Pak." Bi Saonah bergegas meninggalkan dapur karena sudah menggangu kein timan Rizal dan Grace.
*
*
*
Bersambung ...
__ADS_1
Happy Reading❤️