TAWANAN BERUJUNG CINTA

TAWANAN BERUJUNG CINTA
Jangan Lakukan Itu Dengan Rivaldi!


__ADS_3

Rizal memasuki sebuah kafe untuk menjumpai Bondan. Setelah mengakhiri percakapan telepon dengan Grace, Rizal segera menghubungi Bondan. Dia ingin membicarakan soal rencana Grace yang akan menghadiri acara pesta pernikahan anak ketua ikatan pengusaha Jawa-Bali akhir pekan ini.


Rizal merasa perlu memberitahu Bondan. Dia tidak ingin penyamaran mereka diketahui oleh Rivaldi jika sampai Grace dan Rivaldi bertemu dengan Pak Satria meskipun Grace sudah meyakinkan jika dia bisa menghandle semuanya dan akan aman-aman saja.


" Hai, Dan. Sudah datang dari tadi?" tanya Rizal melihat kopi di cangkir Bondan tersisa setengah saja.


" Sekitar sepuluh menit. Tidak masalah ..." Bondan mengibas tangan ke udara. " Ada apa, Zal?" tanyanya kemudian. Bondan mematikan rokok yang sedang dia nikmati. Bondan memang memilih smoking area di ruang terbuka di kafe itu agar dia bisa menikmati rokok karena dia seorang perokok berat.


" Grace tadi memberitahuku jika Rivaldi mengajak dia datang ke acara pesta ketua ikatan pengusaha Jawa-Bali. Aku rasa Tuan Erlangga juga pasti diundang di acara itu jika yang mempunyai hajat adalah ketua ikatan pengusaha, Dan." Tak banyak berbasa-basi Rizal melaporkan apa yang disampaikan Grace kepadanya tadi lewat panggilan video.


" Rivaldi mengajak Grace? Wah, bisa gawat kalau sampai dia bertemu dengan Pak Satria, Zal." jawab Bondan serius. Bondan ternyata mempunyai pemikiran yang sama dengan Rizal.


" Itulah yang ingin aku sampaikan padamu, Dan. Sebaiknya kau kabari Tuan Erlangga. Apa Tuan Erlangga bisa mengatur janji bertemu dengan Pak Satria di pesta itu. Jadi Grace bisa meminta Rivaldi untuk datang ke pesta di jam yang berbeda dengan Pak Satria." Rizal menyarankan agar Bondan memberitahu bosnya agar Erlangga bisa mengatur jadwal dengan Pak Satria, Sehingga Grace bisa menghindari waktu yang sama dengan Pak Satria.


" Baiklah, nanti aku akan coba hubungi Tuan Erlangga untuk membicarakan hal ini," sahut Bondan.


" Kalau kau sudah mendapat Info, segera kabari aku, Dan." Rizal lalu mengambil bungkus rokok milik Bondan kemudian menarik sebatang rokok dan menyalakan api untuk membakar ujung rokok itu. " Satu ..." Rizal meminta ijin mengambil satu batang rokok walaupun sudah dia hisap terlebih dulu rokoknya.


" Aku pikir kau sudah berhenti merokok, Zal." ucap Bondan melihat Rizal merokok.


" Aku tidak berhenti total, Dan. Hanya jarang saja. Kecuali jika tak bisa tidur atau sedang kacau pikiran," sahut Rizal kembali menghisap rokok dan mengepulkan asapnya.


Bondan melirik arloji di tangannya. Saat ini waktu belum menunjukkan jam sembilan malam. Masih sore menurutnya, dan dia rasa ini bukan waktu jam tidur bagi Rizal.


" Ini belum masuk jam tidur, Zal. Jadi alasan tidak bisa tidur tidak termasuk hitungan. Apa artinya jika sekarang ini pikiranmu sedang kacau?" Bondan terkekeh meledek Rizal. " Apa karena wanita itu?" Entah kenapa tiba-tiba Bondan mengungkit soal wanita.


" Wanita? Siapa?" tanya Rizal mengeryitkan keningnya.


" Wanita muda yang sangat menggoda itu." Tentu saja maksud Bondan adalah Grace, yang sejujurnya memang sedang membuat pikiran dan hati Rizal tak tenang.


" Ck, kau ini bicara apa!?" Rizal menampik seraya memalingkan wajah, menghindari pandangan mata Bondan yang pasti akan mengetahui perbedaan aura wajahnya.


" Apa kau galau karena saat ini dia akan 'berkencan' dengan Rivaldi?" tanya Bondan kembali.


" Berhentilah bicara soal itu, Dan! Aku sama sekali tidak sedang memikirkan dia!" Rizal kembali menampik. Tapi, dia masih enggan menatap wajah Bondan.


" Oh ayolah, Zal. Walaupun kita sudah cukup lama tidak berjumpa. Tapi, aku ini tetap bisa menjadi pendengar yang baik jika kau ingin curhat." Sepertinya Bondan dapat melihat kegelisahan dari wajah dan gesture tubuh Rizal kali ini.


Rizal menghempas nafas cukup berat kemudian menghisap rokoknya kembali seraya melirik Bondan.


" Kau sudah seperti paranormal saja, Dan!" sindirnya kemudian.


Bondan tergelak mendengar ucapan Rizal yang menyamakannya seperti paranormal.


" Kalau aku paranormal, kau tidak perlu cerita, aku pasti sudah tahu apa yang ada di pikiranmu, Zal." ucap Bondan. " Tapi, sepertinya aku memang tahu apa yang sedang mengganggu pikiranmu, Zal. Aku yakin karena wanita itu. Oh ayolah, Zal. Jujur saja padaku. Siapa tahu aku bisa memberikan saran." Bondan seakan memaksa Rizal untuk bercerita kepadanya.


" Kau lihat sendiri, kan? Rivaldy.sudah berani mengajaknya ke pesta penting. Bukan tidak mungkin Rivaldi akan terpikat kepada Grace. Sebelum itu terjadi, kau harus tegaskan dulu perasaanmu terhadap Grace, Zal." Sebagai sahabat yang baik, Bondan memberikan nasehatnya kepada Rizal.


" Dia seumuran putriku, Dan." Akhirnya Rizal sedikit terbuka jika memang Grace lah yang saat ini sedang membuat pikiran dan hatinya kacau.


" Memangnya kenapa jika dia seumuran anakmu? Dia sudah berusia cukup untuk menikah, kan? Tak masalah mempunyai pasangan yang jauh lebih muda. Selama kau masih kuat melayaninya di atas ranjang." Bondan memainkan alisnya meledek Rizal.


" Hubungan Grace dan putriku tidak baik. Mereka saling tidak suka satu sama lain. Dan Bella sudah mengultimatumku untuk tidak mendekati dia, Jika itu aku langgar, maka Bella akan meninggalkanku dan memilih ikut tinggal bersama Tantenya," curhat Rizal yang akhirnya mau bercerita kepada Bondan tentang dilema yang sedang menghantuinya.


" Dan kau menuruti apa yang diminta Bella? Mengabaikan perasaanmu sendiri? Oh, ayolah, Zal! Putrimu bukan anak kecil lagi, kan? Kau harus memberi pengertian kepada putrimu jika kau juga butuh pendamping hidup."


" Setelah putrimu nanti menikah dan dibawa oleh suaminya. Siapa yang akan menemanimu? Kau juga perlu pendamping agar bisa membantumu menyalurkan has ratmu sebagai laki-laki normal. Apa kau tidak bosan pakai tangan sendiri terus?" Bondan menyeringai dan menurunkan volume suaranya saat mengucapkan kalimat-kalimat terakhirnya.


" Si alan kau, Dan!" umpat Rizal akan tetapi ikut tertawa juga bersama Bondan.


***

__ADS_1


Grace mengambil gaun di rumahnya untuk dipakai di acara pesta nanti bersama Rivaldi. Karena sudah dua hari ini dia pindah ke apartemen yang dipinjam Rizal dari Dirga.


Grace memilih dua gaun yang kemungkinan akan dia pilih untuk menghadiri pesta Pak Ronald.


" Cakep yang mana, Nit?" Grace minta saran kepada Yuanita untuk memilih salah satu dari dua baju yang dia tunjukkan kepada Yuanita.


Yunita mengeryitkan keningnya melihat dua gaun yang diperlihatkan Grace kepadanya.


" Wow, pasti harganya mahal banget ya, Grace?' Yuanita menyentuh dua gaun yang ditunjukkan Garce kepadanya.


" Ini Mamaku yang mendesain. Kalau dibilang mahal, menurut aku sih biasa saja. Sekitar enam atau tujuh juta satu gaun."


" Hahaha ... gaji sebulan saja tidak cukup buat beli satu gaun itu, Grace." Yunita terkekeh mengetahui harga fantastis gaun rancangan Agatha. " Pasti berat banget di badan dipakainya." Yuanita berseloroh mendengar nominal yang harus dikeluarkan untuk harga baju itu.


" Jadi bagus yang mana?" tanya Grace kembali.


" Yang hitam bagus, kelihatan lebih dewasa dan feminim. Kalau yang putih, kayanyaknya kamu akan bikin salfok tamu yang hadir karena akan mengira kamulah mempelai wanitanya, Grace." Yuanita memberi pendapat dari dua gaun tersebut.


" Jadi menurutmu bagus yang mana?" tanya Grace kembali.


" Kalau kau tidak ingin menjadi pusat perhatian di pesta itu, pakai yang hitam saja deh, Grace. Terlalu bahaya jika kamu jadi pusat perhatian di sana Grace. Takut ada yang mencurigai penyamaranmu." Yuanita mengingatkan.


" Oke, berarti aku pakai yang ini saja kalau begitu." Grace mengembalikan gaun putih ke dalam lemari.


" Apa Pak Rizal akan ikut ke acara itu, Grace?" tanya Yuanita menanyakan bosnya.


" Tidak, dia 'kan perannya hanya karyawan, sedangkan yang hadir di sana pasti para bos-bos," sahut Grace.


" Pak Rizal juga 'kan bos, Garce." Yuanita terkikik.


" Yang diundang itu bos besar bukan bos abal-abal." Garce berkelakar.


" Si alan! Kalau Pak Rizal dibilang bos abal-abal, lalu aku apa, dong?" Yuanita tertawa mengomentari ucapan Grace. " Eh, tapi serius, kamu dan Rivaldi tidak ada yang mengawasi?" tanya Yuanita penasaran.


" Apa Pak Rizal tidak cemburu kamu pergi dengan Rivaldi?" tanya Yuanita penasaran.


" Entahlah, aku bukan Tuhan yang tahu isi hatinya." Grace menyeringai.


" Kau jahat kalau sampai membuat bosku patah hati, Grace."


" Iiisshhh, siapa suruh suka sama aku?! Aku 'kan pernah bilang tidak suka pria tua seperti dia!" sahut Garce santai.


Tok tok tok


" Non, makanannya sudah siap!" Dari luar kamar Grace, Bi Saonah berseru mengatakan jika makanan yang Grace minta sudah disiapkan.


" Iya, Bi. Sebentar ..." seru Grace menyahuti. " Kita makan dulu, yuk!" Grace merangkul Yuanita dan mengajak rekan yang kini menjadi sahabatnya itu untuk turun ke ruang makan.


***


Grace memoles lipstik di bibirnya. Dia sudah cukup puas dengan penampilannya kali ini. Benar seperti yang dikatakan Yuanita, dia tidak boleh terlalu menonjol dan menjadi perhatian publik agar penyamarannya tetap aman.


Teett


Suara bel apartemen yang kini ditempati oleh Grace berbunyi, membuat Grace segera mengambil outer dan clutch bag nya karena dia menduga Rivaldi sudah datang. Grace lalu keluar dari kamar dan melangkah untuk membukakan pintu untuk Rivaldi.



" Kau?" Grace terkejut karena mendapati Rizal yang berdiri di depan pintu bukannya Rivaldi.


" Mau apa kau kemari?" tanya Grace menengok kanan dan kiri koridor apartemen, takut Rivaldi tiba-tiba datang.

__ADS_1


" Kau sepertinya tidak senang aku datang kemari." Rizal masuk ke dalam apartemen tanpa menunggu Grace mempersilahkannya.


Grace lalu menutup pintu dan memutar tubuhnya menghadap Rizal.


" Aku tidak mau Rivaldi tahu ada kamu di apartemen ini! Dia pasti akan berpikir yang tidak-tidak kalau dia melihatmu ada di apartemen ini!" Grace menyampaikan alasannya terlihat tidak menyukai kehadiran Rizal saat ini.


" Dia bukan kekasihmu, kenapa kau takut terlihat seperti kekasih yang selingkuh?"


Rizal menatap penampilan Grace dengan gaun pestanya malam ini. Riasan make up tipis wajah Grace di hadapannya tidak mengurangi kecantikan alami wanita itu.



" Apa kau sedang mencoba menarik perhatian Rivaldi dengan pakaian ini?" Rizal menatap off shoulder dress warna hitam yang memperlihatkan bagian bahu mulus Grace. Karena Grace memang belum memakai outer berbahan brokat yang nantinya akan dia pakai untuk menutupi bagian atas tubuhnya itu.


" Memangnya kenapa? Aku ini 'kan sedang mengemban tugas membuat Rivaldi tertarik padaku. Memangnya ada yang salah?" tanya Grace santai.


Rizal berjalan mendekati Grace dengan perlahan hingga membuat Grace berjalan mundur ke belakang dan tubuh Grace tersudut di pintu tak bisa bergerak menghindari Rizal.


Rizal memangkas jarak dengan Grace hingga kini mereka saling berhadapan dengan jarak wajah mereka tidak lebih dari sejengkal saja.


Rizal membelai wajah cantik Grace membuat wanita itu terkesiap. Dan sepertinya Grace tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


" Jangan melakukan tindakan yang membuat Rivaldy jatuh cinta padamu ..." bisik Rizal dengan lembut dengan mata terus menatap wajah Grace.


" Kenapa?" tanya Grace.


" Aku tidak menyukainya!" Kini jari tangan Rizal mengusap bibir ranum Grace seakan ingin segera menyentuhnya. Mungkin bibir itu memiliki candu yang membuatnya tidak dapat melupakan, bahkan ingin kembali merasakannya.


" Apa hakmu melarangku, Pak tua? Bukankah kau sendiri yang mengumpanku?" tanya Grace kembali.


" Sudah aku bilang, aku tidak menyukainya!" Rizal menangkup rahang Grace dengan satu tangannya. " Hindari sentuhan fisik seperti ini dengan dia!" Rizal yang tidak tahan untuk tidak menyentuh Grace akhirnya menempelkan bibirnya pada bibir Grace. Memberikan sentuhan penuh has rat seakan melepas kerinduan pada kein timan mereka berdua seperti ini.


Grace tak terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Rizal. Namun, dia pun tak menolak apa yang dilakukan oleh Rizal kepadanya. Harus dia akui, sentuhan bibir yang dilakukan oleh Rizal kepadanya benar-benar memabukkan walau dia sering menyangkal dengan mengatakan tidak tertarik pada pria tua itu. Hingga kini Grace justru membalas permainan bibir dari Rizal.


Merasakan Grace merespon tindakannya, Rizal Semakin memperdalam sentuhan mereka dengan menarik tengkuk Grace. Hingga suara decapan yang kini terdengar di ruangan tamu apartemen yang hening itu.


Rizal seperti lepas kendali. Bukan hanya bibir Grace saja yang dia berikan sentuhan. Namun wajah dan leher dan pundak Grace pun mulai dia basahi dengan salivanya.


" Aaakkhh ..." suara de sahan akhirnya keluar dari bibir Grace karena sentuhan yang diberikan Rizal di dekat telinganya.


Suara de sahan Grace seakan memacu Adrenalin Rizal dan membuat pria itu seakan lupa diri. Rizal kembali menyatukan bibir mereka penuh ga irah, sepertinya dia ingin melepaskan apa yang membelenggunya selama ini. Rizal kini memutar tubuhnya dan membawa Garce ke arah sofa lalu menjatuhkan tubuh ramping Grace di atas sofa tanpa menghentikan pagautannya di bibir Grace.


" Aawww ...!!" Rizal meringis karena Grace menggigit bibirnya. " Kenapa kau gigit?" Rizal kesal karena tindakan Grace yang membuyarkan konsentrasinya.


" Apa kau lupa jika kau pernah bilang tidak akan melakukan hubungan in tim tanpa ikatan? Lalu tadi apa?" sindir Grace mengingat ucapan yang pernah diucapkan Rizal.


" Dan kau sendiri bilang, jika hanya melakukan berhubungan dengan orang yang kamu cintai. Tapi, kau tadi justru menikmatinya." Rizal membalas sindiran Grace.


Grace mendorong tubuh Rizal lalu bangkit dari kursinya. " Cepat kau pergi dari sini sebelum Rivaldi datang kemari." Grace menarik lengan Rizal dan menyuruh Rizal keluar dari apartemen.


Walau kesal karena aksinya terhenti. Namun, mau tidak mau, Rizal harus mengikuti permintaan Grace untuk pergi dari apartenen milik Dirga.


" Pakai outer nya! Jangan biarkan Rivaldi melihat tubuhmu terbuka seperti ini!" Rizal memakaikan outer di pundak Grace. " Dan jangan melakukan seperti tadi pada Rivaldi!" Rizal memberikan peringatan sebelum akhirnya keluar meninggalkan apartemen Grace.


Grace mengatur nafas dan memegangi dadanya. " Ya ampun, kenapa aku malah menikmati sentuhan pria tua itu?" Grace memijat pelipisnya.


*


*


*

__ADS_1


Bersambung ...


Happy Reading❤️


__ADS_2